(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
"Suamiku ini memang sudah cocok menjadi seorang Ayah." ucap Swara tersenyum menginjakkan kaki di kamar.
"Swara, kapan kau ada di sini?" tanya Sanskar gelagapan. Pasalnya saat ini, ia belum juga menyelesaikan pekerjaannya.
"Sejak tadi. Saat Sinta ada di kamar." jawab Swara sembari mendaratkan bokongnya di sebelah Sanskar.
"Berarti kau...."
"Ya, aku tahu semua. Aku ingin marah saat kau masih mengerjakan pekerjaan mu itu. Tapi saat kau mulai menasehati Sinta. Tiba-tiba saja aku berubah pikiran. Sekarang aku mau kau harus menyimpan semua berkas-berkas itu dan laptopnya." ucap Swara memerintah.
"Tapi pekerjaan...."
"Hei, Tuan! Kau ingin berpacaran terus dengan pekerjaanmu itu?!"
"Baiklah, aku akan menyimpan semuanya. Tunggu sebentar." Sanskar meletakkan berkas dan laptopnya di lemari yang khusus untuk peralatan pekerjaan dirinya.
"Kau lupa makan obatmu." ucap Swara setelah menghitung sisa obat Sanskar dan jumlahnya masih tetap sama yang terakhir kali ia beri ke Sanskar tadi.
Sanskar yang baru saja menutup pintu lemari langsung menoleh ke Swara. "Maaf. Aku...."
"Itulah yang tidak aku sukai darimu, Sanskar. Kau boleh bekerja sepuasmu, tapi harus tetap menjaga kesehatan. Kalau begini, kapan kau akan sembuh?" ucap Swara lesu.
Sanskar menarik kepala Swara dan langsung menyatukan kedua dahi mereka. "Maaf."
"Sudahlah, aku akan membuka bungkus obatnya dulu." Swara duduk di ranjang, lalu membuka bungkus obat Sanskar satu-persatu.
Sanskar mendudukkan dirinya di sebelah Swara dan menerima obat yang diberikan Swara.
"Kau tidak marah kan?" ucap Sanskar setelah selesai menelan obatnya dengan bantuan air minum.
Swara menggeleng, lalu menjatuhkan dirinya di ranjang. Begitu juga dengan Sanskar yang menatap Swara dengan dalam. Swara tersenyum dan menyentuh rambut Sanskar lalu mengacaknya dengan gemas.
"Kalau aku tidak sedang sakit. Sudah habis kau Swara." ucap Sanskar terkekeh.
"Benarkah?" tanya Swara menantang.
"Hem."
"Sini." ajak Swara menyuruh Sanskar lebih dekat kepadanya.
Sanskar mendekat, lalu pandangannya jatuh ke perut datar Swara. Tangan Sanskar bergerak menyentuh perut Swara.
"Kapan dia hadir?"
"Bersabarlah, sayang. Kita hanya perlu berdo'a dan berdo'a." ucap Swara mencium rambut Sanskar.
Sanskar tertidur dengan tangan yang masih ada di atas perut rata Swara. Sedangkan Swara, membawa Sanskar lebih dalam ke pelukannya.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Seperti biasa saat jam menunjukkan pukul 19:30. Keluarga Hadiwijaya melaksanakan rutinitas makan malam bersama.
Di sela-sela makan, Sujata dapat melihat kebingungan yang ada di wajah putrinya itu.
'Aku harus mengatakan apa?' -Uttara.
"Uttara...." panggil Sujata.
Uttara yang sedang merenung pun langsung kegelagapan. "Ha... iya, Ma? Ada apa?"
"Harusnya Mama yang mengatakan itu. Ada apa, hem? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu." ucap Sujata sembari memasukkan makanan yang ada di sendok.
Uttara menggeleng ragu. "Tidak, Ma." jawabnya berbohong sembari menurunkan pandangannya.
Durga mengernyitkan dahinya. "Uttara, bicaralah kalau itu mengganggu dirimu."
Uttara mendongak. "Ayah, sebenarnya Uttara. Uttara diajak sama teman-teman untuk berlibur di luar negeri." ucapnya pelan, lalu menunduk kembali.
"Lalu?" tanya Ram kepada Uttara.
"Uttara menolaknya. Padahal, Uttara pengen ikut bersama mereka." ucap Uttara berlagak terkekeh.
"Kapan perginya?" tanya Lakshya ikutan menimbrung
"Minggu depan, Kak." jawab Uttara.
"Kami tidak akan melarangmu, Nak. Tapi kau harus bisa jaga diri sendiri." ucap Annapurna menatap lekat Uttara.
Uttara tersenyum tipis. "Iya, kalian tidak perlu khawatir. Uttara akan menjaga diri sendiri." ucap Uttara. 'Maaf' tambah Uttara di dalam hati.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Pada pukul 22:30, Kavita baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya.
Lagi-lagi ia harus lembur karena banyaknya berkas-berkas yang harus ditangani seorang diri. Hari ini bosnya itu... Sanskar tidak bisa hadir karena sakit.
Tapi, ingat! Walaupun Kavita lembur, ia masih bisa memanfaatkan waktu istirahatnya dengan sebaik mungkin. Bukan seperti bosnya itu, Sanskar!
Ia berjalan menyelusuri setiap lorong di perusahaan SH. Sebagian para karyawan yang juga ikutan lembur pun menyapa dirinya saat berpapasan.
"Nona, mari saya antarkan pulang." tawar Pak Anton ramah.
"Terima kasih, Pak. Tapi saya membawa mobil sendiri kok." ucap Kavita sopan dan di iringi senyuman.
"Baiklah, kalau begitu. Hati-hati dijalan, Nona." ucap Pak Anton kembali.
"Iya, Pak. Assalamu'alaikum...."
"Walaikumsalam...."
Di perjalanan menuju pulang, ponsel Kavita yang berada di dashboard bergetar. Segera ia mengangkat telepon dari Swara dengan satu tangan.
"Assalamu'alaikum... Ya, Swara?"
"Walaikumsalam... kau masih di jalan?"
"Iya, Swara. Baru saja aku keluar dari kantor."
"Baiklah, kalau begitu. Hati-hati di jalan dan maaf."
Dahi Kavita langsung berkerut ketika Swara mengatakan maaf. "Maaf untuk apa?"
"Untuk semuanya. Gara-gara aku tidak bisa menjaga pola makan Sanskar, sekarang dirinya sakit. Terus juga karena Sanskar sakit, kau jadi harus bekerja sampai malam sekali."
Kavita tersenyum. "Seharusnya aku yang mengatakan itu. Maaf karena sudah merepotkan keluargamu dan keluarga Sanskar. Kalau tidak ada kalian, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi."
"Kau sudah kami anggap seperti keluarga. So, no sorry and no thanks on friendship."
Kavita tersenyum haru. "Iya, Swara. Sudah dulu, ya."
"Iya. Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam."
Bersamaan dengan selesainya percakapan di antara Kavita dan Swara, mobilnya berhenti begitu saja di pinggir jalan.
Kavita keluar memeriksa mobilnya. "Ish, pakai bocor segala lagi nih mobil! Bagaimana aku bisa pulang kalau begini?" ucapnya kesal.
Ia teringat dengan ponsel yang ada di dashboard. Segera Kavita mengambilnya. "Aku akan meminta Pak Dedi menjemputku. Lagian ini udah tengah malam. Pasti angkutan umum akan susah dicari.
Jemari Kavita yang akan menyentuh nomor Pak Dedi berhenti saat berpikir keras. " Tidak tidak! Aku tidak ingin mengganggu dirinya di tengah malam begini. Aku sudah banyak menyusahkannya. Lalu, bagaimana aku bisa sampai di rumah?"
"Telepon, tidak? Telepon, tidak? Telepon, tidak?"
"Tidak. Telepon aja. Tidak di telepon. Bagaimana aku bisa pulang? Telepon aja. Pak Dedi akan terganggu. Uh, membingungkan. Aku bingung!" ucapnya frustasi seorang diri.
"Aku antar!"
Kavita tertegun mendengar suara tersebut. Ia sangat kenal dengan suara itu. Suara yang tidak ingin ia dengar kenapa ada di sini?
Terpaksa ia harus berbalik badan. Memastikan kalau itu adalah suara orang yang paling ia benci. "K-kau. Untuk apa kau ada di sini?" tanya Kavita gugup.
Pria itu mendekat. Kavita yang melihat itu langsung berjalan mundur. "Hey!" tunjuk Kavita marah. "Jangan mendekat! Tetap di situ!"
"Hai, sayang! Kau ini selalu saja marah-marah saat melihat wajah tampanku." tanpa takut pria itu tetap berjalan menuju Kavita.
"CIH! KARENA AKU BENCI KAU!" ucap Kavita menekan semua kosa katanya.
"Benci dan cinta itu beda tipis. Hari ini kau memang membenci ku. Tapi bagaimana dengan hari selanjutnya?"
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MENCINTAIMU! SAMPAI KAPANPUN! KAU DENGAR ITU! SEKARANG KAU PERGI!"
Merasa kesal, pria itu menarik tangan kanan Kavita. "Bagaimana aku bisa pergi? Setelah cintaku ada di depan mataku, aku akan menyerah begitu saja? Tidak, sayang. Kau terlalu susah untuk kugapai. Sekarang kau yang akan ikut dengan aku." ucapnya sambil menarik paksa tangan Kavita.
"Tidak! Lepaskan tanganku b******n! Aku tidak ingin ikut dengan mu! Lepaskan!" maki Kavita meronta.
Pria itu membalikkan tubuhnya dengan menatap tajam Kavita. "Diamlah, Kavita! Atau aku akan melakukan sesuatu dengan orang-orang yang kau anggap keluarga mu itu!" ucapnya mengancam.
Kavita menggeleng tidak percaya. "Ini yang tidak aku suka darimu! Sikap mu yang pemaksa dan mengancam! Kau pikir kau siapa, ha?! Dari awal aku sudah tahu dengan sikap mu yang licik itu! Aku benci padamu, b******n!"
Plak!
Kavita menyentuh pipi yang baru saja ditampar oleh pria itu. Sedangkan pria itu langsung merutuki dirinya sendiri. Lagi-lagi ia membuat kesalahan pada orang yang sangat di cintainya.
Air mata Kavita turun begitu saja sambil menatap benci pada si b******n.
Dengan tangan gemetar, pria itu menyentuh pipi Kavita yang habis ia tampar, namun langsung di tepis kasar oleh Kavita.
"JANGAN SENTUH AKU DENGAN TANGAN KOTOR MU ITU!" ucap Kavita menunjuk pria itu.
"Ka-Kavita. A-aku tidak bermaksud menampar mu tadi. Sungguh, aku terbawa emosi karena kau selalu menolak diriku. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud menampar mu tadi." ucapnya penuh sesal.
"Aku akan memafkan mu, tapi ada satu syarat."
"Syarat? Apa, Kavita? Aku berjanji akan memenuhi syarat itu." ucapnya antusias.
"PERGI DAN JANGAN PERNAH KAU TUNJUKKAN WAJAH MU LAGI!" Kavita kembali menunjuk wajah pria itu.
Pria itu menggeleng keras. "Tidak. Kalau itu, aku tidak akan pernah lakukan. Karena aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak ingin kehilangan mu. Aku ingin selalu menjagamu. Aku mohon, jangan menyuruh ku pergi jauh darimu."
"Tapi aku tidak mencintaimu. Aku mohon padamu, Tuan Zain Maheswara. Pergi sejauh-jauhnya dari hadapanku! Aku lelah dengan semua sandiwara mu ini!" ucap Kavita memohon dengan menyatukan kedua telapak tangannya.
Zain menarik tangan Kavita untuk mendekat dengan dirinya. "Kau selalu membuatku marah, Kavita. Kalau kau tidak ingin aku sakitin. Ikut denganku. SEKARANG!"
"Aku tidak mau. Lepaskan aku, Zain! Aku mohon!" ucap Kavita meronta, sedangkan Zain mendorong Kavita masuk ke dalam mobil.
Zain segera menjalankan mobilnya tanpa memperdulikan Kavita yang menangis. Tidak! Zain sangat-sangat peduli pada Kavita. Tapi kali ini biarkanlah dirinya yang akan menguasai egonya sendiri.
Sampai di tempat, Zain menarik lagi tangan Kavita yang masih meronta. Kavita menatap sebuah rumah besar yang ada di depan matanya. Ia tahu betul ini adalah rumah milik Zain. Ia pernah ada di rumah ini, walaupun hanya satu hari. Tapi, ingat! Zain tetap Zain dengan kata paksaan dan mengancam.
'Aku tidak bisa diam begini. Aku harus menelepon Swara. Tapi, bagaimana? Oh, ya, kamar mandi. Aku pura-pura akan pakai kamar mandi.' -Kavita.
"A-aku. Zain...." panggil Kavita lembut ketika Zain mengunci pintu kamar.
Zain tersenyum mendengar Kavita menyebut namanya dengan lembut.
"Ya, sayang?"
Kavita menunduk, memainkan jemarinya gugup. "A-aku mau ke kamar mandi. Bo-bolehkan?"
Zain mengangkat dagu Kavita. "Boleh dong, sayang. Asalkan jangan bermain-main dengan ku. Kau mengerti Kavita?"
"I-iya."
Sampai di dalam kamar mandi milik Zain, Kavita langsung menelepon Swara, namun tidak ada jawaban. Ia berharap Swara mengangkat teleponnya.
"Swara, ayo dong angkat teleponnya! Aku mohon, Swara. Aku takut. Aku mohon, angkat teleponnya. Swara angkat teleponnya."
Sampai ketukan pintu pun ia abaikan begitu saja. Di luar, Zain kesal dengan Kavita. Zain tahu kamar mandi hanya alasan Kavita saja untuk menghindar darinya.
Brak!!!
Zain mendobrak pintu kamar mandi. Ia tidak peduli kalau pintu itu akan rusak. Ditambah lagi Kavita yang sudah mempermainkan dirinya.
Dengan amarah, Zain melempar ponsel milik Kavita. Sama seperti pintu kamar mandi dirinya, ia benar-benar tidak peduli kalau benda itu hancur.
"Sudah ku katakan. Jangan mempermainkan diriku, Kavita! Kau ternyata tidak paham juga kalau tidak pakai k*******n!"
Kavita meringis kesakitan. Pasalnya Zain mencengkram lengannya kuat tidak main. "Zain sakit, hiks! Lepaskan Zain, aku mohon."
Zain melepaskan lengan Kavita yang kesakitan karena ia cengkram kuat-kuat. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukaimu." Zain membawa Kavita ke pelukannya.
(ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ)
To Be Continued...