Bagian 30 Mas Yudis menggandeng tanganku, lalu kami berjalan menuju pintu. Ia kemudian membukakan pintu dan mempersilakanku keluar. "Sampai jumpa di rumah ya," ucapnya. "Kerjanya yang semangat ya, Mas," godaku. "Pasti dong, Sayang. Aku akan semangat kerjanya, demi kamu dan demi masa depan kita." Sejenak kulihat asisten pribadinya Mas Yudis itu senyum-senyum melihat kami. "Bowo, kamu antar Linda ya. Nanti berhenti di apotek dulu dan belikan obat untuk Fatimah." "Baik, Pak," jawabnya sambil menganggukkan kepala. Mas Yudis kemudian memberikan beberapa lembar uang berwarna merah ke tanganku. Ia memintaku untuk membeli makanan yang disukai putriku menggunakan uang itu agar putriku lekas sembuh. "Enggak usah, Mas," tolakku. "Please jangan menolak." "Baiklah kalau begitu." Akhirnya u

