Bukan Julian Sanders namanya kalau tak bisa memgurus urusan secara cepat dan efektif. Bagas berhasil dibawa ke Rumah sakit dalam keadaan bernyawa walau nyawaya mungkin hampir keluar dari kerongkongannya. Operasi pengangkatan proyektil dari belikat kirinya sudah berhasil dilakukan. Karena membutuhkan banyak darah untuk proses operasi, Hanna pun ikut mendonorkan darahnya untuk sang Kakak. Hanna tampak pucat dan lemah, tapi dia tak mau beranjak sedikit pun dari jendela besar ruangan Bagas. Dia tetap berdiri disana memandangi Bagas yang masih belum sadarkan diri. 'Kakak ... kenapa Kak Bagas lakukan itu? Tadi kan harusnya aku yang tertembak?' batin Hanna berkali-kali. Sampai air mata pun terasa telah mengering. "Bos, ini pakaian untuk Bos dan Nona Hanna!" Kaizar datang dengan dua paper bag

