Rintik hujan turun membasahi jendela mobil Ibam. Keduanya sudah dalam perjalanan pulang. Ibam melirik Ivi yang sedari tadi diam. Dia tahu wanita itu tak baik-baik saja. Ia menyesal. Ia menyesal menyuruh wanita itu datang ke acara itu. Ia tidak pernah berpikir teman-temannya mampu melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan itu. Ia tidak menyangka bahwa orang-orang itu bisa menjadikan hal itu sebagai bahan lelucon. Orang-orang itu mengatakannya dengan tawa seperti sedang membicarakan gosip artis di televisi dan tanpa rasa bersalah. Ia tahu bahwa pendidikan seseorang tak menjamin orang itu memiki simpati dan empati. Mobil itu berhenti di depan gerbang rumahnya saat hujan semakin deras. Ibam baru saja hendak membuka safety beltnya untuk keluar dan membuka gerbang saat melihat Ivi sud

