Bab 1: Kedatangan Tak Terduga

1159 Kata
Pagi itu, langit Jakarta cerah sekali. Cahaya matahari menembus tirai tipis ruang kerja Kirana. Ia duduk di depan meja panjang, sibuk membaca laporan bulanan program pemberdayaan perempuan yang baru saja berjalan tiga bulan terakhir. Perutnya yang mulai membulat akibat kehamilan enam bulan sesekali terasa kencang, namun Kirana tetap bekerja dengan senyum tenang. Baginya, bekerja bukan lagi beban, tapi bagian dari hidup yang ia pilih sendiri. Pintu diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya. Rina, sekretaris barunya, masuk dengan wajah agak gugup. “Bu Kirana, maaf, saya baru saja dapat kabar dari Pak Radit. Beliau minta Ibu hadir dalam meeting besar hari ini.” Kirana menoleh. “Meeting apa? Hari ini nggak ada di agenda RAKA Foundation.” Rina menelan ludah. “Meeting pengumuman merger strategis RAKA Group... dengan perusahaan baru dari Jepang. PT Adinegara.” Kirana mengernyit. Nama itu asing. Tapi entah kenapa, d**a Kirana terasa sedikit sesak mendengarnya. --- Dua jam kemudian, Kirana tiba di gedung utama RAKA Group. Meski kini fokus di yayasan, ia tetap punya kursi di dewan penasihat. Maka hari itu, ia duduk di ruang rapat panjang bersama para direksi dan kepala divisi. Radit berdiri di ujung ruangan, menyapa semua yang hadir dengan senyum khasnya. “Selamat pagi semuanya. Hari ini kita akan menyambut mitra baru. Mereka bukan hanya kuat secara bisnis, tapi juga punya visi sosial yang sejalan.” Pintu dibuka oleh asisten. Seorang wanita elegan masuk dengan langkah tenang. Wajahnya dingin tapi karismatik. Rambut hitamnya disanggul modern, dan setelan bisnis putih gading membungkus tubuh rampingnya. “Perkenalkan, CEO PT Adinegara - Tiara Adinegara.” Darah Kirana terasa turun ke kaki. Tiara. Nama yang pernah ia dengar hanya sekilas. Mantan tunangan Radit. Sosok dari masa lalu yang tak pernah benar-benar dijelaskan. Tiara menatap Kirana sekilas dan tersenyum. Bukan senyum manis tapi senyum pengukur. Seperti sedang menilai Kirana dari ujung kepala sampai kaki. “Halo semuanya,” ucap Tiara. “Senang bisa kembali ke Indonesia, dan tentu, senang bisa bekerja sama… dengan RAKA.” Mata Tiara beralih ke Radit. “Terutama dengan Pak Raditya Pratama, yang dulu… sangat dekat dengan saya.” --- Selesai rapat, Kirana bergegas keluar sebelum sempat berbicara banyak. Tapi langkahnya terhenti saat suara yang ia kenali memanggil dari belakang. “Kirana.” Ia menoleh. Tiara berdiri di lorong, mendekatinya. “Boleh bicara sebentar?” tanya Tiara ramah, tapi dengan nada yang terlalu tenang. Kirana mengangguk. Mereka berdiri di balkon kecil luar ruangan rapat. “Selamat ya,” ucap Tiara. “Kamu sudah menikah dengan Radit.” “Terima kasih,” jawab Kirana singkat. Tiara menatapnya sejenak. “Kamu pasti penasaran kenapa aku kembali. Dan kenapa aku tiba-tiba jadi mitra RAKA.” Kirana tak menjawab. “Tenang,” lanjut Tiara, “aku nggak datang untuk mengganggu. Tapi aku juga nggak akan pura-pura. Dulu... aku dan Radit hampir menikah.” Kirana akhirnya menatap mata perempuan itu. “Radit sudah cerita.” “Oh ya?” Tiara tersenyum miring. “Cerita yang mana? Tentang saat aku tinggalkan dia di altar? Atau tentang surat yang aku kirim setahun setelah itu, yang katanya… nggak pernah sampai?” Kirana terdiam. “Aku nggak minta apa-apa. Cuma pengen kamu tahu, Kirana… Ada cerita yang belum kamu dengar. Dan kamu berhak tahu, kan?” Kirana menatap tajam. “Kalau kamu masih punya urusan pribadi dengan suami saya, lebih baik diselesaikan secara pribadi juga. Jangan pakai nama perusahaan.” Tiara tertawa pelan. “Kamu pintar juga.” Ia melangkah pergi, meninggalkan Kirana sendiri di balkon. --- Malam itu, Kirana berdiri di dapur rumahnya. Tangannya sibuk memotong buah, tapi pikirannya jauh. Radit sedang duduk di ruang keluarga bersama anak-anak, tapi Kirana merasa ada jarak di antara mereka. “Sayang, kamu kenal Tiara dari mana?” tanyanya tiba-tiba. Radit diam sejenak. “Dulu, waktu aku masih kerja di Tokyo. Kami hampir menikah. Tapi dia pergi sebelum hari pernikahan.” “Kenapa kamu nggak pernah cerita?” “Aku pikir masa lalu nggak perlu diungkit.” Kirana menatapnya. “Tapi kalau masa lalu itu kembali ke masa sekarang, kamu pikir aku bisa diam saja?” Radit menatap istrinya. Ia tahu Kirana tak sekadar cemburu tapi merasa ada celah kepercayaan yang baru terbuka. “Kirana…” ucap Radit, lembut. “Aku akan jelaskan semuanya. Tapi bukan karena kamu menuntut. Karena kamu pantas tahu.” --- Kirana duduk di balkon malam itu, memeluk lututnya. Perutnya terasa menegang. Hujan tipis turun membasahi kaca jendela. Dalam hatinya, ia sadar… Kehidupan setelah menikah bukan akhir cerita bahagia. Kadang, justru di situlah babak baru penuh ujian dimulai. Dan sekarang, ia harus kuat. Bukan hanya sebagai istri… tapi sebagai perempuan yang berdiri atas namanya sendiri. Malam semakin larut. Hujan yang tadinya hanya gerimis kini turun lebih deras. Kirana masih duduk di balkon, memandangi langit yang gelap tanpa bintang. Perasaannya campur aduk. Ia tahu Radit mencintainya. Tapi cinta saja tak cukup saat kepercayaan mulai terguncang, walau sedikit. Langkah kaki terdengar mendekat. Radit keluar dari pintu balkon, membawa selimut tipis. “Duduk di sini terus, nanti masuk angin,” ucapnya, menutupi pundak Kirana dengan selimut. Kirana tetap menatap ke depan. “Radit…” “Hm?” “Kalau kamu punya masa lalu yang belum selesai, aku bisa terima. Tapi aku harus tahu. Aku nggak mau jadi orang yang kamu lindungi dengan kebohongan.” Radit menghela napas. Ia duduk di samping Kirana. “Tiara adalah masa lalu yang sudah lama aku tinggalkan. Dia pergi tanpa penjelasan, dan aku nggak pernah punya kesempatan untuk tanya kenapa.” “Tapi sekarang dia kembali.” “Iya. Dan jujur... aku juga nggak tahu niat sebenarnya. Tapi satu hal yang pasti: aku nggak akan biarkan dia merusak rumah tangga kita.” Kirana menoleh pelan. “Janji?” Radit mengangguk mantap. “Janji.” Mereka saling menatap dalam diam. Bukan diam yang asing, tapi diam yang penuh pemahaman. Dan walau ada keraguan, cinta mereka tetap jadi jangkar yang kuat. --- Keesokan harinya, Kirana datang ke kantor RAKA Foundation seperti biasa. Tapi hari itu, ia membawa perasaan yang berbeda. Saat ia membuka pintu ruangannya, di atas mejanya sudah ada kiriman bunga. Buket mawar putih dan biru. Ada kartu kecil terselip di tengahnya. > Untuk Ibu Kirana. Semoga harimu seindah kekuatan hatimu. —T.A. Kirana mematung. Inisial itu jelas. Tiara Adinegara. Ia mengepalkan tangannya. “Jadi ini caramu?” gumam Kirana. “Main halus, ya.” Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Pesan masuk dari nomor tak dikenal. > Jika kamu punya waktu, aku ingin bicara. Bukan tentang Radit. Tapi tentang Icha. Kirana membelalakkan mata. Icha? Apa hubungannya dengan Tiara? --- Sore harinya, Kirana duduk di ruang tamu rumah sambil menemani Icha menggambar. Gambar sederhana anak berumur lima tahun: rumah, matahari, dan dua orang dewasa berdiri di samping anak kecil. Di atasnya tertulis dengan ejaan polos: > Icha dan keluarga selamanya Kirana menyentuh kertas itu dengan jari gemetar. Tak boleh ada yang mengambil anak ini dariku, batinnya. Tak peduli seberapa besar masa lalu Radit… atau Tiara. Kirana sudah menetapkan: keluarga ini tidak boleh goyah. Apa pun yang akan datang, ia siap hadapi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN