CHAPTER EMPAT PULUH EMPAT

1881 Kata

Vanya melirik jam dinding. Sudah lewat jam sembilan malam. Ia melirik Ibam yang duduk di depannya. Pria itu fokus dengan lembaran-lembaran kertas di tangannya, begitupun ia. Keduanya tengah berada dalam satu meja dengan tumpukan dokumen di atasnya.            Vanya melirik dua buah piring kotor bekas makan mereka di meja sebelah dengan dua buang cangkir berisi ampas kopi di dalamnya. Tatapannya lalu kembali pada Ibam yang tampak serius. Sebuah kacamata membingkai kedua matanya. Bola matanya bergerak seirama membaca tiap baris kalimat yang ada di dalam lembaran yang sedang ia pegang. Vanya menopang wajahnya dengan sebelah tangannya. Ia menatap wajah serius di depannya.            Ibam menengadahkan kepalanya hingga tatapan keduanya bersirobok. Vanya terkejut. Tangan yang menopang wajahn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN