Vanya menatap layar ponselnya, membaca pesan yang masuk. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia berkali-kali menghela napas kasar. Udara pagi itu tak lagi terasa menyegarkan buatnya. Yang ia rasakan hanya rasa sesak yang menyelimuti rongga pernapasannya sehingga rasanya begitu sulit untuk bernapas. Gadis itu menarik napas panjang, mencoba menahan tangisnya yang ia tahu sebentar lagi akan pecah. Gadis itu berjongkok dan menyembunyikan kepalanya di atas lututnya. “Kamu kenapa di sini?” Suara itu membuat Vanya mendongak. Ia melihat Ibam menjulang tinggi di depannya. Ia buru-buru mengusap wajahnya dan berdiri. Vanya terdiam. Ia membalik badan dan menatap gedung-gedung tinggi di sekitar kantornya. Ibam mengambil posisi di sebelah gadis itu dan ikut menatap ke depan.

