(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
Jam menunjukkan hampir pukul 5 sore. Para wanita sibuk menyiapkan makanan sebelum malam nanti adalah keberangkatan Uttara.
Sedangkan Uttara merasa bosan karena hanya diam saja menatap mereka bekerja.
"Please, Uttara bantu, ya." ucap Uttara dengan lemas saat salah satu dari mereka melewati dirinya.
"Mama bilang tidak, Uttara." kata Sujata sambil membawa sebuah mangkuk yang berisi sup lembu.
Uttara cemberut, namun pantang menyerah. "Setidaknya membawa ini menuju ruang makan." ucap Uttara langsung mengambil ahli mangkuk tersebut.
"Kau ini. Sudah di bilang jangan tetap saja keras kepala." decak Sujata melihat tingkah putri satu-satunya.
"Bagaimana putrinya tidak keras kepala. Mama dan Papanya saja keras kepala." ucap Annapurna membawa mangkuk yang lain berisi sup iga juga.
"Ibu, ini biar Uttara saja yang bawa." ucap Uttara sembari melakukan hal yang tadi.
"Baiklah." ucap Annapurna pasrah.
"Terima kasih, Ibu." ucap Uttara tersenyum lalu berlalu pergi.
Sedangkan Sujata dan Annapurna kembali ke dapur lagi memasak makanan yang lainnya.
Tidak lama kemudian, Uttara datang ke dapur. "Hem, Uttara boleh minta sesuatu tidak?"
"Sesuatu? Katakanlah, sayang." ucap Sujata.
"Baju yang semalam Mama bilang untuk Uttara. Bisakah Uttara mengambilnya sekarang, Ma?" ucap Uttara sembari bertanya.
"Ambillah di lemari kaca gantung Mama. Letaknya di sudut kanan melalui pintu utama." ucap Sujata.
"Thank you, Mom. Muahhh!" ucap Uttara bahagia, lalu mencium kedua pipi Sujata.
"Mama belum mandi, lho. Masih bau keringat." ucap Sujata dengan nada sedikit kuat agar Uttara dapat mendengarnya dari kejauhan.
"Tidak. Bagi Uttara, Mama selalu wangi." balas Uttara dengan nada kuat.
Semua orang yang ada di dapur tertawa kecil melihat Uttara sebahagia itu. Tahu tidak, baju yang di bilang Uttara itu udah lama lho mendapatkannya. Kemarin Sujata bilang sama Uttara akan memberikan baju itu kepada Putrinya saat ia akan berangkat.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Di kamar Ram dan Sujata.
Sesuatu terjatuh saat Uttara mengambil baju yang ia inginkan. Segera ia membungkuk meraih benda itu, album foto.
Setelah mengambil baju dan album photo itu, Uttara mendudukkan dirinya di ranjang. Uttara meletakkan baju yang baru saja ia ambil di sisinya. Lalu memangku album foto tersebut dan membukanya dengan pelan.
"Di album ini banyak sekali kenangan yang sudah kami lewati dari kecil sampai besar. Aku berharap kenangan ini akan selalu ada di hati. Tidak tahu entah kapan lagi dapat membuat album foto."
Dia mengambil 1 kertas yang berisi Uttara, Sujata, Ram dan Sanskar saat mereka berdua masih waktu kecil. Lalu mengambil 1 foto lagi saat Uttara dan Sanskar sudah besar dengan kedua orang tua berada di sisi mereka.
"Uttara akan menyimpan kedua photo ini tanpa adanya kalian bertiga di sisi Uttara. Maaf, kalau Uttara sudah membohongi kalian. Uttara sama sekali tidak bermaksud hiks. Uttara sayang sama kalian, hikshiks!" Uttara menatap gambar mereka berempat. Sampai ia tertegun dengan sebuah ketukan pintu, lalu menghilangkan jejak air matanya.
"Uttara...."
"Ma." balas Uttara menatap Sujata sebentar.
"Uttara. Uttara boleh membawa ini kan, Ma." sambung Uttara tanpa melihat Sujata.
Sujata duduk di samping Uttara dengan senyuman. "Kenapa tidak, sayang? Semuanya pun boleh."
"Tidak. 2 foto saja. Ini waktu Uttara dan Kak Sanskar masih kecil dan di saat kami sudah besar. Uttara akan menjaga kedua foto ini dengan baik." ucap Uttara yang masih berbicara sambil menunduk.
Sujata mengelus sebelah pipi Uttara, lalu mengangkatnya dengan pelan. "Kamu habis menangis, hem?"
Uttara menggeleng, mengalihkan pandangannya. "Uttara...."
Uttara yang di panggil oleh Sujata pun langsung menjatuhkan dirinya pada Sujata. Tangis Uttara pecah saat berada dipelukan Sujata. "Kenapa menangis, hem?"
"Uttara tidak mau pergi jauh dari Mama hiks." ucap Uttara tersendat sendat.
"Walaupun jauh, tapi kita masih bisa berkomunikasi. Lagian Uttara tidak akan lama disana kan?"
Uttara tidak menjawab karena ia benar benar tak tahu bisa pulang lagi atau tidak.
"Sudah, sekarang kita turun. Em, fotonya mau di bingkai tidak?" Uttara mengangguk, lalu berlalu pergi bersama Sujata setelah meletakkan album foto ke tempat semula.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Kak Sanskar sudah pulang. Biar pekerjaan Kak Swara, Uttara saja yang mengerjakannya." ucap Uttara pada Swara saat berada di dapur. Sedangkan Sujata berada di lantai bawah tanah.
Di mana semua perlengkapan kamar, dapur, kamar mandi, dan lainnya berada di lantai bawah tanah. Tujuan Sujata ke lantai bawah untuk mengambil 2 buah bingkai foto.
Swara menoleh pada Uttara. "Benarkah?" tanya Swara histeris seakan ia sudah lama tidak berjumpa dengan Sanskar.
Uttara tertawa kekeh. "Kakak ini seperti sudah lama saja tidak bertemu Kak Sanskar. Oh, ya, Kak Sanskar ada di kamar. Tadi Uttara melihatnya langsung ke kamar."
"Kau tidak tahu saja kalau dia tidak pulang semalam. Ya sudah, Kakak ke kamar dulu, ya." ucap Swara langsung berlalu.
"Tapi tadi pagi Kak Sanskar...." perkataan Uttara terhenti saat ia tidak melihat Swara lagi.
Uttara menghampiri Ragini. "Memang Kak Swara tidak tahu kalau Kak Sanskar pulang?"
Ragini mengeryitkan dahi dengan pandangan tetap fokus ke peralatan masak. "Masa, sih? Kakak tadi pagi sempat mengatakan itu pada Kak Swara. Tapi Kak Swara mengatakan kalau ia sudah tahu. Kak Ragini pikir Kak Swara tahu kalau Kak Sanskar pulang." ucap Ragini menjelaskan.
"Hem, ada yang mengganjal." ucap Uttara mulai melamun.
Tidak lama kemudian. "Uttara, kau tidak mencium sesuatu begitu?"
"Se... Oh, ya! Masakan Kak Swara!" ucap Uttara menepuk dahi terkejut, lalu terburu buru ke tempat masakan Swara.
"Yah, tadi Uttara niatnya mau membantu malah membuat masalah. Masakan Kak Swara gosong Kak Ragini. Bagaimana ini?" ucap Uttara langsung lemas saat melihat masakan yang hampir selesai menjadi gosong.
"Karena sudah gosong. Uttara harus memasak yang baru." ucap Ragini memainkan alisnya sambil menatap Uttara.
"Tapi masakan Kak Swara dan Uttara kan beda jauh. Bagaimana kalau masakannya tidak seenak buatan Kak Swara?"
"Jadi mau dilihatin aja begitu sampai masakannya kembali seperti tadi?"
Uttara menggeleng, lalu berbicara kembali dengan lesu. "Baiklah. Uttara akan memasaknya lagi."
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Itu untuk siapa?" tanya Ram pada Sujata yang baru saja turun dari lantai 2 dengan pakaian rumah.
"Ini untuk Uttara. Tadi dia mengambil 2 foto dari album untuk dibawa bersamanya, Mas." jawab Sujata yang masih sibuk mengelap bingkai kaca. Sedangkan yang satunya dibantu oleh Bik Siti.
"Tuan mau minum apa? Biar saya buatkan." ucap Bik Siti dengan sopan saat Ram sudah duduk di samping Sinta.
"Tidak usah, Bik. Bibik bantu Sujata saja." jawab Ram dengan senyuman.
Lalu pandangan Ram jatuh pada Sinta yang berada di sampingnya dengan bibir cemberut. "Cucu Grandpa kenapa, hem?"
Tanya Ram sembari membawa Sinta ke pangkuannya. " Grandpa lihat itu." tunjuknya pada Bik Siti yang masih sibuk dengan bingkai kaca itu.
Ram mengikuti arah tunjuk Sinta, lalu mencium rambut Cucunya. "Bik Siti sudah di bilang jangan mengerjakan pekerjaan rumah tetap saja dikerjakan. Sinta kesal dengan Bik Siti." ucap Sinta masih cemberut sambil memainkan ujung kaos Ram.
"Bik Siti hanya membantu Grandma saja. Tenanglah, sebentar lagi juga selesai."
"Sinta tidak mau tahu. Ayah sama Papa harus mencari asisten lagi. Kalau Bik Siti mengerjakan pekerjaan rumah, lalu Sinta bermain sama siapa?"
"Iya, nanti kita bicara sama Ayah dan Papa. Sekarang kita bermain berdua saja dulu sambil menunggu Bik Siti selesai membantu Grandma."
"Iya, ayo, Grandpa!"
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Sanskar...." panggil Swara mencari sosok Sanskar di kamar.
"Sans...." Swara tersenyum saat Sanskar keluar dari kamar mandi. Sanskar yang sedang mengusap rambutnya dengan handuk kecil langsung menatap Swara sebentar, lalu membuang pandangannya.
"Kau sudah pulang. Tapi, kenapa semalam...." perkataan Swara terhenti ketika tangan Sanskar langsung menepis tangannya saat ia menyentuhnya.
"Sans...." kali ini tangan Swara mengambang saat Sanskar memalingkan wajah, lalu berlalu dari hadapannya.
"Kenapa Sanskar?" tanya Swara merasa bingung pada sikap Sanskar.
Sanskar terkekeh pelan setelah meletakkan handuk kecil tadi ke jemuran besi.
Lalu berbalik dan berjalan mendekati Swara. "Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kenapa Swara?" ucap Sanskar bertanya sambil menarik sebelah lengan Swara.
Swara yang di tanyakan itu pun langsung mengernyitkan dahinya. "Apa yang kau katakan Sanskar?"
"Wow! Merasa tidak punya salah padahal ada. Kenapa kau berbohong padaku?"
Tanpa sadar, Sanskar mencengkram lengan Swara kuat. Sehingga si pemilik lengan merasa sakit. "Sanskar, kau menyakitiku." ucap Swara berusaha melepaskan cengkraman Sanskar.
"Jawab aku!" bentak Sanskar.
"Sanskar, kau membentak ku?" tanya Swara tak percaya dengan sebulir air mata jatuh.
"Jawab aku. Kenapa kau berbohong, ha?!"
Swara memejamkan matanya. "Aku tidak berbohong padamu. Lepaskan tangan mu, Sanskar. Aku kesakitan, hiks!"
Saat tersadar kalau Sanskar mencengkram lengan Swara, ia langsung melepaskannya. "Lalu pria itu, tempat itu dan makan siang yang romantis?" tanya Sanskar beruntun dengan pandangan ke dinding yang berada di belakang Swara.
Swara membuka matanya saat mendengar perkataan Sanskar. "Saat itu aku...."
"Saat aku mengirim pesan padamu. Kau mengatakan berada di rumah kan? Lalu, bagaimana dengan Swara yang aku lihat di cafe itu? Bukankah kau sudah berbohong padaku?" ucap Sanskar menatap Swara kecewa.
Swara menggeleng, lalu menunduk. "Maaf, Sanskar, hiks!"
(ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ)
To Be Continued...