Bab 2: Riak di Hati Kirana

1401 Kata
Kirana tak berhenti memandangi pesan singkat di ponselnya. > Jika kamu punya waktu, aku ingin bicara. Bukan tentang Radit. Tapi tentang Icha. —T.A. Icha? Apa hubungannya Tiara dengan Icha? Kirana menggenggam ponsel itu erat, hampir gemetar. Tapi logikanya menahan emosi. Bisa saja itu hanya cara Tiara untuk memancing reaksi. Tapi kalau benar, dan Tiara tahu sesuatu soal Icha... Kirana tak bisa mengabaikannya. Sore itu, Kirana memutuskan membalas pesan Tiara. > Saya akan bertemu dengan Anda. Tapi hanya bicara soal Icha. Tak butuh waktu lama, balasan datang. > Besok, jam 10 pagi. Saya tunggu di Kafe Orlin, lantai 7, Gedung Adinegara. Kirana menutup ponsel dan menghela napas panjang. Dalam hati, ia tahu pertemuan ini bisa menjadi titik balik. Atau titik runtuh. --- Keesokan harinya, langit mendung menggantung di atas Jakarta. Kirana mengenakan blazer abu-abu muda dan celana panjang senada. Simpel tapi tetap profesional. Perutnya yang mulai membesar tak menghalangi langkahnya yang mantap. Ia tiba di Gedung Adinegara pukul 09.50. Resepsionis membawanya ke lift khusus eksekutif, menuju lantai tujuh. Saat pintu kafe terbuka, Tiara sudah duduk di dekat jendela besar, dengan pemandangan langsung ke kota. Ia tersenyum kecil saat melihat Kirana datang. “Terima kasih sudah datang,” sapa Tiara. “Langsung saja. Apa maksudmu bicara tentang Icha?” tanya Kirana tegas, tanpa basa-basi. Tiara menyilakan Kirana duduk, lalu membuka tas tangan kecilnya. Ia mengeluarkan sebuah foto lama lusuh dan berdebu. Kirana menatap foto itu. Terlihat seorang wanita muda dengan wajah mirip Icha. Sangat mirip. “Ini adik sepupuku. Namanya Nabila,” ucap Tiara. “Dia meninggal lima tahun lalu. Tapi sebelum itu, dia melahirkan seorang anak perempuan... yang hilang.” Kirana perlahan memandang Tiara, matanya mulai gemetar. “Hil... hilang?” Tiara mengangguk. “Nabila ditinggal pria yang menghamilinya. Dia depresi, kabur dari rumah, dan melahirkan diam-diam. Anak itu… diadopsi oleh keluarga tak dikenal. Kami mencarinya selama bertahun-tahun.” Ia meletakkan foto lain. Kali ini, foto Icha yang jelas diambil dari media sosial RAKA Foundation. “Anak ini... terlalu mirip dengan Nabila. Aku yakin itu dia.” Kirana menggeleng pelan, menolak panik. “Kamu nggak punya bukti kuat.” Tiara tetap tenang. “Aku tahu. Makanya aku nggak datang untuk menuntut. Tapi aku akan minta tes DNA. Bukan untuk mengambil dia. Tapi... untuk tahu kebenaran.” Kirana berdiri. “Kebenaran? Atau kamu hanya mau ganggu hidup kami?” Tiara ikut berdiri. “Aku bukan musuhmu, Kirana. Tapi kamu juga harus siap kalau hidup Radit dan anak itu... menyimpan rahasia yang belum kamu tahu.” Kirana menatap tajam. “Cukup. Jangan bawa anak-anak dalam urusan ini. Apa pun hubungan Icha denganmu, dia sudah punya keluarga. Dan keluarganya adalah aku.” Tanpa berkata lagi, Kirana berbalik dan meninggalkan kafe. Langkahnya cepat. Tapi dalam hatinya, badai mulai bergemuruh. --- Radit sedang menelepon saat Kirana tiba di rumah. Suaranya terdengar dari dapur, lembut dan sopan. Tapi Kirana tak menyukai nada akrab yang ia dengar. “Baik, Tiara. Kita lanjut bahas presentasi proposal merger minggu depan... Ya, sampai ketemu.” Kirana masuk pelan. Radit menoleh. “Oh, kamu udah pulang. Dari yayasan?” tanyanya. Kirana tak langsung menjawab. Ia hanya meletakkan tasnya di meja, lalu membuka lemari es, mengambil botol air. “Kamu bicara sama Tiara?” tanyanya sambil menuang air ke gelas. “Ya. Soal proyek gabungan yang kita rancang. Kenapa?” Radit tampak santai. Kirana menatap suaminya. “Kamu tahu nggak... dia tahu soal Icha.” Radit langsung diam. Pandangannya berubah. “Kamu ketemu dia?” tanyanya serius. Kirana mengangguk. “Dia bilang anak sepupunya hilang lima tahun lalu. Dan dia yakin Icha itu anak itu.” Radit menarik napas dalam-dalam. “Aku... aku nggak tahu soal ini. Sumpah. Aku juga kaget.” “Tapi kamu tahu dari mana Icha berasal?” Radit menunduk. “Aku hanya tahu dia dititipkan ke salah satu yayasan anak di Bandung. Waktu itu aku donasi rutin, dan mereka bilang ada anak yang butuh keluarga asuh... Aku nggak pernah tahu lebih dalam.” Kirana menggeleng. “Kalau benar Icha anak dari keluarga sepupu Tiara, kamu harus siap. Kita bisa kehilangan hak asuhnya kalau keluarga biologisnya menuntut.” Radit menatap Kirana, tegas. “Kita nggak akan kehilangan Icha. Dia anak kita, Ki. Aku akan lakukan apa saja buat melindungi dia.” --- Malamnya, Kirana duduk di kamar Icha, mengusap