Yuyung melajukan mobilnya menuju bengkel tempat bekerjanya Didi, untuk memberitahukan bahwa Peyok baru aja meninggal akibat kecelakaan dan tragisnya salah satu tangan terlepas dari tubuhnya. Mendengar hal itu membuat Didi menghentikan pekerjaannya, ia lalu menuju ke kantor untuk menemui bos nya untuk izin pulang karena ada saudara yang meninggal.
“Bos, aku izin balik sekarang ya? Saudaraku baru aja kecelakaaan dan meninggal di tempat kejadian,”
“Tapi kau besok masuk kerja gak? Jangan sampai gak masuk besok karena banyak sekalian tuh kerjaan pelanggan kita, kalo terlalu lama kan gak enak,”
“Siap Bos, aku besok masuk kok slow aja,”
“Yaudah kalo gitu sana pergi nggak apa-apa, tunggu sebentar ya,”
Tak lama setelah masuk dari ruang kantor dan keluar kembali si Bos memberikan sebuah amplop untuk di titipkan ke saudaranya yang tertimpa musibah.
“Ada sedikit rezeki, tolong kasih ke saudara kau yang tertimpa musibah ya,”
“Baik Bos, sekali lagi terima kasih banyak udah di bantu juga,”
Didi pun memberikan intruksi kepada Yuyung untuk pergi ke rumah Peyok, mereka pun pergi dengan menggunakan kendaraan masing-masing. Setelah perjalanan 30 menit tiba mereka di rumah Peyok, di sana jenasah Peyok telah di mandikan dan kremasi. Ketika mereka berdua melihat untuk terakhir kali sahabatnya itu, betapa terkejutnya melihat kondisi tubuh peyok yang sulit dikenali kembali.
Sementara Lingua yang mendengar kabar kecelekaan Peyok bergegas ke rumahnya untuk melihat apakah begitu parah kondisi sahabatnya. Ketika sampai di depan bengkel Peyok ternyata ada bendera kuning telah berkibar di tiang rumah, melihat itu membuat Lingua heran. Siapa yang meninggal padahal kemarin itu lewat sini tidak ada dan sehat semua termasuk Peyok, tapi ketika melihat ada Didi dan Yuyung segera lingua menghampiri mereka berdua.
“Hai, kok kalian sedih sih? Ada apa emangnya, terus di mana Peyok katanya tadi kecelakaan ya, apanya yang luka,”
Ling, kamu coba masuk aja ke dalam ya tenggok,” seru Didi polos.
Merasakan ada yang aneh dan tak biasanya tingkah kedua temannya itu, lingua berjalan santai tak ada beban untuk melihat keadaan Peyok. Saat iya masuk ke dalam ternyata disitu ada sebuah Peti mati dan Kakak Peyok menangis terseduk-seduk, Lingua terus berjalan dan mencoba kepo untuk melihat siap yang berada di dalam peti mati itu.
Ketika ia mencoba untuk melihatnya betapa terkejut saaat melihat, sebuah tubuh yang telah hancur dan memiliki tubuh tak utuh sepenuhnya. Sontak Lingua lari keluar untuk memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya, karena melihat sesuatu yang tak pernah di lihat bahkan bayangkan sebelum.
“Kalian jahat, kenapa gak bilang kalo di dalam itu …,”
“Kita udah gak bisa bicara apa-apa lagi Ling, makanya menyuruhmu untuk masuk dan lihat sendiri,”
“Tapi apa betul tuh Peyok?”
“Iya Ling, kamu bisa tanya ke Kakak Iparnya peyok karena Kak yang mengumpulkan dan mencari sisa organ tubuh yang terpisah dari tubuhnya,”
“Aku jadi takut, apa selanjutnya akan terjadi pada kita Yung?”
“sekali lagi kalo kau cakap macam tuh akan ku hajar rahangmu mau,” ujar Yuyung sambil mengepalkan tangannya.
Mendengar ancaman itu membuatnya tak berani berucap sama sekalian, dan lebih baik memilih untuk diam.
Kembali ke Yuyung yang telah membangunkan macan tidur. Masa itu, Juna sudah menjadi seorang Penjahat Kelamin di kalangan anak-anak se-geng-nya. Sementara Yuyung belum mengerti jika Juna adalah seorang PK. Mungkin menurut ia, Juna tak pantas menjadi seorang PK, karena ia melihat sahabatnya ini tak memiliki modal sebagai orang PK.
Juna yang sudah merasa terganggu kenikmatan tidurnya, mau tak mau meladeni keinginan sahabatnya. Apalagi jika hal tersebut menyangkut seorang cewek, jiwa PK-nya langsung meronta. “Cewek apes mana yang kau incar, nih, Yung?”
“Cakep, nih, Wal, udahlah percaya kau dengan aku, nih.”
“Feelingku ga enak, nih, paling juga hancur, nih.”
“Bener, Wal, kali ini aku kada salah pilih, bodinya cui ... semlohai,” katanya sambil menggerakkan tangan, membentuk bodi gitar.
“Ah, beneran kam, ga dusta, ‘kan? Terus apa lagi? Udah ada cowoknya belum?”
“Nih, calonnya, Wal. Makanya kuajak ikam ke situ bantu aku PDKT.”
Dalam kepala Juna sudah melayang ke mana-mana, membayangkan seorang gadis yang digambarkan Yuyung. Namun, tiba-tiba khayalan itu berubah menyeramkan ketika suara Yuyung mengagetkannya.
“Sebentar, ya, Wal, aku ke belakang stumat.”
Dalam hitungan detik, Juna sudah berteriak dari arah luar, “Woi, Yung, ayo kita kemon!”
“Cukimay, setan kau, Jun, laju kali sudah di atas motor dia!”
Dalam sekejap Juna dan temannya tancap gas kuda besinya menuju rumah gadis yang dimaksud Yuyung.
Setibanya di sana, Yuyung masih malu-malu untuk masuk ke indekos sang gadis. Sementara Juna sudah pasang aksi coolnya. Ia berusaha untuk cuek, mengantisipasi jika gadis yang ditemuinya kali ini tidak sesuai harapannya.
Begitu ada dua gadis yang muncul, Juna langsung terperangah. Ada salah satu di antara dua gadis itu yang memiliki bodi sesuai dengan gambaran Yuyung tadi. Dalam d**a Juna mulai bergemuruh, alarm PK-nya bergerak otomatis, terus meronta-ronta. Oh, my ghost, mimpi apa gue semalam. Dalam hati Juna berujar. Kimaknya si Yuyung nih! Bisa dapat di mana dia bidadari begini, bodinya cui ... semlohai, belum lagi toketnya, aduh, Mak, jiwa PK-ku seakan ingin melahapnya seketika.
Juna langsung melempar jurus mautnya yaitu senyuman sang PK. Gadis itu pun membalas dengan memperkenalkan namanya.
“Halo, namaku Hani.”
“Aku Juna.”
Sementara teman satunya yang bernama Dwi juga ikut berkenalan dengan mereka berdua. Obrolan di indekos tersebut jadi ramai dengan jokes yang dilempar oleh Juna. Kedua gadis itu terlihat sangat senang dengan cepatnya adaptasi hubungan pertemanan saat itu. Namun, berbeda dengan Yuyung yang sepertinya terlihat kalah aktif dibandingkan dengan Juna.
Keesokan harinya, mereka membuat janji date, hanya saja apesnya si Yuyung malah dapat Dwi, bukan Hani cewek yang jadi incarannya. Juna ... sudah bisa ditebak! Ia mendapatkan yang istimewa dari Hani. Gadis itu sepertinya telah terkena panah cinta PK, si Juna. Ia belum menyadari jika sudah masuk jebakan buaya yang ganas tetapi ganteng.
Agar double date tidak memakan banyak biaya, Juna mengakali dengan mengajak date di rumah kontrakannya. Kebetulan Juna tuan rumahnya, jadi ia bisa “semau gue” di rumah tersebut. Saat makan siang, ia juga tak perlu repot menyuguhkan makan siang tamunya. Cukup membawa Hani dan temannya ke warung belakang rumah. Dengan modal uang ceban per orang sudah dapat makan enak plus es teh. Itu pun duitnya pakai punya David, sang sahabat yang apes.
***
Hari-hari berikutnya Juna dan Hani semakin akrab karena rupanya Hani terkena pesona seorang Juna. Ia pun rela menyerahkan semua kehormatan dirinya kepada sang pujaan hati. Sang PK benar-benar beruntung mendapatkan gadis itu. Ia tak perlu susah payah mencari di luaran sana yang kebanyakan belagu jika didekati dengan modal tampang seperti yang Juna miliki.
Hubungan itu sebenarnya tidak jelas, tidak ada kata cinta dalam hubungan tersebut. Juna memang cerdik, setiap gadis yang ingin ditidurinya tak pernah diberi kata cinta. Baginya, itu adalah senjata terakhir. Jika seorang gadis sulit ditaklukkan, barulah ia gunakan senjata pamungkasnya. Apes bagi seorang Hani, ia tak menyadari bahwa telah terjebak dalam hubungan tanpa status.
Hari demi hari dilalui, seperti biasa, Juna mulai bosan. Hubungan yang tidak didasari dengan rasa yang tulus pasti tak bertahan lama. Begitu juga dengan Juna dan Hani. Hubungan mereka jadi terasa hambar buat Juna. Ia tak memiliki feeling sedikit pun, baginya Hani hanya pemuas nafsu sesaat. Sementara sang gadis sudah pasti berharap banyak pada Juna mengenai hubungan tersebut.
Beruntung, Dewi Fortuna masih terus menaungi Juna untuk menjauh dari Hani. Seorang sahabat Rey yang sama gilanya dengan dirinya, ternyata diam-diam ada rasa dengan Hani. Namanya Sinyo, kakak tingkat 2 tahun di atas Juna. Kelakuannya kurang lebih dengan Juna, doyan wanita dan jago balapan mobil. Nyalinya ada dua puluh kalau sudah nyetir Cressida-nya. Penumpang yang ikut dengannya, sudah pasti sport jantung.
“Pek, tu doski lu anggurin kenape?”
“Bosen gue sama doi, lu kalo mau pake aja sono.”
“Ah, serius lu? Barang bagus, noh.”
“Iye serius doi, gue dah tau juga rasanya, Man, buat lu aja, dah, kalo mau, bawa aja sono.”
Sinyo dengan cepat mendekati Hani yang sedari tadi duduk sendiri di depan TV. Entah apa yang diobrolkan anak itu hingga tak berapa lama Hani sudah beranjak dari duduknya. Ia mengikuti Sinyo ke luar rumah.
Sinyo yang melihat mereka berjalan berdua, jadi ikut senang. Sedikit banyak bebannya mulai berkurang karena cintanya tak akan lagi diharapkan oleh perempuan itu. Dalam hitungan jam, akhirnya Hani dan Sinyo malah jadian. Ya, mereka berdua jadi sepasang kekasih.
Sementara Yuyung yang berjasa telah mengenalkan Hani, tidak jelas nasibnya—apakah ia telah mendapatkan cintanya, atau ia masih tetep jones, jomlo ngenes. Ia hanya bisa gigit jari setelah tahu gadis yang ia incar malah di dapatkan oleh Juna.