(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
"Saat aku mengirim pesan padamu. Kau mengatakan berada di rumah kan?! Lalu, bagaimana dengan Swara yang aku lihat di cafe itu? Bukankah kau sudah berbohong padaku?" ucap Sanskar menatap Swara kecewa.
Swara menggeleng, lalu menunduk. "Maaf, Sanskar, hiks! Aku tidak bermaksud membohongimu. Per...." Swara menarik nafasnya dan mengangkat kembali wajahnya, "...percayalah aku tidak ada hubungan apapun padanya."
"Siapa dia?"
"Dia...." Swara bingung ingin menjawab apa.
"Kau tidak bisa menjawabnya? Jangan-jangan kalian berdua sering bertemu lagi di belakangku!"
"Kau mengatakan apa, Sanskar? Dia bukan siapa-siapa bagiku. Aku akan mengatakan semuanya, tapi tidak sekarang. Aku mohon percayalah padaku, hikshiks...!"
"Bagaimana aku bisa percaya saat istriku sendiri membohongi diriku? Aku kecewa samamu, Swara." ucap Sanskar berlalu pergi. Namun langkahnya berhenti saat Swara mengatakan, "Uttara akan pergi. Anggaplah kalau hari ini kita sama sekali tidak bertengkar. Aku tidak mau Uttara kepikiran."
"Aku mohon." lanjut Swara kembali.
Bukannya menjawab, Sanskar malah langsung pergi dari hadapan Swara.
"Sanskar, hiks!" panggil Swara lirih tanpa mengejar Sanskar.
"Ini semua salahku, hiks! Tapi aku juga tidak tahu harus mengatakan apa. Aku sama sekali belum tahu tentang ini semua, hikshiks...!" Swara menjatuhkan dirinya di atas keramik yang dingin.
Lalu bangkit lagi menuju walk in closed untuk mencuci wajahnya agar yang lain tidak memandangnya penuh curiga.
Sedangkan dibalik pintu, ada seseorang yang menyaksikan pertengkaran tersebut.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Aku mau penerbangan diriku dibatalkan hari ini." ucap seseorang ditelpon.
"Ada apa, Uttara? Apa ada masalah?" tanya Chirag pada Uttara.
Uttara menggeleng. "Tidak."
"Jangan berbohong padaku. Aku tahu kalau kau berbohong saat ini. Katakanlah padaku. Bukankah aku sahabatmu sekarang?"
Uttara yang mendengar itu langsung menangis. Ia tak tahan lagi untuk menahan air mata tersebut. "Tadi saat aku ingin memanggil Kak Swara dan Kak Sanskar untuk makan malam. Aku menyaksikan mereka bertengkar dan itu... hiks, itu karena aku hikshiks. Aku mohon padamu, Chirag. Batalkan penerbangan ku ke luar negeri."
"Bagaimana dengan dirimu? Kau akan menunda waktu yang baik, Uttara? Kau tidak ingin cepat sembuh, ha?"
"Aku ingin sembuh! Tapi hari ini aku benar-benar tidak bisa pergi. Aku ingin masalah Kak Sanskar dan Kak Swara selesai dahulu. Lalu aku bisa pergi dengan tenang. Mengertilah, Chirag hiks."
"I-ini juga karena dirimu. Aku sudah mengatakan padamu jangan bertemu salah satu dari keluargaku. Saat kau bersama Kak Swara di cafe... Kak Sanskar berada di tempat yang sama. Kak Sanskar mengira kau dan Kak Swara ada hubungan khusus, hikshiks...."
Disana Chirag tengah menundukkan kepala. Sungguh, ia merasa bersalah kalau penyebab Uttara menangis adalah dirinya, walaupun melalui Kakak iparnya.
"Aku minta maaf kalau masalah ini terjadi karena diriku. Aku minta maaf, Uttara." ucap Chirag penuh sesal.
"Aku akan memaafkan dirimu kalau penerbangan ku hari ini batal." ucap Uttara kembali.
"Bagaimana kalau keluargamu curiga karena tidak jadinya kau pergi, Uttara?"
"Aku akan mengatakan pada semuanya kalau mereka menunda kepergian ini."
"Tidak Uttara. Aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak mau kau merasakan sakit itu."
"Aku lebih sakit saat melihat mereka berdua bertengkar, Chirag. Kau tidak tahu itu!"
"Kalau Kak Swara mendegar percakapan kita berdua. Dia pasti tidak suka dengan caramu yang begini. Sudahlah, kau tetap akan berangkat hari ini. Nanti aku akan menjelaskan semuanya pada Kakakmu."
"Tidak, Chirag. Aku mohon padamu. A-aku tidak ingin masalah ini lebih rumit. Apa aku harus mengatakan semuanya pada mereka agar masalah ini selesai?"
"Hanya satu yang aku minta padamu Uttara. Sembuhkan dirimu dahulu. Aku yakin semuanya akan baik baik saja."
"Tapi aku takut."
"Hilangkan semua rasa takutmu. Kau ingin seperti Uttara dulu kan. Uttara yang tidak memiliki penyakit lagi."
"Aku akan usahakan. Tapi, bisakah kau ikut denganku?"
Kata kata itu yang ingin didengar Chirag dari kemarin. "Apakah tidak masalah?"
"Tidak, justru aku bahagia."
"Baiklah, Nona manis. Aku akan mengatur keberangkatan ini."
"Terima kasih."
"Ya sudah, aku tutup dulu telponnya. Bye, sampai jumpa kembali."
"Iya, bye."
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Biar aku saja yang mengambilnya." ucap Swara menghalangi tangan Sanskar saat mengambil nasi.
Tanpa melihat sedikit pun, Sanskar membiarkan Swara melayani dirinya. Sedangkan Swara, ia merasa senang seakan akan baru pertama kali melakukan itu.
"Ibu, Sinta juga mau." ucap Sinta dengan cemberut.
"Baiklah, sayang. Sudah cukup?" tanya Swara saat meletakkan nasi ke piring Sinta.
"Sudah, kuahnya di banyakin." ucap Sinta. "Terima kasih, Ibu."
"Sama-sama, sayang." Swara mulai mendudukkan dirinya di tempat biasa, sebelah kiri Sanskar.
"Nanti, jam berapa pesawatnya terbang Uttara?" tanya Durga disela makanannya.
Sedangkan si pemilik nama sibuk melamun. "Uttara...." tegur Ram.
"Ha? Iya, Pa? Ada apa?"
"Ayah tadi mengatakan sesuatu padamu." ucap Ram.
"Memang Ayah mengatakan apa?" tanya Uttara langsung pada Durga.
"Ada sesuatu yang mengusik pikiranmu?" tanya Durga balik.
Uttara menggeleng. "Tidak, Ayah."
"Jam berapa pesawatnya terbang?" tanya Durga kembali.
"Jam 9 Ayah."
"Baiklah. Sebelum ke bandara kita semua sholat Isya dulu." ucap Durga memerintah.
"Em, Uttara boleh minta sesuatu tidak?" tanya Uttara ragu.
"Katakanlah." ucap Ram.
"Nanti Uttara ke bandaranya sama Kak Swara dan Kak Sanskar saja, ya."
Setelah mendengar perkataan Uttara, Sanskar langsung terbatuk. Segera Sanskar menuang air ke gelas kosong, lalu meminumnya sampai habis tak tersisa. Padahal, Swara sudah menyiapkan air minum untuk Sanskar bahkan memberikannya juga.
Semua orang menatap kedua insan itu. Tidak biasanya. "Aku mau ke kamar dulu." ucap Sanskar langsung beranjak pergi.
"Tapi Sanskar, makananmu belum habis." ucap Sujata namun tidak ada balasan dari Sanskar.
"Kalian lagi berantem Swara?" tanya Annapurna.
Swara terdiam. "Semalam kami makan siang sama klien di cafe. Sekalian menceritakan proyek baru yang ingin kita buat. Tapi mata Sanskar tidak sengaja melihat Swara bersama seorang pria di dalam 1 meja. Saat itu Sanskar ingin menghampiri meja Swara, tapi Kavita bilang sms saja dulu. Mana tahu Swara akan berbicara jujur. Sanskar kembali kesal saat pesan dari Swara mengatakan kalau ia berada di rumah. Jelas-jelas Swara ada di depan matanya" jelas Kavita.
"Tapi Uttara yang menyuruh Kak Swara menemuinya. Namanya Chirag. Dia Sahabat Uttara waktu kuliah. Saat itu Uttara tidak bisa menemui dirinya karena pekerjaan Uttara juga lagi banyak. Ini semua salah Uttara. Uttara tidak bermaksud untuk membuat pertengkaran ini. Maaf." ucap Uttara penuh sesal, lalu beranjak naik ke lantai 2
Swara yang mendengar itu langsung menutup matanya. 'Kenapa kau berbohong lagi Uttara?'
Uttara tidak ke kamar, ia berjalan ke kamar Kakaknya. Sampai disana, ia langsung masuk menghampiri Sanskar di balkon.
"Pria itu temannya Uttara, Kak. Bahkan kita berdua sudah menjadi sahabat. Ya, walaupun baru beberapa hari. Dia orang yang pertama kali tulus membantu Uttara. Saat Uttara duka maupun suka. Dia selalu ada untuk Uttara." Sanskar menatap Uttara sebentar, lalu menatap kembali halaman yang menunjukkan pagar depan.
"Tujuan Uttara berbicara begitu ingin meluruskan kesalah-pahaman kalian. Kak Swara tidak tahu tentang dirinya, Kak. Saat itu Uttara yang menyuruh Kak Swara bertemu dengan Chirag. Agar Chirag bisa lebih dekat salah satu dari kita. Apa Uttara salah memperkenalkan sahabat baru Uttara pada Kak Swara?" ucap Uttara menatap wajah Sanskar lekat.
"Salah! Saat dia mengatakan lagi di rumah, tapi nyatanya dia ada di cafe tanpa sepengetahuan Kakak." balas Sanskar menatap Uttara sebentar.
Uttara menunduk dan menutup matanya. "Itu-Uttara yang menyuruh Kak Swara agar tidak mengatakan pada yang lainnya. Uttara juga yang melarang Kak Swara mengatakan kalau ia berada di cafe, hiks!" ucap Uttara terisak. 'Sampai kapan aku harus berbohong, Ya Allah?'
Sanskar yang mendengar isakan dari Uttara langsung membawa Uttara ke pelukannya. "Kau sedang tidak berbohongkan?" tanya Sanskar memastikan.
Di dalam pelukan, Uttara menggeleng keras. "Kakak mau kan memaafkan Kak Swara."
"Iya."
"Jadi kalian berdua mau kan mengantar Uttara ke bandara?"
Sanskar terdiam sebentar. "Iya."
Uttara melepaskan pelukannya. "Ayo, Kak, kita turun! Kita pamit sama yang lainnya."
"Setelah sholat Isya, Uttara. Lebih baik kita sholat dulu. Adzan sudah berkumandang."
Uttara mengangguk.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Selesai sholat Isya.
Setelah pamit sama yang lainnya mereka bertiga langsung berangkat ke bandara. Di dalam mobil pun sama sekali tidak ada pembicaraan. Di belakang sana, Uttara melamun. Swara yang berada di samping Sanskar tidak jauh dengan Uttara. Swara melamun Bagaimana caranya membuat Sanskar percaya?
"Kau tidak ingin mampir kemana begitu?" tanya Sanskar. Sedangkan keduanya langsung menatap ke kaca. Swara tersenyum kecil, ia pikir Sanskar sedang berbicara padanya. Sanskar menanyakan itu pada Uttara. Terbukti saat bola mata Sanskar menatap kaca.
Uttara menggeleng. "Tidak, Kak. Mungkin Kak Swara ada yang mau dibeli. Tadi Uttara tidak melihat Kak Swara makan."
Sanskar menatap Swara sebentar yang saat ini fokus ke jalan. "Aku tadi udah makan setelah sholat Isya." jawab Swara pelan tanpa mengalihkan pandangannya.
Sampai di bandara.
"Ini tidak kecepatan Uttara? Masih pukul 20:20." ucap Sanskar setelah melihat arloji.
"Kan kita bisa menghabiskan waktu setengah jam." ucap Uttara.
Sedangkan Swara berada di belakang Sanskar dan Uttara. Swara tidak ingin mengganggu momen Kakak beradik itu.
"Kak, kita duduk disana, yuk!" Sanskar mengangguk menyetujui.
Sedangkan Swara kehilangan jejak Sanskar dan Uttara karena kebanyakan menunduk. Swara menatap sekelilingnya. Berharap yang ia cari dapat ditemukan.
"Sanskar...." panggil Swara pelan nyaris tak terdengar.
"Aku kehilangan jejak mereka berdua. Lalu aku harus mencari mereka dimana?"
Swara kembali berjalan. Mencoba untuk mencari Sanskar dan Uttara.
Di sisi lain.
"Kak Sanskar, Kak Swara kemana? Tadi Kak Swara ada di belakang kita kan? Lalu kemana Kak Swara?"
"Sebentar." Sanskar merogoh ponselnya yang berada di saku celana, lalu bangkit menelpon seseorang.
"Kalian mengikuti kami kan." ucap Sanskar ditelpon.
"Iya, Tuan."
"Cari Istri saya sampai ketemu."
"Siap laksanakan, Tuan."
"Kau tunggu disini, ya, Uttara. Kakak mau mencari Kak Swara dulu." ucap Sanskar langsung pergi.
"Iya, hati-hati, Kak."
Ditempat Swara.
"Itu preman yang tadi kan? Mau apa mereka mengikuti diriku? Aku harus lari kalau tidak ingin tertangkap oleh mereka berdua."
"Hei, Nona cantik! Tunggu!" teriak kedua pria berbadan besar, lalu mengejar Swara yang tak jauh dari mereka.
"Lepas! Hey, kalian ini siapa, sih?! Saya tidak kenal dengan kalian berdua! Lepas tidak?! Kalau tidak saya teriak, nih?!"
"Sebelum Tuan kami datang menjemput anda Nona cantik."
"Aku tidak tahu siapa Tuan mu! Lepaskan aku, hiks!"
"Nona cantik kok menangis? Kami tidak melukai Nona kok."
"Lepaskan istri saya."
"Sanskar...." Swara langsung berlari pada Sanskar saat kedua preman itu melepaskan Swara.
"Sanskar, hiks!" Swara mencengkram baju depan Sanskar.
"Tenanglah." Sanskar mengusap punggung Swara.
"Aku takut sekali pada kedua preman itu. Aku hampir saja diculik sama mereka, hikshiks!" ucap Swara terisak.
Tanpa Swara ketahui Sanskar tersenyum. "Mereka berdua aku yang suruh untuk mencari dirimu. Dari awal mereka memang mengikuti kita dari belakang. Karena aku tahu di bandara sebesar ini tidak mudah untuk menemukan seseorang."
"Tadi mereka menyebutku Nona cantik. Kan aku ta-takut."
"Itu aku yang menyuruh mereka memanggil dirimu Nona cantik."
"Memang tidak cemburu?" Swara menatap Sanskar dengan masih memeluknya.
"Cup! Kan istriku ini memang cantik."
"Sanskar...." Swara menangis lagi dipelukan Sanskar.
"Kok menangis lagi, sih? Ada apa, hem?"
"Sayang...." panggil Sanskar lagi, lalu melepaskan pelukannya dengan pelan.
"Aku minta maaf. Maaf karena aku sempat tidak mempercayaimu. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan hal yang sama." ucap Sanskar kembali. Kali ini Sanskarlah yang memeluk Swara.
Swara terdiam. 'Apa Uttara mengatakan semuanya atau Uttara berbohong lagi? Uttara, mau sampai kapan kau berbohong begini?' -Swara.
"Kau mau memaafkan diriku kan?" Sanskar melepaskan pelukannya. Swara mengangguk.
"Kau belum makan." lanjut Sanskar.
"Begitu juga dengan dirimu." balas Swara tak mau kalah.
"Ya udah, kita makan bareng."
"Tapi Uttara?"
"Kita jemput."
"Sanskar gendong."
"Naik." ucap Sanskar setelah membungkukkan tubuhnya.
Sanskar mulai berjalan dengan Swara yang berada di gendongannya. Sedangkan Swara menelusup kan kedua tangannya di bawah ketiak Sanskar. "Bagaimana kalau kedua preman tadi benaran penjahat? Apa yang akan kau lakukan?"
Tanya Swara dengan dagu berada di bahu kanan Sanskar. "Aku akan langsung menghabiskan mereka semua" jawab Sanskar menatap Swara sebentar.
Swara tersenyum lalu mencium sebentar leher Sanskar. "Aku pikir permasalahan ini akan panjang. Maaf, aku sudah berbohong padamu."
"Kan Uttara yang berbohong."
"Tapi kan aku juga ikutan."
"Udah aku maafkan."
"Sanskar kenapa ramai sekali?"
(ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ)
To Be Continued...