Bab 4

498 Kata
sepajang perjalanan menuju ke rumah sakit aku terus berdo'a semoga bapak baik-baik saja. tiba di pelataran rumah sakit aku langsung berlari menuju ruang UGD, di sana nampak a Heru beserta istri juga teh Lita beserta suaminya. " assalamualaikum a, teh kumaha bapak?bapak sakit naon a,teh? ( assalamualaikum a, teh bagaimana bapak?bapak sakit apa a,teh?)" akupun melirik kedua kakak ku. "sabar neng" lirih a Heru "tapi bapak sakit apa, kok neng g tau" ucap ku terisak teh Lita memeluk ku mencoba menenangkan ku "Neng, yang sabar do'ain bapak"ucap teh Lita dengan nada terisak pula. kami pun berpelukan saling menguatkan. ceklek ,,, pintu ruangan UGD terbuka, muncul seseorang berseragam putih keluar dari ruangan UGD.kami pun berdiri "bagaimana keadaan bapak dok" ucap a Heru " begini pak sepertinya bapak Rohana harus transplantasi ginjal" jawab dokter "apa" ucapku setengah berteriak "memangnya bapak sakit apa dok, kok harus transplantasi ginjal segala, apa separah itu" tanyaku pada dokter "sabar neng, dengerin dulu penjelasan dari dokter" ucap teh Lita sambil mengusap punggung ku " tapi teh bapak sakit apa, kenapa neng g tau" " maaf Bu, kalau mau lebih jelas bisa ikut ke ruangan saya" ucap dokter padaku aku, teh Lita, a Heru mengikuti dokter masuk ke ruangannya. Dokter menjelaskan bagaimana kondisi bapak saat ini,aku benar-benar shock karena selama ini bapak terlihat baik-baik saja. keluar dari ruangan dokter aku meminta penjelasan kepada a Heru dan teh lita. " aa,sama teteh tau kondisi bapak selama ini, terus kenapa kalian menyembunyikan penyakit bapak dari neng" ucap ku sedikit kesal " neng, aa,teteh gak ada maksud buat nyembunyiin semuanya dari neng, tapi bapak yang minta biar neng tidak di beri tahu" lirih a Heru "iya, tapi kenapa a? neng juga kan anak bapak berhak tau" lirihku tak kalah sendu " bapak cuma g mau neng kepikiran, neng itu anak kesayangan bapak setelah mamah meninggal, bapak cuma mau neng bahagia" lirih teh Lita " kita semua sedih melihat kondisi bapak, bisa kah kita tidak saling menyalahkan, seharusnya kit saling menguatkan,dan menyamangati bapak, biar bapak cepat sembuh" ucap a Heru "maafin neng a, teh" lirih ku akhirnya kami berpelukan saling menguatkan. "maaf Heru , om mengganggu tapi tadi suster bilang bapak sudah siuman" kami pun mengurai pelukan, "oh iya om, terimakasih" ucap a Heru aku mengernyitkan dahi" siapa om itu, rasanya aku belum pernah bertemu" batinku " sudahlah tidak penting juga" aku bergegas mengikuti langkah a Heru dan yang lain nya. " bagai mana sus keadaan bapak saya" tanya a Heru " sudah stabil dan sudah sadar" ucap suster pada a Heru "apa sudah bisa di jenguk?" " bapak Rohana sudah bisa di pindahkan ke ruangan rawat,bapak bisa menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu" "baik sus, terimakasih" " biar om saja yang urus administrasinya" ucap om yang aku gak tau namanya " gak apa-apa om biar Heru aja," jawab a Heru "kamu kayak kesiapa aja, jangan sungkan kita kan keluarga" "keluarga, keluarga dari siapa?? apa mungkin om ini keluarga dari mamah atau dari bapak, tapi baru kali ini aku bertemu" ucap batinku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN