Part 6

1155 Kata
Diskusi 'hangat' antara Luna dan Eden telah berlalu selama sebulan dan Luna sudah mulai kembali kedirinya yang biasa Keseharian Aristia yang sebelumnya hanya makan dan tidur lalu sedikit berjalan jalan didalam istana sudah bertambah lagi karena Luna sudah mengizinkan Aristia keluar istana Pagi ini setelah sarapan, Luna membawa Aristia keluar ditemani Eva dan tentu saja Eden "Bagaimana perasaan tuan putri? " Luna dengan penuh perhatian mengajak Aristia yang saat itu berbaring nyaman dalam kereta bayi berbicara "Hari ini sangat cerah karena sudah memasuki musim panas, jadi sangat tepat jika berjalan jalan ditaman." Perlakuan Luna terhadap Aristia membuat seseorang merasa sangat iri walaupun tidak terlihat dari eksrpresinya tapi tetap saja pandangan intens yang terus tertuju pada Aristia itu tidak akan bisa untuk disembunyikan dari Aristia 'Ah~~ semakin dipikirkan semakin membuatku penasaran sebenarnya siapa Eden ini untuk ibu Luna? Tatapan yang penuh kerinduan bercampur dengan rasa iri dan sedih itu membuatku sangat tidak tenang. Jika Eden adalah anak ibu Luna.... Itu memang mungkin tapi ibu Luna belum menikah, sekarang aku baru sadar bahwa seorang bayi itu sangat terbatas untuk melakukan apapun' Pengaruh perasaan Aristia yang sedang kacau membuat raut wajahnya juga muram "Ada apa tuan putri? Apa yang tidak nyaman atau tuan putri sedang lapar?" Luna langsung memasuki mode cemas setelah melihat raut wajah Aristia dan segera menggendongnya "Eva, tolong ambilkan makanan untuk tuan putri" Luna menyuruh Eva sambil tetap menenangkan Aristia 'Bibi Luna aku ini bukannya lapar tapi sangat penasaran dengan masa lalu bibi Luna serta hubungan mu dengan Eden ' Batin Aristia 'Ibu.. Sangat baik, kapan perhatian ibu itu akan tertuju padaku? Aku sangat ingin jadi egois hanya untuk mendapatkan perhatian ibu' Tatapan Eden pada Luna menarik perhatian Aristia ya walaupun tatapan kerinduan itu dengan cepat ditarik saat Aristia melihat kearah Eden. 'lupakan saja, saat aku sudah bisa berbicara akan aku pastikan mengintrogasi mereka' Aristia langsung memalingkan wajahnya dari Eden "tuan putri~~ ini susunya" Eva dengan terburu buru berlari kembali ketempat Aristia dan yang lainnya "Jangan berlari seperti itu, dasar bocah" Luna memarahi Eva tapi kata kata dan raut wajahnya tetap tenang "Pelayan saja diperlakukan dengan baik sangat besar perbedaannya dengan ku yang merupakan anak kandungnya" Eden hanya menatap kebawah seraya tersenyum miris dengan keadaannya. Dan satu hari lagi berlalu dengan cepat.. Setelah mengantar Aristia, hanya Eva yang kembali menemui Eden diluar pintu kamar Aristia "tuan kasatria, nyonya luna mengatakan bahwa anda boleh kembali untuk membersihkan diri dan istirahat sebentar" Setelah mengatakan apa yang diperintahkan, Eva kembali kekamar Aristia meninggalkan Eden yang masih berdiri didepan pintu yang tertutup rapat 'Saat kakek mengatakan bahwa ibu kandung ku adalah adik dari seorang permaisuri, aku merasa sangat senang bahkan saat aku dijadikan sandera pun aku merasa senang dengan harapan jika aku bisa bekerja dibawah kaisar maka aku pasti bisa bertemu dengan ibu ku lalu saat akhirnya aku bisa bertemu dengan ibu.....'Eden berjalan kembali kekamarnya dengan tatapan menghina dan senyuman miris yang terus menghiasi wajahnya "Aku hanya ingin bersama ibu walaupun ibu tidak menginginkan keberadaan ku" Eden bergumam dengan pelan dibalik pintu Tok.. Tok.. Belum selangkah dari pintu kamarnya, Diluar sudah terdengar ketukan Ceklek Saat Eden membuka pintu kamarnya, yang dijumpainya Luna yang tengah bersedekap dada dan menatap sinis kearah Eden "nyonya apa anda memerlukan sesuatu? " Eden berusaha bersikap biasa saja setelah pembicaraan keduanya sebulan sebelumnya "Berhenti mengharapkan apa yang tidak mungkin kamu dapatkan." Setelah mengatakan satu kalimat itu dengan dingin, Luna beranjak pergi meninggalkan Eden 'ibu.. Anda memiliki hak untuk tidak mengakui ku sebagai anak anda tapi aku juga memiliki hak untuk tetap mengakui anda sebagai ibu ku" 'Aku ingin mengatakannya secara langsung tapi itu hanya akan membuat ibu lebih membenci ku' Eden menutup kembali pintu dengan lemah sambil menghela napas lelah Coba bayangkan saja anak berusia 12 tahun yang tidak tahu apa apa diperhadapkan dengan penolakan ibu kandungnya yang telah terpisah selama 12 tahun dia hidup, dan lagi dengan usia dimana seorang anak masih bercanda dan bermain dengan teman teman sebayanya, dia dipaksa memasuki kehidupan militer yang kejam lalu dijadikan sandera saat kalah perang. Miris bukan? Hari berganti dengan minggu lalu minggu berganti dengan bulan.. Musim panas kemudian berganti dengan musim gugur lalu beralih kemusim dingin. Kenzo lahir dimusim dingin dan untuk pertama kalinya dia merayakan ulang tahun karena desakan dari para mentri yang terpenting desakan dari sahabatnya Georgio Perzia yang juga merupakan perdana mentri dikekaisaran Diamond Agrea. Perayaan ulang tahun Kenzo sekaligus perayaan keberhasilan Kenzo menaklukan kerajaan Pracilus yang sekarang resmi menjadi wilayah Diamond Agrea dan tentu saja perayaan itu akan diadakan di ibu kota kekaisaran Sebulan sebelum hari ulang tahun itu, Kenzo dan pasukannya kembali keibu kota kekaisaran. Luna menggendong Aristia untuk menjemput kepulangan Kenzo digerbang istana. "Selamat datang kembali yang mulia." Luna yang menggendong Aristia maju untuk mendekati Kenzo yang masih berada diatas kuda dengan gagah berani 'kenapa menatap ku dengan tajam?!' Batin Aristia "tuan putri katakan 'Halo papa' "Luna melihat ketidak pedulian Aristia seakan akan dia tidak ingat lagi pada Kenzo "Dya bucan papa" pelafalan kata yang seharusnya terdengar lucu dan menggemaskan malah menjadi pendingin udara yang memang sudah dingin "tuan putri lupa pada papa? " Luna dengan khawatir bertanya Hampir enam bulan Kenzo pergi jadi jika seorang anak 'normal' pasti sudah akan lupa tentangnya. Kenzo turun dari kudanya dan langsung merebut Aristia yang duduk manis dalam gendongan Luna. Memang Aristia sudah bisa duduk, merangkak, dan bahkan berbicara walaupun pelafalannya masih kurang jelas karena pengaruh fisiknya 'kamu pikir aku akan takut terhadap tatapan mengancam mu itu? Lebih baik aku meneruskan pura pura akting lupa ini' "Sepertinya harus membuat putri ku mengingat kembali dengan cara ku" Kenzo mengucapkan setiap kalimatnya dengan tekanan bahkan tatapan matanya kearah Aristia semakin dingin ''Tia ecal pada papa alena eninggalkan Tia sendili. adi Tia edang malah pada papa sekalang" (Tia kesal pada papa karena meninggalkan Tia sendiri. Jadi Tia sedang marah pada papa sekarang) "apa yang dia katakan? " Kenzo melihat kearah Luna dan bertanya apa maksud kata kata Aristia "Tuan putri sangat senang bertemu dengan yang mulia lagi setelah enam bulan lamanya terpisah" Luna menafsirkan dengan sembarangan untuk menjaga image Aristia 'Bibi Luna bukan itu yang aku katakan' "Jadi begitu... " "Yang mulia silakan kembali untuk beristirahat, biarkan saya yang membawa tuan putri" Luna dengan sopan kembali berbicara "aku sudah lama tidak bertemu putri ku jadi aku akan bersamanya hari ini" setelah meninggalkan kata kata itu, Kenzo langsung beranjak memasuki istana sedangkan para prajurit yang belum menerima perintah masih berdiri diam didepan gerbang istana "Papa, eman-eman papa macih dilual" Aristia yang tidak mempersiapkan hatinya, berusaha menunda Kenzo dan siapa tahu saja bisa berubah pikiran kan? "Bubarkan saja" Kenzo dengan sembarangan melirik salah seorang pelayan yang dekat dengannya dan memberi perintah, Kenzo bisa mengerti karena Aristia menunjuk kearah tentara dibelakang Kenzo "Ah.. Eh.. Baik yang mulia" pelayan itu yang terkejut, sejenak kehilangan dirinya tapi kemudian dengan cepat melaksanakan perintah membubarkan barisan para pasukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN