Balas Dendam

1402 Kata
Juna makin tak semangat untuk pergi kuliah, malam itu dia merasa males sekalin untuk berangkat. Tidak biasanya ada kuliah malam pada malam jum’at tapi hari ini berbeda dan Juna saat ini berada di fase jenuh ketika cinta yang ia nantikan tak kunjung datang. Pujaan hati yang setiap hari di nantikan rindunya tak pernah hadir, entah itu sebuah permainan cinta atau hanya sebuah halusinasi dalam dekapan rasa yang bernama rindu. Alena tidak biasa malam itu telah berada ditepian kolam ikan samping taman, ia duduk seorang diri menanti Juna yang tak kunjung datang. Tiba-tiba ponsel berdering dan ketika melihat ke layar ternyata bertulisan sebuah nama Icha. Aduh ngapain sih, cewek satu ini telepon lagi males ke kampus. Batin juna. Dengan rasa malas ia pun mengangkat telepon dari Icha. “Halo, iya Icha ada apa?” “Buka pintunya, keluar sekarang dari tadi aku di luar kosan kamu nih, tapi tak ada satupun orang yang membukakan pintu,” “Iya Bawel, tunggu sebentar aku keluar,” Percakapan akhirnya di akhir oleh Juna dengan mematikan ponsel dan berjalan mengarah ke pintu utama untuk membukakan pintu agar Icha bisa masuk. “Lama banget si buka pintunya, capek tau nunggunya,” Bawel banget yanih cewek, waktu lahir ibunya nyidam apa sih. Keluh juna dalam hati. “Ayo kita berangkat ke kampus, bentar lagi masuk lho bisa telat kita nanti,” “Aduh, kamu aja yang ke kampus ya, aku lagi males banget gak mau ke kampus lho,” “Ke Kampus ayo buruan, ganti baju dan bersih-bersih aku tungguin,” Icha sambil mendorong tubuh Juna untuk masuk ke kamarnya dan mengganti baju, ketika Juna membuka baju seketika tubuh Icha berdesir dan detak jantungnya berdetak begitu kencang. Juna lalu mengambil baju ganti dan menaruh pakaian kotornya ke dalam bak kotor, saat juna melangkah ke kamar mandi dan begitu kagetnya mereka berdua ternyata Icha baru saja menggunakan kamar mandi dan keluar. Sekitar semenit mereka berdua terdiam saling memandang dan terpaku satu dengan yang lainnya. Spontan Icha mencium bibir Juna dan lekas berlalu ke tempat duduk, buruan nanti ketinggalan mata pelajaran kita. Juna kaget dan lalu pergi masuk ke kamar mandi, setelah urusannya selesai ia pun mengajak Icha untuk ke kampus. Juna mencoba menstart motor milik Icha dan setelah berhasil motor hidup, mereka melanjutkan perjalanan ke kampus. Tak perlu memakan waktu begitu lama hanya dalam 15 menit mereka telah sampai di kampus dan memarkirkan motor. Saat mereka berjalan di lorong arah gedung bagian belakang, secara samar-samar Juna melihat ke arah kolam ikan melihat ada Alena yang sedang berdiri memandangnya dengan sorotan mata amarah. Melihat sorotan amarah yang terpanca dari mata Alena, dengan sigap Juna melepaskan gandengan tangan Icha padanya. Melihat hal itu, Icha justru berusaha mengandeng kembali dan menyuruhnya untuk lebih cepat lagi karena 5 menit lagi kita bisa telat. Seketika air yang berada di dalam kolam itu kembali meluap bak air panas yang sedang mendidih. Juna berusaha melepaskan genggaman Icha tapi gak bisa karena begitu eratnya hingga tak bisa dilepaskan. Saat Juna melihat ke arah kolam ikan ternyata Alena sudah tidak ada entah pergi kemana, ia berusaha mencari kemana keberada Alena namun tak dapat di temukan. Satu jam setengah pun berlalu mata kuliah akuntasi yang membuat otak Juna ngebul mau meledak karean hitung-hitungan yang begitu banyak. Icha pun kembali mengandeng mesra Juna berjalan pulang menuju lorong kampus, saat berjalan 100 meter tiba-tiba lampu lorong jalan berkedip-kedip dan beberapa bola lampu pecah meledak tanpa sebab. Sontak membuat mereka kaget, dan Icha makin erat pegangan lengankan ke lengan Juna. Sementara Juna pun merasakan takut, ada apa sebenarnya namun merasa gengsi dan berusaha berani di hadapan Icha. Ternyata dari ujung lorong samar-samar muncul bayangan wanita yang memiliki rambut panjang dan kaki tak menapak ke tanah. Spontan Juna mundur beberapa langkah, Icha makin erat mengenggam lengan Juna dengan mata saat ini terpejam tak berani melihat. “Kau berani merebut kekasihku, w***********g? Aku akan membunuh kali ini,” Begitu cepat gerakan wanita berambut panjang itu dan menghilang berpindah ke sisi kanan dan kiri muncul. Dan ketika sampai di hadapan mereka, terlihat jelas wajah Alena wanita pujaan Juna yang telah lama ia nantikan akhirnya bertemu kembali. Namun pertemuan kali ini membuat Juna terperanga setelah melihat dan mengetahui siapa sosok asli dari Alena. Belum usai rasa kagetnya, tiba-tiba Icha terbang ke atas dan seketika Juna sadar bawah cewek yang berada di sampingnya melayang ke udara. “Juna, tolong aku,” “Aku takut Juna,” Gedebug!.... Seketika Icha terjatuh ke lantai setelah melayang ke udara beberapa detik, hal itu berulang sampai tiga kali dan membuat Icha tak sadarkan diri. “Alena sudah hentikan, apa yang kamu lakukan? Kamu bisa membunuh ia,” Seketika Alena menghentikan perlakukan terhadap Icha, dan menatap tajam ke arah Juna. Sementara yang di tatap tak berani melihat dan secara perlahan mundur, baru beberapa langkah mundur ternyata mentok menyentuh dinding tiang pancang lorong. “Kenapa kau mengkhianatiku? Mengapa kau lebih memilih cewek itu,” Aaarrggh…. Suara teriakan Alena memekik telinga Juna dan membuatnya terduduk jatuh ke lantai menahan rasa sakit di gendrang telinganya. Juna pun ikut di hempaskan kea rah tinag pancang lorong di sisi kanannya, sehingga membuat bahu kanan dan kepala Juna merasakan sakit. Ketika Juna hendak memegang apa yang terasa perih dan mengalir di pelipisnya,ternyata darah segar mengalir tak henti menetes jatuh ke lantai dan mengenai alis juga koplak matanya. Ketika Alena hendak melakukan serangan kedua terhadap juga tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya. Alena hentikan …    Seketika Alena pun menghentikan serangan tersebut dan melihat di ujung gedung itu ada sesosok orang tua, menggunakan baju kokoh dan peci juga memegang tasbih. Alena terus memperhatikan dengan sesak sampai sosok orang tua itu terlihat dengan jelas karena terkena cahaya lampu. Rahmat …. “Hentikan dendammu, jangan kau siksa rohmu hanya demi sebuah dendam yang tak bersudahan. Masa ini telah berbeda jauh dari masa mu terdahulu, kembalilah ke alammu dan pulang kepada Allah,” “Aku takkan pernah berhenti untuk menuntut balas atas kekejian yang telah di lakukan Viktor terhadapku,” “Non, Tuan Viktor pun telah tiada dan ia telah menerima balasannya dengan setimpal. Kasian roh mu jika terus mengikuti nafsu dendammu yang membara, mau sampai kapan kau kembali kepada allah. Sementara disini kau sendirian dan kesepian tak ada yang menemani,” Hiks, Hiks …. “Non, kamu orang baik tidak layak masih ada di dunia ini, sekarang kembali ya karena disini bukan tempatmu,” Perlahan-lahan Icha tersadar dari pingsannya, sementar Juna berusaha bangkit dan memapah Icha untuk bangun. Ketika berhasil berdiri saat melihat ke depan betapa terkejutnya mereka melihat sosok Pak Rahmat, yang terlihat begitu mengenal sosok Alena. “Non, sekarang waktunya untuk pulang, mau aku anter pulang apa ingin sendiri?” “Rahmat bantu aku untuk pulang,” “Baik Non,” Pak Rahmat lalu meminta kepada Icha dan Juna untuk ikut bantu membacakan Al Fatihah agar roh jahat yang ada dalam diri Alena hilang dan ia bisa kembali pulang kepada Allah. Seketika aura negatif yang berada pada diri Alena menghilang, ia terlihat begitu senang penampilan waja barunya yang begitu bercahaya dan ceria. “Rahmat, terima kasih banyak sudah banyak membantuku,” “Juna, Icha terima kasih sudah bantu juga ya, maafkan aku telah berlaku kasar terhadap kalian. Semoga kalian bahagia dan jangan pernah lupa untuk selalu mendoakan aku ya,” Mereka pun mengangguk tersenyum menandakan setuju, tak terada Icha satu demi satu butir air mata menetes membasahi pipinya yang kuning langsat itu. “Terima kasih semuanya, selamat jalan dan berjumpa kembali,” Whooooosh!.... Seketika ada cahaya dari langit turun tepat di arah alena dan membawanya naik ke atas langit begitu cepat. Akhirnya nyawa Juna dan Icha dapat tertolong dan mereka mengucapkan terima kasih kepada Pak Rahmat yang telah menolong mereka. Malam ini terasa begitu panjang sekali bagi mereka, setelah mengambil motor di parkiran dan pulang menuju kosan Juna. Juna melihat wajah lelah dan luka pada tubuh Icha, lalu mempersilahkan untuk masuk agar dibersihkan dan obati dulu lukanya. Dengan telaten Juna membersihkan Luka Icha, setelah di rasa semua luka yang ada di tubuh Icha selesai di obati. Saat hendak berdiri dan bilang bahwa semuanya telah di obati, ternyata Icha sudah terlelap tidur pulas. Terlihat wajah kuning langsat yang begitu menawan lagi terdapat lesung pipi di sisi kanan, Juna pun berjalanan perlahan dan mencoba mengangkat Icha agar bisa lebih ke atas tubuhnya untuk tidur lebih nyenyak. Ia pun memberikan selimut kepada cewek tangguh malam ini yang telah menemani sepanjang malam, kemudian ia memberikan kecupan mesra di kening Icha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN