Bab 13

1699 Kata
tok,, tok,,, tok "mas, ini udah jam sembilan,,, mas masuk kerja kan" sayup-sayup terdengar suara bunda dari luar kamar, aku bangun dan meregangkan otot-otot tubuhku, aku berjalan menuju kamar mandi. selesai mandi aku bersiap untuk ke kantor, sebetulnya hari ini hari Sabtu kantor libur dan aku hanya memberi alasan ke bunda untuk kekantor, sepertinya jika di rumah terus otak ku seperti tak berfungsi dengan baik. aku berjalan menuruni anak tangga, di ruang keluarga ada bunda dan ayah yang sedang menonton televisi. akupun meng hampiri mereka " ayah, bunda Egi pamit ke kantor dulu yak" ucapku " bunda kira mas libur" ucap bunda " iya bunda, ada beberapa file yang harus di kerjakan" "padahal mbak Risa mau kesini lho, nanti pulang kesini lagi yak, bunda juga mau bujuk mbak Risa biar nginep di sini " " iya bunda" aku mencium punggung tangan bunda dan ayah dengan takdzim akupun berjalan menuju mobil sambil membuka handphone ku dari semalam aku tak membuka handphone ternyata ada notif chat dari bapak [ mas, bisa kita bertemu] [ maaf pak mas baru bales, bisa pak mau bertemu dimana] tak lama bapak pun membalas chat ku [ di restoran biasa bapak tunggu pas jam makan siang] [ yak pak, nanti mas datang] aku pun mengakhiri sesi chat bersama bapak, ***** " assalamualaikum pak, maaf Egi telat" ucapku sambil mencium punggung tangan bapak dengan takdzim " tidak apa-apa seharusnya bapak yang minta maaf sudah mengganggu waktu kamu" ucap bapak aku pun duduk dan hanya memesan secangkir kopi. " mas bapak minta maaf yak, kamu jangan menyalahkan ayah dan bunda semua ini atas permintaan bapak" ucap bapak dengan berat "maksud bapak" tanyaku penasaran " awalnya bapak tidak pernah meminta balasan apapun dari ayah, walaupun ayah menjanjikan perjodohan kalian. bapak tulus menolong ayah dan bunda mu, tapi setelah bapak tau bapak sakit bapak bingung memikirkan nasib neng seperti apa bapak ingin neng ada yang menjaga dan menyayanginya, sampai akhirnya bapak bertemu dengan kamu dan memperhatikan kamu bapak berharap kamulah yang akan menjaga neng" lirih bapak "maaf pak tapi sepertinya neng tidak akan setuju dengan perjodohan ini" ucapku "neng hanya trauma menjalin hubungan, neng di khianati saat mereka seminggu lagi akan bertunangan" aku terdiam,aku tidak pernah menyangka neng yang kulihat ceria ternyata menyimpan luka yang dalam, aku bisa merasakan apa yang neng rasakan karena akupun mengalami hal yang sama. " mas, jika bisa bapak akan memohon sama kamu untuk mau menikah dengan neng, tolong jaga anak bapak" Isak bapak "pak, jika memang bapak percaya sama mas, mas janji akan menjaga neng seperti bapak menjaga neng, tapi sekarang bagaimana dengan neng sendiri, neng menolak perjodohan ini?" " neng itu urusan bapak, yang penting mas sudah setuju,, terimakasih mas bapak sekarang tenang jika memang sudah waktunya untuk pergi" sendu bapak " pak, kenapa bapak tidak operasi cangkok ginjal, insyaallah bapak sembuh "ucapku " mas, kita tidak tau operasi itu berhasil atau tidak, Alhamdulillah kalau berhasil kalau tidak bagaimana? bapak ingin melihat neng menikah dan bapak yang menjadi walinya cuma itu harapan bapak sekarang" ucap bapak dengan begitu berat aku hanya menundukkan kepala ku, " aku janji pak akan menjaga anak bapak" batinku ******* Hari menjelang siang akupun ingin menyiapkan makan siang untuk bapak, tapi rumah tampak sepi " bapak kemana?" batinku " pak,,, bapak" aku mencari bapak keseluruh ruangan dan sudut rumah tapi bapak tidak ada coba aku telpon tapi tidak ada Jawaban " bapak kemana" gumamku aku khawatir takut terjadi sesuatu pada bapak. aku coba chat aja siapa tahu nanti di baca bapak [ assalamualaikum, bapak dimana?? kok neng cari gak ada di rumah?] chatku masih belum di baca bapak aku semakin khawatir, selang beberapa menit ada chat masuk ke hp ku [ wa'alaikumsalam, bapak keluar sebentar jalan-jalan, jangan khawatir bapak baik-baik saja, neng makan siang sendiri yak] Alhamdulillah kalau bapak baik-baik aja sepertinya aku juga butuh jalan-jalan,, biar otakku fresh lagi, akupun mengirimkan chat ke bapak untuk meminta izin keluar rumah [ pak, neng juga izin keluar yak ada yang harus di beli] [ iya, neng] aku hanya jalan-jalan di mall aku butuh refreshing. aku terus berjalan, tiba-tiba aku seperti menabrak sesuatu bughh..... aww sakit "sepertinya kebiasaan kamu itu nabrak orang yak " suara itu sepertinya aku familiar dengan suara itu, aku mendongakkan kepala ku ke atas "mas Egi" " bisa kita bicara sebentar??" aku mengangguk dan mengekori langkahnya kamipun duduk di sebuah restoran dengan pasilitas VIP sepertinya mas Egi tidak ingin obrolan kami terganggu. " kamu sudah memikirkan permintaan orang tua kita?" aku menggeleng " terus sekarang mau kamu apa??" akupun menggeleng kembali " neng, bis tidak kamu menjawab? kalau kamu tidak menjawab itu artinya kamu setuju dengan pernikahan kita" " aku kan menggeleng berarti tidak setuju" "terus kalau orang tua kita memaksa bagaimana?" "mas kan laki-laki, mas bisa menolak dengan keras" "aku bukan laki-laki seperti itu, kamu tahu jangankan hanya pernikahan yang mereka minta, nyawapun jika mereka memintanya akan ku berikan" aku sedikit kaget dengan ucapan mas Egi "tapi mas" " jika itu satu-satunya cara berbakti kepada orang tua akan aku lakukan, apa kamu pernah berpikir kalau janji adalah hutang dan hutang harus di bayar" aku hanya bisa menunduk aku tidak tau apa yang harus aku katakan "aku tanya apa sebenarnya alasan kamu menolak? beri aku alasan yang masuk akal" aku menggigit bibir bawahku " kita tidak saling cinta, bukankah pernikahan harus didasari rasa cinta?" "apa kamu yakin orang yang saling mencintai berujung di pelaminan? apa rumahtangga mereka akan baik-baik saja? kamu tau, banyak orang yang awalnya saling mencintai dan berakhir saling membenci!" kenapa aku merasa di intimidasi " aku tau, tapi aku ingin menikah seumur hidup sekali" mas Egi membuang nafas kasar "kamu yakin jika kamu menikah dengan orang yang kamu cintai tidak akan terjadi perceraian?, sepertinya kamu hanya mencari-cari alasan " " iya, aku memang mencari alasan supaya kita tidak menikah" jawabku ketus " aku cuma mau ngingetin kamu, ini juga janji mamah kamu ke ayah dan kamu tahu janji adalah hutang dan hutang harus di bayar, jika kamu tidak mau membayarnya itu artinya kamu memberatkan almarhum mamah mu" aku tersentak kaget. " sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan, saya permisi" mas Egi pun berlalu meninggalkan aku sendirian di restoran, aku masih tertegun memikirkan apa yang barusan mas Egi ucapkan Drttt...drtttt...drttt.... getaran ponselku membuatku tersadar "assalamualaikum a" " wa'alaikumsalam neng,dmn??" " lagi di luar a, ada apa??" " bapak neng, bapak masuk rumah sakit" "apa??" akupun berlari keluar dari restoran,, aku panik sampai di lobi mall ada yang mencekal lengan ku " ada apa?? kamu kenapa?" "hiks...hiks... bapak masuk rumah sakit lagi" jawabku terisak " yak udah, mas anterin kamu" akupun mengangguk karena aku rasa akan lebih cepat sampai ke rumah sakit di banding harus naik angkot. sepanjang perjalanan menuju rumah sakit aku hanya termenung pikiranku hanya ke bapak takut terjadi apa-apa Sampai di lobi rumah sakit aku langsung ke ruang UGD karena pasti bapak di sana " aa, teteh gimana bapak" " bapak lagi di tangani dokter, tadi aa kerumah mau ngasih makanan dari teteh pas aa masuk sepi aa panggil bapak sama kamu tapi g ada yang keluar, aa mutusin buat liat ke kamar bapak ternyata bapak udah terbaring di lantai" " maafin neng pak, harusnya neng jagain bapak bukan malah keluyuran hiks...hiks.." " bukan salah neng, kita gak tau bakal kejadian gini kan" ucap teh Lita sambil memeluk ku ceklek.... dokter keluar ruangan kamipun berdiri ingin menanyakan keadaan bapak " bagaimana keadaan bapak saya dok" tanya a Heru " bisa bicara di ruangan saya " kami pun mengikuti dokter ke ruangannya dan menitipkan bapak ke mas Egi " begini pak, Bu sepertinya kondisi bapak Rohana semakin buruk" ucap dokter aku semakin terisak " dok, kita lakukan operasi cangkok ginjal aja" lirihku " maaf, sepertinya semuanya sudah terlambat" " maksud dokter??" " kondisi ginjal pak Rohana semakin buruk, jika di lakukan cangkok ginjal takutnya reaksi tubuh tidak dapat menerima ginjal baru dan itu akan memperburuk keadaan pak Rohana kalupun akan ada pencakokan ginjal harus menunggu kondisi pak Rohana stabil" " terus sekarang kami harus bagaimana dok" ucap teh Lita terisak " berdo'a semoga ada keajaiban dari Tuhan " lirih dokter kamipun keluar dari ruangan dokter, kaki ku terasa lemas sekali "jangan menyerah kita terus berdo'a semoga bapak sembuh " hampir semalaman kami menunggu di luar ruangan ugd, bapak masih belum sadar. ceklek pintu ruangan UGD terbuka, dokterpun keluar mengabarkan bahwa bapak sudah sadar. teh Lita mengalah membiarkan aku dan a Heru yang masuk kedalam. " assalamualaikum pak" bapak tersenyum melihatku dan a Heru, aku meraih tangan bapak aku menciumi tangan bapak tanpa berhenti menangis sungguh aku tidak ingin melihat bapak seperti ini, jika bisa bolehkah aku yang menggantikan bapak. " tong nangis bapak teu kunanaon ( jangan nangis, bapak tidak apa-apa)" ucap bapak sambil mengelus kepala ku " Heru, bapak nitip neng nya" lirih bapak " pak, bapak pasti sehat" jawab a Heru " Heru, neng kan Acan nikah? jadi tanggung jawab Heru nya ngejaga neng" ucap bapak dengan tersendat-sendat " pak, tong nyarios kitu bapak pasti damang ( pak, jangan bicara begitu bapak pasti sembuh)" ucapku terisak "Neng nurut k a Heru nya,bapak tos teu tiasa ngajaga deui neng( neng nurut ke a Heru yak, bapak sudah tidak bisa menjaga lagi neng)" " pak, tong nyarios kitu. neng Acan ngabagjakn bapak (pak, jangan bicara begitu.Neng belum bisa ngebahagiain bapak)" tangisku semakin pecah aku dan a Heru keluar dari ruangan UGD bergantian dengan teh Lita dan om erwin aku pun di peluk oleh Tante Widya aku menangis di pelukannya. tiba-tiba om erwin keluar dengan wajah yang panik dan memanggil dokter, dokterpun masuk teh Lita keluar menangis dan panik " teteh, bapak kenapa??" tanyaku ke teh Lita " teteh gak ngerti cuma tiba-tiba bapak seperti sesak napas " ucap teh Lita terisak ceklek ... pintu ruangan UGD terbuka dan dokter pun keluar dari ruangan UGD "Dok, bagaimana keadaan bapak saya?" tanya a heru dokter menarik nafas panjang " maaf pak, Bu saya sedang berusaha sepertinya keadaan bapak Rohana semakin memburuk" lirih dokter aku dan teh lita berpelukan sambil menangis, a Heru juga nampak terpukul dengan ucapan dokter. " ya Alloh , jangan ambil bapak aku tak sanggup jika bapak tidak ada,aku mohon ya Alloh izinkan aku untuk membahagiakan bapak sekali saja" batinku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN