Pengkhianatan

1251 Kata
Hubungan terlarang antar Viktor dan hanum tak terasa telah berjalan enam bulan, Alena mulai merasakan perubahan pada suaminya yang biasanya begitu bernafsu dan mesra dalam b******a kini tak pernah ia dapatkan. Bahkan telah lama Alena tak pernah dijamah sama sekali oleh Viktor, sementara itu Hanum telah menjadi istri muda Viktor dan mengandung anaknya yang berusia dua bulan jalan. Hal itu membuat Viktor bahagia dan makin mencintai Hanum, penantian seorang anak yang telah lama ia harapkan kini telah terwujud dari seorang Rahim Hanum. Sementara itu Alena tiap hari makin sedih dan murung, Rahmat yang setiap hari membersihkan halaman rumah dan mengurus tanaman di rumah Viktor merasa iba terhadapa Alena. Meski tahu apa yang telah dilakukan Tuan mudanya di belakang istrinya, Rahmat tak berani mengungkapkan kepada Alena dan tak tega melihat nani belanda tuh semakin terluka. Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga. Seperti halnya pepatah, hubungan Viktor dengan Hanum yang telah berjalan enam bulan dan mengandung dua bulan akhirnya di ketahui oleh Alena. Isu dari internal prajurit jaga sampai terdengar langsung ke telingga Alena, mengetahui hal itu membuat ia terluka dan menangis. Ia tak bisa memendam lagi amarahnya ketika mengetahui gadis desa itu mengandung dua bulan anak dari Viktor, Alena masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah senapan laras panjang yang terpajang di dinding  kamar. Alena dengan wajah merah padam keluar dari rumah membawa senapan itu hendak menuju rumah gadis desa itu, Rahmat yang saat itu menyapu halaman diteras depan mengetahui nani nya ingin pergi hendak menghampiri Hanum segera menahannya. “Non, mau kemanan bawa senapan?” hadang rahmat dan berusaha mengambil senapan di tangan Alena. “Lepaskan Rahmat, saya ingin menemui gadis itu dan membunuh mereka berdua,” “Sabar Non, tenangkan pikiran dulu semua bisa di bicarakan dengan baik,” “Apa lagi yang harus di bicarakan? Gadis itu telah mengandung anak dari Viktor sementara aku telah di campakkan oleh viktor apa itu adil,” “Tenang Non, meski Non kesana semua tidak akan selesai tenangkan hatinya dulu agar bisa semua selesai dengan baik,” Saat Alena lenggah dan mengendurkan pegangan di senapannya seketika dengan cepat Rahmat mengambil senapan itu dari tangan Alena. Sekian detik kemudian, Alena jatuh pingsan tak sadarkan diri dan Rahmat dengan sigap membawa Alena ke kamarnya.Setelah Alena merasa sadar dan mulai tenang, ia kembali menangis meratapi nasibnya kenapa hal itu menimpanya. Malam hari saat Viktor pulang ke rumah dengan wajah lelah, Alena langsung menampar wajah Viktor cukup keras beberapa kali. Hal itu membuat Viktor kaget dan saat pukul ketiga ke wajahnya dengan sigap ia menangkap tangan Alena yang mulai membabi buta menyerangnya. “Hai, ada apa denganmu sayang?” “Siapa Gadis itu yang telah lama kau simpan, pantas akhir-akhir ini kau tak pernah pulang dan sering lembur. Ternyata kau telah bermain dengan wanita lain di belakangku, apa aku sudah tak menarik lagi? Apa aku sudah tak cantik lagi? Atau aku sudah tak bisa memuaskanmu lagi,” “Hai Sayang, tenanglah duduk dulu,” Viktor berusaha menarik lengan Alena dan mengajaknya duduk. Akan tetapi justru sebaliknya, Alena mengambil pisau untuk mengupas buah di atas meja dan mengarahkan pisau tersebut ke arah Viktor. Sontak Viktor kaget dan perut bagian kanannya terkena pisau, perlahan darah segar mulai keluar dari perutnya dan Viktor meringis menahan rasa sakit. Alena berusaha menusukkan pisau untuk kedua kalinya, tetapi dengan sigap Viktor menahan tangan kanan Alena. Ternyata begitu gigih dan amarah yang telah memuncak membuat Alena tak kehabisan akal, ia ayunkan kaki kanan dan mengenai p***s Viktor. Seketika tangan Alena yang telah di tahan oleh Viktor terlepas, sementara itu ia jatuh tersungkur di lantai akibat tendangan kaki Alena yang mengenai penisnya. Viktor meringis kesakitan dan mukanya mulai merah padam tak bisa menahan amarahnya lagi, Alena yang mengetahui Viktor telah jatuh tersungkur akibat tendangannya mengenai p***s Viktor segera mengambil kesempatan untuk menikam kembali tubuhnya. Melihat Alena mulai melakukan serangan kembali ke arahnya, ia berusaha bangkit di sisa tenaganya untuk menangkis tangan Alena. Setelah berhasil menangkis serangan, ia langsung memukul kepala Alena dengan kepala tinjunya begitu keras. Hingga membuat Alena tersungkur dan wajahnya terkena pinggir meja, tak sampai disitu ia lalu berusaha mengangkat Alena yang tak berdaya lagi dan melemparnya ke meja rias yang berada di sisi kiri. Gedebum!.... Alena pun telah terjatuh di meja rias dengan wajah penuh serpihan kaca yang pecah, batuk keluar darah segar dari mulutnya. Terseok-seok Alena perlahan mundur dan mulai takut melihat amukan Viktor yang mulai membabi buta, perlahan ia berjalan ke arah Alena dan menarik rambut panjang merah sangat keras. Alena menangis dan meminta ampun tapi tak di hiraukan oleh Viktor lagi, dan ia mengambil pisau yang tergeletak jatuh di lantai dengan cepat menikamkan ke tubuh Alena sebanyak tiga kali. Setelah apa yang di lakukannya terhadapa Alena dan merasakan puas, ia pun duduk di kursi meja makan dan mengambil ceret untuk minum. Sementara itu Alena sudah sangat sekarat dan tak berdaya, pendarahan di perutnya tak bisa di tahan oleh tangannya lagi. Darah segar telur mengalir di tubuhnya, mata Alena mulai samar dan seketika tergeletak di lantai. Viktor lalu berjalan ke arah Alena seakan tak memiliki dosa atas apa yang telah ia lakukan, saat mengecek kondisi istrinya ternyata Alena telah tiada. Hal itu membuat panic Viktor, dia lalu pergi ke gudang mengambil sebuah cangkul untuk mengali kuburan untuk jasad Alena. Setelah lubang kuburan siap, kemudian membawa jasad Alena ke dalam lubang yang telah ia siapkan dan menimbunnya kembali. ******* Kampus tempat Juna berada dahulu merupakan bekas rumah dinas Jenderal Viktor dan setelah di renovasi ulang oleh arsitek akhirnya berdirilah sebuah kampus. Sementara itu, kolam ikan yang berada di taman bekas kuburan Alena hingga membuat arwahnya penasaran akibat tidak di kuburkan secara layak.   Siang itu begitu panas sekali, rasanya ingin selalu membasahi tenggorokan ini dengan air dingin betapa nikmatnya. Bengkel hari ini tidak begitu rame sehingga peyok agak santai dan bisa menikmati segelas kopi hitam ditemani sebatang rokok berasa ada yang kurang. Begitulah kehidupan selalu berdampangi, tak bisa hidup sendiri atau melalui sendiri pasti ada seseorang yang support dan mendukung perjuangan kita. Peyok masih memikirkan perubahan pada diri lingua, semakin hari penampilannya kian cantik dan seksi. Kenapa kau memilih jatuh hati kepada si juna? Tak tahukah kau ling, aku mencintai dan menyayangimu. Batin peyok melow. “Woy, ngelamun aja kau siang begini? Bukannya kerja malah ngelamun aja, pasti kau sedang ngelamun bokep kan,” “Hah, kau nih Di, jadi buyar kan lamunanku nih tak ngerti kau perasaan sahabatmu yang sedang jatuh hati kah?” “Cie … siapa wanita yang mau dengan kau, betapa malangnya wanita tuh jika jatuh cinta kepada kau yang tiap makan tak ada aturan dan malas kali kalo di suruh kerja bah,” “Bodoh, jangan sembarang kau cakap bah, nanti kalo aku dapat pacar cantik kaget kau,” “Iya … iya percaya buktikan aja, oh malam nih kita kumpul yuk lama tak kumpul nanti kau kabarin Yuyung sama Alex ya,” “Beres tuh, tapi ada makanan gak?” sela Peyok sambil nyengir. “Kau nih, kapan otakmu tak ada soal makan atau bokep aja, tenang soal tuh sudah di siapkan sama Mamakku,” “Asyik, paten kali kawan ku nih, baiklah kalo gitu nanti malam kami ke ruma kau,” Seteleh perbincangan singkat itu Didi pamit untuk pergi pulang, setelah kecelakaan seminggu lalu dan meninggal Adiknya. Didi belum juga bekerja selain kondisinya yang belum pulih, ia memikirkan Mamaknya sering ketika sendirian murung dan sesekali ia dapat sedang menangis. Saat di tanya Mamak selalu menjawab tak ada apa-apa Cuma kelilipan debu aja, dan pernah beberapa hari lalu Mamak di mimpikan oleh Cecep meminta tolong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN