Vanya duduk di samping Ibam dan mendengar penjelasan pria itu. Pria itu tengah menerangkan kasus yang baru saja Vanya tanyakan padanya. Vanya mengangguk, dan menatap dokumen di depannya baik-baik sementara Ibam menjelaskan dengan begitu detail. Tangan pria itu menunjuk deretan tulisan yang ada di atas kertas dengan pensil dan Vanya mengamati dengan seksama. Selama beberapa saat, Vanya fokus pada suara pria itu. Suara pria itu terasa memenuhi kepalanya.
“Oh, gitu, ya, Mas.” Kata Vanya saat Ibam selesai menjelaskan. Vanya melirik Ibam dan melihat pria di sebelahnya mengangguk. Dari dekat, Vanya bisa mencium wangi cologne dari tubuh pria di sebelahnya.
Pria itu bertanya apa adalagi yang tidak ia mengerti. Namun Vanya menggeleng pelan.
“Makasih, Mas.” Kata Vanya lalu berdiri. Ia mengembalikan kursinya ke tempat semula dan kembali ke mejanya. Ia mengamati dokumen yang baru dicoret-coret oleh Ibam dengan pensil. Sekali lagi, ia melirik Ibam yang tengah fokus dengan komputernya. tataan pria itu terarah sepenuhnya pada layar, sedang kedua tangannya menari di atas papan ketik.
Dengan telinga, ia bisa mendengar pria itu tengah melakukan percakapan melalui telepon dengan sekreatris bos karena pria itu menanyakan apakan direksi sudah datang atau belum. Setelah mendapat jawaban, pria itu menaruh gagang telepon di tempatnya dan meneliti berkasnya sekali lagi, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, pria itu bilang pada Fery bahwa dia akan menemui direksi untuk memberikan laporan. Tubuh tegap pria itu lalu menghilang di balik pintu.
“Mas Ibam sama istrinya kelihtan mesra banget, ya, padahal katanya nikahnya udah lima tahunan lebih.” Kata Ari pada Fery yang langsung mengangguk. Ari mengingat bagaimana pertemuannya dengan istri Ibam di acara nonton bareng akhir minggu lalu. Tak seperti kata karyawan lain yang bilang kalau dulu Ibam dan Ivi seringkali berselisih di kantor, keduanya tampak serasi dan begitu mesra dalam pandangannya.
“Iya, dulu istinya itu idaman semua cowok di sini. Gue nggak nyangka juga dia mau-maunya sama Ibam yang sangklek begitu.” Kata Fery sambil tertawa. Ari dan Vanya saling tatap lalu ikut tertawa.
“Iya, ya, istrinya mas Ibam cantik banget.” Puji Vanya. Ia tidak bisa melupakan wajah oval dengan kulit putih bersih. Mata besar dan bibir tipis yang baginya sangat cantik. Wanita itu juga memiliki tinggi yang tak terlalu jauh dari Ibam yang membuat keduanya sangat serasi jika berjalan berdampingan. Ia bisa tahu bahwa wanita itu akan cocok memakai baju model apapun. Belum lagi semua barang mewah yang dipakai wanita itu, membuat dirinya makin terlihat berkelas.
***
Sebuah mobil mewah berhenti di parkiran sebuah restoran. Seorang wanita cantik keluar dari sana. Ia membuka kacamata hitamnya dan memindai restoran yang ada di depannya. Kaki jenjangnya melangkah memasuki restoran yang tak begitu ramai. Seorang pelayan menyambutnya dan bertanya padanya ingin memesan meja untuk berapa orang. Tapi wanita itu mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa ia sudah memesan meja. Pelayan membiarkan wanita itu memasuki restoran lebih dalam.
Wanita itu menatap tiap wajah orang yang menempati meja-meja yang ada di sana. Ia terus berjalan pelan hingga matanya mengangkap sesorang yang sudah sangat ia kenal. Pria itu tengah berbicang penuh tawa dengan seorang wanita yang ada di depannya.
Pria itu masih tak menyadari bahwa istrinya mendekat ke arahnya dengan tatapan membunuh karena masih terfokus pada wanita di depanya.
Sebelah tangan wanita itu terulur untuk mengambil gelas dari meja lain tanpa berhenti. Pemilik gelas hampir menghardiknya kalau saja ia tak melihat bahwa wanita yang mengambil gelasnya sudah melemparkan isi gelasnya pada seorang pria yang duduk di meja di belakangnya.
Tak hanya pemilik gelas yang terkejut, namun juga semua mata yang kini menghujam ke arah ketiganya.
“Mayang, kamu apa- apaan, sih?” Doni menatap istrinya dengan tatapan tajam. Tangannya mengambil tisu di atas meja dan menyeka wajah dan bajunya yang sudah basah.
“Harusnya aku yang tanya sama kamu, Mas, kamu ngapain di sini?” mata Mayang menatap wanita di yang duduk di depan suaminya yang sudah menunjukkan raut wajah ketakutan.
“Dia cuma teman aku.” Kata Doni penuh percaya diri. Mayang mengambil sesuatu dari tasnya dan melemparkannya ke atas meja.
“Teman apa yang sampai check in di hotel.” Kata Mayang. Ia melihat wajah keduanya pucat pasi. Mia dan Doni menelan ludah saat melihat foto-foto keduanya yang tengah berdiri di depan resepsionis sebuah hotel tercetak di sana. “masih banyak pria lajang, kenapa kamu malah milih jadi selingkuhan pria beristri?” tatapan Mayang kini tertuju pada Mia yang hanya menunduk.
Mayang melirik semua orang yang menatap ke arahnya. “kamu malu?” tanyanya pada Mia yang masih belum berani mengangkat wajahnya. “kalau kamu berani selingkuh sama pria beristri, harusnya kamu udah nggak punya malu.” Kata Mayang. Sebelah tanganya mengambil air yang ada di atas meja dan menyiramkanya pada Mia yang rambutnya langsung basah.
“Mayang!!!” Doni menatap tajam ke arah Mayang. Ia mencengkeram lengan istrinya dengan kuat. “kamu keterlaluan, tahu, nggak?”
Mayang mendecih, “yang keterlaluan itu aku atau kamu?” ia menatap suaminya tepat ke manik matanya. Memberitahu suaminya bahwa ia benar-benar marah.
Tak ingin urusan semakin panjang. Doni menarik lengan istrinya membelah tatapan orang yang ada di sana. Mia masih berada di sana saat semua orang mngalihkan tatapan darinya. Wanita itu masih menunduk dan terisak pelan.
***
Ivi dan teman-temannya berkumpul di meja Tyo dan menatap layar komputer pria itu. Sebuah video berputar dan semuanya tenganga tak percaya. Mereka bisa melihat jelas siapa yang ada di dalam video, dua orang karyawan di kantor itu. Doni dan Mia yang memang sudah tercium skandalnya. Namun, mereka semua tak menyangka akan melihat video itu dan melihat bagaimana Mayang, istrinya pak Doni melabrak keduanya yang sedang makan siang bersama.
Video itu diunggah oleh pemilik akun yang berada di tempat kejadian. Pria itu diam-diam merekam kejadian itu dan mengunggahnya di media sosial miliknya. Video itu sudah di tonton oleh jutaan orang dan dikomentari oleh ratusan orang. Video itu juga sudah menyebar ke platform-platform lain sehingga semakin banyak ditonton oleh warganet.
Orang-orang menyerukkan caci makinya pada Mia dan memberi dukungan penuh pada Mayang sebagai istri sah.
“Gila, udah kayak sinetron aja.” Kata Tyo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Udah nggak heran sih. Istrinya pak Doni kan pintar, nggak mungkin juga bisa lama-lama dibohongin.” Jeni memberi pendapat.
Ivi hanya berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak menyangka teman kantornya akan menjadi viral seperti ini.
“Kalau gue jadi Mia. Gue bingung muka gue mau ditaruh di mana.” Kata Alice.
“Nggak usah ditaruh di mana-mana, lah. Tapi lo tutupin aja pakai plastik sampah sekalian.” Kata Tyo yang langsung membuat yang lainnya terkekeh.
“Gue nggak habis pikir, istrinya pak Doni tuh kurang apa, ya, bisa-bisanya dia selingkuh.” Ujar Yoga.
“Selingkuh itu bukan berarti istri ada kekurangan, memang suaminya aja yang gatel.” Kata Tyo dengan nada geregetan.
Ivi yang pertama kali meninggalkan kerumunan itu dan kembali ke ruangannya. Ia menatap makan siangnya yang belum sempat ia habiskan karena mendengar Tyo berteriak untuk melihat video itu. Ivi kehilangan selera makannya dan memutuskan untuk menaruh piring dan sisa makannya di pantry.
Ia lalu pergi ke toilet untuk menyikat giginya dan kembali ke ruangan. Meja Tyo masih ramai. Orang-orang masih bergosip dan berspekulasi apa yang akan terjadi kedepannya dengan kedua orang itu.
“Eh lihat, ada yang nyebutin perusahaan kita dong di kolom komentar.” Tyo menunjuk satu komentar yang menyebutkan nama perusahaannya karena orang itu mengenal Mia.
“Wah, ini sih udah pasti dipecat.” Kata Jeni. Ia tahu biasanya komentar-komentar netizen akan mampir ke media sosial si perempuan atau si lelaki, lalu akhirnya ke perusahaan di mana keduanya bekerja. Otomatis nama perusahaan juga dibuat jelek oleh ulah keduanya yang biasanya akan berujung pemecatan.
***
Kehebohan itu tak hanya terjadi di kantor Ivi, tapi juga di kantor Ibam. Nama perusahaan Ivi sudah tersebar sebagai kantor dari kedua orang dalam video. Ibam menonton video itu di meja Pipit bersama dengan teman-temannya yang lain.
Reaksi Ibam dan teman-temannya tidak jauh berbeda dengan reaksi orang lain yang menonton. Mereka mengutuk si pria dan selingkuhannya, sampai pada pemikiran kenapa pria itu memilih berselingkuh padahal istrinya jauh lebih cantik daripada selingkuhannya.
“Duh, ya ampun. Itu perempuan wajahnya kelihatan polos banget, ternyata pelakor.” Pipit berdecak. Mejanya masih dikelilingi oleh teman-temannya yang tak kalah emosi darinya.
“Jangan nilai dari wajah sekarang, mah.” Kata Riski. Teman-temannya yang lain mengangguk setuju.
“Iya, benar. Banyak yang pobia.” Kata Umay.
“Apa tuh pobia?”
“Polos biadab.”
Orang-orang yang masih mengelilingi meja Pipit terkekeh pelan. Vanya adalah orang pertama yang meninggalkan kerumunan itu dan kembali ke ruangannya.
“Bam, nanti kasih tahu, ya, apa yang terjadi sama mereka berdua.” kata Riski. “Ivi kan pasti tahu.” Tambhanya. Yang lainnya mengangguk.
“Istri gue nggak suka ngegosip.” Ujar pria itu.
“Biar nggak suka ngegosip, kan, pasti kedengeran lah kabarnya.”
“Udah pasti dipecat ini, mah. Lihat deh.” Pipit baru saja membuka i********: perusahaan Ivi melihat bahwa kolom komentar postingan terakhirnya di bom oleh warganet.
“Wah. Kekuatan netizen memang luar biasa.” Kata Ari.
“Siap-siap aja mereka berdua dirujak sama netizen.” Ujat Pipit.
TBC
LalunaKia