Ivi menggeliatkan tubuhnya. Perlahan kedua matanya terbuka dan langsung menangkap sinar matahari yang mengintip dari sela-sela tirai. Wanita itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, merenggangkan otot-ototnya terasa kaku. Ia bangun dari duduknya dan turun dari ranjang. Berjalan mendekati jendela besar di kamar itu dan menyibak tirainya hingga sinar matahari masuk ke ruangannya. Terasa hangat. Ia membalik badan lalu mendekati meja dan mengambil ponselnya. Ia menekan tombol power hingga layarnya menyala. Retetan denting langsung terdegar. Ada puluhan panggilan tak terjawab. Yang terakhir tercatat jam setengah lima pagi. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri membaca pesan yang masuk. Ibam: Vi... Ibam: Sayang... maafin aku. Ibam: Vi... kamu di mana? Ibam:

