Sore hari setelah jam kerja selesai, Aydan masih sibuk dengan berkas di meja yang akan diselesaikannya hari itu juga. Dibantu sekertarisnya, mereka lembur hingga pukul 7.
"Saya duluan ya, Pak!" kata wanita yang sudah dijemput suaminya di depan perusahaan.
"Ya, makasih banyak atas kerja kerasnya hari ini."
"Sama-sama, Pak!"
Aydan tersenyum pada suaminya yang menyapa ramah. Lambaian ringan menyertai kepergian mereka.
Aydan mengambil kunci motornya dan akan segera pergi.
"Biar saya aja yang ambilin motornya, Pak!" tawar satpam yang masih berjaga.
"Gak masalah, Pak Toni. Saya aja, bapak boleh pulang setelah ini. Shift malam siapa yang jaga?" tanya Aydan.
"Si Baim, Pak."
"Udah datang dia?"
"Barusan aja."
"Oke, baiklah. Bapak boleh pulang."
"Makasih banyak, Pak!"
"Sama-sama." Aydan melangkah menuju parkiran motor. Aydan melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah kafe.
Bukan merupakan kebiasaan Aydan untuk duduk di kafe setelah pulang kerja, tapi dirinya perlu melepaskan penat setelah kerjaan berat hari ini ditambah lagi tekanan dari kakaknya.
Aydan duduk di pojok bertemankan secangkir kopi sanger dan roti bakar di hadapannya.
Perlahan ia menyesap kopi pahit itu dari tepian bibir gelas lalu menggigit roti bakar dengan olesan mentega putih dan selai kacang.
Aydan mengotak-atik gawainya, mengecek dunia daring yang ditinggalkannya karena bekerja seharian.
Perhatiannya kemudian tersita pada seorang wanita yang berjalan ke arahnya dengan mengendap-endap. Aydan mengernyitkan kening, menafsirkan apa yang ingin dilakukannya?
Wanita itu tidak dikenalnya. Ia duduk di hadapan Aydan dengan wajah ketakutan.
“Kau siapa?” tanya Aydan.
“Maaf, biarkan aku di sini sebentar aja,” jawabnya.
Aydan melihat ke belakang. Ada dua pria yang berdiri mencari seseorang.
“Kau lari dari mereka?” tanya Aydan.
Wanita itu mengangguk.
“Kau mencuri sesuatu?” tanya Aydan lagi mengantisipasi mungkin saja dia wanita berbahaya.
“Tidak! Aku tidak mencuri apa pun. Aku hanya lari dari sebuah pernikahan,” jawabnya.
“Ha?” Aydan terkejut. “Kau lari dari pernikahanmu?” sambungnya.
Wanita itu mengangguk. “Kumohon, lindungi aku. Aku gak mau nikah sama si tua bangka itu.”
Dengan pakaian yang mencolok begitu, mereka pasti akan menemukannya dalam waktu cepat.
Aydan langsung berdiri, melepas jaketnya dan duduk di sampingnya.
“Pakailah.” Aydan memberikan jaket tadi untuknya agar menutupi kebaya putihnya.
“Makasih.” Wanita itu segera mengenakannya. Aydan melihat ke belakang, memantau pergerakan mereka yang masih berada di ujung.
“Lepas bunga di kepalamu,” kata Aydan melihat rambutnya dihias berbagai macam aksesoris.
“Aku gak bisa liat. Di mana bunganya?” tanya wanita itu.
“Ck, biar aku yang melepaskannya. Maaf jika aku menyentuh rambutmu,” kata Aydan.
“Ya, aku mengijinkannya.”
Aydan langsung mencabut beberapa aksesoris dari rambutnya dan memintanya menyembunyikan di sudut sofa.
Setelah itu Aydan melihat ke belakang lagi dan dua pria tersebut semakin dekat dengan mereka.
“Menunduk, pura-pura tidur,” perintah Aydan.
Wanita itu pun menunduk, menyandarkan wajahnya ke balik tangan yang terlipat di atas meja lalu menyembunyikan mukanya.
Aydan merapikan jaketnya lalu berpura-pura bermain gawai. Pria itu lewat, melihat ke arah mereka.
“Maaf, apa kau melihat seorang wanita dengan pakaian pengantin?” tanya salah satu pria tersebut.
“Tidak, aku tidak melihatnya.”
“Oh, baiklah. Wanita ini siapamu?” tanyanya menunjuk ke samping Aydan.
“Kekasihku. Dia lagi tidur.” Aydan mengelus kepalanya.
“Oh, maaf sudah mengganggu kalian.”
Aydan melirik mereka dengan anggukan ringan lalu dua pria itu pun pergi.
Wanita itu ingin menegakkan kepalanya, tapi Aydan menekannya lagi.
“Tahan dulu, mereka masih di sini.”
Wanita itu menuruti perkataannya. Sampai Aydan merasa aman, tangannya pun diangkat dari kepala wanita itu lalu ia pun menghela napas panjang.
Fiuuh.
“Makasih banyak ya,” ucapnya lemah. Dia tampak ngos-ngosan.
“Kau melibatkanku dalam masalahmu,” sahut Aydan.
“Untung di dunia ini masih ada orang baik,” katanya sambil membuka jaketnya lalu mengembalikannya pada Aydan.
“Kenapa kau lari dari pernikahanmu?” tanya Aydan.
“Bapakku menjualku pada si tua bangka. Masa anaknya disuruh nikah sama pria berumur 70 tahun.” Wanita itu menceritakannya dengan emosi.
Aydan tersenyum tipis. “Kayak di sinetron-sinetron ya,” sahutnya.
“Mmh, iya, bapakku keterlaluan! Males kali harus hidup dengan pria tua itu. Meski dia kaya raya, gak mau aku jadi istri kelimanya.”
Aydan pun cekikikan. “Istri kelima?”
“Iya, bayangin deh kalau kau jadi aku. Iiisssh.” wanita itu geleng-geleng kepala.
Aydan tak menyangka kalau masih ada pria tua yang selera menikahi anak muda.
“Oya, kenalin namaku Emilia.” Wanita itu menyodorkan tangannya.
Aydan tidak menyambutnya. “Aku Aydan,” sahutnya dengan menyatukan tangan.
“Aneh, kau anti bersentuhan, tapi tadi menyentuh dan mengelus rambutku,” sindir Emilia.
“Aku hanya ingin menolongmu dan membuat mereka yakin. Kalau kau keberatan aku bisa panggil mereka, mungkin mereka masih di bawah.” Aydan malah tersinggung.
“Eh, jangan-jangan! Hehe, aku hanya becanda. Sensi amat sih.” Emilia pun tersenyum lebar padanya.
“Kalau gak ada lagi urusan, kau bisa pergi,” ucap Aydan berniat mengusirnya.
“Iihh, galak bener! Gak perlu diusir, aku juga akan pergi.” Emilia minta jalan pada Aydan karena dia terjebak di antara dinding dan Aydan.
Aydan beranjak dari tempat duduknya lalu mempersilahkan wanita itu pergi.
“Makasih banyak ya, Aydan!”
“Yups.” Aydan pun mengambil jaketnya lalu melangkah pergi.
“Yaela, dia pergi juga? Ngapain ngusir aku kalau gitu? Kan aku bisa duduk di sini lebih lama lagi.” Emilia menggerutu karena Aydan ternyata mau pulang.
“Tapi enggaklah, nanti para bodyguard itu balik lagi nyariin aku.” Emilia berubah pikiran.
Setelah Aydan membayar pesanannya, ia kemudian menuruni anak tangga.
“Hei, tunggu!” panggil Emilia.
Aydan menoleh. “Ada apa lagi?”
“Pegangin aku, sendal tinggi ini membuatku takut melangkah,” jawabnya.
Aydan membuang napas panjang dan menjulurkan tangannya dengan terpaksa. Emilia menyambutnya, menggenggam tangan Aydan dengan kuat.
Mereka turun beriringan hingga ke lantai dasar. “Sekali lagi makasih ya, Aydan!” kata wanita itu dengan pelan.
“Ya, pulanglah, ibumu pasti mencarimu,” sahutnya lalu pergi.
Emilia mengerucutkan bibir. “Ibuku udah gak ada lagi, aku akan tidur di rumah teman mulai malam ini. Jika aku kembali ke rumah, bapakku pasti maksa aku buat nikahin pria itu lagi.”
Emilia melihat Aydan dari kejauhan. Pria itu setidaknya sudah membantu Emilia lepas dari kejaran pengawal si tua bangka.
Sesampainya Aydan di rumah. Hanin menunggu putranya di ruangan nonton.
Aydan melihat wanita itu sedang tertidur di sofa. Aydan mengambil selimut yang terlipat di atas meja lalu menutupi tubuhnya.
“Ma.”
Hanin tersentak mendengar panggilan itu. Ia membuka mata dan melihat Aydan.
“Aydan, kau ke mana aja? kenapa baru pulang?” tanya Hanin.
“Mama nungguin Aydan?”
“Iya.”
“Ya Allah.” Aydan membantu mamanya duduk lalu ia pun duduk di sampingnya.
“Aydan tadi lembur di kantor, terus singgah bentar ke kafe.”
“Kau udah makan?”
“Gak selera.”
“Ada masalah?” tanya Hanin.
“Gak ada, Ma.”
“Mama masakin sesuatu ya?”
Aydan tersenyum lalu mengangguk, tawaran dari Hanin tidak mungkin ia tolak. Bisa menyakiti hatinya.
Aydan menemani mamanya ke dapur. “Kau mau makan apa?” tanya Hanin.
“Apa aja, asal itu dari mama, aku akan makan.” Aydan tersenyum padanya.
“Papamu sudah tidur. Kakakmu sudah di kamarnya. Agak sedikit aneh dengan sikapnya, tumben dia gak kelayapan di luar. Biasa pulangnya pagi.” Hanin menceritakan apa yang terjadi di rumah ini.
“Baguslah, Ma. Berarti dia mau berubah.”
“Hem, mudah-mudahan. Mama setiap hari mendoakannya agar bisa jadi pria bertanggung jawab dan mengerti pekerjaan.”
Aydan mengangguk, menuang air ke dalam gelas di hadapannya lalu meneguknya.
“Mama doain Aydan juga kan?” tanyanya.
“Haha, kau ini bicara apa? Mana mungkin mama gak doain anak mama yang tampan ini?” Hanin tersenyum lebar.
Melihat perubahan Kaif, Aydan paham kalau kakaknya memang ingin serius menjalani perusahaan tersebut. Nasihatnya kemarin malam ternyata dipakai oleh Kaif.
Ketika orang tuanya menangis karena sikap anak kandungnya, Aydan mengirimkan pesan pada Kaif agar berubah.
Isi pesannya sangat panjang. Meminta Kaif agar berlaku lembut pada mereka, berharap agar dirinya bisa jadi anak yang dibanggakan oleh Hanin dan Raihan.
“Jika kakak membenciku karena aku bukan anak kandung mereka, kakak harusnya bisa menggantikan posisiku sebagai anak baik yang dapat mereka banggakan. Dengan begitu, aku bisa pergi secara perlahan dari kehidupan kalian tanpa perlu khawatir lagi.”