Peyok masih memikirkan perubahan pada diri lingua, semakin hari penampilannya kian cantik dan seksi.
Kenapa kau memilih jatuh hati kepada si juna? Tak tahukah kau ling, aku mencintai dan menyayangimu. Batin peyok melow.
“Woy, ngelamun aja kau siang begini? Bukannya kerja malah ngelamun aja, pasti kau sedang ngelamun bokep kan,”
“Hah, kau nih Di, jadi buyar kan lamunanku nih tak ngerti kau perasaan sahabatmu yang sedang jatuh hati kah?”
“Cie … siapa wanita yang mau dengan kau, betapa malangnya wanita tuh jika jatuh cinta kepada kau yang tiap makan tak ada aturan dan malas kali kalo di suruh kerja bah,”
“Bodoh, jangan sembarang kau cakap bah, nanti kalo aku dapat pacar cantik kaget kau,”
“Iya … iya percaya buktikan aja, oh malam nih kita kumpul yuk lama tak kumpul nanti kau kabarin Yuyung sama Alex ya,”
“Beres tuh, tapi ada makanan gak?” sela Peyok sambil nyengir.
“Kau nih, kapan otakmu tak ada soal makan atau bokep aja, tenang soal tuh sudah di siapkan sama Mamakku,”
“Asyik, paten kali kawan ku nih, baiklah kalo gitu nanti malam kami ke ruma kau,”
Seteleh perbincangan singkat itu Didi pamit untuk pergi pulang, setelah kecelakaan seminggu lalu dan meninggal Adiknya. Didi belum juga bekerja selain kondisinya yang belum pulih, ia memikirkan Mamaknya sering ketika sendirian murung dan sesekali ia dapat sedang menangis. Saat di tanya Mamak selalu menjawab tak ada apa-apa Cuma kelilipan debu aja, dan pernah beberapa hari lalu Mamak di mimpikan oleh Cecep meminta tolong.
Saat Mamak menghampiri dan menanyakan apa yang bisa di bantu seketika ada beberapa orang Prajurit bersenjata lengkap membawa Cecep pergi. Didi jadi teringat kejadian pada masa mereka kecil dahulu, kalo di hubungan dengan kejadian dia dan mimpi Mamak aa hubungannya. Didi masih berusaha mencari Bapak-bapak yang waktu itu menolongnya saat kecelakaan, dan berpesan kepada Mamak untuk mengembali barang yang kami ambil.
“Mak, nanti teman-temanku pada kesini? Tolong buatin kue ya Mak,” meminta Didi kepada Mamaknya di dapur.
“Iya Le, Mamak lagi siapin adonannya nanti di buatkan ya,”
“Mamak gak jualan hari ini?”
“Nggak Le, nanti aja setelah 7 hari Adikmu”
“Mamak jangan banyak pikiran ya, nanti Mak sakit gak ada yang ngerawat apa lagi Didi sekarang lagi sakit gak bisa bantu,”
“Iya Le, kamu udah makan belum? Kalo belum ada ayam goreng, tempe sama sayur Sop makan dulu gih,”
“Asyik, tau aja Mamak kesukaaan anaknya, makasih ya Mak,” sambil Didi memeluk Mamak dan mencium keningnya.
Mamak merasa kaget seketika karena tidak biasanya Putranya seperti ini, semoga tidak terjadi apa-apa lagi terhadap anakku.
Ibu Lingua akhirnya telah tiba di RS, sementara Lingua telah berada di ruang Inap setelah melakukan Kuret. Ibu lingua sedih melihat ujian yang begitu berat menimpa Putrinya tercinta, Ibu terus mengelus-elus rambut Lingua dan mencium keningnya ketika Lingua masih terlelap tidur akibat obat bius.
Sementara Yuyung baru aja tiba setelah membelikan makanan dan buah untuk Lingua. Melihat kehadiran Ibu Lingua langsung Yuyung mencium tangan sang Ibu dan merapikan makanan yang telah dia beli untuk di taruh di lemari dan meja agar dapat di makan oleh Lingua.
