CHAPTER DUA PULUH LIMA

2472 Kata
Ibam memakirkan mobilnya di pelataran kantor ayahnya. Sebelum berangkat ke kantor, ia dan Ivi memutuskan untuk mampir dan menitipkan Loki sebelum mereka berangkat liburan. Setelah melepas safety belt, keduanya keluar dari mobil. Ibam membuka bagasi dan mengelurkan Loki sudah ditaruh dalam kandang. Keduanya masuk ke dalam gedung tiga tingkat itu.            Ibam jalan mendahului Ivi dan membukakan pintu untuk wanita itu. Suasana kantor masih sepi, hanya resepsionis di belakang meja besar yang terlihat.            “Ayah udah datang belum?” tanya Ibam pada perempuan muda itu.            “Ivi…” suara itu membuat Ibam dan Ivi menoleh ke asal suara. “Ibam…” katanya lagi saat ia mengenali si pria yang berdiri di samping Ivi.            “Natalie.” Ivi melihat wanita itu berdiri dari duduknya dan menghampirinya.            “Natalie…” kata Ibam saat menyadari siapa wanita yang mendekat ke arahnya.            “Lho… kalian saling kenal?” tanya Ivi dengan nada kebingungan. Ia menatap Natalie dan Ibam bergantian.            “Dia teman SMA aku.” Jawab Ibam. “kamu kenal Natalie di mana?”            “Ini pemilik kafe tempat kamu jemput aku waktu itu. Yang aku kasih kartu nama Ayah.” Jawab Ivi.            “Jadi kalian suami istri?” tanya Natalie dengan nada tak percaya. Ia merasa bahwa dunia benar-benar senpit. Ivi mengangguk sambil tersenyum.            “Kok mau, sih, sama Ibam? Dia kan ngeselin.” Kata Natalie yang langsung membuat Ivi terkekeh pelan.            “Justru itu. Cuma dia yang bisa tahan sama sikap ngeselinnya gue.” Ibam merangkul pundak istrinya dengan posesif.            Sementara Ibam pergi ke ruangan ayahnya. Ivi dan Natalie mengobrol singkat. Wanita itu bertanya sudah sampai mana proses perceraian wanita itu. Natalie bilang bahwa masih butuh beberapa kali sidang untuk mendengar putusan hakim. Ia berterima kasih pada Ivi yang akhirnya membuka matanya bahwa ia berhak memperjuangkan segala harta bersama. Ia beryukur bisa bertemu wanita itu disaat yang tepat. Ia tidak tahu jika sampai akhir ia memilih untuk mengikhlaskan harta gono-gini. Berkat Ivi, ia bisa berpikir dengan jernih. Selingkuhan suaminya sudah berhasil merebut suaminya darinya, ia tidak akan membiarkan wanita itu menguasai harta bersamanya. Kini ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan haknya. ***            Pipit sedang menunggu lift saat Vanya menghampirinya dan berdiri di sebelahnya.            “Pagi, Mbak.” Sapa gadis itu.            “Pagi.” balas Pipit. “kamu berangkat naik apa?” tanyanya saat keduanya masuk ke dalam lift.            “Naik Transjakarta.” Jawab Vanya. Keduanya keluar dari lift lalu menuju ruangan yang sama.            “Kamu udah sarapan belum, Van?” tanya Pipit saat Vanya hendak berbelok masuk ke ruangannya.            “Belum, Mbak.”            “Ke tempat biasa, ya. Gue bawa makanan.” Pipit menunjuk meja kosong tempat biasa mereka berkumpul dengan dagunya. Vanya mengangguk sambil tersenyum lalu masuk ke ruangannya untuk menaruh tasnya.            Setelah menaruh tas dan menyalakan komputernya, Vanya keluar dari ruangan dan pergi menju meja kosong yang tepat berada di depan meja Pipit diujung ruangan. Wanita itu tengah mengeluarkan satu boks makanan dari plastik dan menaruhnya di atas meja. Ruangan itu masih sepi, hanya ada Pipit dan Vanya yang ada di sana.            Dalam perjalanan, Tyo memang mengajak Pipit untuk mencari sarapan dulu. Laki-laki memutuskan untuk berhenti di salah tenda penjual bubur. Keduanya makan di tempat, namun Tyo kembali memesan dua porsi untuk dibungkus.            “Mbak udah sarapan?” tanya Vanya saat ia membuka boks yang disodorkan Pipit.            “Udah.” Jawabnya, pintu ruangan terbuka, Pipit menengadah dan langusng melambai pada Ari yang muncul dibaliknya, “sini, Ri.” Katanya dengan nada sedikit berteriak. Laki-laki itu langsung berjalan mendekati keduanya dan duduk di sebelah Vanya. “udah sarapan belum lo?” tanya Pipit.            “Belum, Mbak.” Jawab laki-laki itu. Ari melepas tasnya dari punggung dan menaruhnya di kursi kosong di sebelahnya.            Pipit kembali mengeluarkan satu boks makanan dari plastiknya dan mendorongnya ke depan Ari.            “Alhamdulillah. Rejeki anak sholeh.” Kata laki-laki itu sambil tersenyum lalu membuka dan memulai suapan pertama.            Pipit tersenyum menatap dua anak muda di depannya. Anak muda yang perjalanannya masih begitu panjang. “Kalian tuh masih muda. Jangan dibiasain nggak sarapan. Nggak bagus.” Kata Pipit yang langsung membuat Vanya dan Ari mengangguk. “jangan sampai telat makan juga.” Katanya lagi. Pipit meneruskan cermamahnya pada dua anak muda itu hingga keduanya mengabiskan makanan mereka.            “Makasih, ya, Mbak.” Kata Ari, “kapan lagi dapat sarapan gratis plus motivasi.” Ari mengacungkan dua jari jempolnya sementara Vanya dan Pipit terkekeh pelan. ***            “Kamu kenal dekat sama Natalie?” tanya Ivi saat mereka dalam perjalanan ke kantor. Mobil Ibam melaju bersama dnegan mobil lain di jalan raya yang lumayan padat.            “Dekat banget. Selama tiga tahun kita sekelas bareng.” Jawab Ibam tanpa melepas pandangannya dari jalanan.            “Terus lost contact gitu? Setiap reuni kamu nggak pernah ketemu dia?” tanya Ivi lagi. Ia melihat pria di sebelahnya menggeleng pelan sambil menoleh ke arahnya sekilas.            “Lepas lulus SMA, dia udah nggak pernah ada kabarnya lagi. Setiap reuni juga nggak pernah dateng.”            “Dunia sempit banget, ya.” Kata Ivi. Ia tidak menyangka bahwa ternyata Natalie justru sudah kenal suaminya lebih dulu.            “Iya, aku nggak nyangka juga kalau perempuan yang kemarin kamu ceritain itu ternyata dia. Kasihan juga kalau dengar cerita kamu kemarin.”            “Iya, kan. Makanya aku minta dia urus harta bersama. Keenakan suami sama selingkuhannya.” Kata Ivi dengan nada kesal.            “Iya benar. Untung dia ketemu kamu.” kata Ibam. ***            Natalie memakirkan mobilnya di depan kafe barunya. Ia keluar dan melihat beberapa tukang tengah memasang plang nama cafenya. Ia masuk ke dalam dan melihat beberapa tukang dan karyawannya sedang manata meja dan kursi. Beberapa yang lainnya mengelap etelase panjang. Mereka sibuk menatap semuanya karena kafe itu akan buka besok.            Ini adalah cabang ke empat dari kafe milik Natalie. Kafe itu ada di wilayah perkantoran yang ia harapakan akan ramai seperti kafe-kafe miliknya yang lain.            Wanita itu pergi menuju dapur. Di dapur ada pintu terusan yang merupakan ruang baking. Ruangan luas yang akan menjadi tempat pembuatan cake dan pastry lainnya. Ia mendekati sang baker yang sedang mengecek bahan. Baker itu wanita berumur awal akhir tiga puluhan sedangkan asistennya yang sedang memasukkan bahan-bahan di kulkas berumur awal tiga puluhan. Wanita akhir tiga puluhan itu adalah salah satu baker senior di kafe utama miliknya.            Natalie berbicara pada Dona, si senior baker. Ia bertanya apakah semua bahan yang wanita itu butuhkan sudah lengkap, dan menyuruh wanita itu menghubunginya jika membutuhkan sesuatu.            Setelah Natalie memastikan bahwa wanita itu bisa memulai pekerjaan besok dengan baik, ia kembali keluar. Ia menatap papan menu yang sudah terpasang di dinding, lalu ke meja kursi yang sudah berderet rapi, etelase yang sudah pada posisinya, dinding kaca yang tampak mengkilat.            Natalie menyuruh karyawan-karyawan itu berkumpul. Beberapa dari karyawan itu merupakan karyawan lama yang sengaja ditugaskan di cabang baru untuk mengontrol jalannya kafe itu. Ia berkumpul bersama karyawan-karyawannya dan membicarakan banyak hal mengenai kafe yang akan dijalankan besok. Natalie memberitahu apa-apa saja yang perlu diperhatikan dan harus mereka hindari sebagai kasir, barista, baker dan server. ***            Ivi dan Jeni menatap Tyo yang ada di depannya. Yoga juga menoleh ke samping, ke arah Tyo yang duduk di sebelahnya.            “Benar, kan. Ada yang aneh sama Tyo hari ini?” tanya Jeni pada dua temannya yang akhirnya mengangguk bergantian. “gue bilang juga apa.” Lanjutnya.            “Lo abis dapat lotre?” tanya Ivi. Tyo menggeleng lalu kembali melanjutkan makannya. Ia mengarahkan sendok ke dalam mangkok berisi sop daging lalu memasukannya ke dalam mulut dan mengunyahnya pelan.            “Dia dari pagi senyum mulu. Kayak bahagia banget.” Kata Jeni. “habis dapat lotre lo?” Ia adalah orang pertama yang menyadari ada berbeda dari Tyo hari ini. Tyo yang biasanya memang selalu ceria dan kerap menularkan aura positif untuk yang lain, tapi kali ini sedikit berbeda. Laki-laki itu terus menerus menyunggingkan senyum seakan-akan ingin memberitahu seisi kantor bahwa ia sedang sangat bahagia.            “Lo dapat tawaran kerjaan yang gajinya lebih besar?” kali ini pertanyaan keluar dari mulut Yoga. Fokus Ivi dan Jeni kembali kepada Tyo yang langsung menggeleng.            “Nggak mungkin lah gue pindah kantor. Di mana lagi gue bisa nemuin temen ghibah sehebat kalian.” Katanya sambil tertawa.                    Ivi sebenarnya ingin menanyakan apakah karena Pipit. Namun ia mengurungkan niatnya karena keberadan Jeni dan Yoga. Ia takut Tyo tak nyaman jika membicarakan Pipit dengan keberadaan orang lain di antara mereka.            “Jangan-jangan lo udah jadian sama Pipit, ya?” tanya Jeni. Mata Ivi membulat. Tak menyangkan bahwa pertanyaan itu akan keluar dari mulut Jeni. Ia pikir ia adalah satu-satunya orang yang tahu mengenai Pipit.            “Pipit siapa?” tanya Yoga.            “Lo tahu Pipit?” tanya IVI pada Jeni dengan raut wajah penasaran.            “Cewek yang lagi PDKT sama Tyo.” Jawab Jeni, “eh, dia temen kantor lama lo kan?” tanyanya saat mengingat bahwa Ivi lah yang secara tak sengaja mempertemukan Tyo dengan Pipit.            “Iya. Gue pikir dia nggak cerita sama siapa-siapa soal Pipit.” Ujar Ivi.            “Orang ember kayak dia mana bisa diem-diem. Dia cerita sama gue doang sih katanya.” Kata Jeni.            Semua mata kini menatap Tyo dengan intens. Pria itu tersenyum, namun tak memberikan jawaban apapun. Ia menyesap minumannya hingga tersisa setengah lalu berdiri.            “Yuk, balik ke kantor.” Katanya. Ia meninggalkan meja untuk menyelesaikan pembayaran lalu berjalan mendahului teman-temannya yang masih kebingungan. ***            Ivi : Pipit hari ini gimana?            Dahi Ibam berkerut dalam saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya.            Ibam : Gimana apanya?            Ibam masih memegang ponselnya dan tak lama pesan balasan masuk.            Ivi : Hari ini Tyo berbunga-bunga banget. Kayaknya dia udah jadian sama Pipit, deh.            Refleks, Ibam berdiri lalu keluar dari ruangannya. Ia bediri di depan ruangannya lalu menatap jauh Pipit yang sedang berdiri di depan dispenser. Wanita itu tengah berbicang dengan rekan kerja lainnya sambil tertawa. Dalam pandangan Ibam, tidak ada yang berbeda dengan Pipit. Wanita itu tak terlihat berlebihan dari biasanya.            Ibam : Pipit biasa aja, sih.            Pintu di belakang Ibam terbuka dan Vanya yang tak mengetahui keberadaan pria itu lantas menabrak punggung tegap pria itu.            “Eh, maaf, Mas.” Kata gadis itu dengan nada tak enak. Ia mengusap keningnya yang membentur punggung Ibam yang keras.            “Saya yang minta maaf karena berdiri sembarangan.” Kata Ibam saat ia membalik badan. “kening kamu nggak apa-apa?” tanya pria itu saat melihat gadis di depannya mengusap- usap keningnya.            “Nggak apa-apa, Mas.” Jawabnya.            Ibam menyingkir lalu membiarkan Vanya mendahuluinya dan mendekat ke mesin fotocopy.            Vanya menaruh lembar kertas di atas mesin fotocopy lalu menoleh pada Ibam yang masih berada di depan pintu ruangannya dan tengah fokus pada ponsel di tangannya. Setelah selesai memperbanyak lembar di mesin itu, Vanya kembali ke ruangannya.            “Makan, yuk, Van.” ajak Ibam. Dalam ruangan itu memang hanya ada keduanya karena Fery dan Ari tengah pergi ke kantor notaris.                      “Eh?” Vanya menoleh ke arah Ibam yang langsung mengulangi pertanyaannya. Pria itu berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar ruangan.            Kedua mata Vanya mengerjap dua kali. Berusaha menyakinkan diri bahwa ia baru saja mendnegar bahwa Ibam mengajaknya makan. Saat mendengar pintu ruangannya tertutup, Vanya buru-buru menyimpan pekerjaannya di komputer lalu mengikuti Ibam keluar dari ruangan. Ia berdiri di depan ruangannya lalu melongok sekeliling dan tak menemukan sosok pria itu.            Mas Ibam ngajak makan atau nyuruh makan, ya. Pikir Vanya kebingungan. Ia akhirnya pergi ke toilet sebelum akhirnya menuju lantai bawah dengan lift. Saat keluar dari lift, ia terkejut melihat Ibam duduk di sofa di depan meja resepsionis.            “Lama banget.” Kata pria itu saat ia menengadah dan melihat Vanya mendekat ke arahnya.            Vanya belum sempat menjawab, pria itu sudah berdiri dari duduknya lalu keluar dari kantor. Vanya melebarkan langkah kakinya untuk mensejajarkan langkahnya dengan pria itu.            “Kamu mau makan apa?” tanya Ibam pada Vanya yang ada di sebelahnya, “saya yang traktir.” Lanjutnya.            “Terserah, Mas.” Jawab gadis itu karena bingung terlalu bingungan dengan ajak tiba-tiba pria itu.            Ibam tak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk pelan lalu fokus pada jalanan trotoar yang mulai ramai karena sudah masuk waktu makan siang. orang-orang berlalu lalang. Penjual makanan yang berderet di trotoar terlihat ramai. Mereka tak berbelok ke kawasan ramai di belakang kantor namun lurus terus hingga akhirnya sampai di sebuah restoran seafood yang cukup ramai.            “Kamu nggak alergi seafood kan?” tanya Ibam, Vanya menggeleng sebagai jawaban tercepat.            Ibam jalan lebih dahulu dan membuka pintu, membiarkan Vanya masuk lebih dulu. Vanya mengulas senyum seraya mengucapkan terima kasih lalu keduanya menempati salah satu meja yang masih kosong.             Tanpa bertanya, Ibam memesan beberapa menu seafood dan dua buah lemon tea.            Vanya menatap pria di depannya yang tengah sibuk dengan ponselnya. Ia melirik sekeliling, pelayan terlihat hilir mudik mengantarkan pesanan. Meja-meja di sana hampir semuanya terisi. Orang-orang berkumpul dan menikmati sajikan di atas meja sambil mengobrol. Kasir tak kalah sibuk dengan antrean di depannya.            Suara getar ponsel di atas meja membuat fokus keduanya teralihkan. Vanya melihat ponselnya yang ia taruh di atas meja bergetar dan melihat tulisan ibu di layarnya.            Vanya cepat-cepat mematikan panggilan. Membuat sebelah alis Ibam terangkat.            “Kenapa nggak diangkat?” tanya pria itu. berdoa suapa pertanyaannya tak menyinggung gadis di depannya. Ia tak punya maksud mencampuri urusan gadis itu atau yang lainnya. Pertanyaan itu keluar dari mulutnya secara refleks.            Vanya tak menjawab, hanya menggeleng pelan.            “Kamu bukannya ngekos sendiri di sini? Mungkin ibu kamu kangen sama kamu.” kata Ibam lagi. “coba telepon lagi.” Lanjutnya.            “Nggak, Mas, nggak apa-apa.” Vanya menunduk, memutus kontak mata dengan pria di depannya.            “Kamu lagi ada masalah sama Ibu kamu?” tanya Ibam. Mengindahkan raut tak nyaman gadis di depannya. Ia tahu ia seharusnya berhenti di sana. Namun entah kenapa ia penasaran.            “Nggak, sih, Mas. Daridulu Vanya memang nggak dekat sama Ibu.” Jawab gadis itu.            “Kenapa?” tanya Ibam tanpa sadar. Tapi ia merasa tak menyesal melontarkan pertanyaan itu.            “Ibu udah ninggalin Vanya dari kecil. Jadi, ya, sampai sekarang memang nggak begitu dekat.” Jawab Vanya. Ibam terenyak, tepat saat beberapa piring disajikan di depan keduanya.            Ibam menyuruh gadis di depannya untuk makan dan menahan ceritanya. Vanya mengangguk pelan lalu mengikuti Ibam dengan manaruh beberapa lauk ke atas piringnya dan memakannya pelan.            Di sela-sela makannya, Vanya sesekali melirik Ibam yang tampak menikmati makanannya. Pria itu sesekali membuka obrolan dan Vanya menjawabnya dengan singkat. Pria itu tak lagi bertanya mengenai pribadi Vanya. Laki-laki itu bertanya mengenai kasus-kasus yang sedang mereka tangani atau hal-hal lain seputar kantor.            Vanya mengamati wajah Ibam sesekali. Ke kedua bola mata cokelatnya. Ke rambutnya yang selalu rapi dengan bantuan gel, lalu ke rahangnya yang tegas. Hidung pria itu tak terlalu mancung namun terlihat pas. Dan bibir pria itu yang sering tersenyum. Pria itu memang terkenal sangat ramah di kantor. Pria itu baik dan suka sekali bercanda. Selalu ada tawa di mana pria itu berada. Dan ia merasa bahwa Ivi beruntung memiliki pria itu.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN