Setelah kehilangan kedua sahabat adik bagi mereka, sangat memuluk mental mereka dan tak pernah terlintas dalam benak mereka kenakalan yang dilakukan begitu fatal sehingga harus mengganti dengan sebuah nyawa. Didi, Yuyung dan Peyok tak ada satu pun di antara mereka yang berani menceritakan kematian yang menimpa Alex kepada Juna karena tau betapa dekatnya hubungan diantaranya.
Ketika mereka bertiga masih gaduh siapa yang akan memberitahukan kabar duka kepada Juna, tiba-tiba hadir Lingua untuk menyampaikan turut berduka atas meninggalnya Alex. Meski tidak begitu dekat dengan Alex tapi lingua mengenalnya sebagai cowok yang sopan, Baik dan dewasa di antara sahabatnya.
“Oh ya, Juna kemana ya? Kok dia gak hadir pada pemakaman sahabata dekatnya,”
Mereka bertiga diam tak ada yang berani bicara perihal tersebut, hingga Yuyung angkat bicara sabagai perwakilan.
“Ehm, Begini Lingua sebenarnya kami belum memberi kabar kepada Juna soal meninggalnya Alex. Mungkin kami akan memberitahukan kepada juna nanti saat tiba liburan lebaran dan Juna pulang kesini,” terang Yuyung.
“Gak bisalah kaya gitu, gimana pun kita harus memberitahu apa yang terjadi pada Alex,”
“Tapi kami tak tega untuk menceritakan hal itu kepada Juna,” sambung Peyok.
“AKu minta no Handphone Juna, biar aku yang bicara dengannya langsung,”sela Lingua.
Secepat kilat Didi langsung memberikan ponselnya yang sudah ada kontak Juna, dan Lingua menyimpan no itu. Setelah no ponsel tersimpan Lingua langsung menghubungi Juna melalui ponselnya.
Ketika sedang asik Juna dengan Icha menikmati bakso langganan dekat kampus, tiba-tiba ponselnya berdering tertulis no tak di kenal. Sejenak Juna berpikir siapa ya, kok ada no baru perasaaan sudah dua bulan ini tak ada ia main dengan cewek lain setelah jadian dengan Icha. Merasas penasaran akhirnya Juna mengangkat telepon tersebut, dan sekilas Icha melihatnya sambil menikmati bakso di hadapannya.
“Halo, apa benar nih Juna?”
“Iya, Aku Juna, maaf ini siapa ya?”
“Masa kamu gak kenal suara aku Jun, oh ya udah banyak cewek disana ya sampai lupa tak mengenali suaraku,”
Suara ini tak asing, tapi apa mungkin dia? Setelah sekian lama tak ada kabar. Batin Juna.
“Lingua?”
Seketika Icha tersedak dan matanya menatap tajam ke arah Juna, melihat kode keras cemburu ceweknya Juna memberikan isyarat untuk diam sejenak.
“Iya aku, akhirnya kamu masih ingat aku, lama kita tak berbicara ya,”
“Iya sejak kamu tidak pernah kumpul lagi bersama kita, bagaimana kabarmu dan cowokmu tuh?”
“Aku baik aja, soal cowok ia udah pergi meninggalkan dengan cewek lain,”
“Aku turut prihatin ya soal tuh,”
“Iya Makasih, oh ya ada yang mau aku bicarakan mengenai Alex, Jun,”
“Alex, iya ada apa memangnya, baru aja minggu lalu kita komunikaasi, dia bercerita soal kematian Cecep dan beberapa terror hantu Prajurit jepang,”
“Terus kalian bicara apa aja?”
“Didi yang kecelakaan dan hampir meninggal, ia yang pingsan akibat melihat prajurit jepang di lantai atas rumah Yuyung, ehm … udah sih itu aja memang ada apa Ling,”
“Begini, ketika sahabatmu tak kuat memberitahukan kabar soal Alex karena mereka tau bagaimana hubungan kalian begitu dekatnya, aku … aku … ingin memberitahu bahwa semalam meninggal kecelakaan di tempat kerjanya,”
“APA GAK MUNGKIN? Kamu jangan bohongi aku ya, Alex pasti baik-baik aja,”
“Iya Juna, kalo kamu gak percaya nih di sampingku ada ketiga sahabatmu,”
“Iya Bro, Alex udah meninggal kecelakaan, maafin kita gak sanggup cerita sama kau ba,” seru Didi sambil menangis.
Seketika ponsel di matikan oleh Juna, Icha yang melihat raut wajah Juna yang awal ceria kini menjadi sedih merasa heran apa yang sebenarnya terjadi pada pacarnya.
“Jun, kamu nggak apa-apa kan sayang,”
Tak terasa air mata menetes basahi pipinya dan jatuh terakhir mendarat ke dalam mangkok bakso. Juna tak bisa membentuk rasa kehilangan seorang sahabat berasa saudara, Cuma Alex yang bisa mengerti dan mengetahui semua kartu As Juna.
Bro maafkan saudaramu ini, tak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya dan tak bisa mengiringi kepergianmu. Batin Juna.
Juna tetap menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Icha makin binggun tak tahu apa yang harus di lakukannya. Karena selama ia mengenal Juna tak pernah melihat Juna semelow begini dan sebenarnya apa yang terjadi.
“Sahabat dekat dan merupakan saudara bagiku, Alex yang pernah ku cerita kepada kamu masih ingat?”
“Iya kenapa sayang, ada apa dengan Alex bukannya mingu lalu dia menghubungimu dan kita bertiga bercanda ya,”
“Alex meninggal akibat kecelakaan kerja semalam,”
“Ya Tuhan …,”
Icha terduduk lemes dan tak bisa berkata apapun.
Mengingat kematian kedua sahabatnya yang begitu tragis, membuat peyok semakin jiper (takut) apa ia pun akan mengalami hal serupa seperti kedua sahabatnya yang terlebih dahulu pergi. Siang itu, ia merasa gelisah di bengkel, apa yang ia kerjakan selalu salah dan tak bisa konsentrasi.
“Yok, ada apa dengan kau?”
“Iya Kak, nggak ada apa-apa kok,”
“Kakak lihat hari ini pekerjaanmu tak ada yang beres sama sekali, sebenarnya apa yang membuatu gelisah seperti ini,”
“Kak, aku izin keluar ya untuk tenangi pikiran, gak tenang aku disini bising sekali sama suara mesin sepeda,”
Kakaknya yang mengetahui ada sesuatu menimpa Adiknya, memberikan waktu kepada Adiknya untuk pergi.
“Ok, tapi jangan terlalu sore ya, masih banyak kerjaan yang belum di selesaikan soalnya, bengkel lagi ramai kali soalnya,”
“Siap Kak, makasih ya,”
Peyok pun pergi mengeluarkan sepeda untuk mencari udara segar, tapi baru beberapa meter pergi meningggalkan bengkelnya. Sepeda yang ia kendali tiba-tiba mogok di tengah jalan, saat itu sang Kakak yang melihatnya memanggil.
“Dek, kenapa motormu bukan kemarin habis kau service tuh?”
“Iya kak, aku pun tak tahu ada apa dengan motorku nih,”
Jarak antara jalan raya dan bengkel Kakak Peyok Cuma 500 meter, saat iya berusaha untuk meminggirkan sepeda. Tiba-tiba datang sebuah truk besar dari arah berlawan menyalip bis yang tengah berada di depannya. Kakak yang melihat hal itu, lalu berusaha teriak untuk memberitahu Adiknya.
“Awas Dek, ada truk besar lari … lari … cepat lari …,”
Belum sempat Peyok menenggok truk tuh langsung menabraknya, seketika Peyok terpanting sejauh 2 Km. Sang Kakak yang melihat kejadian itu langsung histeris.
Akh …..
Seketika jatuh pingsan di depan bengkelnya, setelah melihat dengan adegan live Adiknya adu banteng (kepala sepeda dengan kepala truk). Beberapa karyawan, pelanggan dan Kakak Ipar Peyok kaget dan tak percaya atas apa yang telah menimpa kepada Adiknya.
Kakak Ipar langsung membawa istrinya ke kamar dan istirahat, lalu meminta kepada mba rumah tangga untuk menjaga istri dan anak-anaknya. Tak lama berselang 10 menit sudah sampai di lokasi kejadian, tapi tak menemukan tubuh Adik iparnya. Salah seorang pelanggan bengkel Kakak ipar Peyok melihat di bawah truk itu ada sepotong tangan putus.
“Hai, tangan siapa tuh di samping ban mobil,”
“Tangan korban kali, coba ambil dulu,”
Tak menunggu lama dan tak merasakan takut, di ambil tangan yang terpisah itu dari tubuh itu. Kakak Ipar kembali lagi ke bengkel untuk mengambil sepeda dan langsung melajukan ke arah terpentalnya Penyok. Ketika di ketahui ternyata jauh sekali dan kondisi tubuh tak layak untuk di kenali sama sekali.