“Udah mau pulang belum?” tanya Tyo saat berpapasan dengan Ivi di lift. Jam menunjukkan pukul setengah enam lewat saat keduanya bertemu di lantai dua dan menaiki lift yang sama.
“Ibam belum kelar.” Jawab Ivi, sebelah tangannya memegang budelan dokumen.
“Temenin gue ngopi, yuk.” Ajak pria itu.
“Lo nggak jemput Pipit?” tanya Ivi. Ia melihat pria di sebelahnya menggeleng pelan.
“Yadauh, gue beres-beres dulu.” Ivi keluar lebih dulu saat pintu besi itu terbuka. Tyo mengangguk lalu mengekor di belakangnya.
Ivi masuk ke ruangannya sementara Tyo kembali ke mejanya. Ivi menatap layar komputernya. Ia membuka menu email, memasukkan attchement, memasukkan nama penerima, judul email dan menulis kalimat di badan email. Setelahnya ia menekan menu kirim dan setelah memastikan emailnya sudah terkirim, ia menclose semua program yang terbuka di komputernya setelah memastikannya tersimpan dan menekan menu shut down hingga layar komputrenya mati.
Setelah itu, ia membereskan kertas-kertas dan dokumen yang ada di atas meja. Ia menaruh sebagiannya di laci dan sisanya di sudut meja yang kosong. Ia menaruh pulpen dan pensil ke tempatnya dan membereskan barang-barang pribadinya ke dalam tas.
Saat mengecek dompetnya, ia menemukan kartu nama Natalie, wanita yang ia temui di gym. Ia membaca kartu nama itu. Natalie Elianor Rose, Owner Near Coffe and Cake.
“Udah belum?” wajah Tyo menyembul di balik pintu. Ivi mengangguk lalu membawa kartu nama itu di tangannya. Ia keluar dari ruangan dan melihat Tyo berdiri di depan lift.
“Ke sini, yuk.” Ajak Ivi sambil menyerahkan kartu nama itu pada Tyo.
“Ini kartu nama siapa?” tanya Tyo tepat saat pintu lift terbuka. Keduanya masuk ke dalam kotak besi itu. Tyo membaca kartu nama yang diberikan wanita di sebelahnya.
“Pas kemarin kita ke gym, gue ngembaliin barang dia yang ketinggalan. Terus kenalan deh. Dia kasih kartu nama dan minta gue mampir lain kali.” Ivi menajwab. Matanya menatap deretan tombol angka di depannya.
“Oh, boleh deh. Nggak jauh juga dari sini.” Kata Tyo, keduanya keluar dari lift saat pintu besi itu terbuka di lantai dasar dan mengantre sebentar untuk menjejalkan salah satu jari mereka di mesin absen.
Keduanya langsung pergi menuju parkiran dan masuk ke mobil Tyo. Langit memerah saat mobil Tyo keluar dari area perkantoran. Jalanan terlihat cukup padat. Tyo menyalakan musik di mobilnya sementara Ivi berkutat dengan ponselnya. Memberitahu Ibam untuk menjemputnya di kafe yang akan ia datangi. Wanita itu juga memberikan alamat jelas di mana kafe itu berada.
“Habis makan siang, Mia nggak balik ke kantor, lho.” Tyo memberitahu.
“Ya nggak mungkin, lah, dia balik ke kantor lagi. Rambut sama baju udah basah begitu. Dia juga kan pasti lihat kalau videonya udah beredar.” Ujar Ivi sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Wanita itu melihat Tyo menghela napas panjang lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Gue nggak habis pikir, ya, sama mereka. Mia juga, dari sekian banyak cowok yang single, ngapain juga malah mau sama suami orang.” Kata Tyo.
“Ya hati manusia kan nggak ada yang tahu.” Ivi menatap ke jalanan di depannya. Mobil tengah berhenti di lampu merah.
“Sayang aja gitu. Masih muda, masa depan cerah, hidup masih panjang. Kalau sudah kayak gini, gimana coba?”
Ivi mengangguk, menyetujui perkataan Tyo. “Peselingkuhan itu memang sesuatu yang nggak bisa dimaafkan. Selingkuh itu kayak penyakit. Kalau kita maafin, pasti suatu saat bisa kambuh lagi.” Ivi memberi pendapat.
Tyo mengangguk lalu kembali menekan pedal gas saat lampu menunjukkan warna hijau.
“Tapi banyak, lho, Vi, perempuan-perempuan yang bertahan setelah diselingkuhin berkali-kali.” Tutur Tyo. Ia tahu dan mendengar sendiri cerita beberapa temannya yang memilih untuk bertahan meski pasangannya telah selingkuh berkali-kali.
“Buat perempuan yang hanya mengandalkan suami, memutuskan untuk cerai juga sulit, sih. Mereka juga mikir gimana hidupnya kalau bercerai dari suaminya, terutama menyangkut kebutuhan anaknya, atau ada yang bertahan demi anak. Memang nggak bisa disalahkan juga karena apa yang mereka lakukan pasti demi anak, meskipun hati sebenarnya udah nggak bisa nerima suami.” Jelas Ivi, “menikah kan nggak kayak pacaran yang bisa putus dengan gampang.”
“Itu kenapa wanita harus pintar cari duit, kan?” kata Tyo, “biar kalau ada case kaya gini, mereka bisa ambil keputusan yang tepat.” Kata Tyo.
Ivi mengangguk tanpa sadar, “jaman sekarang cari duit, kan, nggak harus kerja kantoran, banyak pekerjaan dari rumah yang bisa menghasilkan uang.” Kata Ivi. “gue percaya sih, kebahagiaan anak itu bermula dari kebahagiaan ibunya.” Kata Ivi, “jadi penting untuk membahagiakan dirinya sendiri dulu.”
“Nah benar, percuma kita bertahan demi anak, tapi kalau kita sendiri merasa tertekan dan nggak bahagia.” Kata Tyo.
“Tapi nggak semua pikiran orang kayak kita, Yo. Mungkin orang-orang diluar sana punya toleransi yang cukup tinggi buat pasangannya yang selingkuh. Gue nggak mau menghakimi sih.” Kata Ivi sambil menoleh ke arah Tyo yang tengah fokus pada kemudinya.
“Tapi gue salut, sih, sama istrinya pak Doni. Keren banget bsia ngegepin dan bikin malu keduanya.” Ujar Tyo sambil mengulum senyum. “istri sah tuh memang nggak boleh kelihatan lemah.” Kata Tyo.
“Menurut lo pak Doni bakal bertahan sama istrinya atau milih Mia?” tanya Ivi.
“Istrinya nggak bakal mau balik sama pak Doni, lah. Istrinya wanita karir, cantik, buat apa bertahan sama pak Doni yang udah main serong. Kehilangan pak Doni juga nggak berpengaruh apa-apa buat dia.” Jawab Tyo.
“Iya juga, sih.” Ivi menatap deretan restoran dan kafe yang ada di samping trotoar dan menunjuk tempat dengan plang Near Coffe and Cake di depan mereka. “itu, Yo.”
Tyo mengangguk. Ia melajukan mobilnya memasuki pelataran kafe dan memarkirkan mobilnya di tempat kosong. Ivi membuka safety belt dan keluar dari mobil dengan meneteng tasnya. Ia memasuki kafe dengan interior klasik yang di d******i warna cokelat itu. Lampu-lampu estetik tergantung di langit-langit. Meja-meja dan kursi dengan aksen kayu membuat tempat itu terasa nyaman.
Di depan Ivi terpampang etalase panjang berisi potongan-potongan kue dan pastry yang ditata dengan rapi. Seorang pramusaji menyapa Ivi dan Tyo. Ivi menatap isi etalase lalu memilih dua buah croissant.
“Lo mau apa, Yo?” tanyanya pada Tyo yang tengah membaca daftar menu di depannya.
“Nggak ah, gue ngopi aja.” Kata pria itu lalu menghampiri kasir. Tyo memesan secangkir kopi dan teh untuk Ivi dan membayar roti yang Ivi ambil sekalian. Setelah menerima kembalian dari pembayarannya, pria itu diberikan nomor meja dan diminta menunggu di meja yang telah di sediakan.
Ivi dan Tyo memilih tempat duduk dekat jendela. Kafe itu tak begitu ramai. Hanya ada enam meja yang terisi termasuk meja yang ditempati keduanya. Ivi memindai kafe itu baik-baik lalu tersenyum dan mengagumi selera Natalie dalam mendesain cafenya.
“Lo jadi mau bikin kafe setelah pensiun?” tanya Tyo tiba-tiba.
Ivi mengangguk tepat saat seorang pelayan mengantar pesanan mereka. Ivi mengucapkan terima kasih setelah dua buah gelas disajikan di depannya.
