(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
Jangan membuat diriku khawatir. Cukup yang semalam saja.
(CS - Cinta Swara)
:
:
:
"Sanskar, ada apa?" Swara membantu Sanskar untuk memijat tengkuknya.
"Keluarlah. Aku tidak apa-apa."
"Tidak. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan mu sendirian? Bagaimana kalau kau jatuh nanti?"
"Swara, aku tidak mau kau melihatku begini. Nanti kalau ikutan muntah bagaimana?"
"Tidak Sanskar." Swara masih memijat tengkuk Sanskar.
Setelah ia merasa membaik, Sanskar langsung mencuci mulutnya dan membersihkannya menggunakan tisu di dekat cermin wastafel.
Tapi saat ini, pusing kembali menyerang dirinya. Tidak tahan dengan semua ini, Sanskar langsung menumpu lengannya di wastafel dan meletakkan kepala di atas tumpuan tangan.
Swara yang melihat itu merasa bersalah kepada Sanskar. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Maaf." ucap Swara berbisik lirih kepada Sanskar.
Namun yang Swara dapatkan bukanlah balasan dari Sanskar, tapi keheningan. "Sanskar." panggil Swara berbisik lagi.
"Sanskar, hey!" Swara memanggil Sanskar, namun lagi-lagi tidak ada jawaban.
Swara menarik lengan Sanskar. "Sanskar, hiks! Bangun, Sanskar!" ucap Swara terisak sambil memangku kepala Sanskar.
"I-IBU, MAMA, PAPA, AYAH, LAKSHYA, KAK ADARSH, hikshikshiks!" panggil Swara histeris.
"Sayang, bangunlah! Maafkan aku, hiks!"
"Swara ad-Sanskar! Swara, Sanskar kenapa, Nak?" ucap Sujata terbata-bata.
"Ma, hiks."
"Lakshya, Adarsh bawa Sanskar keluar." ucap Durga.
"Baik, Pa." ucap mereka bersamaan, lalu membopong Sanskar sampai ranjang.
"Ram, telepon Dokter Risky." ucap Durga kembali.
"Baik, Kak." Ram segera meraih ponselnya yang berada di saku celana.
"Swara, kenapa Sanskar bisa seperti ini?" tanya Sujata dengan lirih.
"Ma, tadi Swara membujuk Sanskar untuk sarapan. Tapi di-disaat suapan kelima Sanskar berlari ke kamar mandi langsung memuntahkan semuanya. I-ini, hiks! Inih semua salah Swara. Ka-kalau Swara tidak memaksa Sanskar untuk sarapan pasti ini semua tidak akan terjadi." jelas Swara tersendat-sendat.
Annapurna mengelus rambut Swara yang ada di hadapannya dengan posisi Swara duduk membelakangi dirinya.
"Ma, maafkan Swara, hikshiks!" ucap Swara lalu menunduk.
Sujata tidak dapat berkata. Ia melakukan hal yang sama seperti Kakak ipar perempuannya kepada Swara. "Sanskar akan baik-baik saja, sayang. Tenanglah."
Bersamaan dengan perkataan Sujata, Dokter Risky datang. Segera Sujata dan Swara menyingkir dari ranjang. Sedangkan Dokter Risky mulai memeriksa keadaan Sanskar.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Di dalam kamar, Swara masih setia menunggu Sanskar sadar dengan seorang diri. Beberapa menit yang lalu, Dokter Risky mengatakan kalau Sanskar terkena sakit typus.
Sungguh, ia merasa bersalah karena tidak bisa mengatur jadwal makan suaminya sendiri.
Sanskar terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai ia lupa hanya untuk makan saja. Sedangkan Swara, apa yang dia lakukan di rumah? Hanya bisa bertanya apakah suaminya itu sudah makan apa belum melalui telepon saja.
"Maaf, kalau aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Bangunlah, aku mohon." ucap Swara sangat merasa bersalah.
Tangan Swara bermain di rambut Sanskar yang masih memejamkan matanya. "Aku senang melihatmu tidur nyenyak seperti ini. Semalam suamiku ini tidak bisa tidur karena merasakan panas dan dingin. Sekarang lihatlah tidurnya nyenyak sekali. Tapi aku merasa kesepian, sayang. Bangunlah."
"Swara...." itu bukan suara milik Sanskar, tapi Lakshya. Lakshya masuk dengan sebuah kantong kresek berwarna hitam yang berisi obat-obatan milik Sanskar.
Tadi Dokter Risky menulis resep obat-obatan yang harus Sanskar konsumsi dalam satu minggu. Dari obat pereda rasa mual, pusing, demam, dan penambah daya tahan tubuh atau vitamin.
"Sanskar belum sadar juga?" tanya Lakshya, Swara menggeleng masih menatap Sanskar.
Lakshya tersenyum menyentuh rambut Sanskar, lalu Swara. "Tenanglah, dia sebentar lagi akan sadar."
Ucap Lakshya menenangkan Swara. "Iya." jawab Swara pelan.
"Baiklah, aku pergi dulu. Sinta tadi menelepon ku supaya menjemput dirinya." ucap Lakshya langsung pergi.
Tapi baru sampai diambang pintu, Swara langsung memanggil Lakshya kembali. "Ya, Swara?" tanya Lakshya setelah berbalik badan.
"Terima kasih, Laksh."
Lakshya tersenyum. "Sama-sama." lalu pergi menjauh.
Setelah keluarnya Lakshya dari kamar, Swara melihat Sanskar yang mulai membuka matanya lambat. Swara tersenyum saat bola mata hitam pekat itu menatap dirinya. "Kau ingin duduk, heum?"
Sanskar mengangguk pelan. "Aku bantu. Ayo!" Swara membantu Sanskar untuk bangun dari tempat.
Setelah berhasil, Swara membenarkan letak posisi bantal yang akan digunakan Sanskar. Sedangkan Sanskar perlahan-lahan menyender ke bantal dan menatap langit kamar.
Swara mengelus pipi Sanskar, lalu mengecupnya singkat. "Swara, apa yang kau lakukan?"
"Sanskar, penyakit datang dari sang pencipta, bukan dari seseorang yang sedang sakit." ucap Swara.
Sanskar tersenyum. "Makan obat, ya." bujuk Swara.
Sanskar hanya mengangguk.
Swara segera menuangkan air minum dan membuka satu-persatu obat Sanskar.
Saat sudah ada obatnya satu macam-satu macam, Swara menyerahkannya langsung kepada Sanskar. Sanskar memakannya sekaligus. Lalu sebagai penutupnya, ia minum.
"Sinta belum pulang?" tanya Sanskar setelah memberikan gelas tadi ke Swara.
"Laksh lagi menjemput Sinta." jawab Swara.
Sanskar ber-oh, lalu turun dari ranjang. Swara yang melihat itu langsung menarik tangan Sanskar. "Kau mau kemana?"
"Aku mau ganti baju."
"Untuk apa?"
"Swara, ayolah, aku mau ke kantor." jawab Sanskar santai seakan-akan tidak terjadi sesuatu padanya.
Swara terbelalak mendengar jawaban dari Sanskar. Ia berdiri, lalu berkata. "Hey, Tuan! Kau belum sembuh. Kau tidak lihat betapa cemasnya aku semalam melihat keadaan mu? Tapi lihatlah sekarang, kau dengan santainya mengatakan ingin pergi ke kantor? Kau...." ucap Swara tertahan menahan rasa kesalnya.
"Pergilah kalau kau mau dan jangan bicara sama ku lagi." ucap Swara pasrah, lalu pergi dari hadapan Sanskar.
"Swara, bu-bukan itu maksudku. Hey, Swara!" Sanskar mengejar Swara ke bawah.
"Tidak, kau pergi saja sana. Kau tidak peduli padaku dan kenapa aku harus peduli padamu, ha?!" jawab Swara menuruni tangga tanpa menoleh ke Sanskar yang masih mengejarnya.
"Swara, aku minta maaf, sayang." Sanskar masih mengejar Swara. Sampai di bawah suara Sujata menghentikan langkah keduanya.
"Swara, Sanskar. Ada apa ini?" tanya Sujata mengalihkan pandangannya dari majalah.
Swara duduk di sebelah Sujata dengan wajah kesal. "Mama, beri tahu sama putramu itu. Kalau dia mau pergi ke kantor biarkan saja. Aku tidak peduli." ucap Swara langsung kepada Sujata. Jelas-jelas Sanskar ada disana.
Sujata tersenyum. "Hem, kenapa kau tidak mengatakannya langsung pada putraku itu? Dia ada disini, sayang."
Sanskar mendaratkan dirinya di sofa single. "Aku tidak ingin berbicara padanya." jawab Swara ketus seraya menghidupkan layar lebar yang ada di hadapan mereka berdua.
"Hem, baiklah." Sujata mengalihkan pandangannya pada Sanskar. "Sanskar, kau mendengar perkataan Swara kan?" Sujata tersenyum, lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Ma...." ujar Sanskar sebal.
Sujata tertawa kecil, lalu bangkit. "Sudah-sudah. Mama mau ke kamar dulu. Kalian selesaikan masalah ini dengan kepala dingin, oke?"
Sanskar tersenyum, sedangkan Swara tetap fokus ke layar lebar di hadapannya. Sanskar bangkit, lalu duduk di samping Swara. Sanskar menggenggam jari-jari lentik Swara dan menciumnya. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir seperti semalam."
Swara tidak menjawab, Sanskar membawa istrinya ke dalam pelukannya. "Jawab dong. Aku berbicara sama mu, Swara." lirih Sanskar.
"Aku tidak ingin berbicara padamu." Swara menarik dirinya dari pelukan Sanskar.
Sanskar menatap Swara dengan tatapan tidak bisa diartikan, sedangkan Swara mengotak-atik channel TV. Entah apa yang ia cari di dalam layar lebar tersebut.
Hatinya panas saat mengatakan tidak peduli dan tidak ingin. Istri mana yang sanggup mengatakan kata-kata itu pada suaminya? Namum kekhwatiran dirinya seakan-akan diabaikan begitu saja dari suaminya.
Sanskar meraih kepala Swara, lalu mencium dalam dahi Swara. Sanskar bangkit dari tempat dan berjalan menuju lantai 2 meninggalkan Swara yang masih fokus ke layar lebar.
Tapi sebelum naik ke atas, Sanskar berbicara. "Bik, buatkan saya kopi hitam!" ucapnya langsung pergi.
Bik Ijum yang ada di dapur pun langsung menjawab. "Iya, Den!"
Swara menatap punggung Sanskar yang semakin jauh. Lalu berdiri, berjalan menuju dapur.
"Biar saya saja, Bik." Swara langsung mengambil alih perabotan dapur. Bik Ijum tersenyum.
"Baiklah, Neng. Bibik mau ke belakang dulu." pamit Bik Ijum dan langsung diangguki oleh Swara.
Tak lama kemudian, kopi yang dibuat Swara sudah siap disajikan. Segera Swara membawa kopi hitam itu ke kamar.
Sampai di kamar, Swara langsung meletakkan gelas yang ia bawa tadi ke meja dekat sofa. Lalu mengedarkan pandangannya ke sudut-sudut kamar mencari Sanskar.
Selang beberapa detik, Sanskar masuk melalui pintu jendela balkon. "Kau akan pergi ke kantor?"
Sanskar menggeleng. "Aku tadi menyuruh Pak Dedi membawakan berkas-berkas yang akan ku tanda tangani. Bisakah kau mengambilnya setelah Pak Dedi datang?"
"Aku akan mengambilnya. Itu kopi hitamnya ada di meja. Bik Ijum yang buat." ucap Swara berbohong langsung menghilang dari kamar.
Sanskar berjalan menuju sofa dekat pintu masuk. Setelah mendaratkan dirinya di sofa, ia langsung meraih gelas kecil itu lalu menyeruput kopi yang kata Swara dibuat oleh Bik Ijum.
"Enak, ya, kopi buatan Bik Ijum." ucap Sanskar berlagak tidak tahu.
Swara yang baru saja meletakkan berkas ke meja langsung mendongakkan wajahnya saat Sanskar berbicara. "Oho, Tuan! Kau tidak tahu kalau kopi yang sedang kau minum itu buatan istrimu sendiri?"
Sanskar meletakkan gelas kecil itu ke meja, lalu menatap Swara yang masih berdiri dihadapannya "Benarkah? Tapi, bukankah kau tadi mengatakan kopi ini dibuat oleh Bik Ijum?" tanya Sanskar.
"Ya... Ya, karena aku masih kesal padamu! Sudahlah, aku malas berbicara padamu." ucap Swara pelan, lalu memutar tubuhnya.
Sebelum Swara melangkah, Sanskar langsung menarik salah satu tangan Swara dan Swara jatuh ke pangkuan Sanskar.
"Kau tidak ingin memaafkan ku, hem?" tanya Sanskar setengah berbisik kepada Swara.
Swara menggeleng pelan. "Lalu?" tanya Sanskar seraya menarik Swara lebih dalam.
"Sanskar, ko-kopinya Bik I-ijum yang...."
"Sttt, diamlah. Aku tahu itu buatanmu. Permasalahan nya sekarang adalah kau tidak ingin memaafkanku." ucap Sanskar dengan jari telunjuk yang berada di bibir Swara.
Swara menjauhkan jari Sanskar. "Tidak, aku sudah memaafkanmu. Sekarang lepaskan tanganku yang sebelahnya."
Sanskar tersenyum, lalu melepaskan tangan Swara. Segera Swara memeluk leher Sanskar. "Aku hanya tidak ingin melihatmu sakit seperti semalam." ucap Swara memejamkan mata sambil mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu khawatir." ucap Sanskar membalas pelukan Swara.
"Iya."
"Iya, apa?"
"Iya, jangan meminta maaf terus. Itu tidak baik." Swara membuka matanya, lalu mencium leher Sanskar.
Sanskar tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"Aku akan terus meminta maaf kalau itu salah." ucap Sanskar.
Swara tersenyum, lalu menempelkan kedua dahi mereka. "Kau masih hangat. Jangan lama-lama bekerja. Itu tidak sehat untukmu." ucap Swara menatap Sanskar dari kedekatan.
"Baiklah, Nyonya istriku." ucap Sanskar seraya tersenyum, sedangkan Swara berpindah di sebelah Sanskar yang akan mulai berkutat dengan pekerjaannya.
Swara menopangkan dagunya di kedua tangan yang menumpu. Saat ini, ia menatap wajah serius Sanskar. "Aku jadi kepengen menjadi sekretaris mu. Apa, ya, namanya. Hem...."
Sanskar menatap Swara yang sedang berpikir. Menggemaskan. Gumam Sanskar di hati.
"My Husband Is My CEO." ujar Swara tersenyum sembari menopang dagunya lagi.
"Kau mau mengantikan posisi sahabatmu, hm?" tanya Sanskar mulai kembali menatap pekerjaannya.
"Tidak, sih. Tapi kalau dia tidak bisa menjaga kesehatan suamiku akan ku pecat dia." ucap Swara bercanda dan tertawa kecil.
"Kau ini." Sanskar mengelengkan kepala.
Swara baru sadar sesuatu. "Kau belum mengganti bajumu."
"Tadi siapa, ya, yang langsung pergi sambil marah-marah?" tanya Sanskar sedikit menyindir.
"Sanskar, jangan dibahas lagi." ucap Swara kesal mencubit kecil pinggang Sanskar.
"Tunggu, aku akan mengambil kemejanya dulu." ucap Swara dan berjalan ke lemari.
Swara menutup kembali pintu lemarinya, lalu berjalan ke tempat Sanskar. "Berdirilah sebentar." pinta Swara seraya menarik tangan Sanskar untuk berdiri.
Sesudah Sanskar berdiri, Swara langsung membuka kancing kemeja yang semalam di pakai Sanskar. Lalu kemeja yang baru saja diambil langsung ia pakaikan ke tubuh Sanskar.
"Sudah selesai." ucap Swara tersenyum.
"Terima kasih, Nyonya istriku." ucap Sanskar ikutan tersenyum.
"Sama-sama, Tuan suamiku. Baiklah, aku mau ke bawah dulu. Nanti saat aku kembali lagi, kau harus sudah selesai dengan pekerjaanmu itu. Aku tidak mau tahu." ucap Swara langsung keluar dari kamar.
"Aku belum bertanya jam berapa dia akan masuk ke kamar lagi." ucap Sanskar.
(ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ)
To Be Continued...