Bab 11

1268 Kata
POV Egi kenapa akhir-akhir ini aku selalu kepikiran neng yak,, ahhh pikiran apa sih ini aku selalu mencoba mengalihkan pikiran ku dengan berbagai cara supaya tidak selalu memikirkan neng, akhirnya pekerjaan ku hari ini selesai, aku berjalan menuju koridor kantor hari ini tiba-tiba saja aku ingin naik lift karyawan dan berjalan menyusuri koridor kantor. Bugh.... sepertinya punggungku di tabrak seseorang, tapi siapa?? akupun membalikkan tubuhku "awhh,,,, " ringisnya dia memegang keningnya "Neng" batinku " kebiasaan jangan lari-lari ini kantor bukan lapang" ucapku padanya " mas egi, ngapain mas di sini? mas kerja disini juga?" tanyanya ternyata dia cerewet juga,, dia terus saja bertanya dan aku hanya menjawab dengan singkat. sampai akhirnya aku berinisiatif mengantarnya pulang, karena memang bahaya perempuan pulang sendiri malam-malam. lagian aku juga yakin bapak pasti khawatir sama neng. **** sesampainya di rumah neng yang menyambut kami a heru, sepertinya bapak sangat khawatir sama neng sampai bapak menelpon a heru. begitupun a Heru sama khawatirnya. kami sedikit berbincang-bincang dan masuk ke dalam rumah karena bapak memanggil. seperti biasa aku hanya menyimak obrolan antara ayah dan anak,, setelahnya aku, a Heru dan bapak mengobrol di ruang tamu dan neng menyuguhi kami dengan teh hangat. di tengah asyiknya mengobrol aku melihat neng turun dari kamar dan menuju dapur, dia terlihat sangat segar mungkin karena dia sudah bersih-bersih dan mandi. dia terlihat sangat manis dan natural dengan rambut di Cepol dan memakai pakaian tidur.tanpa aku sadari aku malah memperhatikan neng. " neng" teriak bapak dan membuat ku tersadar kalau aku sedang memperhatikan neng " iyak pak" teriak neng dari dapur dan menghampiri kami. " ajakin mas Egi makan " ucap bapak " gak usah pak, Egi udah makan tadi" ucapku " paling tadi siang" ucap bapak " udah mas biar neng sekalian bikin" ucap neng padaku " neng bapak masuk ke kamar yak" ucap bapak " a Heru pulang yak, kasian teteh di rumah nungguin " ucap a Heru " mas nunggu di dapur aja, kan gak ada temennya kalau disini, di dapur kan ada neng" ucap bapak "iya pak" jawabku kami pun berjalan menuju dapur. " mas tunggu di meja makan aja" ucap neng "ohh iya,, maaf jadi ngerepotin" ucapku sedikit tidak enak neng melanjutkan memasak nasi goreng aku terus memperhatikannya dia cukup lincah untuk ukuran seorang perempuan yang tinggal di kota, tidak banyak gadis kota yang bisa memasak biasanya mereka mengandalkan makanan siap saji ataw makanan online. aku semakin kagum padanya. " neng gimana kerjanya betah?" ucap ku basa-basi " betah mas orang-orangnya baik" jawabnya " ehmm" syukulah neng tidak terlalu kesulitan bekerja di kantor ku, walaupun neng ga tau itu kantor ku hihi " ini mas nasi gorengnya, mudah-mudahan suka tadi lupa nanya selera mas kayak gimana" ucap neng " tidak apa-apa neng, lagian seharusnya mas yang minta maaf udah ngerepotin" ucap ku kami pun makan dalam diam. ****** pagi ini aku cukup bersemangat untuk masuk kantor, selain tidak ada rapat penting aku jadi ada alasan untuk bertemu dengan neng. ya Tuhan kenapa aku jadi selalu kepikiran neng yak,, semenjak neng hadir aku sepertinya sedikit melupakan aleta, apa neng bisa menggantikan posisi Aleta ? tak terasa hari mulai gelap aku pun bersiap-siap untuk pulang,, disaat menuju tempat parkir sepertinya aku melihat sosok yang tidak asing. "Neng,, benerkan itu neng, dia gak bawa motor lagi"batin ku " neng" " mas Egi" " gak bawa motor lagi??" " iya mas, masih di bengkel a Heru" " ya udah mas anterin aja" " gak usah mas nanti ngerepotin" " gak apa-apa, ayok" aku pun mengantar neng pulang kerumahnya, sepanjang perjalanan kami hanya diam,, aku bingung harus ngobrolin apa. Tiba di pelataran rumah neng,, " kok ada mobil ayah" batin ku " itu mobil om erwin kan?" tanya neng pada ku "iya" jawabku singkat kamipun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah ***** " assalamualaikum" ucap kami bersamaan " wa'alaikumsalam" jawab mereka serempak kami pun mencium punggung tangan bapak,om erwin, dan Tante Widya dengan takdzim " kalian pulang bareng?" tanya Tante Widya " iya Tante kebetulan tadi ketemu di parkiran kantor" jawab ku " duduk mas,neng bikin minum buat mas Egi" ucap bapak " iya pak" ucapku akupun beranjak ke dapur untuk bikin teh " ini mas" ucapku " terimakasih" ucap mas Egi " duduk neng, ada yang mau bapak bicarakan" ucap bapak serius " iya pak" ucapku " neng, ba-bapak , bapak " ucap bapak terbata " ada apa? apa bapak sakit lagi atau bapak kenapa?" ucapku cemas " hente neng, bapak... hoyong neng nikah ( bukan neng, bapak mau neng nikah)" ucap bapak serius " hah, bapak neng kan tos nyarios neng Acan gaduh calon pak, isin pak ngobrolin nikah seer jalmi ( hah, bapak neng kan udah bilang belum punya calon, lagian malu pak ngobrolin nikah lagi banyak orang)" ucapku sedikit menunduk karena malu " bapak tos Aya calon na (bapak udah ada calonnya)" ucap bapak "hah,,, siapa? neng kenal?" ucapku kaget " kenal" " siapa??" " mas Egi" ucap bapak melirik mas Egi begitupun aku melirik mas Egi dengan isyarat mata yang meminta penjelasan. " kamu, tanya bapak , ayah sama bunda aja" ucap mas Egi seolah mengerti jika aku memang membutuhkan penjelasan. " biar om yang jelaskan yak neng" ucap om erwin om Erwin pun menceritakan bagaimana awal mula bapak dan om erwin bertemu dan mengapa om erwin punya hutang Budi ke bapak " neng setelah Egi lahir kami kembali ke Surabaya, kami hanya berhubungan baik lewat surat dan telpon, sampai om ke Bandung lagi ada urusan bisnis om sengaja ingin bertemu dengan bapak, kami pun bertemu di rumah bapak yang dulu pada saat itu mamah mu sedang mengandung, om berjanji pada mamah mu kalau anak yang di kandung berjenis kelamin laki-laki maka om akan mengangkat dia sebagai adiknya mas Egi, tapi jika perempuan maka om akan menikahkan nya dengan mas Egi" ucap om erwin Duniaku serasa runtuh mendengar ucapan om erwin. " neng om hanya ingin menunaikan janji om sama mamah kamu, dan om juga ingin membalas hutang Budi om sama bapak" sungguh aku benar-benar terkejut dengan semua ini " neng, bapak hoyong NU terbaik kanggo neng, bapak yakin mas Egi tiasa ngajaga neng sapertos bapak ngajaga neng ( neng, bapak ingin yang terbaik buat neng, bapak yakin mas Egi bisa menjaga neng seperti bapak ngajaga neng)" ucap bapak penuh harap " tapi pak, neng baru kenal sama mas Egi,lagian balas Budi g perlu dengan menikah kan" ucapku terisak " neng, om tau ini sangat mendadak buat kamu, tapi om mohon hanya ini satu-satunya cara om menunaikan janji om sama almarhum mamah kamu" ucap om erwin tiba-tiba rasanya hangat dan nyaman ada yang memeluk ku dari samping. Tante Widya meraup wajahku "neng, Tante tau neng terkejut dengan semua ini, tapi Tante bisa jamin kalau mas Egi akan menjaga neng seperti bapak menjaga neng" ucap Tante Widya dengan mendekap ku di dalam pelukannya. aku hanya bisa menangis dalam pelukan tante Widya " neng, bapak teu pernah terang umur bapak dugi mana, bapak hoyong pas bapak maot neng tos Aya nu ngajaga,aya nu mikanyaah, gaduh keluarga NU bener- bener nyaah ka neng, bapak tenang neng Mun sampe waktu na bapak teu Aya neng tos Aya nu ngajaga ( neng, bapak tidak pernah tau umur bapak sampai kapan, bapak mau pas nanti bapak meninggal neng sudah ada yang menjaga, ada yang menyayangi, ada keluarga yang betul-betul menyayangi neng, bapak tenang kalau suatu saat bapak sudah gak ada neng udah ada yang menjaga)" ucap bapak dengan sendu aku semakin terisak dalam pelukan tante Widya. "neng tolong pikirkan baik-baik yak, kita hanya ingin yang terbaik buat neng sama mas Egi" aku pun semakin mengeratkan pelukanku pada Tante Widya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN