Tiba bapak keluar dari ruang UGD, dengan selang infus dan alat bantu pernapasan.sungguh pemandangan yang tidak ingin pernah ku lihat.
aku beranjak mendekati bapak, ku genggam erat tangannya kuciumi punggung tangan bapak, bapak hanya tersenyum.suster pun mendorong blangkar untuk menuju ruang perawatan .
sampai di ruang perawatan aku sedikit heran, kami memang keluarga berkecukupan tapi untuk membayar ruanga VVIP rasanya seperti mustahil apalagi ini rumah sakit swasta pasti biayanya tidak sedikit, mungkin masih ok kalau bapak hanya di rawat satu atau dua hari tapi sepertinya bapak akan cukup lama berada di rumah sakit ini. bukan sayang uangnya tapi aku tahu kondisi keluarga a Heru ataupun teh lita.bahkan aku sendiri baru bekerja 3 bulan tabungan pun baru sedikit. dari mana a Heru mendapatkan uang untuk membayar semuanya.
" kok malah ngelamun, ayok masuk " ucap a Heru
aku memegang tangan a Heru dan berjalan sedikit menjauh dari ruangan bapak.
" a, maaf apa kita pindahin aja bapak keruangan VIP atau ruangan kelas 1??" tanyaku pada a heru.
" memangnya kenapa??" ucap a Heru sedikit menyelidik padaku
"aku tahu kondisi keuangan aa dan teh lita, dan aku pun punya sedikit tabungan a" lirih ku
"sebenarnya aku juga ingin perawatan yang terbaik untuk bapak" dengan sedikit menunduk aku mengucapkan nya
" tapi apa daya a, kita g mungkin kan jual bengkel bapak??"
" maaf, om tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian, om tidak sengaja mendengarnya.tadi bapak nanyain kalian jadi om mencari kalian keluar ruangan dan om tidak sengaja mendengar obrolan kalian"
aku mendongak melihat siapa yang berbicara
"tidak apa-apa om" ucap a Heru
" neng kenalin ini om Erwin Pratama temannya bapak" ucap a Heru memperkenalkan om yang sedari tadi mengikuti keluarga kami.
om Erwin mengulurkan tangannya, aku pun menjabat tangan Om Erwin.
" kamu sudah besar neng" ucap om Erwin
"mungkin kamu lupa sama om,karena memang terakhir bertemu saat usia mu 2tahun"
"maaf om,, neng gak ingat sama sekali" lirihku
' tidak apa-apa neng, soal biaya rumah sakit kalian tidak perlu memikirkannya, om yang akan menanggung semua biaya rumah sakit bapak kalian" ucap om erwin
"om yang akan menanggung biaya rumah saki??" tanyaku heran
" iya neng"
" tapi om yakin??, biayanya tidak sedikit om"
" itu tidak seberapa neng, dengan apa yang sudah bapak mu lakukan untuk om" lirih om Erwin
"sudah ayok kita masuk bapak sudah menunggu"
aku dan a Heru mengikuti langkah om Erwin dari belakang .
ceklek,,,
"assalamualaikum pak," aku memeluk tubuh bapak yang terbaring tak berdaya
"kenapa bapak gak bilang kalau bapak sakit" ucapku sambil terisak
"bapak teu kunanaon neng, enjing Oge bapak uih"( bapak tidak kenapa-kenapa neng, besok juga bapak pulang) ucap bapak sambil tersenyum
" tapi pak neng sedih lihat bapak kaya gini"
bapak hanya tersenyum melihat ku
"Bapak cepat sembuh yak, biar cepet pulang" Isak ku
"iya"
" terimakasih Erwin sudah mengantar saya kerumah sakit" ucap bapak kepada om erwin
" tidak apa-apa mas, sudah kewajiban ku" jawab om erwin
******
Tiga hari sudah bapak menginap di rumah sakit, dokter masih belum mendapatkan donor ginjal yang pas untuk bapak
kami anak-anak bapak di test tapi tidak ada yang cocok, begitupun dengan saudara-saudara bapak.
Bapak juga masih keukeuh tidak mau di operasi, bapak selalu bilang kalo bapak sudah sehat dan baik-baik saja, seperti saat ini bapak juga keukeuh ingin pulang katanya tidak betah lama-lama di rumah sakit.
kami hanya pasrah mengikuti keinginan bapak .