bc

Simbol Kekuatan

book_age16+
147
IKUTI
1K
BACA
adventure
powerful
confident
superhero
drama
male lead
sniper
superpower
like
intro-logo
Uraian

Kazaro memiliki simbol di telapak tangannya. Sebenarnya Kazaro menyembunyikan simbolnya agar tidak membahayakan orang lain. Tapi hal ini malah menyeret Kazaro pada pertarungan antar preman. Kazaro bertekad untuk membersihkan para preman. Tapi pemilik simbol lain malah terlibat perang itu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Kekuatan
Pagi itu mentari bersinar dengan cerahnya. Cahayanya menembus jendela yang terbuat dari kaca. Kazaro masih berada di dalam kamarnya. Dipandangilah kedua telapak tangannya. Kazaro memandangi tanda lahir berbentuk simbol yang berwarna hitam. Sebuah koin yang terbuat dari logam diletak di atas simbol itu. Kazaro berkontentrasi sambil mengatur napasnya. Berubahlah warna simbol, semula berwarna hitam kini menjadi merah dan kemudian menjadi putih. Logam yang ada di atas simbol melayang di udara. Seolah-olah logam tersebut terbang. "Kakak!" teriak seorang perempuan sambil menggedor pintu kamar Kazaro. Konsentrasi Kazaro menjadi pudar. Tenaganya kini tak terkontrol dengan benar. Logam yang berada di atas simbol terlempar jauh ke atas hingga menancap di langit-langit kamar Kazaro. "Masuk saja," katanya sambil mencari sebuah kain. Seorang perempuan muda ke dalam kamar Kazaro. Dilihatnya sang kakak yang sedang mengambil sebuah kain kecil nan panjang. Di sebuah kasur perempuan muda itu duduk. Seprainya berantakan tak tertata sama sekali. Bantal berserakan tanpa aturan. "Kakak, masak harus setiap hari aku yang bersihkan tempat ini. Padahal ini kamar Kakak sendiri," katanya. "Dik, kau tahu aku kan. Aku ini sedang berusaha agar kau bisa hidup lebih baik. Maka dari itu tolonglah bantu kakakmu ini,' alasan Kazaro. "Bilang saja Kakak malas." Perempuan yang bernama Kimina berdiri dan keluar dari kamar Kazaro. Kazaro keluar dari kamarnya. Segera dia menyusul adiknya yang pergi ke ruang makan. Kazaro langsung menyambar dua lembar roti bakar yang ada di meja makan. Tanpa duduk dia langsung berpaling dan pergi keluar. "Kazaro, berhenti sebentar. Kamu mau kemana?" tanya ibunya. Baru lima kali menjangkahkan kakinya Kazaro berhenti. Ditolahlah wajah sang ibunya. "Bu, aku ingin segera berangkat bekerja. Aku ingin mendapatkan uang banyak," katanya. Kak, tunggu sebentar. Antar aku ke sekolah," kata Kimina. "Bukannya hari ini tanggal merah," kata Kazaro. "Memang, tapi aku ada tugas khusus di sekolah. Jadi aku tetap masuk ke sekolah," kata Kimina. "Sekalian antar Ibu ke pasar," kata ibunya. Kazaro merogok saku bajunya sambil berjalan mendekat ke meja makan. Kazaro mengeluarkan sebuah kunci. Diletakkanlah kunci tersebut di dekat ibunya. "Bu, sebaiknya Ibu saja yang membawa sepeda motornya. Aku jalan kaki saja," katanya. Kazaro segera pergi dari hadapan dua orang perempuan itu. Segeralah dia keluar dari rumah sambil makan roti tanpa memperdulikan perkataan ibu dan adiknya. Kazaro telah menghabiskan rotinya. Dia berjalan di tepi jalan beraspal. Kazaro melambaikan tangannya. Sebuah bus umum berhenti di depannya. Segera Kazaro menaiki bus tersebut. Kazaro duduk di kursi dekat dengan pintu keluar. Entah kenapa seorang perempuan muda malah duduk di sampingnya. Dia hanya memakai rok hanya menutupi sedikit kaki bagian atasnya. Jaket yang dikenakan resletingnya terbuka sehingga kaos putih yang melekat di butuhnya terlihat jelas. "Hai bro, kenalan yuk. Namaku Chicha," kata perempuan yang ada di sampingnya. "Aku Kazaro dan aku sudah kenal kamu," kata Kazaro. "Lho, kok bisa!" Chicha terkejut atas ucapan Kazaro. "Kau keponakannya pacar temanku. Sebetulnya kita pernah bertemu denganmu. Dan satu lagi, kau pemiliki simbol mata kabur. Terbukti ada pola di sebelah kiri matamu." "Hahaha, teliti juga kamu ini. Baru aku sadari bahwa ada orang biasa yang bisa mengetahui bahwa aku pemilik simbol." Berangkatlah bus hingga melewati hutan yang sepi dari penduduk. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti melintang di tengah jalan. Rem diinjak hingga terhentilah bus itu. Muncullah beberepa orang dari akan belakang sambil mengeluarkan senjatanya berupa pedang. Senapan angin ada di antara mereka. "Kalian kami sandra, segeralah turun dari bus dan serahkan semua barangmu," kata seorang dari mereka. Sopir bus tidak tinggal diam. Langsung saja gas diinjak sehingga bus melaju kencang untuk menghindari perampokan. Apa pun yang ada di depannya dia tabrak tanpa ampun. Seorang perampok menembaknya senapan angi. terkena salah satu ban. Bus kehilangan kendali dan berhenti mendadak. Hampir saja bus tersebut masuk ke dalam sungai. "Bapak-bapak, Ibu-ibu, maafkan kau. Aku tak bisa pergi lebih jauh lagi. Aku tak bisa membawa kalian semua menghindari perampok," kata sopir bus. "Serahkan ini semua kepadaku." Chicha segera berdiri pergi keluar. Kazaro segera menyusulnya. Chicha berdiri di hadapan beberapa lelaki yang bersenjata. Jaket yang dia kenakan dibukanya. Terlihatnya lengannya yang mulus nan putih. "Mas bro, sebaiknya kalian hentikan perbuatan ini. Ini bukanlah tindakan yang baik," katanya. "Kau serahkan dulu tubuhmu. Baru setelah itu bisa kita bicarakan," kata seorang lelaki. "Kalau begitu lihat saja ini." Simbol yang ada di mata Chicha sebeleh kiri menyala dan mengeluarkan warna yang terus berganti. Terkesimalah para pria yang melihat simbol yang menambah kecantikan sang pemiliknya. Tapi pandangan mereka kabur karenanya. "Dasar perempuan aneh," kata seorang lelaki yang ada di sana. "Dasar laki-laki hidung belang. Tak bisa menolak perempuan lain," kata seorang perempuan dari perampok itu. Simbol yang merekat di dalam tubuhnya menyala dengan warna hiaju terang dan merambat ke seluruh tubuh. Seluruh kulitnya berwarna hijau, terbentuklah sisik menyerupai ular. Bola mata berubah menjadi kuning. Perempuan perampok yang lain membuka baju luarnya. Terlihat jelas bagian punggung. Di situlah menyala sepasang simbol. Dari simbol itu terbentuk sebuah sayap. "Chicha, ini pemandangan indah atau mengerikan," ucap Kazaro. "Kazaro, kau jangan tergoda," kata Chicha. "Aku ini lelaki yang masih normal," kata Kazaro. Kedua perempuan yang sudah berubah menjadi monster mengeluarkan senjata tajamnya dan segera menyerang Chicha. Sebuah sabetan pedang kelayang ke arah leher Chicha. Sebuah tas yang berisikan barang kosmetik diayunkan dan mengenai wajah perempuan ular. Sayang, sekali tebas tali tas tersebut lepas. Saat Chicha terdesak mundur Kazaro membuat sebuah tembakan dari simbol yang ada di kedua telapak tangannya. Kedua monster perempuan itu pun terpental tanpa luka jika dilihat dari luar. Tapi keduanya merasakan luka dalam yang cukup berarti. "Kau juga pemilik simbol," ucap Chicha. "Iya," kata Kazaro. "kenapa kau tidak bercerita sebelumnya?" tanya Chicha. "Kau tidak pernah bertanya," kata Kazaro. Beberapa orang perampok pandangannya sudah kembali normal. Sebuah peluru mengarah ke mata Chicha. Untung saja Kazaro cepat tanggap dan berhasil menggeser peluru tersebut hingga peluru mengarah ke sebuah pohon. "Dasar perempuan kasta bawah. Beraninya kau mengaburkan pandangan kami," kata seorang perampok. Seseorang yang ada di dalam bus keluar. Otot yang cukup besar dan kuat terlihat jelas. "Kalian semua, jangan beraninya melawan perempuan. Hadapi aku dahulu," katanya sambil mengeluarkan sebuah sabit. "Wow, pertarungan ini semakin menarik saja. Chicha, meskipun kamu cantik tapi ambillah posisi belakang. Butakan orang yang kau bisa," kata Kazaro.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.1K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.8K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Scandal Para Ipar

read
708.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook