“Mas Ibam cuti. Mbak Ivi sakit katanya.” kata Vanya saat ia berdiri di depan lift bersama Ari. “Sakit apa?” tanya laki- laki itu. Vanya menggangkat bahu. Ia mengetikkan ibu jarinya di atas layar ponsel untuk membalas pesan pria itu. Keduanya masuk ke dalam lift saat pintu itu terbuka. Mereka beriringan menuju runag legal yang sudah menghadirkan Fery di dalamnya. “Van, Ibam udah WA?” tanya laki- laki itu saat Vanya duduk di kursinya. “Udah, Mas.” Gadis itu menjawab sambil menaruh tasnya di laci meja. “Yaudah, kamu kirimin data-data yang dia minta, ya.” Vanya mengangguk sebagai jawaban tercepat. Ia menekan tombol pada CPUnya untuk menyalakan komputer. *** Ibam masuk ke dalam kamar dengan satu mangkok berisi bubur