“Nak Yuyung, makasih ya untuk tolongin Lingua kalo gak ada kau entah apa yang terjadi dengan Lingua,”
“Iya Bu, tadi kebetulan aja saat keluar lihat Lingua dengan gerak gerik yang sangat aneh. Merasa ada sesuatu yang ganjil lalu sayang mengikuti Lingua, dan tak tau saat saya ketemukan di dalam bangunan tua Lingua telah tergeletak di tanah dengan kaki penuh darah. Sebelum itu ada dua orang keluar dari gedung untuk cowok dan cewek lari ketakutan gitu,”
Ibu yang mendengar cerita itu hanya menghela nafas dan tersenyum, “Sekali lagi, Terima kasih Ya Nak,”
Setelah 1 jam berlalu akhirnya Lingua sadar dari obat bius saat melakukan proses operasi, ia begitu kaget ketika mengetahui ada sang Ibu di sisinya.
“Ibu, kapan datang kesini, Ling kenapa Bu?” tanya Lingua heran.
“Kamu istirahat dulu, Dokter bilang harus banyak istirahat dan besok sudah boleh pulang,” ujar Yuyung.
“Nak gak usah mikirin yang aneh dulu ya, sekarang istirahat? Kamu laper gak sayang mau buah, biar Ibu kupaskan ya,” seru Ibu.
Lingua hanya mengangguk tanda di mau buah, dan tak terasa kembali air matanya menetes membasahi wajahnya yang cantik putih bersih.
“Hai, Anak Ibu kok cenggeng udah besar kan,” senyum Ibu mencoba tegar di hadapan Putrinya.
Tak lama Dokter pun datang bersama dengan suster, membawa sebuah botol berukuran kecil entah apa yang berada di dalamnya.
“Selamat Malam, maaf mengganggu waktunya Bapak, Ibu. Saya ingin memberikan janin yang tadi sore kita lakukan kuret, sudah berbentuk daging dan silahkan jika ingin melihatnya atau ingin di bawa untuk di kuburkan,” ungkap Dokter Muda tuh.
“Baik Dok, terima kasih biar nanti kami bawa aja dan kuburkan sendiri,” balas Yuyung sigap dan mengambil botol yang berikan janin.
“Kalo gitu saya permisi, jika Ibu Lingua besok sudah mulai membaik bisa pulang, tapi harus tetap makan, minum vitamin yang sudah kami berikan dan buahnya di habiskan biar cepat sehat,” ujar Dokter itu tersenyum.
“Iya Dok, terima kasih untuk membantu operasi kuret anak saya,” balas Ibu Lingua.
“Baik kalo begitu saya izin pamit untuk melihat pasien lainnya, semoga cepat sehat ya,” Dokterpun berlalu pergi bersama suster.
Lingua meliha tabung yang berisikan janin anaknya menangis kembali, Ibu dengan sigap memeluknya untuk bisa menenangkan Putrinya. Yuyung yang paham akan hal itu, memberikan tabung berupa janin ke lingua. Tak ada seorang Ibu yang ingin gagal ataupun melihat janin yang tengah di kandungnya meninggal dalam rahimnya. Hal ini kan membuat trauma bagi Ibu muda jika mengalami keguguran ataupun hamil anggur (Janin tidak dalam posisinya alias kosong dalam ilmu kedokteran).
Keesokan harinya akhirnya mereka bertiga pulang ke rumah, dan Ibu Lingua meminta kepada Yuyung untuk merahasia hal itu. Ibu tak ingin Lingua mendapatkan gunjingan tetangga setelah kehilang janinnya dan khianati oleh pacarnya. Yuyung yang memahami hal itu berusah menjaga rahasia ini dengan baik, bahkan sebelum sampai ke rumah mereka sempat singgah ke pasar untuk membeli kain mori.
Setelah sampai di rumah, Ibu dengan sigap membersihkan janin milik putrinya itu, dan setelah bersih lalu di balut oleh kain mori (Kain Kaffan). Sementara dibelakang rumah Yuyung sedang mengali lubang kecil untuk bisa di taruh janin yang tidak bernyawa itu. Seperti kebanyakan orang pada umumnya, setiap janin maupun ari-ari habis lahiran akan di kubur dalam tanah di berikan bumbu dapur, beras dan memangsakan lampu kecil sebagai penerangnya.