4

1222 Kata
"Kamu yakin atas keputusan kamu ini?" "Yakin, Bu," sahut Syakira sangat lugas di hadapan manager perusahaan tempat Syakira berkerja. "Sayang sekali. Padahal dalam waktu dekat ada promosi naik jabatan, dan saya yakin kamu bisa punya kesempatan untuk itu." Kedua suruh bibirnya melengkung tipis seraya menjawab, "Saya sudah bulat dalam mengambil pilihan ini, Bu. Maaf sekali." Perempuan berambut blonde yang didominasi oleh penampilan cukup rapi di depannya pun menghela napas seolah kecewa atas keputusan tersebut. "Tujuh tahun bukan waktu sebentar, Sya. Bahkan saya sudah sangat cocok mempekerjakan kamu di sini. Tapi, kalau tekad kamu sudah matang untuk mundur dari sini, apa boleh buat? Dengan berat hati saya akan menyetujuinya." Dari pendar mata milik Syakira, tentu saja ia tidak semudah itu melepas karirnya yang tengah menjulang, tetapi tidak ada pilihan ketika takdir sudah menentukan masa di mana ia harus mundur dari puncak gemilang yang diraih. Syakira harus mengikuti kemauan suaminya. Karena dua hari managernya sakit, maka baru hari ini dirinya memiliki kesempatan untuk bertatap muka dan membicarakan tentang keputusannya untuk keluar secara baik-baik. "Kalau suatu saat kamu membutuhkan pekerjaan, kamu bisa kembali lagi ke sini, Sya." Syakira tersenyum, menyembunyikan keharuan. "Terima kasih, Bu. Saya mohon maaf apabila selama bekerja, saya banyak melakukan kesalahan entah itu disengaja maupun tidak." "Saya juga ya, Sya. Doa terbaik selalu menyertaimu. Semoga kamu bahagia dengan kehidupan barumu, sakinah mawadah warahmah." Tangan itu bergerak menepuk pelan lengan Syakira. Hingga akhirnya tangis Syakira pecah di sana, bukan karena doa yang dipanjatkan oleh atasannya, melainkan rasa sakit hati yang kembali terasa. "Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak." Syakira membalas pelukan perempuan bertubuh agak gemuk itu, kembali terisak karena tak kuasa menahan diri untuk tetap terlihat baik-baik saja. "Ssst ... sudah jangan bersedih! Kita masih bisa komunikasi di wa." Syakira mengangguk kaku. Seandainya saja ia bisa meluapkan beban di dalam dadanya. Ingin sekali ia menceritakan polemik kehidupannya bersama Fattah. Ingin ia berbagi betapa hancurnya ia setelah sadar karena mencintai sendirian. Kenapa harus seperti ini? __________ "Assalamualaikum." Kepalan tangan terangkat, mengetuk pintu kayu bercat putih di depannya. Tak lama setelahnya, pintu terbuka dan menonjolkan seseorang di balik pintu tersebut. "Waalaikumsalam." Rizal–laki-laki paruh baya yang merupakan paman Syakira tertegun sebentar seperti hendak memastikan sebelum akhirnya tersenyum lebar dan langsung memeluk Syakira. "Syakira, Om nggak berekspektasi kalau kamu bakal datang hari ini. Ada apa datang ke sini tanpa kasih kabar dulu? Semua baik-baik saja kan?" Sembari mengusap punggung Syakira, pria itu menggelontorkan pertanyaan bertubi-tubi. Sedang di belakang punggung laki-laki ringkih itu, Syakira memejamkan mata untuk beberapa saat. Apakah lebih baik ia katakan segalanya demi mengurangi beban dalam dadanya? Ah, seperti lebih baik tidak! Dia tidak boleh menceritakan apa pun. Cukup sudah penderitaan Rizal yang selama ini telah berjuang membesarkan dan menyekolahkannya tanpa pamrih, dia tidak ingin lagi membuat pamannya tersebut terbebani oleh permasalahan pribadi–soal hati. Biar saja disimpan sendiri segalanya di sanubari, jangan sampai orang lain tahu. "Semua baik-baik aja kok, Om." "Kamu ..."Rizal menjeda kalimatnya lantas menyisir postur Syakira dari atas hingga bawah, "Nggak kerja?" imbuhnya. "Kita duduk dulu, yuk! Aku mau cerita sama Om." Keduanya pun duduk di teras rumah, menatap ke titik serupa, yakni:anak-anak bermain layangan tanpa peduli terik siang hari. "Sebenernya aku baru aja resign." Pandangan Syakira langsung jatuh pada kedua paha yang ditutupi oleh rok plisket berwarna coklat. "Resign?" Tampaknya Rizal terkejut oleh pengakuannya. "Ya, Om. Semuanya atas permintaan Mas Fattah, beliau mau kalau aku fokus di rumah aja. Maaf ya." "Maaf untuk apa?" "Karena aku terpaksa berhenti kerja. Padahal dulu aku berjanji kalau akan berusaha giat untuk sukses dan membahagiakan Om." Hening! Hanya desau angin mendominasi kesunyian yang mendadak