Kehilangan

1193 Kata
Alex pamit kepada Ibunya untuk berangkat kerja, sepanjang perjalanan dia memikirkan runtutan peristiwa yang menimpanya dan sahabatnya. Alex Nampak gelisah dan merasakan takut yang tak pernah di alami sebelumnya, ia tak pernah menyangka akibat kenakalannya di masa lalu akan berdampak seperti ini. Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya ia tiba di tempat kerjanya untuk bertugas jaga shift tiga. Seperti biasa setelah melakukan apel dan pembagian tugas oleh Danru (Komandan Regu) semua anggota kembali kepada pos jaga masing-masing. “Woy, Bro ada apa? Ngemalun aja kau, ada masalah ceritalah,” “Iya Bro, kau masih ingat wakt kita berjaga beberapa hari lalu? Aku cerita kalo di terror hantu saat di toilet dan ketika kembali di pos jaga,” “Iya tau, masih ingatlah aku, kau nih memangnya aku sudah tua apa sampai pikun macam tuh,” “Ternyata hal itu terjadi juga pada beberapa sahabatku, mereka di terror oleh Hantu Prajurit juga” “Bah, ngeri kali ya cerita kau nih Bro, apa mungkin kau dan sahabatmu itu ada kesalahan yang telah di perbuat sampai kalian di terror oleh hantu tuh,” “Entahlah, pening kepala ku Bro, udahlah ku tinggal kontrol dulu ya,” Alex pun berlalu pergi dan meninggalkan kawannya itu, terlihat raut muka yang pucat dan takut pada dirinya malam itu. Ketika melakukan patroli malam seperti biasa ia hanya bermodal lampu senter dan menyalakan sebatang rokok untuk menghilangkan ketakutannya. Hingga ia sampai pada tempat cek point barang masuk di gudang, sekelebatan bayangan hitam begitu cepat bergerak dari dalam gudang. Meski begitu cepat dan samar-samar Alex tetap melihat sesosok bayangan itu dan pergi ke dalam gudang untuk mengecek apa ada orang selain ia saat itu. Brukkkk…. Tiba-tiba ia merasakan seperti menabrak sesuatu yang begitu tinggi dan keras, sampai membuatnya terpental jatuh ke lantai. Saat ia menyenterkan ke arah depan untuk mengetahui apa yang ditabraknya, nampak sesosok Tentara Jepang yang tengah berdiri dengan bau anyir darah di wajahnya juga salah satu tangan telah hilang. “Kembalikan barangku,” “Barang apa, aku tak tau barang yang kau maksud sama sekali,” “Kau telah mengambil barang kami, dan telah mengusik ketenangan kami,” “Maafkan aku tak sengaja mengusik ketenangan kalian, tolong pergilah .. pergi ….,” Seketika dari arah belakang bergerak dengan cepat sebuah Forklip barang ke arah Alex dan menabraknya hingga jatuh ke lantai. Tidak sampai disitu kembali Forklip tersebut bergerak dan melindas tubuh Alex yang telah terjatuh itu. Hingga membuat setengah bagian tubuhnya remuk dan hancur akibat terlindas Forklip, Alex pun meninggal seketika di lokasi kejadian begitu tragis dengan kepala yang hancur dan organ kepalanya keluar berserakan di lantai. Kejadian meninggalnya Alex tak di ketahui oleh rekan jaganya malam itu, sampai Dua jam berlalu rekannya merasa curiga Alex tak kunjung kembali tidak seperti biasanya begitu lama. “Bah, kemana si Alex nih, tidak biasanya di patrol begitu lama sekali,” Rekannya yang merasakan firasat tak enak mencoba memanggil Alex melalui monitor Radio, “Alex monitor, kau dimana betah kali patroli sampai dua jam tak balik ke Pos jaga? Aku mau ke toilet nih sudah kebelet mau buang air besar, jangan lama kau disana cepat kembalilah ya, aku pergi dulu ke toilet daripada nanti berojol di Pos bisa bahaya.” Setelah tuntas dan merasa nyaman menunaikan hajatnya Boy pun kembali ke Pos jaga, saat sampai tak menemukan pula si Alex di Pos jaga. Padahal dari ia buang hajat itu sekitar 30 menit, kenapa Alex tak kunjung kembali juga. Bah, ada yang gak beres nih, pasti sesuatu telah terjadi sama Alex tak boleh tinggal diam. Aku harus segera mencari Danru dan melaporkan kejadian ini. Batin Boy. Boy mencoba mengontak melalui radio panggil untuk bisa terhubung ke Pos 2, ia bermaksud untuk satu orang yang berada di Pos 2 berjaga sementara menggantikan Boy. Ia ingin melaporkan kejadian yang menimpa Alex kepada Danru, karean sudah hamper tiga jam tidak ada kabar sama sekali dan di telpon ke ponselnya tak ada yang mengangkatnya. “Izin Dan, maaf menganggu waktunya,” “Iya ada apa Boy?” “Maaf Dan, saya mau melaporkan bahwa kawan jaga saya, usai apel malam tadi ia izin untuk langsung melakukan patroli tapi setelah saya tunggu tak terasa hampir tiga jam tak kunjung kembali,” “Saya pun coba memanggil melalui panggilan Radio maupun telpon ke Ponselnya tetap tak ada jawaban sama sekali, mohon arahan selanjutnya Dan laporan selesai,” “Panggil semua anggota masing-masing perwakilan satu orang dari Pos satu sampai sepuluh untuk membantu mencari keberadaan Alex,” “Siap Komandan.” Boy lalu undur diri dan kembali ke Pos jaganya, sementara Danru langsung memberi intruksi melalui Radio Panggil (HT) untuk setiap Pos jaga perwakilan satu orang segera menuju ke Pos jaga dua. Tak menunggu intruksi dua kali semua anggota yang bertugas malam itu dari masing-masing Pos segera bergegas menuju Pos dua yang mana tempat itu di jaga oleh Boy dan Alex. Satu persatu rekan Boy dan Alex berdatangan dalam waktu sepuluh menit mereka semua sudah berkumpul di Pos dua. Danru pun tak ingin membuang waktu segera memberikan intruksi kepada anggotanya. “Saya baru aja mendapatkan laporan bahwa rekan kita Alex setelah Apel malam tadi, pamit untuk segera lakukan Patroli jaga tapi setelah hampir tiga jam di tunggu tak datang kembali. Saya minta kepada seluruh anggota malam ini untuk membantu mencari rekan kita Alex, semua ponsel kalian stand by dan setiap orang akan berdampingan dua orang,” “Ramli, kau tunggu di Pos menggantikan Boy mana tau nanti Alex kembali segera hubungi saya. Paham.” “Siap Paham Komandan,” “Mari kita cocokan jam tangan kita semua, saat ini pukul dua, setengah jam lagi kita kembali dan berkumpul disini lagi. Apakah ada pertanyaan?” “Siap tidak,” “baik kalo gitu segera kita lakukan pencarian, bubar jalan,” Boy berpasangan dengan Danru dan menunjukkan lokasi mana aja biasanya mereka lakukan patrol, setelah berjalan kurang lebih 20 menit dan melewati gudang barang. Danru merasakan ada yang ganjil, seperti ada sorot lampu di dalam gudang tersebut tapi arahnya ke bawah. Lalu Danru memberikan intruksi kode kepada Boy untuk menuju gudang dan berjalan pelan sekali, Boy yang memahami segera mengikuti Danru berjalan di sampingnya. Mereka berjalan sangat pelan sekali sampai tak terdengar sama sekali langkah sepatu, dan ketika sampai di Forklip yang menyimpang tengah jalan tidak sesuai pada tempatnya. Danru masih menyenter ke arah Forklip dan melihat ada bercak darah pada ban setelah di telusuri betapa kaget melihat tubuh anak buahnya tergeletak bersimbah darah dengan luka parah. “Boy, cepat sini kau, Alex bangun,” Boy yang saat itu masih mengontrol sekitar dengan soroan senter lampunya langsung bergerak cepat saat Danrunya memanggil. Ketika tiba di mana Danrunya duduk dan memanggil nama Alex betapa terkejut setelah ia melihat kawannya itu tergeletak dengan luka yang cukup parah. “Boy cepat kau kontak melalui ponsel rekan-rekanmu yang tadi, aku mau hubungi ambulans dan polisi terkait hal ini,” “Siap Ndan,” Boy seketika ingin muntah rasanya melihat organ kepala Alex keluar dan otaknya pecah di sertai bau anyir darah. Boy menyingkir dari tempat kejadian perkara (TKP) sekitar 200 meter agar tidak terlalu mencium bau anyir darah yang membuat ia mual dan ingin memuntah isi yang ada dalam perutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN