bc

Kisah di Halaman Rumah

book_age16+
1
IKUTI
1K
BACA
family
self-improved
female lead
city
brothers
sisters
like
intro-logo
Uraian

Ketika rumah tak lagi menjadi sumber bahagia, lantas kemana ia harus pergi?

Kisah di halaman rumah yang penuh dengan kenangan. Berharap ada keajaiban untuk bisa kembali ke masa lalu. Sayangnya, yang berlalu telah berlalu, tak mungkin kembali lagi.

chap-preview
Pratinjau gratis
I. PROLOG
Tak pernah terlintas dalam benakku akan ada hari dimana aku bertanya pada diriku sendiri, sanggupkah aku menjalani hidup di luar sana? Di tempat asing yang tak pernah aku bayangkan. Hidup sendiri di bawah kedua kakiku, tanpa adanya keluarga disisi. Jika ditanya, hal apa yang paling berat dalam hidup? Mungkin saja meninggalkan rumah adalah jawaban yang tepat. Alasannya tidak lain dan tidak bukan karena rumah adalah saksi bisu atas hidupku. Ia yang tahu segala suka dukaku. Ia yang tahu kapan saatnya aku tertawa tulus, tertawa di atas kepura-puraan, dan menangis di atas penderitaan yang kusembunyi rapat. Delapan belas tahun ia melihatku tumbuh bersama rasa yang silih berganti. Entah itu bahagia, sedih, kecewa, amarah, ataupun putus asa. Rumah akan menjadi tempat bersejarah dalam hidupku karena ia telah melihat bagaimana aku banyak menghabiskan waktu bersama keluargaku, mendengar lelucon ringan ayah, atau sekadar memakan semangkok mie instan bersama ketiga kakakku. Mengingat tentang rumah, membuat aku kembali membuka memori yang telah tersimpan lama. Di dalamnya terdapat file berjudul 'titik paling bahagia'. Dimana file itu berisi tentang kepercayaanku bahwa keluarga kami adalah keluarga yang paling harmonis. Tidak akan ada badai yang sanggup meruntuhkan segala kepercayaanku terhadap ayah, mama, atau pun kakak-kakakku. Hal itu di dasari oleh masa kecilku yang terlampau bahagia. Tidak pernah sekalipun ayah dan mama memarahiku apalagi memukulku. Mereka selalu mempunyai cara tersendiri untuk menegurku ketika aku melakukan kesalahan. Dulu, aku berpikir bahwa keharmonisan di rumah ini akan selamanya aku rasa. Tidak mungkin ada keterpurukan di masa dewasaku nanti. Namun sayang, harapanku melenceng jauh. Aku belum atau mungkin tidak akan pernah mendapatkan apa yang kuharapkan. Kini, aku hanya mampu berdiri seorang diri di sebuah ruangan minimalis yang temaram karena hanya disinari cahaya rembulan. Cahayanya merambat, menembus fentilasi jendela juga kain horden yang tipis. Sementara, di depanku, terpampang lukisan degan kanvas berukuran 20×30 cm. Objeknya tidak begitu jelas disebabkan cahaya yang tidak memadai. Namun, indera penglihatanku masih bisa melihatnya samar. Sekalipun disini gelap gulita, sekiranya aku masih tahu persis seperti apa lukisan ini. Sesaat kemudian, sesak menggerogoti relung hatiku dan pada akhirnya aku hanya bisa tersenyum pedih. Mengingat betapa lukisan ini meninggalkan kesan yang sangat aku rindukan. Lukisannya memang tidak seelok lukisan para seniman atau setidaknya lukisan orang dewasa yang bukan seniman, tetapi aku tahu betul bagaimana kisah indah itu tertuang di atas kanvas ini. "Aya, sedang apa? Menggambarkah?" tanya ayah kala itu. Dengan tegas, aku menggeleng. Jelas tidak membenarkan perkataan ayah, "ini bukan gambar, Yah. Ini lukisan. Ayah harus tau, kalau menggambar dan melukis, berbeda." "Begitukah? Ah, maaf, Ayah benar-benar tidak tau." Ayah mengusap lembut kepalaku disertai dengan senyuman yang menawan. Begitulah sepenggal percakapan antara aku dan ayah saat aku sedang asik bertempur dengan kanvas, kuas, dan cat warna. Saat itu, aku melukis pemandangan di halaman rumah. Tepatnya, melukis kesibukan ayah yang membakar ikan bersama kak Baskara serta kak Hendra dan kak Ayuna sibuk memanen mangga. Tidak ada mama dilukiskan tersebut, sebab saat itu beliau tidak ikut serta di halaman rumah. Mama sibuk di dapur. Mengingat kenangan itu, kembali menorehkan luka di hati sehingga rasa perihnya teramat dalam. Aku rindu. Amat rindu pada ayah dan suasana di rumah ini. Seandainya bisa, aku ingin meminta di kembalikan pada masa tersebut. Sayangnya, yang berlalu telah berlalu, takkan mungkin kembali lagi. Saat ini, aku hanya bisa meraih permukaan kanvas yang kasar, lantas mengusapnya lembut. Sementara, tangan lain menggenggam erat gagang koper, menyalurkan rasa sesak. Hingga, tak terasa air mata yang sejak tadi kutahan, pada akhirnya unjuk diri. Bergulir cepat di permukaan kulit wajah. Sudah kukatakan, bahwa kepergian adalah hal yang paling berat dalam hidupku. Memulai hidup baru untuk melupakan masa lalu. Kuharap, aku bisa berdiri tanpa siapapun yang siap menopang di balik punggungku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
222.3K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
4.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
12.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
46.1K
bc

TERNODA

read
202.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook