°09° Dia sakit?

1157 Kata
(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ) Kamu terlalu berpengaruh untuk ku. Buktinya saat kamu sakit saja membuat diriku juga ikutan merasakan sakit itu. (Cinta Swara) : : : 2 bulan kemudian... Di dalam ruangan, Sanskar masih berkutat dengan laptopnya. Tak lama kemudian pandangannya beralih ke arloji yang bertengger manis di tangannya. Pukul 22:00. Sanskar menghela napas lelah, lalu menyenderkan tubuhnya setelah menutup laptop yang di gunakan tadi. Tangannya bergerak memijat pelipis seraya mejamkan mata. Tidak lama kemudian, ia tertegun dengan suara deringan ponsel. Segera ia mengambil ponsel dan menyentuh gambar telepon berwarna hijau, setelah melihat nama yang tertera. "Kenapa belum tidur?" ucap Sanskar langsung. "Aku menunggumu." jawab Swara di telepon. "Apakah pekerjaan mu masih banyak?" tanya Swara kembali. "Aku baru saja menyelesaikannya." "Lalu?" "Iya, Swara. Aku akan pulang." "Cepatlah. Aku menunggumu." "Tidak usah. Kau tidur saja duluan. Ini sudah tengah malam." Sanskar meraih jasnya yang tadi ia sampirkan di kepala kursi, lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan. "Ya, ini sudah tengah malam, tapi suami ku masih berkutat dengan pekerjaan nya. Bagaimana bisa aku tidur nyenyak, heum?" ucap Swara kesal. Sanskar tersenyum, lalu keluar dari lift. "...dan sahabatku. Apakah kau menyuruh dia bekerja malam juga?" lanjut Swara. "Oh, ayolah sayang... Kau sedang mengkhawatirkan ku atau sahabatmu itu?" "Tentu sahabatku. Aku tidak mau dia sampai sakit hanya karena pekerjaan." ucap Swara. "Lho, Tuan baru mau pulang?" pergerakan Sanskar yang akan membuka pintu mobil terhenti saat suara Pak Anton terdengar. Ia adalah penjaga malam di perusahaan ini, tepatnya satpam. "Iya, Pak. Em, apakah Bapak melihat Kavita?" kata Sanskar. "Baru saja Nona Kavita pergi. Saya pikir Tuan tadi sudah pulang." ucapnya sopan. "Baiklah. Saya pulang dulu, Pak. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." "Kavita pulang duluan? Sanskar, kenapa kau membiarkannya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadanya?" ucap Swara yang sempat mendengarkan pembicaraan Sanskar dan Pak Anton. "Swara tenanglah. Mungkin dia masih ada di halte." ucap Sanskar yang mulai mengendarai mobil. "Kau harus tetap pulang bersamanya. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Kau dengar Sanskar?" "Iya, Swara. Aku tutup dulu teleponnya." "Iya, hati-hati. Assalamu'alaikum...." "Walaikumsalam...." Setelah menaruh ponselnya di dashboard, Sanskar menurunkan kaca mobil. "Masuklah." "Tapi aku...." "Swara tadi menelepon ku. Kau tahu kan, bagaimana posesifnya dia saat bersangkutan denganmu? Lagian ini sudah malam. Angkutan umum susah di dapatkan." "Hem, baiklah." ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ Sanskar membuka pintu kamar dengan wajah kusut. Saat ini, ia sangat-sangat merasakan lelah. Tapi lelah itu seakan-akan hilang begitu saja ketika ia melihat wajah damai Swara. Baru saja beberapa menit yang lalu Swara berbicara samanya ditelepon. Tapi tak sampai 15 menit, Swaranya itu sudah tertidur dengan lelap. Sanskar meletakkan tas dan jasnya di sofa, lalu berjalan ke arah Swara yang terbaring di ranjang. "Good night, Dear." ucapnya serak seraya mencium dahi Swara. Swara mengerjap-ngerjapkan mata. Lalu, matanya bertemu dengan bola mata milik Sanskar. "Baru sampai?" tanya Swara khas dengan suara bangun tidurnya. "Aku mengganggu tidurmu?" Swara menggeleng, lalu menyentuh wajah Sanskar. "Sanskar...." panggil Swara tertegun ketika menyentuh wajah Sanskar, lalu pergerakan tangannya turun ke tangan Sanskar. Sanskar tak menjawab, ia menutup matanya menahan rasa pusing. "Ka-kau panas sekali. Ayo, berbaring dulu." Swara menahan tubuh Sanskar yang hampir saja tumbang. Ia membetulkan letak tubuh Sanskar, lalu melepaskan sepatu dan arlojinya. "Kau mau kemana?" tanya Sanskar pelan saat Swara berjalan keluar. "Aku mau ambil air hangat dulu." Sanskar tidak menjawab. Saat ini yang ia rasakan pusing, panas, dingin, lelah, dan yang lainnya bercampur menjadi satu. ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ "Kau belum tidur." langkah Swara menuju lantai dua terhenti. Ia berbalik dan mendapatkan Sujata yang akan ke dapur dengan botol minum di genggamannya. "Iya, Ma. Swara tadi ke dapur hanya mengambil air hangat dan kain." ucap Swara. "Untuk apa?" tanya Sujata merasa bingung. "Swara mau mengompres Sanskar. Dia sakit." "Dia sakit?" Swara mengangguk. "Swara ke kamar dulu, ya, Ma." pamit Swara. "Iya, sayang. Kalau ada apa-apa bilang langsung sama Mama." "Iya, Ma." ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ Sampai di kamar, Swara meletakkan baskom yang ia bawa tadi di nakas. Swara mendudukkan dirinya di samping Sanskar yang sedang berbaring sambil memijat pelipis. "Pusing?" Sanskar tidak menjawab. Swara menjauhkan tangan Sanskar dari pelipisnya. Sekarang, ia yang memijat pelipis Sanskar. "Aku pijat, ya?" ucap Swara. Lagi-lagi Sanskar tidak menjawab. "Sanskar...." panggil Swara. Perlahan-lahan Sanskar membuka matanya, menatap sayu kepada Swara. "Aku pijat badannya." ulang Swara. Sanskar mengangguk kecil. "Bentar, aku ambil minyaknya dulu." Swara berjalan mengambil minyak khusus untuk pijat dari laci lemari. Setelah membuka kemeja putih Sanskar, Swara mulai memijat tubuhnya. Kehangatan menjulur di tubuh Sanskar saat Swara mulai memijatnya. 'Dia panas, tapi kenapa badannya dingin?' batin Swara bicara. "Sanskar...." panggil Swara kembali, namun tidak ada balasan lagi. 'Dia sudah tidur." gumam Swara. Setelah memijat badan, Swara beralih ke tangan, dan terakhir ke kaki. "Kakinya juga dingin." Selesai memijat, Swara membalikkan tubuh Sanskar dengan perlan. Swara memeras kain berwarna biru yang ia bawa tadi, lalu menempelkannya ke dahi Sanskar. "Tidur yang nyenyak." ucap Swara lirih menatap Sanskar yang sedang sakit. "Aku mencintaimu." lanjut Swara, lalu ikut berbaring di samping Sanskar dengan menekan sedikit kain kompresan. ┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻ Di tempat lain... "Bagaimana Dok keadaan putra saya?" tanya sang Ibu saat Dokter Ilham selesai memeriksa putranya. "Aku tidak apa-apa, Bu. Ibu tenaga saja." ucapnya parau. "Ibu bertanya dengan Dokter bukan dengan dirimu." "Aku juga Dokter." jawabnya tak mau kalah. "Kamu memang Dokter, tapi saat ini kamu menjadi pasien." ucap sang Ibu. "Ibu...." panggilnya kesal. "Sudah-sudah... Veer, kau sedang sakit, tapi masih saja bisa bertengkar dengan Ibumu." ucap sang Ayah. "Ibu yang duluan." jawabnya ketus. "Veer...." tegur sang istri lembut. "Urus suami mu ini. Lama-lama kalau Ibu bersama dirinya bisa gilak rasanya." ucapnya langsung pergi keluar dari kamar putra dan menantunya. Tapi sebelum itu, ia menyuruh cucunya masuk ke kamarnya. "Tapi Raj mau menemani Ayah disini." ucap sang cucu yang bernama Raj. "Raj, Ayahmu bisa ditemani Ibumu. Sekarang kamu masuk ke kamar." setelah mengatakan itu, ia benar-benar menghilang dari kamar. Putra yang akan memasuki 6 tahun itu menunduk. "Padahal Raj ingin menemani Ayah tidur." gumamnya pelan, namun masih terdengar ditelinga mereka. "Raj, ikutin perintah Nenek." ucap Veer. "Baiklah, selamat malam Ayah, Bunda, Kakek." ucapnya setelah mencium wajah sang Ayah. "Kamu mengucapkan selamat malam kepada kami bertiga, tapi ciumannya kepada Ayahmu saja." ucap sang Kakek cemberut seolah-olah tidak terima yang baru saja dilakukan cucunya itu... Raj. "Kakek sama Ibu bau." ucapnya tanpa dosa seraya keluar. Dokter berkepala 5 itu terkekeh mendengar jawaban dari Raj, lalu menyatatkan sebuah resep di kertas khusus untuk resep obat. "Ini sudah saya catat resepnya. Besok anda bisa menebusnya." Dokter Ilham memberikan kertas tersebut kepada Ayah Veer. "Terima kasih, Dok. Maaf, malam-malam merepotkan." "Saya, Dokter. Tentu saja saya harus siap siaga selama 24 jam. Pekerjaan saya bukan hanya di rumah sakit, tapi di rumah juga. Baiklah, saya pulang dulu." "Ayo saya antar!" ucap Ayah Veer. Di perjalanan menuju pintu luar, begitu banyak yang dibicarakan mereka berdua. Terutama tentang penyakit Veer. Ya, di depan Veer, Dokter Ilham hanya mengatakan bahwa ia kelelahan. Namun karena kelelahan itu penyakitnya kambuh lagi. "Mas, mau kemana?" tanya sang istri saat Veer turun dari ranjang. "Balkon. Di dalam panas." ucapnya seraya membuka pintu penghubung balkon. Di belakang sang istri mengikuti dirinya. "Jangan lama-lama... nanti tambah sakit." ucapnya seraya memeluk Veer dari belakang. Veer menarik tangan istrinya, lalu membawanya ke dalam pelukan. "Iya." 'Aku tidak mau jantung ini berhenti di saat aku merasakan kebahagiaan.' gumam istri tercintanya bernama Sanchi. 'Aku tahu kamu akan kuat Veer. Maaf, kalau kami berbohong padamu tentang ini. Ibu berjanji sebelum terjadi sesuatu kepadamu, ia akan memperkenalkan mu kepada keluarga kandungmu. Aku berharap Ibu akan menepati janjinya secepat mungkin.' batin Sanchi kembali berbicara. "Udah jam 10 malam lewat. Kita masuk. Aku tidak mau kamu tambah sakit." Veer mengangguk, lalu membawa Sanchi masuk bersamanya. (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) To Be Continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN