"Maaf, tidak ada lowongan kerja di sini," kata pak satpam.
"Masa sih? Tapi kemarin aku disuruh masukin lamaran," sahut Tania yang sudah membaca perlengkapan melamar kerjanya.
"Serius, Kak. Kami lagi tidak buka lowongan."
"Ah, jangan gitulah! Kalau gitu kau bantu aku kasihkan lamaran kerjaku aja ke HRD ya," pinta Tania.
"Oke." Pak Satpam mengambil berkasnya dan meminta wanita itu pergi. 'Udah dibilang gak ada lowongan, tetap aja bandal!' gerutunya.
Ketika Tania hendak memakai helmnya, dia melihat Aydan datang dengan motornya. Wanita itu meletakkan lagi helm tersebut dan menghampiri Aydan.
Aydan melepaskan helmnya, turun dari motor lalu berjalan ke arah pintu perusahaan. Tania mengejarnya, berlari kecil dari belakang.
"Ssstt!" kodenya.
Aydan seperti mendengar ada suara, tapi dia tidak memedulikannya. Tania pun menyentuh bahunya lalu Aydan menangkisnya dan hampir memukul Tania.
Begitu dia melihat orang itu adalah wanita yang ia temui di mesjid, Aydan mengurungkan niatnya. Wajah Tania sudah mengerucut karena takut dipukul.
"Kau? Mau apa kemari?"
"Aku baru aja ngasih lamaran kerja sesuai perintahmu kemarin," jawab Tania.
"Oh, oke." Aydan tak perlu banyak berkomentar.
"Tapi kata pak satpam, lagi gak buka lowongan kerja. Benar tuh?" tanya Tania.
"Benar, berarti anda kurang beruntung," jawab Aydan santai.
"Iiisss, aku kan pengen dekat sama kamu."
"Maaf, aku harus segera masuk." Aydan meninggalkannya di jalan dan segera masuk tanpa menoleh ke belakang.
Tania menariknya. "Hei!" jeritnya kesal karena Aydan tidak menggubrisnya. "Aku akan mengikutimu, kau akan kudapatkan," ujarnya percaya diri.
Sesampainya Aydan di ruangan. Pemandangan tak biasanya terlihat pagi ini di dalam. Kaif duduk di kursi sambil minum teh.
'Pantesan dia pergi pagi-pagi, ternyata mau ke kantor,' ucap Aydan dalam hati. Aydan berjalan menghampiri kakaknya.
"Kak, udah lama datang?" tanya Aydan.
"Baru, sekitar 5 menit yang lalu."
"Oh, Kakak mau nemuin papa?" tanya Aydan.
"Bukan, aku mau nemuin kau."
Aydan pun duduk di hadapannya dengan serius. "Nemuin aku? Ada apa?"
"Aku kasih kau waktu 1 bulan untuk menjalani bisnis papaku, setelah itu kau harus mundur dengan alasan apa pun dan kau harus rekomendasikan posisi ini untukku agar papaku kembali menawarkan jabatan ini lagi."
Kaif terang-terangan meminta posisinya sebagai CEO dan mengusir Aydan dari perusahaan papanya. Penyebutan kata 'papaku' menjadi garis tegas bahwa Raihan bukan papa Aydan melainkan papa Kaif.
Aydan menunduk, sesekali menatap ke kanan. Perasaannya mendadak kacau. Sejauh ini dia harus terus mengalah agar hubungan anak dan ayah itu tidak hancur.
Kaif tidak banyak bicara, hanya menyampaikan hal itu saja lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Oya, satu lagi, mobilmu juga akan jadi milikku." Kaif menunjukkan kunci mobilnya. "Sebagai gantinya, mobilku akan kuberikan untukmu," sambungnya.
Aydan mengangguk, tidak ingin buat keributan di sini. Kaif pergi dari ruangannya dengan senyuman.
Aydan menyandarkan tubuh ke sofa, matanya terpejam, mengendalikan amarah yang tak mampu dikeluarkannya karena mengingat dia adalah kakaknya.
Aydan harus melupakan masalah ini sejenak. Jika Kaif memberinya waktu sebulan untuk mengelola perusahaan, maka Aydan akan melakukan yang terbaik untuk papanya.
Pergerakannya dipercepat dari rencana. Beberapa divisi akan dirombak programnya supaya hasil pencapaian semakin baik.
Hal itu mengejutkan semua karyawan. Atas persetujuan Raihan, mereka tak mampu mengeluh dan mengerjakan semua perintah tanpa terkecuali.
Aydan mendapat sindiran keras ketika berada di lift. Beberapa karyawan yang frontal berbicara langsung hingga Aydan mendengarnya.
"Baru jadi CEO beberapa hari aja udah sok ngerubah semua. Apa dia gak mikir ya susahnya kerja dengan program yang lama? Malah diganti dengan alasan gak jelas," gerutunya dengan suara kuat.
Aydan menerima semua ucapannya. Karyawan lain yang ada di sana melirik pria yang berkata tidak sopan itu.
Ting!
Lift berbunyi, pintu terbuka, tapi tak satu pun yang berani keluar karena Aydan berdiri di depan pintu.
Pintu kembali tertutup. Rencana Aydan ke lantai dasar tidak jadi. Dia ingin kembali ke ruangannya bersama pria yang berkomentar akan programnya.
"Saya tunggu anda di ruangan. Sekarang!" katanya dengan nada tinggi tanpa melihat ke belakang.
Tanpa dillihat, mereka juga tau kalau perintah itu untuk dia yang sudah berbicara kasar di lift.
"Rasain kau, entah apa lamis kali tu bibir."
"Keterlaluan kali ucapannya."
"Entah, nyari masalah sama pimpinan! Dipecat dia pasti tuh, syukurin lah."
Pria itu pun berjalan di belakang Aydan sampai ke ruangannya. Sekertaris Aydan bingung melihat kedatangan pria yang berasal dari divisi keuangan tersebut.
"Silahkan, Pak!" ucapnya membukakan pintu untuk Aydan lalu menyusulnya sampai dalam. "Bukannya bapak mau bertemu klien?" tanyanya.
"Saya harus menyelesaikan masalah dengan bapak ini," jawab Aydan. "Tetaplah di sini, saya ingin Ibu jadi saksi atas ucapan saya," pinta Aydan pada sekertarisnya.
"Baik, Pak!" wanita itu duduk bersama dalam jarak yang aman.
Pria yang tadi dipersilahkan duduk. Aydan sudah mengenalnya ketika masih berada di posisi marketing.
"Selamat siang, Pak Ganda!"
"Selamat siang, Pak!"
"Terkait ucapan bapak di lift, saya senang mendapat kritikan langsung. Bahkan untuk pekerjaan saya yang masih seumuran jagung." Aydan tersenyum tipis.
Pria itu menelan ludah sambil mendengarnya.
"Bapak udah berapa lama di sini?" tanya Aydan.
"4 tahun, Pak!"
"Oh, sudah lama. Berarti udah naik jabatan berapa kali?" tanya Aydan dengan senyuman.
"Sa-saya belum pernah naik jabatan. Sejak dulu masih di posisi administrasi."
"Hmm, itu tandanya pekerjaan bapak masih dalam taraf biasa. Jadi perusahaan tidak merekomendasikan anda jadi kepala keuangan. Padahal bu Sari yang sekarang jadi kepala, dulunya juga dari admin bahkan dia kerjanya baru setahun di sini."
Aydan memukul keras akan prestasinya d perusahaan. Ganda menunduk, tak berani menatap wajah Aydan yang tidak membentaknya sama sekali. Tutur Aydan tetap lembut walau ucapannya mengena sampai ke dasar hati.
"Maafkan saya, Pak! Saya terbawa emosi dari teman-teman yang tidak setuju dengan perubahan itu," katanya masih dalam taraf membela diri.
"Harusnya di usia bapak yang sudah matang, bapak bisa mengontrol amarah. Selain baik untuk kesehatan bapak juga baik untuk orang lain."
"Iya, Pak! Maaf."
"Gini aja, saya juga masih ada urusan. Demi bapak saya korbankan waktu untuk menyampaikan hal ini."
Ganda jantungan mendengarkannya, berharap tidak dipecat.
"Saya kasih bapak waktu selama sebulan melaksanakan perintah saya dan berikan prestasi terbaik lalu saya akan lihat hasilnya. Jika bapak tidak suka dan gagal, silahkan cari perusahaan lain yang sesuai dengan program yang anda inginkan."
Aydan langsung berdiri dan menyodorkan tangannya. Ganda ikut menarik tubuhnya dari posisi duduk dan menyambut tangan pimpinannya.
"Selamat bekerja, saya masih ada urusan." Aydan meminta sekertarisnya untuk ikut bersama dengannya sampai ke tempat pertemuan dengan klien. Ganda pun ikut keluar, tapi tidak dipeduliin Aydan lagi meski mereka satu lift.
Menggunakan mobil kantor, mereka pergi ke sebuah restoran. Berhubung waktu pertemuannya tepat di jam makan siang, Aydan mengajaknya makan bersama.
Pertemuan berakhir dengan baik. Kesepakatan untuk mengadakan event minggu depan disetujui. Bersama merk terkenal dunia, merk pakaian dalam dari perusahaan Adhitama Group ikut dijejerkan nantinya.