Fokus Vanya teralihkan saat Ari kembali dan duduk di sebelahnya. Laki-laki membawa dua buah plastik. Satu plastiknya berisi dua cup minuman dan satunya berisi satu tangkup burger dan churros beserta saus cokelatnya. “Makasih.” kata Vanya saat Ari menyodorkan satu cup berisi es kopi di depannya. Ia menaruh churros itu di tengah dan mengambil burger lalu mengigitnya pelan. “Besok pagi gue jemput, ya?” kata Ari. Vanya tersenyum sambil mengangguk. Vanya menatap sekeliling. Ke meja-meja yang penuh oleh gerombolan penjual-penjual yang tengah sibuk menyiapkan pesanan. Mata Vanya memindai sekliling. Semenjak pertemuan tidak sengajanya dengan teman kampusnya kemarin, Vanya sebenarnya agak takut berada di ruang-ruang publik. Ia takut bertemu dengan teman-temannya. Ia takut