melanda. "Kamu sudah menikah, Syakira. Suamimu lebih berhak atas masa depanmu, kalau dia minta kamu resign, ya sudah, kebahagiaan Om itu sederhana kok. Melihat kamu sejahtera itu udah lebih dari cukup," ujar Rizal memecah senyap, membuat Syakira lantas menoleh cepat, menatap jeli kontur wajah Rizal dari samping. Kulit wajah itu sudah tidak lagi elastis, terlihat keriput daripada dulu yang selalu bugar. Apa mungkin semua ini ada korelasinya dari banyak masalah yang hinggap? Syakira tersenyum tipis. Sejak dulu Rizal teramat tulus padanya, itu mengapa Syakira merasa perlu membalas semua jasa sang paman. "Tapi tetap saja." "Sudah, jangan menyesali keputusan baik ini. Kamu mengabulkan permintaan suamimu itu adalah hal yang wajib. Om yakin ada alasan mengapa Fattah meminta kamu untuk berhenti dan lebih baik fokus di rumah, mungkin bisa jadi karena dia ingin yang terbaik untuk kehidupan kalian di masa mendatang. Bagaimana setelah seminggu tinggal di rumah Fattah? Kamu hidup bahagia kan?" Pendar bola mata sayu milik sang paman, tak kuasa ditatapnya lebih lama dari pada biasanya. Syakira lebih memilih membuang pandangan ke depan. Karena di sini, ia tak mau lukanya terbaca hanya memalui tatapan mata. "Bahagia kok." "Syukurlah, Om memang banyak sekali berharap tentang kebahagiaan kalian. Karna jujur sekarang Om udah nggak bisa kasih kamu kehidupan layak lagi, Sya. Om cuma bisa berharap pada Fattah agar bisa membuat hidupmu bahagia." Syakira menghela napas. Dulu Rizal merupakan orang yang terbilang mampu, tetapi karena belum juga memiliki anak, pria yang merupakan adik dari ayahnya itu pun mengangkatnya sebagai anak. Awalnya Syakira merasa senang karena diterima dengan baik. Tetapi semakin lama ia semakin merasa jika bibinya itu tidak menyukai keberadaannya. Dan di sanalah puncak masalah terjadi. Bibinya kabur dengan membawa serta aset penting sang paman, bahkan sertifikat rumah pun tak luput dicurinya. Hingga tak lama usai insiden itu, pamannya kolaps, tak ada satupun aset yang tersisa kecuali rumah kecil yang ditempati mereka sekarang. Rumah itu dibeli ketika usai Syakira mencapai delapan belas tahun dan sekarang menjadi tempa keduanya berlindung dari terik matahari dan dinginnya cuaca malam hari. "Yang penting Om sehat walafiat itu adalah kesejahteraan buat aku, kebahagiaan buat aku. Tolong sembuh ya, jangan sakit-sakit terus." "Iya, Om usahakan. Omong-omong Fattah tahu kamu ada di sini?" "Ya, aku udah pamit tadi." Tidak berdosakah ia berbohong? "Ya sudah, tapi usahakan pulang lebih cepat sebelum suamimu datang. Kamu harus menyiapkan kebutuhannya selama di rumah bukan? Jangan buat dia menunggu, ya." Syakira terdiam, menyiapkan kebutuhan Fattah? Ia tertawa keras di dalam batin. Bahkan untuk sesuap nasi saja Fattah tak mau menyentuh jika itu hasil masakannya, apalagi menyiapkan kebutuhan yang lain. Ironis sekali bukan? "Iya, Om. Jangan khawatir! Om udah makan?" Rizal mengangguk, laki-laki yang kini hanya duduk diam di rumah tanpa memiliki pekerjaan apa pun itu selalu memasak untuk makannya sendiri. "Oh iya, Sya. Kemarin ibu kamu telpon Om." Syakira tidak terkejut oleh informasi yang disampaikan sang paman. Pasalnya sang ibu memang kerap menelpon Rizal sejak ia masih anak-anak. "Minta uang lagi?" "Enggak kok, dia cuma tanya kabar kamu aja." Syakira mencibir dalam hati. "Kalau telpon lagi bilang aja aku sehat. Tapi, kalau tujuannya cuma minta uang, jangan dikasih!" Rizal tertawa terbahak-bahak. "Gimana mau ngasih, makan tiap hari aja om numpang sama kamu sekarang." Syakira ikut tertawa. "Maaf ya, Om. Selain direpotin sama aku, ternyata Ibu juga bikin repot om. Selalu minta uang dengan jumlah yang nggak kira-kira." "Udah nggak apa-apa. Selagi ada, Om nggak keberatan kok. Tapi sayangnya keadaan Om nggak kayak dulu lagi. Jadi, maaf banget nggak bisa ngasih apa-apa sama kamu, sama ibu kamu." Mendadak perasaan Syakira menjadi melo di sini. Ia terbawa suasana karena memang hatinya sedang dalam keadaan kalut bukan main. "Perjuangan Om bebasin aku dari mereka dan membesarkan aku bahkan nyekolahin aku di tempat paling baik itu lebih dari cukup, bahkan mungkin aku nggak akan sanggup membalas semuanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN