Pagi itu, Kirana terbangun lebih awal dari biasanya. Sinar matahari menembus celah tirai jendela, menciptakan pola cahaya yang menari-nari di dinding kamarnya. Ia menatap langit-langit, mencoba menenangkan diri setelah mimpi aneh yang menghantuinya semalam mimpi tentang masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke dapur. Radit belum bangun. Secangkir kopi hangat dan roti bakar sederhana menemaninya dalam keheningan pagi. Tapi pikirannya tidak tenang. Masih ada satu pertanyaan besar yang terus mengganggunya sejak gathering kantor tentang sosok Felicia.
Felicia bukan sekadar rekan bisnis biasa. Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu dingin, tajam, penuh kenangan yang tak ingin diungkit. Kirana bisa merasakannya. Radit pun tampaknya menyembunyikan sesuatu.
Setelah sarapan, ia duduk di depan laptop untuk menyusun laporan mingguan. Tapi jari-jarinya enggan menari di atas keyboard. Pikirannya melayang jauh, kembali ke masa saat ia masih kuliah.
Kala itu, Kirana sempat bekerja paruh waktu di sebuah event organizer. Ia banyak bertemu orang, termasuk dengan seorang pria Arga, sahabat dekat yang pernah menjadi cintanya. Tapi hubungan mereka tidak bertahan lama. Ada perbedaan besar di antara mereka, dan akhirnya Arga menghilang begitu saja, tanpa penjelasan.
Namun dalam mimpi semalam, Arga muncul… dan wajahnya berubah menjadi Radit.
Kirana menggeleng cepat. “Enggak mungkin,” bisiknya. “Itu cuma mimpi.”
---
Di kantor, suasana kembali normal. Karyawan mulai terbiasa memanggil Kirana dengan lebih sopan, meskipun beberapa masih terlihat canggung. Kirana sendiri mencoba tetap profesional, tak ingin status barunya sebagai istri CEO membuatnya berbeda dari yang lain.
Saat makan siang, Dita mendekatinya. “Kir, lo sibuk sore ini?”
“Enggak juga, kenapa?”
“Gue nemu kafe baru di deket kantor. Cozy banget buat ngobrol. Lo mau?”
Kirana mengangguk. “Boleh. Gue juga butuh ngobrol sama orang waras.”
---
Kafe itu kecil tapi hangat. Interiornya dominan kayu dengan tanaman gantung di setiap sudut. Dita memesan matcha latte, sementara Kirana memilih teh hitam.
“Lo tahu Felicia itu siapa?” tanya Dita tiba-tiba.
Kirana menatapnya heran. “Kenapa nanya gitu?”
“Gue pernah denger nama dia dari karyawan lama. Katanya dulu dia pernah deket banget sama Pak Radit.”
Kirana terdiam. “Deket… gimana?”
“Ya, pacaran katanya. Tapi nggak jelas ceritanya. Tiba-tiba aja Felicia resign, terus kerja di perusahaan saingan. Beberapa tahun kemudian baru muncul lagi buat kerja sama proyek.”
Hati Kirana mencelos. Ia mencoba menutupi kegelisahannya, tapi tatapan Dita cukup tajam untuk menangkapnya.
“Lo khawatir?”
“Gue cuma… ngerasa ada yang ditutupin.”
“Kalau lo pengen tahu kebenarannya, lo harus tanya langsung. Bukan tebak-tebakan.”
Kirana mengangguk. Dita benar.
---
Malamnya, di apartemen, Kirana memberanikan diri bertanya saat mereka makan malam.
“Radit… aku boleh tanya sesuatu?”
Radit menoleh sambil mengunyah pelan. “Tentu.”
“Kamu… pernah punya hubungan sama Felicia?”
Radit terdiam. Wajahnya menegang sejenak, sebelum akhirnya meletakkan sendok dan garpunya.
“Aku tahu pertanyaan ini akan muncul,” ujarnya tenang. “Ya. Dulu, kami pernah dekat. Tapi itu sebelum aku mengenalmu.”
“Kenapa kamu nggak bilang dari awal?”
“Karena aku ingin masa lalu tetap jadi masa lalu. Aku nggak mau kamu terbebani.”
Kirana menatapnya lekat. “Tapi sekarang masa lalu itu muncul lagi. Dan aku butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Radit menarik napas dalam. “Felicia dan aku memang sempat menjalani hubungan singkat. Tapi dia ambisius, dan lebih melihatku sebagai jalan untuk naik pangkat. Saat aku tahu niatnya, aku memutuskan semuanya. Tapi dia nggak terima, dan mulai menyebarkan rumor. Makanya aku minta dia mundur.”
Kirana mendengarkan dengan seksama.
“Dan sekarang?” tanyanya.
“Sekarang… dia cuma rekan bisnis. Nggak lebih.”
Kirana menatap mata suaminya, mencari kejujuran di sana. Dan ia menemukannya sebuah ketulusan yang selama ini menjadi alasan kenapa ia menerima lamaran Radit, meskipun begitu tiba-tiba.
---
Setelah makan malam, mereka duduk di ruang tengah. Kirana bersandar di bahu Radit.
“Kamu nggak perlu takut sama masa lalu aku, Kirana,” kata Radit pelan. “Yang aku pilih sekarang adalah kamu.”
Kirana mengangguk. Tapi ia tahu, ini bukan akhir dari semuanya. Felicia masih ada, dan instingnya mengatakan bahwa perempuan itu belum selesai. Akan ada badai lain yang datang.
Namun untuk malam ini, ia memilih tenang. Dalam dekapan hangat Radit, ia mencoba mempercayai bahwa cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Malam semakin larut, tapi Kirana belum bisa memejamkan mata. Suara detik jam terasa terlalu keras di kamar yang sepi, mengalahkan suara angin dari jendela yang terbuka setengah. Radit sudah tertidur di sampingnya, napasnya teratur. Tapi hati Kirana justru makin tak karuan.
Ia bangkit perlahan, berjalan ke balkon dan duduk di kursi rotan. Tangannya menggenggam secangkir s**u hangat yang ia buat sendiri lima menit lalu. Di depan sana, lampu-lampu kota Jakarta menyala seperti bintang yang tersebar di bumi.
Pikirannya kembali pada Felicia.
Sikap wanita itu di acara gathering bukan hanya mencurigakan, tapi seolah menyimpan luka yang belum sembuh. Tatapan dingin, senyum tipis yang seperti menusuk, dan caranya menatap Radit... bukan sekadar tatapan profesional.
Kirana memejamkan mata sejenak. Ia bukan perempuan cemburuan, tapi ia cukup peka membedakan antara hormat dan hasrat. Dan Felicia, jelas menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar urusan kerja.
“Apa aku salah menaruh kepercayaan?” gumamnya.
Ia mengingat kembali awal mula pertemuannya dengan Radit—seorang pria yang waktu itu hanya mengaku sebagai konsultan keuangan. Humble, hangat, dan penuh perhatian. Tak pernah sekalipun membanggakan status CEO-nya. Ia baru tahu semua itu setelah menikah.
Tapi sekarang, Kirana mulai bertanya-tanya… siapa sebenarnya Radit sebelum dirinya datang? Apa ada sisi gelap yang belum pernah ia lihat?
---
Esok paginya, Kirana datang lebih awal ke kantor yayasan. Ia menghindari tatapan karyawan lain dan langsung masuk ke ruangannya. Tapi belum sempat duduk, ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
> Kalau kamu ingin tahu siapa sebenarnya Radit… cari tahu tentang proyek Silvana. –F
Kirana membeku. F? Felicia?
Proyek Silvana? Apa itu?
Tangannya gemetar saat membalas.
> Apa maksud kamu?
Tapi tak ada balasan.
Setelah menenangkan diri, Kirana mulai mencari informasi. Ia membuka laptop dan mengakses folder internal perusahaan Radit yang kadang ia bantu urus dari rumah. Setelah menggali email dan dokumen yang dulu pernah ia arsipkan, akhirnya ia menemukan sesuatu.
Sebuah laporan keuangan proyek Silvana Development — proyek properti besar di Jogja yang ternyata dihentikan secara tiba-tiba dua tahun lalu. Dan nama yang tertulis sebagai PIC di awal proyek itu…
Felicia Hapsari.
Tapi yang mengejutkan Kirana adalah file internal evaluasi proyek. Di sana tertulis:
> Catatan internal: Potensi konflik kepentingan dalam pengadaan tanah Silvana. Salah satu keluarga pemilik lahan adalah kerabat direktur proyek. Segera hentikan keterlibatan personal.
Kirana menutup laptopnya perlahan. Dadanya sesak.
Jadi proyek ini dihentikan karena ada konflik kepentingan—dan Felicia terlibat?
Tapi kenapa sekarang proyek itu dibuka kembali dalam bentuk kerja sama?
Ia belum sempat berpikir lebih jauh ketika Radit menelepon.
“Halo, sayang. Aku jemput nanti sore ya? Kita dinner bareng.”
Kirana mencoba bersuara normal. “Boleh. Tapi aku ada yang mau dibicarakan nanti.”
“Sepertinya aku juga,” jawab Radit pelan. “Tentang Felicia.”
---
Malamnya, mereka makan malam di restoran Jepang langganan. Suasana hangat, cahaya temaram, dan alunan musik lembut. Tapi suasana hati mereka jauh dari santai.
“Aku tahu kamu mulai curiga,” kata Radit sambil meletakkan sumpitnya.
“Karena kamu banyak menyembunyikan,” jawab Kirana jujur.
Radit mengangguk. “Aku akan jujur. Proyek Silvana dulu sempat kububarkan karena aku tahu Felicia bermain kotor. Tapi entah bagaimana, dia kembali sekarang, dengan backing-an investor besar yang kita butuhkan untuk ekspansi.”
“Kenapa kamu terima lagi?” tanya Kirana tajam.
“Karena dia bukan lagi PIC. Dan aku yakin dia nggak akan bisa macam-macam kali ini. Tapi... mungkin aku salah.”
Kirana menggenggam gelasnya erat. “Kamu nggak bilang apa-apa tentang ini sebelumnya.”
“Aku takut kamu cemas. Takut kamu nggak percaya lagi sama aku.”
Kirana menatap Radit lama. “Kalau kamu terus menyembunyikan hal penting, itu yang bikin aku nggak percaya.”
Mereka terdiam lama. Suara musik instrumental jadi satu-satunya peneman di meja itu.
“Aku akan pastikan Felicia nggak masuk terlalu jauh ke proyek ini,” ujar Radit akhirnya. “Kalau dia melanggar batas lagi, aku akan tarik semua kerja sama.”
Kirana menunduk, mengangguk pelan. Tapi hatinya masih belum sepenuhnya tenang.
---
Malam itu, ia menatap langit dari jendela apartemen. Angin malam menyapu rambutnya perlahan.
“Semakin aku kenal kamu, Mas…” bisiknya, “semakin aku sadar, kamu menyimpan terlalu banyak hal yang belum sempat aku pahami.”
Dan dalam hati, Kirana tahu... cinta saja tidak cukup. Ia harus lebih kuat, lebih peka, dan lebih siap menghadapi kenyataan di balik nama besar suaminya.