kepala gadis kecil itu yang sudah terlelap. Ia mencium keningnya, menahan air mata. “Kalau suatu saat kamu tahu siapa keluargamu, aku harap kamu tahu satu hal… Aku tetap ibu kamu. Dalam cara yang mungkin nggak sempurna, tapi sepenuh hati.” Di luar kamar, Radit berdiri dalam diam. Mendengar semua. Dan dalam hatinya, ia tahu... Icha bukan hanya anak yang mereka sayangi. Tapi ujian besar yang akan menentukan apakah keluarga kecil mereka tetap utuh. Pagi berikutnya, Kirana memilih tidak masuk ke kantor yayasan. Bukan karena malas, tapi pikirannya terlalu penuh untuk bisa fokus. Ia memutuskan tinggal di rumah, menata beberapa dokumen pribadi dan mengecek catatan kehamilan. Tapi pikirannya tak bisa lepas dari wajah Tiara… dan kata-katanya. "Kalau kamu merasa Icha milikmu, kamu harus siap mendengar kenyataan tentang asal-usulnya.” Kirana mengelus perutnya yang mulai membuncit. Ia menatap foto keluarga di meja samping ranjang. Foto Radit, dirinya, Icha, dan Dimas kecil saat liburan ke Bandung. “Bukannya aku nggak percaya Mas Radit,” gumamnya lirih, “Tapi semua ini... terlalu banyak yang disembunyikan.” Ia berjalan ke lemari, mengambil map tua berisi dokumen adopsi Icha. Ia mengamati tiap halaman, mencari tanda-tanda, nama yayasan, atau informasi siapa pun yang bisa menjelaskan lebih lanjut. Saat membuka halaman terakhir, ia menemukan catatan tangan samar, yang tampaknya ditulis oleh pihak yayasan: > "Anak perempuan, diperkirakan lahir bulan Mei. Ditemukan oleh pengurus yayasan di rumah sakit daerah pinggiran Bandung. Tidak ada identitas ibu atau keluarga. Dititipkan oleh laki-laki muda berpakaian formal. Menolak menyebutkan nama." Jantung Kirana berdegup kencang. Laki-laki muda berpakaian formal? Apakah itu... Radit? Ia menutup map dengan tangan gemetar. "Kalau ini benar, berarti Mas Radit... tahu lebih banyak dari yang dia bilang." --- Menjelang sore, Kirana akhirnya memberanikan diri bicara pada seseorang yang ia percaya: Dita. Mereka bertemu di sebuah kafe kecil dekat kompleks rumah. Kirana menceritakan semua mulai dari Tiara, foto Nabila, pesan tentang Icha, hingga catatan aneh dari dokumen yayasan. Dita mendengarkan dengan wajah serius. “Kir, aku ngerti kamu syok. Tapi kamu juga harus adil. Bisa jadi Mas Radit memang nggak tahu semuanya. Atau... dia cuma berusaha melindungi kamu dari kebenaran yang nyakitin.” Kirana menyandarkan tubuhnya di kursi. “Tapi kalau dia tahu dari awal, Dit… dan dia tetap nggak bilang apa-apa? Aku nggak tahu harus bagaimana.” Dita menatapnya lembut. “Kamu harus cari tahu kebenaran. Tapi bukan buat marah-marah. Buat tenangin hati kamu. Dan buat Icha.” Kirana mengangguk perlahan. --- Malam itu, Kirana mengajak Radit bicara. Bukan di ruang tamu. Bukan sambil masak atau gendong anak. Tapi di kamar, berdua, tanpa gangguan. “Aku baca dokumen adopsi Icha,” katanya pelan. Radit menatapnya, tak terkejut. “Aku tahu kamu akan melakukannya.” “Kamu tahu orang yang menitipkan dia di rumah sakit itu kamu?” Radit terdiam. Lama. Akhirnya, ia duduk di sisi ranjang, menatap lantai. “Iya. Itu aku.” Kirana menahan napas. “Kenapa kamu nggak pernah cerita?” “Aku takut. Waktu itu... aku baru tahu bahwa mantan tunanganku Tiara pernah punya sepupu bernama Nabila. Kami bertemu sesekali di Tokyo. Tapi aku nggak tahu dia hamil. Tiba-tiba saja, yayasan yang biasa aku bantu bilang ada bayi perempuan yang ditinggal di rumah sakit. Saat aku lihat bayi itu... hatiku langsung jatuh.” “Dan kamu ambil dia?” “Awalnya aku cuma bantu titipkan ke yayasan, lalu rutin membiayai. Tapi saat aku lihat dia tumbuh, mirip seseorang... aku curiga. Aku takut dia anak dari seseorang yang mungkin terhubung denganku. Tapi aku nggak pernah punya bukti.” Kirana meneteskan air mata. “Kamu takut anak itu mungkin... darah daging kamu?” Radit menggeleng cepat. “Tidak. Aku yakin bukan. Tapi dia anak dari seseorang yang pernah aku kenal, dan itu cukup untuk membuatku merasa bertanggung jawab.” Kirana tak bisa berkata-kata. Perasaannya campur aduk antara lega, marah, dan bingung. “Kamu harus tes DNA. Kita harus tahu kebenarannya,” ucap Kirana akhirnya. Radit mengangguk. “Aku siap.” --- Malam itu, Kirana tidur dengan mata terbuka. Di sampingnya, Radit memeluknya dari belakang, tapi tak ada kata-kata lagi. Hanya keheningan. Dan dalam keheningan itu, hatinya berbisik: > "Kebenaran bisa menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi... kalau terus ditebak-tebak.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN