"Tenanglah, Nona, saya tidak bermaksud jahat. Saya hanya diperintahkan untuk menyelamatkan Nona." Pria itu menjelaskan tujuannya datang kemari. Kemudian memperkenalkan namanya. "Nama saya Lucius."
Akan tetapi, Stella tidak langsung percaya padanya. Sepasang mata ambernya masih menatap pria bernama Lucius dengan curiga. Tak hanya sendiri, pria itu datang berdua. Pria itu juga tak luput dari perhatian Stella. Dia benar-benar takut, masih ragu dengan niat mereka. Namun, mau bagaimanapun, kedua pria itu telah menyelamatkannya.
"Lebih baik kita segera pergi dari sini. Kau tahu Tuan tak suka menunggu," ucap Lucius pada rekannya yang bernama Jonas.
“Ayo, Nona, silakan ikut kami," kata Lucius dengan sopan.
"Bagaimana bisa saya percaya pada kalian?"
"Jika Nona mau tetap di sini, silakan. Mungkin Anda akan menemukan pria yang akan menodai Anda lagi," ucap Jonas dengan senyuman sinis di bibirnya. Siapa pun akan tahu kalau Jonas berbicara sarkas.
"Tuan kami berniat baik. Jika Nona tidak percaya ... Nona bisa ikut kami untuk memastikannya dan bukankah Nona harus mengucapkan terima kasih?" bujuk Lucius dengan lembut.
Stella yang polos pun luluh oleh bujukan Lucius, pikiran dan hatinya merasakan kalau Lucius dan Jonas tak bermaksud jahat padanya. Meski tak sepenuhnya percaya, Stella akhirnya pergi mengikuti dua orang itu keluar dari sana.
Mereka membawa Stella masuk ke dalam mobil, Stella diperlakukan dengan sopan oleh mereka berdua. Padahal ia merasa tidak melakukan apa-apa yang harus mendapatkan perlakuan istimewa ini.
Sekitar setengah jam kemudian, Stella sampai di sebuah mansion mewah yang letaknya berada di tempat terpencil. Di tengah hutan?
"Aku tidak tahu kalau ada rumah di tengah hutan," gumam Stella yang takjub saat melihat rumah megah berlantai tiga dengan cat berwarna putih itu.
"Sebenarnya hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendatangi mansion ini. Tentunya … hanya orang-orang yang diizinkan oleh tuan dan Nona adalah orang yang beruntung bisa datang kemari. Ngomong-ngomong, apa hubungan Nona dengan tuan?" Jonas terdengar banyak bicara, berbeda dengan Lucius yang terlihat kalem dan diam saja dari tadi.
Stella terdiam karena ia merasa tak bisa menjawab pertanyaan membingungkan itu. Siapa tuan dari kedua orang ini saja, ia tidak tahu?
Begitu mereka bertiga sampai di depan halaman mansion itu, mereka disambut oleh beberapa orang bertubuh tegap dengan wajah datar di depan mansion mewah itu.
"Sebenarnya siapa tuan mereka? Apa mereka suruhan ibu dan Eve?" gumam Stella pelan.
Stella terlihat ketakutan melihat orang-orang itu dan sekarang ia mulai ragu untuk masuk ke dalam mansion. Lucius yang melihatnya, langsung mendekati Stella yang diam saja.
"Saya akan menjamin nyawa saya untuk Anda, Nona. Tenanglah."
"Eh? I-iya baiklah." Wanita itu menganggukkan kepalanya, berusaha percaya pada Lucius.
Lucius menuntun Stella ke dalam mansion, dengan pandangan mengedar ke sekitarnya. Stella melihat-lihat mansion mewah itu. Sepertinya, pemilik mansion adalah orang kaya. Mungkin pengusaha atau pejabat, karena banyak pengawal berjaga di sekitar mansion ini.
"Silakan masuk, Nona!”
Stella hanya mengangguk patuh. Dia pun berjalan meski sebenarnya merasa ragu. Setelah masuk ke dalam kamar mewah itu, ia terus memindai sekitar. Namun, ia tidak melihat siapa pun ada di sana. Sampai beberapa saat kemudian, ia melihat seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tu-tuan?"
Kedua mata Stella mendelik ke arah orang yang baru saja keluar dari kamar mandi itu. Ia bahkan tidak menyangka akan bertemu dengan pria ini lagi, di sini. Bryan, pria yang ditolongnya. "Kenapa kau ada di sini?" tanyanya bingung.
"Ahh! Kenapa kau tidak memakai pakaian?" Jerit Stella sambil memalingkan wajahnya dan menutup mata kedua matanya dengan satu tangan. Setelah ia menyadari kalau Bryan tidak memakai pakaian dan hanya memakai handuk pada bagian bawahnya saja.
Bryan menghampiri Stella dengan langkah santai, diam-diam ia tersenyum miring saat memandang wanita yang tengah memunggunginya itu. Tanpa Stella sadari, pria itu sudah berada di hadapannya.
"Kau kan sudah pernah melihat semuanya."
Pipi Stella memerah, bibirnya mengerucut usai mendengar kata-kata Bryan. Pria itu tersenyum melihat wajah Stella. Senyuman yang jarang terlihat di bibirnya. Itu semua karena Stella sangat menggemaskan.
"Ti-tidak, aku tidak melihat semuanya. Aku hanya melihat bagian atasnya saja," kata Stella menjelaskan dengan terbata-bata.
"Oh, jadi kau mau lihat bagian bawahnya juga?" ucap Bryan menggodanya.
Sontak saja Stella menurunkan tangannya yang menutup kedua matanya tadi. Ia tampak terkejut dengan kata-kata Bryan yang menggodanya. "Siapa yang mau? Tentu saja tidak! Dasar mesum."
"m***m, ya?" Senyuman menyeringai terlihat di bibir Bryan, kemudian dengan berani ia menarik pinggang Stella agar merapat dengan tubuhnya.
Jarak diantara mereka semakin terkikis, tubuh Stella yang jauh lebih pendek dari Bryan, membuatnya hanya berhadapan dengan d**a bidang Bryan yang memiliki enam pack di sana. Stella terperangah melihat pemandangan ini, ia tidak sempat menghindar dari Bryan.
"Apa yang kau lakukan, Tuan? Setelah kau mencuri ciuman pertamaku, kau juga mau berbuat m***m padaku?" cerca Stella sambil mendongakkan kepalanya dan menatap wajah pria yang tengah mengukung tubuhnya dengan kedua lengannya yang kekar itu.
"Ciuman pertama? Benarkah? Aku yang pertama?”
Tangan Bryan terulur perlahan menyentuh bibir merah Stella dan mengusapnya lembut. Tatapannya membara pada bibir indah berwarna merah delima itu. Membayangkan jika dirinya memang menjadi yang pertama untuk Stella, entah kenapa ia merasa senang.
"Iya … kau yang pertama dan kau yang mencurinya. Padahal aku berniat menyerahkannya pada orang yang berhak!" seru Stella kesal, teringat Bryan yang sudah mencuri ciuman pertamanya.
Melihat wajah Stella yang marah dan mendengarnya mengomel, ia malah merasa jika wanita polos ini sangat menggemaskan.
"Jadi, aku tak berhak?" tanya Bryan dengan kecewa, tanpa melepaskan tangannya dari tubuh mungil Stella.
"Tentu, kau kan orang asing dan—"
Tiba-tiba saja Bryan memberikan kecupan singkat di bibir Stella dan membuat wanita itu membeku. Kedua mata ambernya yang polos, terbuka lebar menatap Bryan. Namun, kedua belah bibirnya tampak gemetar, setelah apa yang dilakukan oleh pria itu barusan kepadanya.
Jantungnya berdegup kencang tak karuan, sesuatu aneh mulai berdesir merayap di hatinya. Apakah ini karena ia baru pertama kali mendapatkan ciuman pertamanya?
"Kau mau aku bertanggung jawab?" Goda Bryan lagi.
"K-kau ... bagaimana bisa kau memperlakukan penyelamatmu seperti ini? Kau sangat keterlaluan," ucap Stella kesal sambil menahan air matanya. "Meskipun kau tampan, kau tidak bisa seenaknya padaku," sambung Stella lagi yang memuji ketampanan Bryan.
Bagaimana tidak? Hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas dan kulitnya yang kecoklatan, membuatnya terlihat semakin menawan. Tak bisa Stella pungkiri, kalau pria itu bak pahatan patung Yunani yang indah.
"Seleramu bagus juga. Aku memang tampan," ucap Bryan dengan bangga. Ia senang mendengar pujian itu.
"Kau sangat narsis," gumam Stella sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bryan berucap dengan tegas. "Bukan narsis. Aku hanya mengakui fakta."
Merasa lelaki ini tidak beres, Stella mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Bryan. Melihat bagaimana cara Stella untuk melarikan diri dari pelukannya, membuat Bryan semakin berambisi untuk lebih erat memeluknya.
"Lepaskan aku! Kita harus bicara, Tuan. Kau tidak bisa memelukku seperti ini terus, aku sesak," pinta Stella yang mulai merasa napasnya tak baik-baik saja, ketika pelukan pria itu semakin erat. Selain itu, ia juga membutuhkan penjelasan, mengapa ia berada di sini dan banyak lagi pertanyaan yang ingin ia katakan pada Bryan.
"Kalau aku melepaskanmu ... kau bisa berjanji untuk tidak kabur?" tanya Bryan dengan tatapan dinginnya dan wajahnya yang datar. Berbeda dari ekspresinya barusan saat menggoda Stella.
"Memangnya aku mau kabur ke mana? Ini di tengah hutan."
"Aku suruh kau berjanji, bukan bicara yang lain-lain!"
Bryan meninggikan suaranya di depan Stella. Pria itu terlihat berbeda dengan pria yang sebelumnya berbicara kepada Stella, beberapa saat yang lalu.
"Aku janji."
Bryan pun melepaskan pelukannya dari Stella dan menuntun Stella untuk duduk di atas sofa yang ada di kamar itu. "Bagus. Jadilah anak baik dan duduklah di sini."
Pintu kamar itu pun ditutup dengan remot pintar yang dimiliki Bryan, hanya dengan mengatakan tutup saja pada remotnya.
"Sekarang bagaimana kalau kita bicara?" tanya Bryan yang saat ini sudah duduk berhadapan dengan Stella.
"Ya, kita memang harus bicara dan aku ingin bertanya kepadamu Tuan."
"Sebelum itu, aku yang akan lebih dulu bertanya kepadamu," kata Bryan dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan oleh Stella.
"Ah ... tidak, ini bukan pertanyaan melainkan keharusan," ucapnya lagi dengan dingin.
Tangan Stella terkepal kuat di atas pahanya, setelah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Bryan kepadanya. Suasana di sana seketika menjadi menegang dan dingin.
"Kau harus menikah denganku." Kalimat selanjutnya, berhasil membuat Stella terkejut bukan main.
"Apa!?"
TBC