Saat Lucas tenggelam dalam pikirannya, Layla yang pergi berganti baju telah kembali. Dia mengenakan piyama tidur yang sama kusamnya dengan baju sebelumnya.
Lucas tidak bisa untuk tidak heran, wanita ini mengapa dia mengenakan pakaian yang terlihat seperti kain lap di dapur? Dia yakin bahkan gembel di jalanan mengenakan pakaian yang terlihat lebih bagus.
"Apa hanya itu pakaian yang kamu miliki?"
Layla menoleh, dia hendak bersiap-siap untuk tidur. "Ah, ini masih nyaman di pakai. Lagi pula aku hendak tidur tidak pergi kemanapun, jadi tidak perlu baju tidur yang bagus."
Layla tidak pernah meminta apa pun kepada suaminya. Dia tidak berani dan bersikap tau diri. Jika dia menginginkan sesuatu dia akan menabungnya dari uang hasil bekerja. Suaminya juga tidak memberinya uang. Ibunya yang memegang kendali keuangan. Katanya Lucas adalah putranya jadi semua uang adalah miliknya. Layla ini hanya orang luar yang dinikahi karena terpaksa. Jadi, jika ingin uang maka hasilkan sendiri.
"Layla... Tidak peduli bagaimana kamu acuh terhadap penampilan, kamu masih istri seseorang. Penampilanmu yang seperti ini sangat tidak nyaman untuk dipandang. Besok belilah beberapa pakaian aku tidak mau lagi melihat pakaianmu yang seperti ini."
Layla tidak langsung menjawab. Uangnya sudah tinggal sedikit, jika dia membeli baju lalu bagaimana dengan makan?
Melihat Layla yang merenung seperti orang bingung, Lucas pergi dan mengambil dompetnya, dia memberikan beberapa lembar uang untuk Layla.
"Gunakan ini, beli beberapa baju, jangan pakai baju seperti ini lagi, aku sulit membedakan yang mana bajumu yang mana kain lap. Bagaimanapun kamu istriku, aku tidak ingin dikritik orang lain karena melihat penampilanmu seperti ini."
Mata Layla berbinar saat menatap lebaran uang di tangannya. Ini pertama kalinya Lucas memberinya uang.
"Terima kasih, aku pasti akan membeli baju baru."
Lucas terdiam menatap Layla yang terlihat seperti anak kecil kegirangan, dia hanya memberinya beberapa ratus ribu tetapi Layla terlihat sangat bahagia. Dia sudah memberi Layla uang puluhan juta setiap bulan tidakkah itu membuatnya menangis sampai mati? Mengapa Layla begitu bahagia dengan beberapa lembar uang.
Melihat Layla yang menyimpan uangnya dengan hati-hati seakan takut di curi, sudut bibir Lucas terangkat beberapa centi.
"Kamu menyimpannya seperti itu adalah harta berharga."
Layla tersenyum cerah, Lucas bahkan terpaku karenanya.
"Ini uang yang kamu berikan untuk membeli baju. Aku harus menyimpannya dengan hati-hati. Aku akan menggunakannya dengan baik."
Karena perkataan Layla, tanpa sadar Lucas mengulurkan tangan hendak menyentuh kepalanya. Tetapi, dia segera menyadari perilakunya, tangannya terhenti tepat di atas kepala Layla dan Lucas segera menarik tangannya kembali.
"Kamu pikir semua ini gratis? Layla, tidak ada yang gratis di dunia ini. Karena aku memberimu uang kamu juga harus memberiku sesuatu."
"Tapi aku tidak memiliki apa pun."
"Aku tau, karena itu aku tidak akan meminta hal yang tidak bisa kamu berikan. Layla, kamu sudah tidak melayaniku selama beberapa waktu. Tidakkah kamu lupa terhadap tugasmu sebagai istriku?"
Wajah Layla memerah karenanya. Karena suaminya meminta, dia juga tidak bisa menolak.
"Aku khawatir aku bau, haruskah aku mandi lebih dulu?"
Lucas segera mendorongnya. "Terlalu lama. Aku tidak bisa menahannya."
Lucas menatap Layla yang berada di bawah tubuhnya, Layla terlihat cantik meskipun kecantikannya jauh dari wanita lain yang sering dia lihat. Fitur wajah Layla terlihat sempurna, wajahnya kecil dengan hidung mancung. Bibirnya juga kecil dan matanya yang biru tampak mempesona. Tetapi, kecantikannya hanya sebatas itu, kecantikan Layla bukan kecantikan yang bisa membuat hati para pria menggila, juga bukan kecantikan seperti Dewi yang sering muncul di televisi. Layla cantik, cukup cantik. Sayangnya dia terlihat lebih tua dari usianya.
"Lucas...."
Layla memanggil nama suaminya dan membuat Lucas tersentak dari lamunannya. Dia mencondongkan tubuhnya saat dia mencium Layla. Ciuman itu bukan ciuman manis seperti sepasang kekasih yang berbagi rasa, tetapi intens, seolah-olah Lucas sedang melampiaskan perasaannya.
"Layla..."
Lucas memanggil Layla dan bertindak lembut pada awalnya. Jari-jari mereka juga saling terajut, tetapi semakin lama dia semakin tidak terkendali. Api menyulut di hatinya dan dengan tidak sabar Lucas melepas baju Layla dan melemparnya ke sembarang arah. Akhirnya tubuh telanjang keduanya saling terjalin dan desahan panjang memenuhi kamar mereka.
"Apakah sakit?"
"Tolong lebih pelan sedikit."
Lucas mencium kening Layla dan berbisik di telinga. "Panggil namaku."
"Lu-Lucas..."
Lucas tersenyum puas, tetapi itu bukan membuat gerakannya semakin pelan sebaliknya dia menjadi semakin liar.
Suara terengah-engah terus menerus terdengar, dan pintu yang tertutup rapat seakan memblokir nafsu diantara mereka.
Lusi tidak bisa tidur, karena kakaknya sudah pulang ke rumah, dia berpikir untuk berbincang dengan kakaknya mengenai sekolah. Dia ingin kuliah di Amerika seperti temannya. Kakaknya jarang pulang jika tidak berbincang sekarang, dia tidak tau lagi kapan bisa berbicara langsung dengan kakaknya.
Dia merasa tidak tenang jika kakaknya belum setuju, meskipun ibunya membujuknya dan mengatakan kakaknya akan mengabulkan semua keinginannya tetap saja dia merasa resah dan ingin segera mendengar persetujuannya.
Karenanya Lusi bergegas pergi ke ruang kerja kakaknya. Dia yakin kakaknya berada di sana, meskipun kakaknya pulang ke rumah kakaknya selalu menghabiskan waktu di ruang kerjanya dan tidur di sana alih-alih tidur bersama Layla.
Lusi berjalan dengan semangat menuju ruang kerja kakaknya. Dia mengetuk pintu, tetapi karena tidak mendapat jawaban, Lusi menerobos masuk.
"Kakak, aku ingin berbicara denganmu!"
"Kakak ....."
"Kakak......"
Lusi mengerutkan dahi, dia melirik ke sekitar, tetapi Lucas tidak ada dimana pun. Berbalik, dia keluar dari ruang kerja kakaknya dan melangkah pergi.
"Kak...."
Lusi hendak mengetuk pintu kamar Layla untuk mencari kakaknya, tetapi gerakannya terhenti di udara, samar-samar dia mendengar suara yang tidak jelas dari kamar Layla.
Lusi mendekat ke pintu dan menempelkan telinganya di sana, pada saat itu suara desahan terdengar dan dia yakin itu bukan milik Layla, suaranya terdengar berat dan itu milik kakaknya.
Lusi terpaku ditempatnya berdiri, dia menggeram seolah-olah sesuatu tengah direbut darinya. Lucas adalah kakaknya dan kasih sayangnya adalah miliknya.
Selama tiga tahun ini, dia merasa kakaknya telah dicuri darinya, dia tidak menyukainya.
Tidak tau bagaimana, tetapi Lusi memiliki persepsi aneh terhadap kakaknya seakan-akan kakaknya adalah miliknya dan tidak boleh ada yang merebutnya.
Lusi ingin menerobos masuk ke dalam, tetapi dia tau dia tidak bisa melakukan itu, pada akhirnya dia berbalik dan kembali ke kamarnya.
Lucas menyalakan rokok setelah selesai dengan aktivitasnya. Dia menatap Layla yang tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Tatapan Lucas menjadi rumit, dia awalnya hendak menikah dengan wanita lain tetapi wanita itu meninggal dan akhirnya pengantin wanita berganti menjadi Layla, teman sekolahnya yang awalnya bahkan tidak dia ingat. Dia jelas tidak berharap pernikahannya akan bertahan hingga 3 tahun.
Berpikir kembali, dia sering mengabaikan Layla dan menganggapnya seolah-olah tidak ada, dia berpikir Layla akan segera mengajukan surat cerai padanya tidak lama setelah pernikahan mereka, tetapi sampai detik ini Layla masih bertahan.
Dan baru-baru ini pikiran tidak masuk akal muncul, ketika dia mengingat Layla dia berpikir untuk menghabiskan masa tuanya bersamanya. Pernikahannya terbilang lancar selain keluhan dari ibu dan adiknya tidak ada hal lain yang mengganggunya. Layla juga tidak pernah berulah, dia istri patuh yang hanya tinggal di rumah.
Tetapi, Layla bukan jenis istri yang dia inginkan. Bukan jenis istri yang bisa dia cintai.
Karenanya, dia bertekad jika Layla meminta cerai, dia akan langsung mengabulkannya.