(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
Satu hal yang aku takutkan... kau tidak ada disampingku.
(CS - Cinta Swara)
:
:
:
Tepat di jam 03:30, Swara terbangun. Ia panik saat Sanskar mengatakan kedinginan. Segera Swara mengubah posisinya menjadi setengah berbaring.
"Sanskar...." Swara berusaha membangunkan Sanskar, namun hasilnya nihil.
"Dingin, Swara...." ucapnya pelan.
"Dingin?" Tangan Swara jatuh menyelusuri tubuh Sanskar.
"Sebentar, aku ambil kaos kaki dulu." tanpa ba-bi-bu lagi Swara langsung membuka lemari dengan tergesa untuk mencari sepasang kaos kaki.
Setelah dapat, Swara menggunakannya di kaki Sanskar. Swara mematikan AC, lalu menyelimuti Sanskar yang sudah dibalut kemeja tadi dengan selimut tebal.
Swara meraih tangan Sanskar, lalu mengusapnya pelan. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Jam masih menunjukkan pagi dini. Mana mungkin ia membangunkan yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, tidak ada lagi terdengar suara keluhan dari Sanskar. Kini Swara mengubah posisinya lagi menjadi berbaring.
Swara membawa Sanskar ke dalam pelukannya. Saat ini yang dipikirkan Swara hanyalah menghangatkan kembali suhu tubuh Sanskar.
"Swara, jangan." Sanskar memalingkan wajahnya saat Swara akanmencium dirinya.
"Makanya cepat sembuh. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini." sebulir air mata jatuh di pipi Sanskar.
Ya, itu milik Swara. Swara menagis melihat keadaan Sanskar yang seperti ini.
Sanskar yang sering memberikannya kehangatan, tapi sekarang malah dia yang membutuhkannya.
Sanskar yang sering memeluk dirinya di saat malam hari, tapi malah Swara yang melakukan itu saat ini.
"Kau mengkhawatirkan ku?" ucap Sanskar dengan nada rendah.
"Tentu! Bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkan mu, hiks?!" ucapnya tersedu-sedu.
"Beberapa jam yang lalu kau mengatakan hanya mengkhawatirkan Kavita." ucap Sanskar masih ingat dengan percakapan mereka.
Swara yang masih memeluk Sanskar langsung menurunkan pandangannya saat Sanskar mulai membuka matanya.
"Aku berbohong. Aku justru sangat mengkhawatirkan mu. Ini yang aku takutkan saat kau hanya mementingkan pekerjaanmu itu, hikshiks!"
Sanskar mengulurkan tangannya berniat menghapus air mata Swara. "Jangan menangis. Aku minta maaf." ujar Sanskar ikutan bersedih.
"Aku yang salah." ucap Swara yang mulai meredakan suara tangisannya.
"Sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu." lanjut Swara.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu."
"Sekali-kali aku yang akan menjagamu. Keesokan harinya dan seterusnya baru kau lagi. Kau harus berjanji kepadaku."
"Iya." Swara membawa lagi Sanskar ke dalam pelukannya.
"Tapi jangan dicium." Sanskar sedikit mengingatkan. Swara mengangguk. Dalam keadaan sakit seperti ini pun Sanskar masih mengkhawatirkan keadaan Swara.
Bersamaan dengan Sanskar yang sudah tertidur. Adzan subuh berkumandang. Swara segera beranjak dari tempat. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Selesai mengambil air wudhu, Swara langsung mengambil telekung dan sajadah lembut berwarna hijau muda.
Swara membentangkan sajadah tersebut di atas karpet senada dengan keramik, lalu memakai telekung nya.
Ayat demi ayat Swara baca. 2 ra'kaat pun dapat ia selesaikan dengan baik. Sebelum membaca doa, Swara menyempatkan dirinya untuk melihat Sanskar yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.
Di dalam doa, ia berharap suaminya cepat sembuh dan tak lupa berdoa untuk keluarga besarnya.
Setelah selesai, Swara kembali menaruh telekung dan sajadah nya di dalam lemari berkaca khusus untuk perlengkapan sholat.
Swara mendaratkan bokongnya di sebelah Sanskar. Swara membungkukkan sedikit tubuhnya berniat ingin mencium Sanskar, namun Sanskar memalingkan wajahnya lagi.
Sanskar membuka matanya pelan. Menatap Swara sembari menarik jemari-jemari lentik milik Swara. Telapak tangannya, ia arahkan ke arah dahi Swara.
Swara yang melihatnya tersenyum. "Kenapa bangun, heum?" tanya Swara berbisik tepat di depan wajah Sanskar.
"Seharusnya aku menemani mu sholat. Tapi lihatlah, sekarang aku berbaring di atas ranjang." balas Sanskar serak.
Swara menutup mulut Sanskar dan menggeleng pelan. "Memang hari ini kau tidak bisa menemani ku sholat. Tapi besok dan seterusnya kita akan sholat bareng lagi."
Sanskar menjauhkan telapak tangan Swara. "Bagaimana kalau aku akan berbaring terus?"
Swara menutup kembali mulut Sanskar. "Jangan katakan seperti itu. Aku tahu suamiku ini akan sembuh. Dia adalah pria yang kuat. Demi istrinya, ia akan sembuh."
"Aku mencintaimu." ucap Sanskar.
"Aku juga, sayang. Cepat sembuh, ya. Aku kesepian." Sanskar mengangguk kecil.
"Tidur lagi, ya. Aku mau siapkan makanan dulu sama yang lainnya." lanjut Swara.
Sanskar menutup matanya, lalu menggeleng pelan. "Aku tidak bisa tidur." ucap Sanskar jujur setelah membuka matanya kembali.
"Aku temani, sekarang pejamkan matamu." ucap Swara sambil membelai lembut rambut Sanskar.
Sanskar mulai memejamkan matanya dengan memeluk tangan lain Swara yang bebas.
Tidak lama kemudian, Swara bangkit dari tempatnya ketika sudah memastikan Sanskar benar-benar tertidur. "Tidur yang nyenyak, sayang. Cepat sembuh, aku khawatir."
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Sampai di bawah, Swara langsung berjalan menuju dapur. Terlihat Sujata yang sendirian sedang sibuk dengan perabotan masaknya.
Swara menyentuh bahu Sujata. Sujata yang merasa bahunya terasa berat pun langsung memalingkan pandangannya dari perabotan masak.
"Swara? Bagaimana keadaan Sanskar, sayang?" tanya Sujata.
"Sanskar sudah membaik, Ma. Tapi jam setengah empat tadi, ia sempat mengeluh kedinginan." jawab Swara mendadak sedih.
"Nanti bujuk Sanskar untuk berobat, ya, sayang." ucap Sujata.
"Insya'Allah, Ma. Sekarang apa yang bisa Swara bantu?"
"Kamu buatkan Sanskar bubur saja. Pasti lidahnya terasa pahit."
"Baiklah, Ma." Swara mulai sibuk dengan masakannya.
"Satu hal yang baru aku ketahui tentang Sanskar." Swara dan Sujata mengalihkan pandangannya ke arah pintu dapur.
Terlihat Kavita yang sedang memasuki dapur dengan sebuah kantong kresek berwarna putih bertulisan Alfamart.
"Dia itu kalau bekerja pasti lupa dunia." sambungnya kembali dan meletakkan kantong kresek tersebut di dekat wastafel.
"Mungkin dia jatuh sakit karena telat makan." sambung Kavita.
"Ya, namanya juga Sanskar. Dia memang keras kepala seperti Papanya." ucap Sujata mempelankan nada suaranya, lalu tersenyum.
Kavita tersenyum dan berbicara kembali. "Bahan-bahan yang tadi sudah Kavita beli. Semuanya ada di dalam kantong kresek." ucap Kavita kepada Sujata. Sedangkan Swara, ia kembali sibuk dengan buburnya.
"Baiklah, sekarang kamu aduk-aduk dulu sayurnya. Sementara itu, Bibik mau menyiapkan bumbu untuk dagingnya." ucap Sujata yang langsung dibalas anggukan dari Kavita.
"Mama." panggil Swara.
"Iya, Swara?" sahut Sujata tanpa menoleh.
"Ibu dan Ragini dimana?" tanya Swara.
Sebelum Sujata menjawab, Annapurna langsung menyahut. "Ibu ada disini Swara."
Swara tersenyum. Annapurna berjalan ke arah Sujata berniat membantu Adik iparnya.
"Dasar anak itu! Coba satu hari saja tidak keras kepala. Mungkin aku tidak akan berdebat samanya di pagi hari." dumel Ragini sembari masuk ke dapur.
"Ada apa lagi, hem?" tanya Annapurna seraya menatap Ragini sebentar.
"Biasa, Ma. Mama dan Anak kembali seperti Tom and Jerry." Parineeta masuk membawa kantong kresek yang berisi daging dan diikutin oleh Bik Ijum.
Hari ini mereka mau berpesta daging dulu.
"Sudah di duga." ucap Sujata ikutan mengelengkan kepala.
"Bagaimana Ragini tidak kesal? Pagi-pagi permintaannya sudah aneh. Minta inilah, minta itulah." balas Ragini dengan badmood.
Parineeta menyerahkan kantong kresek yang ia genggam tadi kepada Bik Ijum supaya dagingnya dicuci terdahulu.
"Kalian berdua memang selalu seperti itu. Anaknya keras kepala dan Mamanya juga." ucap Parineeta.
"Tapi, Kak. Sinta datang ke kamar Swara dan Sanskar. Pasti dia ingin mengganggu Sanskar." ucap Ragini merasa bersalah.
"Kau lupa Ragini?" tanya Swara.
"Lupa apa?" tanya Ragini balik.
"Bukankah setiap hari Sinta selalu mengganggu Sanskar." semuanya tersenyum tak terkecuali Ragini.
Ragini mengambil mangkuk yang disuruh Swara dari lemari khusus untuk perabotan masak, lalu memberikannya kepada Swara.
"Tapi Swara, Sanskar kan lagi sakit. Aku tidak mau Sinta membuat Sanskar tambah sakit."
"Sudahlah Ragini, apa salahnya ia melihat keadaan Ayahnya? Mungkin dia rindu. Kan akhir-akhir ini Sanskar selalu sibuk dengan pekerjaannya." ucap Swara mulai menuangkan bubur ayam yang sudah masak ke dalam mangkuk tadi.
"Swara benar. Untung aku masih ingat makan. Jadi aku tidak akan jatuh sakit seperti Sanskar." ucap Kavita.
"Ya, sekarang tubuh mu hampir seperti sapi." ucap Parineeta bercanda.
"Kak, kau menyamakan aku sama sapi? Kejam sekali kau." ucap Kavita pura-pura merajuk.
"Kakak bercanda Kavita. Jangan terlalu di masukkan ke hati." ucap Parineeta.
"Ya, aku tahu itu. Aku juga bercanda." ucap Kavita lalu tersenyum. Sedangkan yang lainnya lagi-lagi menggeleng kepala.
"Baiklah, sekarang buburnya sudah masak. Swara mau bawa buburnya ke kamar dulu." ucapnya langsung pergi dari dapur.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Di dalam kamar Swara dan Sanskar, Sinta sibuk berceloteh dengan Sanskar. Sedangkan Sanskar hanya tersenyum menanggapi celotehan Sinta. Sekali-kali Sanskar mengelus rambut Sinta dan mencubit pipi tembemnya dengan gemas.
"Ayah kapan sembuh? Sinta rindu Ayah. Sinta sedih kalau melihat Ayah seperti ini." ucap Sinta menundukkan kepala.
Sanskar membawa Sinta ke dalam pelukannya. "Ayah akan sembuh, sayang."
"Sanskar, aku membawa...." dengan berhentinya perkataan Swara, Sanskar dan Sinta langsung melepaskan pelukannya.
"Ternyata Sinta masih disini." ucap Swara sambil meletakkan nampan ke nakas sebelah kanan.
Sinta turun dari ranjang, lalu memakai sandal bulunya yang berwarna hitam. "Sinta juga mau keluar, Bu."
"Kenapa cepat sekali, sayang?"
"Sinta mau siap-siap dulu. Nanti takut terlambat sekolah." ucap Sinta langsung keluar.
"Sinta pasti sedih melihat keadaanmu seperti ini dan sekarang...," Swara mengambil mangkuk berisi bubur ayam lalu mendudukkan dirinya di hadapan Sanskar.
"...suamiku ini harus sarapan yang banyak setelah itu berobat agar dia cepat sembuh." ucap Swara mencolek bubur ayam dengan sendok.
"Aku tidak mau."
"Kau tidak mau sembuh, heum?"
"Bu-bukan begitu. Maksudku aku tidak mau makan. Pasti rasanya pahit."
"Tidak, karena aku sudah memasaknya dengan cinta." ucap Swara menampakkan deretan gigi putihnya.
"Kau belajar menggombal dari mana?"
"Aku belajar dari suamiku ini." Swara mencubit pipi kanan Sanskar.
"Swara...." Sanskar melepaskan tangan Swara.
"Ayolah makan." bujuk Swara, sedangkan Sanskar bersikeras mengatakan tidak.
"Sanskar, please...." bujuk Swara minta tolong.
Sanskar menggeleng. "Kau bahagia melihat kami khawatir kepadamu, heum?" tanya Swara kesal.
Sanskar menggeleng kembali. "Lalu? Apa susahnya makan sedikit saja? Aku tidak mau kau tambah sakit karena belum makan."
"Tapi lihat buburnya saja rasanya aku ingin muntah, apalagi kalau memakannya." ucap Sanskar jujur.
"Rasa sedikit saja." ucap Swara yang masih setia membujuk Sanskar.
"Percuma kalau nantinya muntah juga Swara."
"Sanskar, please. Aku mohon." ucap Swara memelas.
Dengan sangat-sangat terpaksa, ia mengangguk. "Tapi sedikit saja."
Swara mengangguk, lalu mulai menyuapi Sanskar. Sedangkan Sanskar berusaha menahan dirinya agar tidak memuntahkan bubur ayam yang sedang ia kunyah.
Swara tersenyum dan menyuapi Sanskar lagi. Tapi saat suapan kelima, Sanskar langsung berlari ke kamar mandi. Dapat Swara dengar dari luar kamar mandi Sanskar sedang muntah.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
To Be Continued...