Diruang Kerja Kenzo, selain pemilik ruangan ada tambahan 6 orang lagi dan mereka itu adalah Theo, Brian, Heson, Jesen, Eden, dan Gorgio.
Tapi keadaan Edenlah yang sebenarnya paling mengenaskan karena kegagalannya dalam melindungi Aristia membuatnya dihukum selama dua bulan dan luka diseluruh tubuhnya masih sangat jelas.
"Jadi siapa sebenarnya penculik yang tidak menginginkan nyawanya itu?" Gorgio yang pertama kali bertanya sedangkan Kenzo hanya dengan malas menyangga kepalanya dengan kedua tangan dikursi kerjanya
"Kasus penculikan putri dilatar belakangi oleh para bangsawan di kerajaan Parcilus yang kabur kekerajaan sibern . Kerajaan Sibern terkenal dengan kaumnya yang bar bar dan juga kemahiran mereka dalam menggunakan berbagai jenis racun dan karena salah satu racun yang disebut bubuk ilusi membuat tuan putri terus tertidur selama dua bulan ini jadi para bangsawan itu membayar dalam jumlah yang sangat besar para kasatria yang langsung dibawah perintah raja Sibern untuk menculik dan mengancam yang mulia kaisar" Jesen mulai menjelaskan hasil dari pengamatannya selama dua bulan ini
"Sibern dan Parcilus sungguh suatu hubungan yang unik, satunya adalah anjing buangan yang terus menggonggong karena kehilangan majikannya dan yang lain adalah budak uang bahkan melakukan cara rendahan dengan menggunakan racun pada bayi kecil yang tidak tau apa apa....." Gorgio dengan kesal mengutuk orang orang yang menculik Aristia
".....Tapi bukankah pertumbuhan tuan putri terlalu cepat? Tuan putri baru berusia hampir sepuluh bulan tapi sudah dapat berbicara walaupun pelafalannya masih tidak jelas dan tuan putri sudah dapat berjalan bahkan berlari dengan bebas.." Gorgio melanjutkan analisisnya
Ya memang benar Aristia bisa disebut jenius didunia ini tapi itu semua berkat jiwanya yang memang sudah dewasa jadi tentu saja perkembangan fisiknya pun ikut meningkat cepat bahkan diatas rata rata anak normal.
Perpindahan jiwa saja sudah tidak normal jadi tidak heran kalau Aristia juga jadi tidak normal tapi tidak normal dalam hal yang baik tentunya
"Ya, anak itu memang dewasa sebelum waktunnya bahkan dia sudah dapat membangkitkan aura yang hanya dimiliki keluarga kekaisaran dan karena kemiripan aurannya dengan ku saat itu dia cepat ditemukan" Kenzo mengiyakan apa yang dikatakan Gorgio
"APA?!" Gorgio jelas terkejut dan bukan hanya Gorgio tapi yang lainnya juga tapi hanya Gorgio yang berani dengan lantang berteriak heboh didepan Kenzo tapi pertanyaan Gorgio hanya ditanggapi dengan diamnya Kenzo
"Bohong! Pasti itu mustahil, kamu saja yang disebut jenius baru bisa menggunakan aura saat berusia 1 tahun dan tidak mungkin putrimu dapat menggunakannya dua bulan lebih awal darimu... Jika itu benar, maka kalian memang pantas disebut monster" Gorgio berusaha menyangkal dengan alasan yang masuk akal
"Dia putri ku jadi tentu saja dia akan hebat" Kenzo dengan bangga mengatakannya
'jadi kalau bukan putrimu, dia tidak akan hebat? Ck.. dasar tirani'
Gorgio tetap diam dan memandang Kenzo dengan datar setelah mendengar kata katanya tapi hatinya tidak sama dengan apa yang dia tunjukan
Para kasatria yang juga masih berada di ruangan itu hanya diam dengan alasan yang berbeda.
"Ekhem... Jadi yang mulia bagaimana pendapat anda mengenai kerajaan Sibern?" Gorgio berdehem untuk menyesuaikan suasana hatinya dan kembali membahas topik serius
"Aku terlalu sibuk hanya untuk mengurusi sekelompok semut yang berusaha membangun pijakan mereka, jadi tuan perdana mentri silahkan ambil alih urusan ini" Kenzo dengan malas menyangga kepalanya dengan satu tangan dan melemparkan tugasnya pada Gorgio
"Secepatnya kita harus menjadikan kerajaan Sibern bagian dari kekaisaran diamond Agrigent, jadi Theo kumpulkan semua prajurit yang berada dalam divisimu kita akan...." Gorgio terus memaparkan idenya tapi dia belum menyelesaikan kata katanya, Kenzo langsung memtongnya dengan kejam
"Sepertinya otakmu sedikit bermasalah karena hal kecil seperti ini saja tidak bisa kamu putuskan dengan benar"
"Yang mulia... Bisakah anda mengulangi kata kata anda barusan??" Gorgio berusaha menahan emosinya dan mengucapkan setiap kata katanya dengan menggertakan giginya
"Sepertinya memang benar otakmu bermasalah bahkan pendengaranmu berkurang" Kenzo mengangguk meyakinkan dirinya sendiri yang malah membuat Gorgio langsung meledak
"Ini pekerjaanmu tapi dengan santainya diserahakan padaku lalu setelah itu kau berani mengutukku dasar manusia tidak memiliki hati, b*jing*n tengik, tirani, picik..." Gorgio terus mengoceh dan mengutuk bahkan dia berani mengankat kerah baju Kenzo
"Sudah selesai?" Kenzo dengan dingin bertanya sambil mengangkat alisnya
"Ya.." Gorgio dengan santai melepaskan baju Kenzo dan kembali duduk dikursi tamu yang ada diruang kerja Kenzo
"Kumpulkan semua tentara dan pastikan untuk menyerahkan anjing yang tidak tau terimakasih itu padaku dalam dua hari setelah itu lakukan pembersihan dalam kamp tentara dan istana" Kenzo dengan tegas memberi keputusan yang memang sangat masuk akal alasannya penculikan itu bisa terjadi karena pastinya ada campur tangan dari pihak dalam, bisa jadi itu dalam istana atau ada prajurit yang memiliki nyali yang sangat besar untuk menargetkan keluarga kerajaan
"Baik yang mulia" Theo dengan patuh langsung pergi menjalankan tugasnya
"Yang lainnya bisa keluar kecuali Eden yang harus tetap tinggal"
"Baik" Mereka semua menjawab kecuali Gorgio
Gorgio tetap diam dalam ruangan beberapa saat sambil memandang Kenzo, entah apa yang dia pikirkan saat itu tapi Gorgio hanya memandang Kenzo dengan diam sebelum beranjak dari ruangan kerja Kenzo
Kali ini benar benar hanya Kenzo dan Eden yang ada dalam ruangan itu
"Kamu tau kesalahanmu, bukan?" Kenzo menatap Eden dengan mata emasnya yang sangat dingin, mata yang seharusnya hangat seperti sinar matahari malahan terlihat seperti kolam es yang tidak tersentuh oleh kehangatan..
"Ya, saya tau kesalahan saya yang mulia" Eden berlutut dengan satu kakinya dihadapan Kenzo
"Jadi apa kesalahan itu?" Tanya Kenzo masih dengan nada dingin
"Saya melalaikan tugas saya sebagai pelindung tuan putri" Jawab Eden tanpa memandang Kenzo
"Hahaha.. kamu tau bahwa itu adalah kesalahan fatal dan aku sangat tidak menyukai kesalahan sekecil apapun" Kenzo tertawa tapi dalam tawanya itu mengandung teror
"Menurutmu kenapa aku harus mempekerjakan bocah sepertimu? Semua sangat tidak setuju saat aku memutuskan untuk mengangkat anak dari bangsawan yang kerajannya sudah hancur sepertimu... Aku senang dengan bakatmu tapi aku kecewa karena ternyata aku salah menilaimu.." Kenzo berdiri tepat di depan kepala Eden yang tertunduk
"Aku bisa memberimu satu kesempatan untuk berubah tapi kesempatan itu adalah kamp militer dan tergantung dirimu sendiri untuk memilih mati sia sia atau mengambil kesempatan ini" Kenzo memandang kebawah melihat Eden
"Yang mulia tolong berikan saya satu kesempatan lagi. Kali ini saya bersumpah demi pedang yang saya angkat dan kehormatan sebagai prajurit saya tidak akan membiarkan yang mulia kecewa lagi terhadap saya" Eden bersumpah dengan sungguh sungguh
"Sepertinya aku harus mengingatkanmu lagi, bahwa Tuanmu adalah putri ku dan bukan aku jadi yang harusnya menerima sumpahmu adalah anak itu" Kenzo kembali duduk dikursinya
"Irgy Victory, adalah nama yang diberikan anak itu untukmu jadi saat kamu kembali lagi keistana ini namamu bukan lagi Eden tapi Irgy Victory, pergilah" Kali ini suara Kenzo tidak sedingin sebelumnya
"Baik, terimakasih yang mulia" Eden berdiri dan berbalik meninggalkan Kenzo setelah berterimakasih