Semakin mendekati hari ulang tahun Kenzo semakin banyak 'tamu' dari berbagai daerah diwilayah kekaisaran Diamond Agrea maupun dikerajaan sekitarnya mulai berdatangan.
Ibu kota kekaisaran yang memang sudah ramai menjadi lebih ramai, bukan hanya di ibu kota bahkan diistana kekaisaran beberapa wajah baru sudah terlihat
≈Ruangan kerja kaisar≈
Kenzo duduk disofa panjang ditemani dengan Aristia yang juga sedang duduk manis dipangkuan ayahnya itu lalu didepan mereka berdiri beberapa pria gagah dan tampan yang merupakan kasatria sekaligus tangan kanan Kenzo.
"Semoga cahaya dan berkat kaisar selalu menaungi Diamond Agrea"
Dengan hormat keempat pria muda dan tampan berlutut dengan satu kaki dihadapan Kenzo
"Hmm" seperti biasanya Kenzo seperti tidak peduli saja dan hanya menjawab dengan deheman singkat
"papa, eleka iyapa?"(papa, mereka siapa? '' Aristia yang penasaran dengan wajah baru yang dilihatnya memberanikan diri bertanya
"kamu bertanya mereka siapa?" Kenzo bertanya sekali lagi untuk memastikan apa yang dikatakan Aristia
Aristia hanya mengangguk sebagai jawaban dan tanpa disuruh lagi keempat pria muda itu mulai memperkenalkan nama mereka
"suatu kehormatan untuk dapat dikenal oleh tuan putri, saya Theo Baruch salah satu kasatria kepercayaan yang mulia kaisar" mungkin karena Theo memiliki seorang adik perempuan jadi walaupun wajahnya agak seram dengan bekas luka panjang dari alisnya hingga hampir mencapai dagunya tetap saja entah kenapa wajahnya itu tetap terlihat tampan dan nilai plusnya adalah dia juga sangat ramah.
Theo hendak mencium tangan Aristia tapi bahkan belum sempat dia menyentuhnya, Kenzo langsung menepis tangan Theo dan menatapnya tajam seakan mengatakan
*kamu hanya diizinkan melihat dan dilarang untuk mendekat bahkan menyentuh putriku*
"Bukankah yang mulia terlalu berlebihan?? " Baik Theo dan tiga orang lainnya hanya bisa menghela napas tidak berdaya dalam hati mereka masing masing dan untuk pertama kalinya mereka memiliki pemikiran yang sama.
Setelah Theo memperkenalkan diri, seorang pria dengan warna rambut seperti caramel dan warna kedua matanya berbeda yang kiri berwarna putih dan yang kanan berwarna merah keunguan benar benar sangat unik, namannya adalah
"Tuan putri saya Brian Dallas. Tuan putri bisa memanggil saya kilat merah" Brian Dallas agak kaku karena sejujurnya dia sangat tidak akrab dengan anak kecil bukan karena dia tidak menyukai anak kecil tapi karena keunikan yang dimilikinya membuat anak anak agak takut padanya dan bahkan menjauhinya
''Heson"
"Saya Jesen Lucius adik sekaligus kembaran Heson. Senang bertemu tuan putri"
Kepribadian anak kembar memang hal yang alami jika bertolak belakang, seperti Heson adalah anak yang cukup dingin sedangkan Jesen dia cukup ceria tapi kesamaan mereka adalah menyiksa korban mereka hidup hidup baru membunuhnya.
"kembali ketopik awal alasan aku mengumpulkan kalian adalah karena... " Kenzo langsung berubah serius dalam sekejap
"Kaiden tidak akan kembali dalam waktu dekat jadi untuk prajurit bulan perak yang bertugas dalam ekspedisi pembasmian hewan iblis dihutan coctus akan diambil alih oleh Heson dan Jesen lalu untuk organisasi prajurit yang tidak resmi seperti tentara bayaran akan diambil alih oleh Brian dan untuk prajurit resmi tentu saja itu tetap akan menjadi tanggung jawab Theo" Setelah membagi tugas untuk masing masing dari kasatria kepercayaannya Kenzo berhenti lagi sejenak untuk melirik Aristia
'kenapa melihat ku?' Batin Aristia menatap balik kerah Kenzo
"Eden, masuklah" Kenzo melihat kearah pintu kemudian memanggil kasatria pelindung Aristia
"Semoga cahaya dan berkat kaisar yang melimpah terus memberkati Diamond Agrea " Eden datang menghadap dan memberi salam kepada Kenzo
"Bawa anak ini kembali keistananya" Kenzo menyerahakan Aristia ketangan Eden
''Baik yang mulia. Saya permisi lebih dulu" Eden menggendong Aristia tapi lebih dulu melirik pada keempat orang yang juga melihat kerahanya
Hanya mereka sendiri yang tau arti dari tatapan mereka itu.
Sepanjang jalan dari ruang kerja Kenzo kearah taman istana yang langsung menyambung ketaman mawar diistana tempat Aristia, Baik Eden dan Aristia hanya diam saja
"den, den, ulunkan Tia. Tia bisa alan endili" (Eden, Eden, turunkan Tia. Tia bisa jalan sendiri) Akhirnya Aristia yang pertama kali membuka suara untuk berbicara
"tuan putri ingin turun? " tentu saja Eden sedikit mengerti karena sudah hampir setahun disekitar Aristia jadi dia bisa memahami tentang anak kecil.
"uung.. Eyen yah Tia ilang eyapa ali angan anggil uan putli" (unng.. Eden sudah Tia bilang berapa kali jangan panggil tuan putri) Aristia berusaha keras untuk marah tapi setiap pelafalan katanya yang tidak lengkap lalu pipinya yang gembul memerah membuatnya terlihat lebih imut
"walaupun tuan putri mengatakannya begitu tapi itu rasanya akan sedikit tidak sopan jika saya langsung memanggil tuan putri hanya dengan nama saja" Eden tetap bersikeras untuk tidak langsung memanggil Aristia dengan namanya
"ini elintah! alau eyen mau idak eltemu bibi Luna agi?" Aristia menyipitkan matanya dan mengancam Eden
Eden otomatis terkejut karena pernyataan Aristia barusan walaupun dia secepatnya menyembunyikan keterkejutan itu tapi tetap saja Aristia sudah menyadarinya dan lagi karena sudah dari dulu, dari duluuu sekali Aristia menargetkan untuk mengintrogasi salah satu dari keduanya antara nyonya luna atau Eden
"Sejak kapan tuan putri curiga bahwa aku memiliki hubungan dengan nyonya Luna? "
"tuan putri memangnya saya memiliki hubungan apa dengan nyonya Luna? Jadi ancaman tuan putri tidak akan mempan sama sekali" Eden berpura-pura tenang tapi otaknya terus bekerja untuk mencari tau kapan sebenarnya dia secara tidak sengaja menyebutkan masalah ini
"Mama an anal" Aristia hanya asal menebak tapi sekali lagi ketenangan Eden hampir hancur dan hal itu telah membuat Aristia menyadari bahwa apa yang dia katakan adalah kebenarannya
''Tuan putri memang sangat senang menggoda tuan kasatria, bagaimana mungkin tuan kasatria adalah putra ku?" Tiba tiba saja Luna muncul bersama dengan Eva sambil tersenyum ramah lalu mengambil Aristia dari gendongan Eden
Ps: karena kesal, Aristia tidak jadi meminta diturunkan dari gendongan Eden jadi Eden terus saja menggendong Aristia._.
"tuan putri senang berte mu kaisar?" Luna melirik Eden dengan dingin sebentar lalu kembali tersenyum lembut saat bertanya pada Aristia
"ya ~~Tia enang ekali, api ekalang Tia antuk an mau bobo ciang" (Ya~~ Tia senang sekali, tapi sekarang Tia mengantuk dan mau bobo siang)
"baiklah kalau begitu ayo kita pulang" Luna lembut menepuk kepala Aristia dan mulai berjalan untuk kembali keistana
Disisi lain Eden masih berpikir kapan dia membuat kesalahan sampai Aristia bisa tau hubungannya dengan Luna.
"ibu pasti menghukum ku lagi''
Eden menghela napas tidak berdaya sambil menggelengkan kepalanya lalu mengikuti dibelakang Luna
" pssh.. pshh tuan kasatria? " Eva mendekat kearah Eden dan berbisik
" ada apa?" Eden mau tidak mau tetap menanggapi panggilan Eva
"itu tidak mungkin kan?" Eva bertanya dengan ambigu dan membuat Eden kembali bertanya
"apanya? "
"iss.. Itu tidak mungkin kan kalau nyonya luna itu adalah ibu mu?" Eva memukul ringan lengan Eden dan mengulang kembali pertanyaannya dengan lebih rinci
"tentu saja itu tidak mungkin" Eden tersenyum palsu dan tentu saja Eva yang polos itu dengan mudah percaya
"apa yang kalian berdua lakukan berbisik bisik berdua dibelakang? " Luna tiba tiba berhenti dan berbalik secara tiba tiba membuat Eva dan Eden terkejut
" Ti.. Tidak ada apa apa, heheheh. " Eva benar benar tidak pandai berbohong karena langsung terekspos
" baiklah kalau begitu ayo kembali, tuan putri harus beristirahat " Luna pura pura percaya dan kembali melanjutkan perjalanan mereka