(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
"Papa, jangan pulang dulu. Kita mampir ke toko itu, ya." ucap Sinta sembari menunjuk sebuah toko perlengkapan pakaian dan lain-lain.
"Toko?" tanya Lakshya merasa bingung.
Sinta mengangguk. "Iya, papa."
"Untuk apa?" tanya Lakshya kembali.
Sinta kesal dengan Lakshya. Lakshya ini benar-benar tidak peka! "Menumpang mandi." jawabnya asal.
Lakshya melotot tidak mengerti. "Ha? Menumpang mandi? Sinta yang benar saja? Di rumah kita banyak kamar mandi. Lagian untuk apa kamu mandi di siang hari seperti ini?" ucap Lakshya dengan kebingungan.
Sinta menepuk dahinya sendiri. "Capai, deh! Kenapa Mama harus menikah dengan Papa?" gumamnya pelan.
"Sinta mengatakan sesuatu?"
"Papa, ayolah, kalau kita pergi ke toko berarti ingin berbelanja kan." ucap Sinta dengan wajah kesal.
"Iya, Papa tahu."
"Udah tahu tapi ditanya lagi. Capai deh punya Papa seperti ini. Dasar papaku yang loadingnya lama." lagi-lagi Sinta hanya bisa menggerutu.
"Sinta mengatakan sesuatu?"
"Ti...."
"Jangan katakan kalau Sinta sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Papa dengar lho dari tadi kamu mengumpat tentang Papa."
Sinta cengengesan, lalu mengubah mimiknya menjadi datar.
"Ish, bicara sama papa ribet, ya. Udahlah, Sinta mau belanja sendirian aja." ucapnya langsung membuka pintu mobil.
"Iya, sayang. Papa tadi cuma bercanda. Sekarang papa mau tanya untuk terakhir kalinya. Nanti kamu mau membayarnya pakai apa, hem?"
"Uang lah, Papa. Masa pakai daun, sih." ucapnya menggerutu kembali. Lakshya ini memang benar-benar loading lama. Tapi Sinta sayang.
"Memang Sinta punya uang?"
"Punya, ini." ucapnya sembari menunjukkan sebuah kartu sembari tersenyum.
Lakshya terbelalak. "Hey, dari mana kamu mendapatkan itu?!"
"Mama. Sinta mendapatkan ini saat mama lupa memasukkan kartu ini ke dalam dompetnya." ucap Sinta tanpa dosa.
"Pintar sekali." Lakshya mendorong dahi Sinta.
"Iya, Sinta memang pintar. Tidak loading lama seperti Papa."
"Sinta mengatakan Papa loading lama?"
"Tidak, Sinta tadi bilang Papa ganteng. Nah, karena Sinta sudah bilang Papa ganteng. Jadi mau tidak mau Papa harus menemani Sinta berbelanja. Titik! Tidak ada penolakan." Sinta langsung keluar dari mobil, sedangkan Lakshya termenung di dalam mobil.
Lakshya berpikir Siapa yang sudah mengajarkan putrinya itu sampai seperti ini?
"Papa, ayo!" teriak Sinta kesal di balik kaca.
"Oh, Lakshya! Habislah riwayat mu!" Lakshya tersadar, lalu menghampiri Sinta.
Di dalam toko.
Lakshya mengikuti Sinta dari belakang seperti seorang bodyguard. Sudah hampir setengah jam mereka ada di toko itu, tapi Sinta hanya bolak-balik kesana-sini dan belum ada yang dibeli juga.
Lakshya melirik arlojinya. Pukul 13:45. "Sinta, ada yang mau dibeli tidak?" tanya Lakshya menahan kesal.
"Ada, Papa. Tapi Sinta bingung mau beli apa." ucapnya lesuh.
"Sinta lebih baik belanjanya nanti saja bersama Mama."
"Tidak! Bagaimana kalau Mama tahu kartu ATM-nya ada bersama Sinta?"
"Ya, kamu jelasin seperti kamu menjelaskannya tadi dengan Papa."
"Papa, ish! Dari pada Papa banyak bicara lebih bagus bantu Sinta memilih arloji."
"Arloji untuk siapa?"
"Ayah. Ayo, Pa!" Sinta langsung menarik tangan Lakshya.
"Ayah aja nih." ucap Lakshya sedikit menyindir.
"Tidak! Papa juga ada kok. Tapi nanti dulu setelah kita sudah membeli arloji untuk Ayah." ucapnya saat sudah ada di deretan arloji.
"Menurut Papa ini bagus tidak?" tanya Sinta langsung menatap Lakshya.
"Bagus."
"Sinta mau arloji yang itu?" tanya Lakshya.
Sinta mengangguk, lalu Lakshya langsung menyuruh kasirnya untuk dibungkus.
Setelah membayar, Lakshya bertanya kembali dengan Sinta. "Mau beli apa lagi?"
Sinta menunjuk ke deretan baju kaos khusus untuk laki-laki.
"Sinta mau beli baju koko untuk, Ayah, Papa dan Uncle Adarsh." ucap Sinta antusias.
"Memang Sinta tahu ukuran baju Ayah dan Uncle Adarsh?" tanya Lakshya.
Sinta mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya dari kantong rok sekolahnya.
"Papa, ayo sejajar kan tinggi kita."
"Hem, baiklah." Lakshya pun langsung menyamakan tinggi mereka.
"Ini, Papa harus mendengarkannya baik-baik, oke."
Lakshya mengangguk, lalu mendengarkan suara yang baru saja diputar Sinta dari ponsel.
"Kapan kamu belajar menguping?" tanya Lakshya setelah mendengarkan pembicaraan para wanita yang ada di rumah dari ponsel Sinta.
"Tidak. Sinta juga tidak sengaja mendengarnya."
"Anak pintar! Ayo, Papa akan memilih baju kokonya!"
"Tapi warna bajunya biru toska, ya, Pa! Sinta mau bajunya couple!" ucap Sinta yang langsung dibalas iya oleh Lakshya.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Di kediaman Hadiwijaya.
"Ragini, kau sedang mencari apa?" tanya Swara saat berada di dalam kamar Ragini dan Lakshya.
"Swara, apakah kau lihat kartu ATM ku?" tanya Ragini yang masih fokus mencari kartu tersebut.
"Tidak, memangnya di mana kau menaruhnya?"
"Aku menaruhnya di nakas. Tapi, sekarang tidak ada lagi. Aku takut nanti Lakshya marah padaku kalau kartu itu hilang."
"Akan aku bantu cari. Lagian di sini mana mungkin ada yang mengambilnya." ucap Swara langsung membantu Ragini mencari kartu ATM-nya di sebelah kanan.
"Ya, kau benar Swara."
"Aku sudah mencarinya di sebelah kanan. Tapi tidak ada juga. Mungkin ada orang jahil yang mengambilnya. Atau tidak kau bisa menanyakan langsung ke yang lain." ucap Swara beberapa saat.
"Aku akan mencarinya di bawah." ucap Ragini kepada Swara.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Pada pukul 14:25 Lakshya dan Sinta sampai di rumah. Tapi sebelum pulang ke rumah tadi. Mereka sempat mampir makan siang bersama di luar.
Sampai di rumah, Ragini langsung bertanya kepada Sinta dan Lakshya yang baru saja pulang.
"Ada bersama Papa." jawab Sinta.
"Laksh, kau...." tunjuk Ragini tertahan.
"Bu-bukan aku." jawab Lakshya gugup.
"Kalau bukan kau, jadi siapa lagi?" tanya Ragini marah.
"Ma, tadi Papa memaksa Sinta untuk berbelanja." ucap Sinta. Lakshya yang mendengar itu langsung melotot. Bagaimana mungkin putrinya itu pandai membalikkan fakta?
"Lihat ini, Ma." Sinta menunjukkan dua kantong belanjaannya.
"Tadi Sinta langsung meminta pulang. Tapi papa menawarkan Sinta kalau Sinta boleh membeli apa pun. Mama kan tahu kalau Sinta tidak bisa menolak. Apa lagi menolak perkataan orang tua." celetuk Sinta.
"Putrimu ini sedang berbohong, Ragini. Aku sama sekali tidak memaksanya. Bahkan tadi dia yang...."
"Mama hukum saja Papa. Sinta mau ke atas dulu." ucapnya langsung naik ke lantai dua.
"Sinta, kamu...."
Lakshya yang tadi ingin mengejar Sinta langsung dihentikan Ragini. "Heh! Jalan 1 langkah akan ku patahkan kakimu itu!" ucap Ragini mengancam.
Lakshya langsung mengumpat di dalam hati. Ini yang dia takutkan. Putrinya itu memang pintar sekali. Pintar berbohong. Entah siapa yang sudah mengajarkannya sejauh ini.
"Ayo, ikut aku." Ragini menggeret Lakshya dengan menarik telinganya sampai di kamar.
"Ragini, kau jahat sekali. Aku jujur, bukan aku yang mengambil kartumu itu." ucap Lakshya menahan tangan Ragini yang sedang menarik telinganya.
"Diamlah atau akan ku tarik telingamu lebih kuat lagi?!"
'Ish, ini semua gara-gara Sinta. Awas kau Sinta. Tidak. Ini semua salahku. Kenapa aku membiarkannya tadi pakai ATM punya Ragini? Dasar Lakshya bodoh!' umpat Lakshya kesal bercampur sedih.
'Untung kartu ATM-nya bersama Lakshya. Kalau tidak, aku yang akan ada di posisi Lakshya. Pasti sakit sekali kalau dijewer.' Ragini masih menarik telinga Lakshya.
'I'm sorry, Daddy. Salah Papa kenapa kartunya Papa simpan di dompet. Kalau kartunya tidak bersama Papa kan Sinta tidak akan berbohong. Tidak! Sinta akan tetap berbohong kalau kartu ATM-nya bersama Sinta. Papa kan tahu betapa galaknya Mama saat marah. Mama itu ibarat singa yang sedang tidur diganggu oleh tikus.' ucap Sinta di balik dinding merasa kasihan melihat papanya itu.
'Sabar, ya, Tuan.' batin para pembantu yang sedang menonton.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Di dalam kamar, Sanskar langsung menutup laptopnya saat pintu kamar terbuka. Ia menghela napas lega saat Sinta lah yang membuka pintu tersebut.
"Ayah...." Sinta langsung menghambur ke pelukan Sanskar.
"Ayah, lihat ini. Sinta membelikan hadiah untuk Ayah." ucapnya antusias langsung membuka kantong belanjaan tadi.
"Arloji dan baju. Ayah suka kan." ucap Sinta.
Sanskar berdehem, lalu mengangguk. "Sinta membayarnya pakai uang siapa?"
"Pakai ATM, Mama. Mama yang beri tadi."
"Berarti bukan hadiah dari Sinta dong."
"Kok begitu?"
"Karena ini semua bayarnya pakai uang Mama. Bukan pakai uang Sinta."
"Tapi kan yang beli Sinta."
"Sayang, tapi tetap saja itu hadiah dari Mama."
"Ayah tidak suka ya sama semua hadiahnya. Makanya Ayah mengatakan seperti itu." ucap Sinta cemberut.
Sanskar membawa Sinta ke dalam pangkuannya. "Tidak sama sekali, sayang. Bahkan Ayah sangat menyukainya. Apa lagi warna bajunya adalah warna kesukaan Ayah."
Sinta mendongak. "Lalu? Kenapa Ayah mengatakan kalau itu semua dari Mama? Kan Sinta yang beli walaupun pakai uang Mama."
"Ini benar Mama yang beri uangnya atau Sinta-"
"Sebenarnya, Sinta melihat kartu ATM mama yang tergeletak di atas nakas. Sinta berpikir ingin membelikan Ayah hadiah. Tapi Sinta tidak punya uang. Jadi, saat Mama ke kamar mandi dan Papa tidak ada di kamar. Sinta langsung menyimpannya di dalam tas sekolah." jelas Sinta pelan.
"Hem." Sanskar manggut-manggut mengerti. "Sinta udah berapa kali berbohong dalam satu hari ini?"
Sinta menunduk. "Sinta tidak ingat Ayah. Bahkan Sinta sampai menuduh Papa kalau Papa yang mengambil kartu ATM-nya Mama."
"Sayang, Ayah senang Sinta kasih hadiah. Tapi kalau berbohong dan itu benar-benar tidak dari kamu, Ayah sedih." ucap Sanskar menarik dagu Sinta perlahan.
"Maaf Ayah, hiks!" ucap Sinta tersendat-sendat langsung menghambur ke pelukan Sanskar.
Sanskar menenangkan Sinta. Setelah Sinta merasa tenang, Sanskar melepaskan pelukannya. "Minta maaf sana." ucap Sanskar mengusap pipi Sinta.
Sinta mengangguk. "Sinta janji tidak akan berbohong lagi. Tapi Ayah mau kan menerima hadiah dari Sinta. Ups, Mama maksudnya."
Sanskar tersenyum begitu juga Sinta. "Iya. Terima kasih karena Sinta sudah membelinya." ucap Sanskar.
"Sama-sama, Ayah. Sinta sayang Ayah." ucapnya lalu mencium pipi sang Ayah.
"Ayah juga, sayang." Sanskar membalas Sinta dengan mengacak rambutnya.
"Baiklah, Sinta mau minta maaf dulu sama Mama dan Papa." ucap Sinta yang langsung dibalas Sanskar dengan senyuman.
(ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ)
To Be Continued...