Hanna dengan telaten mengelap wajah Bagas dengan kain basah. Sembari ia pandangi wajahnya, Hanna juga merasakan kepedihan yang luar biasa. Hampir saja Bagas mati untuk menahan peluru itu sebelum menerjang kepala Hanna kemarin siang. Ada gerakan kecil, Hanna terdiam melihat jari-jari Bagas bergerak. "Kak, Kak Bagas!" gumam Hanna penuh harap. Dia berharap kalau itu pertanda baik. Perlahan, perlahan ... mata Bagas bergerak, pelaaan sekali sampai matanya menyipit. Dan sosok pertama yang ditangkap oleh matanya adalah Hanna. "Kak Bagas ... syukurlah ... sebentar, aku panggil dulu Suster ya!" Dengan girang Hanna beranjak meninggalkan Bagas yang belum bisa banyak bergerak kecuali menggerak-gerakkan tangan dan manik matanya perlahan. *** Di tempat lainnya, Julian sedang berhadapan dengan Ban

