Jam menunjukkan pukul enam sore saat Ivi mematikan komputernya. Ia sudah membereskan dokumen-dokumen di atas mejanya dan kini tengah membereskan barang-barang pribadinya. Setelah memastikan bahwa semua barang pribadinya sudah ia masukkan ke dalam tas dan tak ada yang tertinggal, ia menenteng tas itu dan pergi keluar dari ruangan. “Wah… tumben, Mbak Ivi.” kata salah satu karyawan perempuan saat melihat Ivi sudah rapi dan bersiap pulang. Biasanya, Ivi tetap anteng di kursinya meski seluruh ruangan diluar sudah sepi dan tak meninggalkan siapapun. “Iya, nih...” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Ia berpamitan pada teman-temannya lalu keluar dari ruangan dan berjalan mendekati lift. Ia bergabung bersama teman-temannya yang juga sudah ingin pulang.