“Kenapa? Lo mau gue buru-buru pensiun biar bisa gantiin posisi gue?” tanya Ivi dengan nada bercanda yang langsung membuat bibir pria itu mengerucut kesal.
Ivi dan Tyo terlibat banyak obrolan hingga kafe itu mulai ramai. Karena berada didekat perkantoran, pengunjung kafe itu biasanya karyawan-karyawan yang berada di sekitar.
“Makin malam makin rame.” Kata Tyo saat melihat satu persatu orang masuk melalui pintu kaca dan mengambil meja kosong yang mulai penuh. Ivi mengangguk dan menatap sekeliling hingga akhirnya melihat Natalie yang tengah berada di balik etalase tempat karyawan. Ia menatap wanita itu hingga akhirnya tatapan mereka berdua bersirobok. Ia tersenyum, Natalie membalas senyum wanita itu dan keluar dari area khusus karyawan dan menghampiri mejanya.
“Sudah lama?” tanya Natalie dengan nada ramah. Ia duduk di samping Ivi saat wanita itu mempersilakannya. Tyo tersenyum pada Natalie dan menjabat tangannya untuk berkenalan.
“Lumayan. Tadi balik kantor langsung ke sini.” Kata Ivi.
“Gimana kue dan kopinya? Nambah, ya?” kata wanita itu saat melihat piring di atas meja sudah kosong dan dua gelas yang isinya tinggal sedikit.
“Udah, Nat. Cukup.” Kata Ivi. “enak kok rotinya. Kopinya gimana?” tanyanya pada Tyo.
“Enak, pas dilidah gue. Kayaknya bakal sering ke sini, nih.” jawab pria itu.
“Lo nggak pesan kopinya?” tanya Natalie pada Ivi yang langsung menggeleng.
“Dia nggak ngopi.” Tyo memberitahu.
“Oh, gitu.” Kata Natalie.
Ketiganya menatap jendela dan melihat titik hujan turun.
“Ibam masih lama?” tanya Tyo setelah menyesap tetes terakhir di cangkirnya.
“Bentar lagi sih, katanya. Lo kalau mau balik, duluan aja.” Ujar Ivi.
“Nggak apa-apa gue tinggal, ya.” Kata Tyo. Ia melihat Ivi mengangguk lalu pamit pada keduanya dan berjalan menuju pintu.
“Nunggu di jemput suami?” tanya Natalie.
“Iya.” Jawab Ivi. “lo belum pulang? Rajin banget owner sampai malam gini?” kata Ivi sambil terkekeh pelan. “apa nunggu dijemput suami juga?” tanya Ivi, tapi seketika ia menyesal melontarkan pertanyaan itu saat teringat surat yang ia temukan di ruang ganti tempat fitness.
Tapi Natalie tampak tak tersinggung. Ia tersenyum tipis dan bilang, “gue lagi proses cerai sama suami.”
“Sorry… gue nggak ada maksud…”
“Nggak apa-apa. Santai aja.” Sambar Natalie saat Ivi belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Natalie menatap gerimis di luar melalui dinding kaca di cafenya. “gue mutusin cerai karena suami ketahuan selingkuh sama perempuan lain.” Kata Natalie dengan senyum sinis di bibirnya. Ivi terenyak. Ia menarik napas panjang dan pikirannya berputar pada semua cerita yang akhir-akhir ini mengelilinginya. Adrian yang gagal tunangan karena memiluh berselingkuh dengan Ami, juga Pak Doni yang kemungkinaa akan diceraikan karena terlibat skandal dengan Mia, juga Pipit yang pernah gagal nikah karena calon suaminya lebih memilih wanita lain. Kini, Natalie mengalami hal yang sama. Ivi tidak tahu harus merespon seperti apa.
“Yang sabar, ya. Gue yakin lo bisa dapetin laki laki yang jauh lebih baik dari suami lo.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Ivi. Sebelah tangan wanita itu mengusap pundak Natalie yang tampak tegang.
“Selama tiga tahun, gue mengalami keguguran berulang hingga sampai saat ini gue belum punya anak.” Kata Natalie. Ia menatap kosong keluar jendela. “suami selalu bilang bahwa itu bukan masalah besar. Dia bilang kalau dia akan selalu ada di samping gue dengan semua kekurangan gue. Dia bahkan bilang meski kita nggak bisa punya anak, dia akan nerima dengan lapang dada.” Kata Natalie dengan nada lirih. “tapi akhirnya dia menyerah dan mencari perempuan yang bisa kasih dia anak dan main di belakang gue.”
Tubuh Ivi menegang. Ia merasakan sesak yang perlahan menyusup ke dadanya. Ia melihat Natalie yang tersenyum sinis, matanya berkaca-kaca, namun ia tahu wanita itu sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh.
Ivi mengusap pundak wanita di sebelahnya. Natalie menoleh dan tersenyum ke arah Ivi.
“Duh, sorry, ya. Gue jadi cerita macam-macam.” Kata wanita itu dengan nada tak enak. Ia mengambil tisu di atas meja dan menyeka sudut matanya. Ia tahu bahwa sejak Ivi menemukan surat dari pengadilan di ruang ganti, wanita itu pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi padanya. Sejak memutuskan untuk bercerai, Natalie memendam semuanya sendiri. Ia selalu tidur dengan rasa sesak yang kerap menyelimuti dadanya. Ia tidak tahu kenapa ia memilih menumpahkannya pada Ivi yang baru dikenalnya
“Nggak apa-apa. Kalau lo butuh teman cerita, telepon gue aja.” Kata Ivi. “gue berharap masalah lo cepat selesai dan lo bisa mulai hidup baru yang lebih baik.” Lanjutnya.
Ivi masih terus mendengarkan Natalie bercerita, setelah merasa lega karena sudah bercerita masalahnya pada Ivi, wanita itu menceritakan awal mula membangun bisnis kafe, bidang usaha yang juga mulai diminati oleh Ivi.
***
Ari mengeluarkan motor dari area kantornya dan melihat Vanya tengah berjalan menju halte transjakarta di depanya. Ia menekan klason dan menghentikan motornya di samping Vanya yang hampir terlonjak kaget.
“Jangan kebiasaan berhenti di samping gue. Bisa gue kira jambret.” Keluh gadis itu. Ari terkekeh pelan lalu meminta maaf.
“Gue anterin, yuk.” Ajak pria itu.
“Nggak usah, deh. Haltenya udah deket, tuh.” Vanya menunjuk halte yang sudah terlihat di depannya. “lo perasaan udah balik daritadi, deh. Kenapa masih di sini?” tanya gadis itu.
“Iya, tadi ngerokok dulu di parkiran.” Jawab Ari. “Ayok. Daripada desak-desakan di TJ.” Ari sudah menyodorkan helm pada Vanya yang akhirnya menerimanya. Ari melepas jaketnya dan memberikannya pada Vanya.
“Nggak usah, udah nggak ujan juga.” Kata gadis itu.
“Nggak apa-apa. Anginnya dingin.” Ari memberitahu.
“Ya mending lo aja yang pakai. Daripada nanti sakit.” Kata Vanya.
“Nggak apa-apa. Besok tinggal ijin kalau sakit.” Ari tersenyum lalu menyuruh Vanya mengambil jaket dari tangannya.
Jaket itu berpindah tangan. Vanya memakai jekat berbahan baby terry itu lalu naik ke jok belakang dan membiarkan Ari mengantarnya. Motor Ari membelah jalanan menuju kosannya yang berada di daerah Ragunan hingga berhenti di depan gerbang kost nya.
Setelah mengembalikan jaket dan helmnya, Vanya menarik ikat rambut milik Ari yang masih ia pakai dan mengulurkan benda kecil itu pada laki-laki di depannya.
“Buat lo aja.” Kata Ari. Ia turun dari motor untuk menaruh helm di jok motornya.
“Jangan, nanti adik lo nyariin.” Kata Vanya sambil tersenyum.
“Nanti gue beliin lagi buat dia.” Kata Ari. Tapi Vanya menggeleng, ia menarik sebelah tangan Ari dan menaruh benda berwana hitam itu di telapak tangannya.
“Gue duluan, ya. Makasih. Hati-hati di jalan.” Kata Vanya lalu berbalik.
Ari mengulurkan tangannya untuk menarik tangan Vanya saat gadis itu baru hendak melangkah. Vanya berbalik lalu menatp Ari dengan wajah kebingungnan. Ari mengambil posisi di belakang gadis itu. Kedua tangannya mengambil seluruh rambut panjang Vanya dan mengikatnya dengan ikat rambut yang baru saja Vanya kembalikan.
“Buat lo aja.” Kata Arri sambil tersenyum. Ia kembali duduk ke motornya dan menyelakan mesin. “Bye…” katanya lalu menarik gas dan melaju meninggalkan Vanya dengan kebingungannya.
TBC
LalunaKia