Ibuku Bukan Pembantu

1148 Kata
"Aku selalu memakan makanan Ibu, tetapi hari ini aku memasak dan terlalu banyak. Sayang sekali jika masakanku tidak dimakan!" Lucas mengangguk. "Jangan membuang-buang makanan." "Aku tau ...!" Annette melirik keduanya dan merasa hubungan keduanya baik-baik saja. Dia yakin putranya kembali ke rumah karena marah ibunya di tindas, berpikir Lucas akan bertengkar dengan Layla kemudian perceraian akan semakin dekat. Tetapi, keduanya tampak biasa aja, apakah Lucas melepaskan Layla begitu saja? Tidak, Annette tidak ingin hubungan keduanya baik. Tetapi, dia tidak bisa menunjukkan kesukaannya terhadap Layla di hadapan putranya. Dengan senyum yang dipaksakan Annette berusaha terlihat seperti Ibu mertua yang bijak. "Layla, kamu begitu kurus, jangan hanya makan ikan, makan daging juga... Bukankah kamu menyukai daging? Ini, aku sengaja membuatnya untukmu." Annette mengambil beberapa potong daging kemudian menaruhnya di piring Layla. "Cobalah, Ibu membuatnya sedikit berbeda, tetapi rasanya masih enak. Lain kali Ibu akan membuatkan mu makanan yang lebih enak lagi. Oh, Bajumu yang kemarin belum kering, Ibu lupa menjemurnya lagi. Kamu jemur sendiri nanti..." Layla bingung dengan perubahan sikap Ibu mertuanya bahkan lebih bingung dengan kata-katanya. apa yang coba Ibu mertuanya katakan? Kemarin memang hujan dan pakaiannya memang belum sepenuhnya kering. "Terima kasih, Ibu." "Tidak perlu berterima kasih, jika kamu menginginkan sesuatu katakan lagi padaku, aku akan membuatkannya untukmu." Lucas tiba-tiba menyimpan sendok nya. Mendengar perbincangan keduanya Lucas menjadi tidak tahan, dia berpikir Layla bersikap semena-mena terhadap Ibunya. "Layla, jika kamu menginginkan makanan buat saja sendiri dan minta resepnya kepada Ibu. Kemudian, jangan meminta ibuku untuk mencuci bajumu. Ibuku sudah lelah dan tua jangan memintanya untuk terus melayani mu..." Layla mengangkat kepala, dia menjadi lebih bingung dari sebelumnya. Kapan dia meminta Ibu mertuanya untuk melayaninya? Saat Layla hendak berbicara, Annette tiba-tiba menyela. "Lucas, Ibu tidak apa-apa. Lagi pula memasak itu tidak lelah, jangan terlalu berlebihan. Layla juga sudah membuat makanan ini untukmu, katanya ini hari ulang tahun pernikahan kalian. Jangan bertengkar dihari yang bagus ini. Ayo makan lagi..." Lucas mengambil sendoknya kembali dan memakan makanannya. Tetapi perasaannya sudah tidak senang, dia merasa nasi yang masuk ke mulutnya menjadi tidak enak, dia merasa seperti tengah mengunyah pasir. Setelah selesai, Lucas menyimpan alat makannya dan beranjak. "Kamu sudah selesai? Mengapa begitu cepat? Masih banyak makanan yang belum kamu makan, ini semua Layla yang buat. Cobalah beberapa." Annette bersikap seperti Ibu mertua yang menyayangi menantunya, dia mendesak putranya untuk memakan makanan istrinya tetapi matanya memancarkan kelicikan. "Dia membuat itu tanpa aku suruh, biarkan dia yang memakannya dan menghabiskannya sendiri." Dengan demikian, Lucas pergi dan meninggalkan meja makan. Lusi menghentikan makannya, dia tidak lapar dan tidak nafsu makan. Terlebih ini sudah malam, dia khawatir menjadi gemuk. "Bu, aku merasa mual karena makan di meja yang sama dengan pela*ur ini. Aku tidak nafsu makan sekarang!" Lusi menjadikan ini kesempatan untuk mencela Layla. Jika bukan karena ibu dan kakaknya dia tidak akan mau makan di meja yang sama dengan Layla. Dia tidak tahan dengan aroma kemiskinan yang Layla bawa. Annette setuju dengan putrinya, dia menyimpan set alat makannya dan beranjak. "Aku juga kehilangan nafsu makanku." Layla yang melihat semua orang telah pergi, terdiam di tempatnya. Dia mengunyah makanannya yang tersisa dan menelannya dengan susah payah. Untungnya sedari pagi dia belum makan sehingga dia menghabiskan sebagian makanan yang dia buat. Dia tau bagaimana sulitnya makan, beberapa kali dia menahan laparnya jadi tidak mungkin baginya membuang-buang makanan. Layla menyimpan sisa makanannya untuk dia hangatkan kembali besok. Dia segera membereskan meja dan membawa piring kotor ke dapur. Setelah selesai mencuci piring, Layla mengupas beberapa buah dan membawa ke kamarnya. Saat itu dia melihat Lucas yang sedang duduk di depan komputernya. Layla mengerti dengan jelas, Lucas begitu sibuk sehingga pekerjaannya juga dilakukan di rumah. "Ini, aku memotong beberapa buah untukmu " Lucas melirik sekilas piring yang di sodorkan padanya, kemudian tatapannya kembali pada komputernya. Layla, terlihat seperti wanita yang baik, dia terlihat patuh dan polos. Tetapi, wanita inilah yang terus-menerus meminta ibunya untuk melayaninya. Memang benar, seseorang tidak bisa dinilai dari sampulnya. "Layla..." Lucas berbalik, dia menatap Layla tepat di matanya. "Aku tidak suka jika seseorang menindas ibuku dan aku tidak mentolerir siapa pun yang menyakiti ibuku. Kamu masuk ke dalam keluarga kami dan menjadi bagian dari keluarga kami. Meskipun pernikahan kita bukan atas dasar saling suka, tetapi tetap saja kamu istriku dan menantu keluargaku. Kami memiliki aturan yang harus dipatuhi dan kami memiliki etika mengenai bagaimana bersikap terhadap orang yang lebih tua. Dan sikapmu terhadap ibuku benar-benar tidak bijaksana. Aku mengabaikan apa yang terjadi selama ini, tetapi kali ini tidak bisa." Lucas terdiam sesaat, memikirkan ibunya yang terus diminta untuk melayani Layla, kekesalan di hatinya bertambah parah. "Aku mengerti kamu mungkin kurang didikan sehingga etikamu menjadi kurang, tetapi kamu sudah menjadi bagian dari keluargaku. Kamu seharusnya belajar bagaimana bersikap. Itu tidak pantas bagimu meminta ibuku melakukan ini dan itu. Layla, aku pikir kamu wanita baik dan patuh karena itu aku memintamu untuk menikah denganku. Aku bahkan tidak peduli mengenai latar belakang keluargamu. Aku berharap kamu bisa menjaga dan merawat orang tuaku saat mereka tua. Tetapi kamu melakukan hal yang sebaliknya. Layla... Ibuku bukan pembantu yang bisa kamu suruh ini itu." Tanpa menunggu jawaban Layla, Lucas kembali fokus dengan komputernya dan mengabaikan Layla sepenuhnya. Layla merasa hatinya sakit, dia sudah terbiasa di hina, tetapi perkataan yang datang dari suaminya benar-benar membuatnya sedih. Haruskah dia mengatakannya sampai seperti itu? Dia tau dia mengerti, dia kurang dalam segala hal, wajahnya tidak cantik dan pendidikannya kurang. Tetapi selama tiga tahun ini dia selalu berusaha bersikap baik dan bersikap hormat terhadap keluarga Lucas. Dia tidak pernah meminta ibu mertuanya melakukan ini dan itu. Sebaliknya dialah yang melakukan segalanya, karena dia menumpang di rumah mertuanya dia harus bersikap tau diri. Dan ada hal yang harus dia bayar, seperti makan dengan biaya sendiri dan melakukan semua pekerjaan rumah. Tidak ada pembantu di sini, itu dia yang melakukan semuanya. Karenanya dia tidak memiliki waktu untuk merawat tubuhnya apalagi berdandan terlebih dia tidak memiliki uang, pergi ke salon kecantikan hanya bisa menjadi angan-angan. Setiap hari dia harus menyenangkan ibu mertua dan adik iparnya, melayani mereka seperti melayani leluhur keluarga. Jika pakaian mereka sedikit kusut, dia akan dipanggil dan dimarahi. Jika lantai kotor dia akan dicaci mengatakan bahwa pekerjaannya tidak benar. Jika makanan tidak sesuai dia juga yang dimarahi. Setiap hari dia hanya berusaha menyenangkan mereka. Bagian mana dari dia yang meminta ibu mertuanya melakukan ini dan itu? "Aku tidak pernah meminta ibumu melakukan apa pun. Aku sangat menghormati ibumu sama seperti aku menghormati ibuku. Tetapi, jika bagimu sikapku masih kurang dan jika sikapku salah, aku minta maaf. Itu karena aku bodoh, seperti katamu, aku kurang didikan sehingga etika ku buruk. Aku mengerti, aku akan berusaha untuk bersikap lebih baik lagi ke depannya." Lucas menghentikan tangannya yang tengah menari-nari di atas keyboard. Dia menoleh menatap Layla yang kini beranjak dari sisinya. Lucas merasa bingung, ibunya mengatakan Layla terus meminta dia untuk melayaninya, tetapi Layla mengatakan dia tidak pernah meminta ibunya melakukan apa pun. Jadi yang mana yang benar?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN