Karina POV
aku tidak tau harus berbuat apa, otakku seakan berhenti untuk berpikir.
aku menguraikan pelukanku dari Tante Widya akupun bangkit.
" maaf semuanya aku mau kekamar, tolong beri aku waktu untuk berpikir" ucapku dengan terisak
"neng" ucap bapak
tapi aku tak menghiraukan ucapan bapak, aku terus berjalan menuju kamarku, rasanya hari ini terlalu lelah, tiba di kamar akupun mengunci pintu aku hanya ingin sendiri memikirkan apa yang harus aku lakukan.
" ya Alloh kenapa harus aku, aku tidak tau sekarang harus bagaimana" jerit batinku
" mah,, kenapa jadi begini, apa benar dia laki-laki yang akan menjadi pendamping hidup ku? mengenalnya saja baru, aku tidak tahu di seperti apa dan bagaimana sifatnya, apa mamah yakin dia akan menjaga dan menyayangi ku? apa mamah yakin dia yang terbaik untuk ku? kenapa mamah mengiyakan permintaan om erwin? balas Budi tidak harus menjodohkan ku?, bagaimana kalau terjadi sebaliknya, dia bukan laki-laki yang baik,tidak bertanggung jawab? bagaimana mah??" aku berbicara dengan foto mamahku, sepertinya aku sudah mulai gila.
entah jam berapa aku tertidur dengan memeluk foto mamah, aku terbangun ketika ku dengar sayup-sayup suara adzan.aku bangkit dari tempat tidur kepalaku sedikit berdenyut mungkin karna terlalu lama menangis.
aku masuk ke kamar mandi karena semalam aku tak bersih-bersih, tidak berganti pakaian.aku menunaikan kewajiban ku sebagai seorang muslim.setelah sholat subuh aku keluar kamar bagaimana pun aku harus menunaikan kewajiban ku sebagai seorang anak, bapak harus sarapan dan minum obat
selesai memasak untuk sarapan, bapak duduk di meja makan aku pun menyiapkan sarapan bapak. kami sarapan di meja makan dengan diam.
" neng, tos sarapan ngobrol nya" ucap bapak
aku hanya mengangguk tanpa menjawab
setelah membereskan bekas sarapan, aku pun menuju ruang keluarga. di sana bapak tertegun melihat foto keluarga kami.bapak pun mengambil foto mamah yang ada di meja dan duduk aku pun ikut duduk dengan kepala menunduk.
"Neng, Mun neng memang alim nikah sareng mas Egi teu nanaon, bapak ke nyarios ka keluarga om erwin ( neng, kalau neng memang tidak mau nikah sama mas Egi tidak apa-apa, bapak akan bicara dengan keluarga om erwin)" ucap bapak dengan sendu
" pak neng wios naros( pak boleh neng tanya)" tanyaku
"iya"
" bapak yakin mas Egi laki-laki yang baik? bapak yakin mas Egi bakal jadi imam yang baik? bapak yakin mas Egi bakal ngejaga neng seperti bapak dan a Heru" ucap ku dengan terisak
" neng bapak emang pendak deui sareng mas Egi nembe dua tahun kamari, tapi bapak yakin mas Egi anak baik, hormat ka orangtua, tiasa ngajaga kahormatan seorang istri, dan nyaah ka keluarga na,eta nu ku bapak di pilari kanggo calon suami anak bapak, sanes samata-mata kur balas budi( neng bapak memang baru bertemu lagi dengan mas Egi dua tahun kemarin, tapi bapak yakin mas Egi anak yang baik, hormat kepada orang tua, bisa menjaga kehormatan seorang perempuan, dan sangat menyayangi keluarganya, itu yang bapak cari untuk calon suami anak bapak bukan semata-mata karena balas budi)" ucap bapak tegas
aku tak tahu lagi harus bicara apa karena jujur, aku bingung harus bagaimana.
"Neng, neng terang kan bapak teu damang, terus parah penyakit bapak teh, bapak Sien lamun bapak maot terus Saha nu ngajaga neng?teh Lita tos gaduh keluarga, Oge a Heru, bapak hoyong Aya NU bener-bener ngajaga neng siang jeng wengi jadi bapak tenang neng ( neng, neng tau kan bapak sakit, terus penyakit bapak parah, bapak cuma takut kalau bapak meninggal siapa yang jaga neng? teh Lita sudah berkeluarga begitupun a Heru, bapak mau ada yang benar-benar menjaga neng siang dan malam, dan bapak akan tenang neng)" ucap bapak dengan sendu
ucapan bapak sungguh menusuk hati aku bangkit dan duduk di bawah kaki bapak kepalaku bersender di paha bapak
" pak, bapak pasti damang" isakku air mataku terus mengalir
dengan lembut bapak membelai rambutku
" lamun emang neng alim, bapak moal maksa sok milari pameugeut nu bener- bener nyaah ka neng ( kalau memang neng gak mau, bapak tidak akan memaksa, silahkan cari laki-laki yang benar-benar sayang sama neng)"
" pak, neng teu terang Ayn Kedah kumaha? neng nyungken waktu nya pak kanggo mikirken ieu ( pak, neng gak tau sekarang harus bagaimana? neng minta waktu yak pak untuk memikirkan semuanya)"
"Neng, bapak yakin neng terang naon NU terbaik kanggo neng( neng, bapak yakin neng tau apapun yang terbaik buat neng)"
******
POV Egi
setelah neng pamitan ke kamar, aku hanya melihat dari sudut mataku langkah gontai neng begitu memilukan, setelah Neng beranjak kamipun hanya diam tak ada satu orangpun yang memulai berbicara.
" mas sebaiknya kami permisi pulang dulu" ucap ayah pada bapak
" iya win, hati-hati" ucap bapak dengan sendu
kamipun berpamitan untuk pulang, di luar rumah ayah memintaku untuk pulang kerumah karena memang selama ini aku tinggal di apartemen. aku melajukan mobilku menuju ke rumah ayah .
setiba di rumah ayah akupun bergegas ke ruang keluarga karena ayah dan bunda sudah menunggu di sana.
" duduk mas" ucap ayah
" jadi ini alasan ayah dulu tidak merestui aku dan Aleta?" tanyaku
ayah menarik nafas berat
"iya, tapi selain itu karena ayah tau Aleta bukan perempuan yang baik untuk mendampingi kamu, buktinya dia sekarang pergi meninggalkan kamu iya kan" jawab ayah
" ayah, kenapa harus aku??" tanyaku kembali
" karena ayah yakin kalau neng memang wanita yang pantas untuk menjadi istri kamu mas" jawab ayah
" tapi tadi ayah liatkan, neng menolak"
" terus mas sendiri akan menolak ?"
" bunda menurut bunda gimana? apa mas harus menerima perjodohan ini?" tanyaku pada bunda
" mas, jujur saja pertama melihat neng entah mengapa bunda langsung jatuh hati, bunda melihat neng sosok gadis yang sangat baik, sopan,dan cantik, dia gadis yang kuat tapi jauh di hatinya dia gadis yang rapuh,bunda seperti melihat diri bunda saat di tinggal eyang, makanya bunda langsung menyayangi neng seperti putri bunda sendiri, bunda hanya berharap jika mas bersedia untuk menikah dengan neng tolong jaga neng sayangi neng seperti mas menjaga dan menyayangi bunda dan mbak risa, tapi jika mas menolak untuk menikah dengan neng bunda tidak akan memaksa semua keputusan ada di ditangan mas" ucap bunda penuh harap
"mas, ayah tau mungkin ayah egois karena telah mengatur kehidupan mas, tapi ayah mohon tolong pertimbangkan hanya ini satu-satunya cara untuk kita membalas semua kebaikan bapak" ucap ayah sambil menepuk bahu ku
" tolong beri mas waktu ayah, bunda. mas perlu memikirkan semuanya lagi" lirihku
" ayah harap keputusan mas yang terbaik untuk semuanya"
ayah dan bunda pun beranjak ke kamarnya
aku pun masuk ke kamar ku yang sudah lama aku tinggalkan, ternyata bunda masih selalu membersihkan kamarku
akupun merenungkan semuanya, memang akhir-akhir ini aku sudah terbiasa dengan neng, tapi apa mungkin aku akan mencintai neng seperti aku mencintai Aleta, bagiku pernikahan itu sakral satu kali seumur hidup, aku ingin seperti ayah dan bunda saling melengkapi saling menyayangi bahkan di umur pernikahan mereka yang sudah lamapun mereka masih terlihat romantis, tapi jika aku menerima perjodohan ini akan kah aku merasakan semua itu. neng begitu menentang perjodohan ini.bagaimana nasib pernikahan ku nanti.tapi jika aku menolak ayah,bunda juga bapak pasti kecewa
ya Alloh apa yang harus ku lakulan??
semalam aku tak bisa tidur, hingga tak terasa adzan subuh berkumandang. aku bergegas ke kamar mandi biar terasa segar.
seperti biasa kamipun sholat berjamaah selesai sholat aku terus menguap
" mas , ga tidur semalaman" tanya bunda
" tidur kok Bun, cuma gak nyenyak aja" jawabku
" istirahat yang cukup mas nanti mas sakit" ucap bunda
" iya Bun, mas ke kamar lagi yak Bun kayaknya mas mau tidur lagi" ucapku
" yak udah, nanti bunda bangunin gak, masuk kantor??" tanya bunda
" masuk bunda, tolong bangunin mas jam 9 yak Bun" jawabku
"iyak"
aku pun masuk kamar lagi dan mulai tertidur.