Vanya ada di rooftop kantornya pagi itu. Sebelah tangannya memegang benda pipih yang ditempatkan ke sebelah telinganya. Garis bibirnya terangkat membentuk senyum. Matanya menatap gedung-gedung tinggi di depannya. Angin yang berembus menerbangkan beberapa helai rambutnya yang hari itu tergerai melewati bahunya. Sesekali tawa kecil keluar dari mulutnya. Ia membalik badan dan menyandarkan bagian belakang tubuhnya di tembok rooftop hingga akhirnya matanya bersirobok dengan mata Ibam yang juga tengah mentapanya. Vanya tersenyum dan menundukkan kepalanya pada pria itu. Ibam berdiri lalu menghampiri Vanya tepat saat gadis itu menutup panggilannya. Ibam menatap Vanya yang raut wajahnya tampak berbeda saat terakhir kali ia lihat di tempat itu. Wajah gadis itu kini

