Ari membuka pintu ruangan dengan kasar lalu mengempaskan tubuhnya di kursinya setelah menaruh map dan satu paper bag di atas meja. Vanya yang ada di sebelahnya menoleh dan menatap wajah pria itu yang tampak kesal. “Kenapa?” tanya gadis itu. “Gue ngurusin ini dari kemarin nggak selesai-selesai coba. Dipersulit banget.” Ari menunjuk dokumen perijinan dalam map yang tadi ia bawa. “Sabar.” Vanya mendekat lalu mengusap bahu laki- laki itu. “Lo udah makan belum?” tanya Ari. Ia menegakkan tubuhnya saat melihat Vanya mengangguk. Sebelah tangannya mengambil paper bag yang tadi ia bawa dan membukanya. Ia mengambil dua cup dari sana dan memberikan salah satunya pada Vanya yang langsung mengucapkan terima kasih. “Mbak Natalie ada di kafe

