BAB 1. PAHITNYA SEBUAH KEGAGALAN
Nadia Arabella sebelum berganti nama menjadi Mysha Salena.
Ada sebuah alasan yang membuatnya harus mengganti identitasnya bersamaan dengan perubahan fisiknya.
Saat-saat menyakitkan yang tidak akan pernah terlupakan dalam memori otaknya.
Kisah itu akan tersimpan rapat dalam kenangan hidup yang membuatnya menjadi wanita kuat dan mandiri. Kenangan yang tidak akan pernah lagi untuk dibuka dan berusaha melupakan kejadian pahit yang pernah dilalui.
TIGA TAHUN YANG LALU SAAT ITU ...
Menjelang hari pernikahan tiba, seorang pengantin wanita terduduk lesu menanti kedatangan keluarga mempelai pria yang tak kunjung datang. Tamu undangan yang hadir dibuat kebingungan karena sudah hampir dua jam acara ijab kabul belum juga dilaksanakan.
Sang penghulu pun sudah tidak sabar ingin pergi kembali karena ada banyak jadwal yang sudah menantinya.
Kegelisahan mulai mengusai wajah Nadia dan keluarganya. Mereka takut akan ada kejadian yang membuat mereka malu. Kekhawatiran masih menghinggapi perasaan mereka sambil terus memandang ke sekitar dan berharap ketakutannya akan sirna.
"Pak, bagaimana ini? Aku masih banyak schedule yang belum dilaksanakan." Si penghulu mulai resah.
"Sabar, Pak. Mungkin sebentar lagi mereka datang." Ayah Nadia mencoba menahan penghulu.
"Baiklah aku tunggu sampai 30 menit lagi, kalau sampai belum datang kita undur saja ke lain waktu. Kasian pasangan yang lain juga sedang menunggu kehadiranku."
"Baiklah, Pak."
Terdengar sayup-sayup suara bisikan mulut-mulut yang asyik bergibah di belakang Nadia.
"Eh...lihat! Masa udah jam segini mempelai prianya belum juga hadir" bisik si penggosip
"Iya, udah keringetan begini gara-gara kelamaan nunggu. Mana perut udah laper keroncongan" timpal yang lainnya ikut bergosip.
"Mungkin perjalanan macet kali, kalian ini bisanya nyinyir aja." ucap seseorang mencoba menghentikan mulut-mulut comber yang berisik.
Selang beberapa waktu berlalu tapi masih belum ada tanda-tanda kedatangan mempelai pria di ujung jalan sana.
Telinga Nadia mulai panas dan tidak tahan atas gunjingan yang mengarah padanya. Matanya mulai berembun, rasanya sudah tak sanggup lagi Nadia menahannya. Perlahan matanya menitikkan air mata.
MALAM PUN TIBA...
Nadia duduk termenung dekat jendela kamar sambil menatap bintang dengan pikirannya yang melayang.
"Nadia" panggil ayahnya yang melihat putrinya seperti kehilangan harapan, gaun pengantin yang dikenakannya masih melekat hingga malam tiba.
"Ayah, apa salahku kenapa dia tidak datang? Bahkan dia tidak memberiku kabar apapun." Nadia meracau dengan tatapan sendu kelabu.
"Sudahlah, Nak. Tidak usah kamu pikirkan, mungkin belum berjodoh. Ini adalah ujian hidup yang harus kamu terima betapapun pahit rasanya untuk kamu telan. Belajarlah menerima kenyataan," Ayah Nadia mencoba menghibur dan merangkul anaknya, dia putri kesayangan satu-satunya.
"Sesakit inikah rasanya? Bahkan terasa sekali sesak di d**a hingga aku tak mampu bernapas" Nadia menangis hingga sesegukkan.
"Sudah Ibu bilang jangan kamu terima pinangan darinya. Dari awal Ibu sudah curiga, dia hanya main-main saja. Mana mungkin orang seperti dia akan serius menjalin hubungan denganmu. Jadi percuma kamu tangisi, dia belum tentu akan kemari mungkin saja di sana dia sedang enak-enak sama wanita lain, atau juga..."
"Stop, Bu! Jangan kamu teruskan! Omonganmu itu lho bisa bikin bertambah sedih Nadia" sela Ayah tidak terima. "Bukannya menghibur malah ngomporin, kan suasana jadi tambah panas" lanjut ayah Nadia.
Ibu mencebikkan bibirnya lalu berkomentar, "Ayah terus saja membela anak kesayanganmu itu, tidak pernah mau mendengarkan ibu. Kalo sudah begini kan ibu juga yang malu, yah?!!"
"Bukan gitu maksud ayah, tapi lihatlah Nadia sedang terpuruk dan butuh dihibur. Jangan buat dia tambah menyesali keputusannya."
"Terserahlah, urus aja anakmu itu sendiri. Awas aja kalo lain waktu dia bikin masalah lagi dan keluarga kita kembali dipermalukan olehnya."
Dengan menghentakkan kakinya karena kesal ibu tiri Nadia berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Udah keluar duit banyak buat resepsi mana masih nunggak eh malah batal, mau taruh dimana mukaku ini? Si ayah malah ngebelain anaknya itu nggak mikirin perasaan ibu juga. Dasar nyebelin," gerutu ibu tiri Nadia menuju kamarnya dan sedikit terdengar sampai telinga ayah Nadia. Ayah Nadia hanya menggeleng-geleng kepalanya saja dan bernafas berat.
Ayah Nadia masih menemani Nadia yang sedang sedih dan meratapi nasibnya.
Mata Nadia sembab, entah sudah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan meratapi nasib yang sedang menimpa dirinya. Pikirannya kosong melayang jauh mengabaikan orang-orang sekitar.
Betapa malunya Nadia diperlakukan seperti ini di hari yang selalu dinantikannya. Pria yang dicintai Nadia dengan tega membatalkan pernikahan secara sepihak tanpa ada kabar dan menghilang begitu saja. Keluarga Nadia pun dibuat malu atas kejadian ini.
Acara pernikahan yang jadi berantakan tanpa kehadiran mempelai pria membuat semua orang bertanya-tanya dan memiliki asumsinya masing-masing atas apa yang sudah menimpa Nadia dan keluarganya.
Lamunan Nadia membuat bisikan-bisikan setan mulai merasuki pikirannya seolah dia mulai putus asa dan seakan hidupnya sudah tak berarti lagi. Lalu Nadia mulai gelap mata mencari jalan pintas untuk mengakhiri kesedihannya yang tak berkesudahan.
Kesempatan itu mulai diambil Nadia saat ayahnya keluar sebentar dari kamarnya. Nadia membuka jendela kamar dan kabur lewat jendela yang masih mengenakan gaun pengantin. Meskipun sedikit mengalami kesulitan karena gaun yang berbahan burkat menyangkut tapi bisa dilaluinya dan dengan mudah Nadia melenggang keluar dari jendela.
Nadia berlari dan terus berlari tanpa arah tujuan. Hanya ingin berlari menghindari cibiran orang-orang yang terus menggosipkannya, memojokkannya dan menyalahkannya. Rasanya Nadia seperti kehilangan muka saat akan berhadapan dengan orang lain.
Wanita mana yang bisa menggambarkan betapa sakitnya saat pernikahan gagal karena sebuah alasan yang tak jelas. Harapan yang melambung tinggi akan dipersunting oleh pria pujaan hati dan menjadi ratu sehari saat duduk di pelaminan harus kandas menyisakan luka yang amat terdalam.
Menerima kenyataan hidup yang pahit tak semudah mulut bicara. Mungkin kejadiannya hanya sehari tapi sakitnya belum tentu hilang dalam sekejap. Semua akan jadi memori hidup yang akan terus terkenang.
Nadia memang memiliki fisik yang kurang menarik, berat tubuhnya di atas berat badan ideal dan kulitnya sawo matang tapi Nadia yakin bahwa ia masih memiliki inner beauty dalam dirinya yang mampu menarik lawan jenis untuk menyukainya.
Hingga datanglah seseorang yang masuk dalam kehidupannya, betapa bahagianya Nadia sebagai seorang wanita yang berwajah pas-pasan tiba-tiba dicintai oleh seorang pria.
Tapi siapa sangka seseorang yang dicintai Nadia justru akan menjadi orang yang dibencinya seumur hidup karena telah mempermainkan perasaannya juga keluarga besarnya pun dipermalukan di khalayak ramai.
Nadia kini berada di atas jembatan yang menghubungkan antar dua desa, di bawahnya ada aliran sungai yang mengalir deras. Nadia mulai nekat ingin mengakhiri hidupnya, ia beranggapan dengan begini masalahnya akan selesai. Tak ada lagi kenangan pahit dalam hidupnya dan akan hilang bersama kepergian dirinya.
Jalanan yang mumpung sepi, Nadia mulai melakukan aksi nekatnya terjun dari atas jembatan. Dengan aba-aba dalam hatinya lalu menarik nafas sambil berhitung :
" Satu...dua...tiga"
Nadia pun melompat ~~~~~~~~
BYUUUURRRR
----
----
Bersambung...