(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
Malam harinya, Swara masih setia menunggu Sanskar pulang dari kantor. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 22:45.
"Sebenarnya Sanskar kemana, sih? Di telepon tidak diangkat. Di sms juga tidak dibalas!"
"Memang dia tidak tahu kalau ini hampir pukul 11? Dia juga tidak mengatakan kalau pulang terlambat." ucap Swara kesal sekaligus khawatir.
"Sanskar, ayolah angkat. Aku mohon. Jangan membuatku khawatir begini." ucap Swara mondar-mandir lagi dengan ponsel yang menempel di telinga.
"Kavita. Ya, aku akan menelepon Kavita. Mana tahu Kavita bersama Sanskar."
Swara segera menekan nomor Kavita. Ia menempelkan ponselnya ke telinga. Hanya satu kali panggilan, Swara langsung mendapatkan telepon dari Kavita.
"Halo, Kavita." ucap Swara.
"Ya, Swara? Ada apa?"
"Apa kau bersama Sanskar?" Swara mendudukkan dirinya di ranjang.
"Em, tidak."
"Kau ada di mana?"
Di sana, Kavita memejamkan matanya. "A-aku di rumah teman. Maaf kalau aku mengabarimu terlambat."
Swara terdiam sejenak. "Oh, ya, Swara." Kavita kembali membuka matanya.
Sedangkan Swara, ia menunggu perkataan selanjutnya dari Kavita. "Sanskar, dia masih ada di kantor. Sanskar tadi menyuruh diriku untuk pulang duluan."
"Apakah pekerjaan Sanskar masih banyak? Aku dari tadi menelepon dirinya bahkan sms. Tapi sama sekali tidak ada balasan dari Sanskar."
Kavita menunduk dengan sebelah tangan yang ditahan tangan yang lainnya. "Iya, Sanskar masih banyak pekerjaan. Em, Swara sudah dulu, ya. Aku mengantuk. Besok kita lanjutkan lagi."
"Kau besok akan pulang?"
"Iya, Swara. Daah...."
"Kav...."
Tut tut tut!
Swara menatap nanar layar ponselnya. Mencampakkan ponselnya di ranjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Setidaknya angkat telpon dariku atau balas sms dariku! Tidak biasanya kau bersikap begini padaku, Sanskar! Apa yang sudah kuperbuat sampai-sampai kau tidak mengabariku hanya untuk mengatakan Aku pulang terlambat?!"
Ting!
Swara menatap layar ponselnya yang menyala. Satu notifikasi masuk ke ponselnya. Pesan dari w******p. Segera ia membuka pesan itu.
My Husband❤
|Tidurlah. Aku pulang terlambat| 22:51
Itulah isi pesan dari Sanskar.
|Kenapa tidak mengabariku dari tadi? Kau tahu, aku mengkhawatirkan dirimu, Sanskar?!| 22:51
|Sudahlah, Swara. Kau tidak usah mengkhawatirkan diriku. Aku bisa menjaga diri sendiri| 22:51
|Tapi Sanskar, aku tidak bisa tidur tanpamu| 22:52
|Mimpikan saja dia. Mana tahu tidurmu menjadi nyenyak| 22:52
Swara membaca pesan terakhir Sanskar. "Apa yang dimaksud Sanskar? Kenapa dia mengatakan itu?"
|Apa maksudmu, Sanskar?| 22:55
1 menit
2 menit
Seterusnya, Sanskar tidak membalas pesan dari Swara lagi. Padahal terakhir kali Sanskar online baru saja. Swara mendengus. Lagi-lagi Sanskar mengabaikan dirinya.
Jujur, Swara tidak bisa tidur dengan tenang kalau Sanskar belum pulang. Jadilah Swara dengan nekatnya menunggu Sanskar sampai pulang.
Pukul 00:01 pun belum ada sama sekali terdengar suara mobil Sanskar memasuki perkarangan rumah.
Dengan lemas, Swara membaringkan dirinya di ranjang. Tangan Swara mengulur mengambil foto Sanskar yang terbingkai warna hitam itu di nakas.
"Pulanglah. Aku khawatir padamu." ucap Swara tersenyum tipis pada foto Sanskar.
"Aku mencintaimu." lanjut Swara sambil mencium foto Sanskar yang tersenyum.
Swara tertidur dengan memeluk foto Sanskar. Kalau seperti ini, ia dapat tertidur nyenyak. Swara berharap, Sanskar akan cepat pulang dengan selamat. Hanya itu yang Swara harapkan.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Di tempat lain.
Saat Kavita ingin pulang ke rumah, ia tidak sengaja melihat orang itu dengan ekor matanya.
Zain! Lagi dan lagi, Kavita harus melihat Zain. "Apa lagi sih yang dia mau?" dengus Kavita kesal sambil melangkah menjauh dari Zain.
Namun lama-kelamaan langkah Kavita berubah menjadi lari.
Zain yang menyadari itu langsung mengejar Kavita "Kavita tunggu!"
"Tidak. Aku tidak boleh tertangkap olehnya lagi." ucap Kavita panik yang masih berlari.
Namun perkiraan Kavita salah. Kakinya tersandung dengan batu. Sehingga ia tidak dapat menahan keseimbangan diri. "Ah!"
Srek!
Dengan nafas yang memburu, Kavita menoleh pada Zain yang baru saja menangkap dirinya.
"Lagi-lagi kau menghindar dariku." gumam Zain dengan suara rendahnya.
"Lepas!" ucap Kavita berontak.
Bukannya melepaskan, Zain semakin mencengkram pinggang Kavita agar lebih dekat lagi dengan dirinya. "Za-Zain, kau menyakitiku." ucap Kavita kesakitan pada pinggangnya.
"Benarkah?" tanya Zain seolah tidak tahu. Zain semakin menambah cengkraman itu di pinggang Kavita.
"Zain! Sa-sakit, hiks!"
Tangan bebas Kavita berusaha melepaskan cengkeraman dari Zain. Namun tenaganya kalah dengan Zain.
"Kau akan ikut dengan diriku." ucap Zain mengusap pipi Kavita.
Kavita menggeleng dengan tangisan. "Tidak! Aku tidak mau! Aku mau pulang! Biarkan aku pulang, hiks!"
"Kau harus ikut dengan diriku, Kavita." tekan Zain setiap kata.
Kavita menggeleng keras. "Aku tidak mau. Ah! Turunkan aku Zain! Aku mau pulang! Zain, turunkan aku!" ucap Kavita histeris ketika Zain menggendong dirinya seperti karung beras.
Setelah meletakkan Kavita di samping sopir, Zain langsung berlari memasuki bagian sopir.
"Kau mau bawa aku kemana, Zain?! Aku mau pulang! Antarkan aku pulang, hiks!" racau Kavita dengan nada gemetar.
Zain sama sekali tidak menggubris perkataan Kavita. Pandangan Zain sekarang hanya terfokus ke jalan. Sedangkan Kavita, ia menangis menatap jalan di sampingnya.
Tidak lama kemudian terdengar deringan ponsel Kavita. Kavita menjatuhkan pandangan nya ke bawah menatap siapa yang menelpon dirinya.
Swara. Nama Swara tertera di layar ponselnya. Kavita menghapus air matanya. Lalu disaat ia ingin mengangkat panggilan itu, ponselnya langsung ditarik Zain.
"I-itu. Itu Swara. Biarkan aku mengangkat panggilan darinya. Aku mohon padamu." ucap Kavita merendah.
Kavita menutup matanya. Ia salah. Mana mungkin Zain memberikan ponselnya begitu saja. Beberapa menit lagi, Zain pasti akan mencampakkan ponselnya seperti kemarin.
Namun lagi-lagi perkiraannya salah. Zain memberikan ponsel Kavita dengan mengatakan, "Asalkan jangan bermain-main dengan diriku, Kavita."
Sebelum mengangkat panggilan dari Swara, Kavita menatap Zain sebentar.
"Halo, Kavita." ucap Swara.
"Ya, Swara? Ada apa?"
"Apa kau bersama Sanskar?" Swara mendudukkan dirinya di ranjang.
"Em, tidak." jawab Kavita.
"Kau ada dimana?"
Disini, Kavita memejamkan matanya. "A-aku di rumah teman. Maaf kalau aku mengabarimu terlambat."
Swara terdiam sejenak. "Oh, ya, Swara." Kavita kembali membuka matanya.
Sedangkan Swara, ia menunggu perkataan selanjutnya dari Kavita. "Sanskar, dia masih ada di kantor. Sanskar tadi menyuruh diriku untuk pulang duluan."
"Apakah pekerjaan Sanskar masih banyak? Aku dari tadi menelpon dirinya bahkan sms. Tapi sama sekali tidak ada balasan dari Sanskar."
Kavita menunduk dengan sebelah tangan yang ditahan tangan yang lainnya. "Iya, Sanskar masih banyak pekerjaan. Em, Swara sudah dulu, ya. Aku mengantuk. Besok kita lanjutkan lagi."
"Kau besok akan pulang?"
"Iya, Swara. Daah...."
"Kav...."
Ketika Swara ingin berkata lagi, Kavita langsung mematikan panggilannya.
"Sekretaris sama bossnya semakin dekat aja, ya." sindir Zain.
"Aku bekerja di kantor Sanskar. Apa ada yang salah?" balas Kavita.
"Salah besar."
"Aku tanya samamu. Dimana letak salahnya. Sanskar bisa menjagaku dengan baik. Bukan menyakitiku seperti dirimu."
"Aku berusaha menjagamu, tapi kau tidak mengerti itu Kavita. Apa yang harus aku lakukan lagi kalau aku benar-benar mencintaimu."
Kavita menggeleng pelan. "Ini bukan cinta, Zain, tapi obsesi. Kau sama sekali tidak mencintaiku!"
"Kavita ini cinta. Mengertilah, aku mohon."
Zain mengusap pipi Kavita. "Jangan menangis lagi. Aku tidak akan menyakitimu. Tenanglah, sayang."
"Kau berjanji tidak menyakitiku?" tanya Kavita terisak.
"Iya, berhentilah menangis. Aku hanya ingin melihat kau berada di sampingku saja." ucap Zain memohon sambil membawa Kavita ke dalam pelukannya. Bukannya menolak, Kavita malah memeluk Zain lebih erat.
Pertama kali senyuman terbit di wajah Zain saat Kavita memeluk dirinya seerat itu.
Tidak lama kemudian, senyuman Zain semakin mengembang ketika melihat wajah damai Kavita.
Ya, Kavita tertidur di dalam pelukan Zain. Bagaimana perasaan kalian saat pertama kali mendapatkan respon dari yang kita cintai? Begitulah ekspresi Zain sekarang.
Cup! Zain mencium dalam dahi Kavita. "Aku mencintaimu." ucap Zain, lalu menurunkan jok Kavita agar wanitanya tertidur nyenyak.
Zain melajukan mobilnya lagi. Ketika sampai di rumah, Zain menggendong Kavita menuju kamarnya dengan hati-hati.
Menyelimuti tubuh wanitanya. Setelah itu, ia membersihkan dirinya di kamar mandi.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Pukul 01:30 Sanskar baru saja sampai di rumah. Dari pintu, Sanskar melihat Swara sudah tertidur dengan memeluk sesuatu.
Sanskar mencampakkan jasnya di sofa. Lalu berjalan menuju ranjang. Pelan-pelan Sanskar menjauhkan foto dirinya dan meletakkannya di nakas kembali.
"Sanskar...." Sanskar menghentikan langkahnya ketika mendengar Swara memanggil namanya. Sanskar berbalik menatap Swara. Ternyata Swara hanya bermimpi di dalam tidurnya.
Sanskar melanjutkan langkahnya menuju sofa yang berada di seberang ranjang. Membaringkan tubuh sembari menatap langit-langit kamar. Lalu tidak lama kemudian Sanskar pun tertidur tanpa mengganti pakaian terdahulu.
Keesokan harinya...
Swara mulai membuka matanya saat silauan matahari mulai memasuki jendela kamarnya. Ia tertegun setelah melihat jam di dinding, lalu mendudukkan dirinya. Swara melihat ke samping kanan, namun tidak ada Sanskar. "Aku terlambat bangun dan Sanskar? Apa dia semalam pulang?"
"Swara...." itu bukan suaranya Sanskar, melainkan Ragini.
Tanpa mengetuk pintu, Ragini langsung masuk. Karena Ragini tahu kalau Sanskar tidak ada di kamar lagi, makanya dia langsung masuk. Mana mungkin saat masih ada Sanskar, Ragini langsung masuk begitu saja. Kan segan.
"Kau baru bangun?" tanya Ragini ketika sudah berada disamping Swara. Swara yang ditanya pun langsung mengangguk. "Iya."
"Semalam Sanskar...."
"Aku tahu." potong Swara menatap Ragini sebentar. 'Aku tahu semalam Sanskar tidak pulang. Semalam aku menunggunya sampai jam 1 pagi Ragini, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau Sanskar pulang.' lanjut Swara di hati.
Ragini mengangguk. "Baiklah kalau kau sudah tahu. Aku turun dulu. Kau juga harus cepat turun untuk sarapan."
"Iya, aku mau mandi dulu." Swara langsung masuk ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Ragini.
"Ada apa dengan dirinya? Tidak biasanya dia bersikap begini. Sudahlah Ragini, masalah kecil saja kau besarkan." ucap Ragini lalu keluar.
Setelah selesai sarapan sendirian karena yang lainnya sudah sarapan, Swara langsung pergi ke kamar Uttara.
"Boleh Kakak masuk?" tanya Swara melihat Uttara yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Kak Swara masuklah." ucap Uttara tersenyum menatap Swara.
"Kau yakin akan pergi hari ini?" tanya Swara menatap Uttara yang masih sibuk dengan pakainnya.
"Iya, Kak. Kata teman-teman nanti malam kami akan berangkat." jawab Uttara sebisa mungkin sambil memasukkan pakaiannya kembali ke koper.
"Semoga mereka dapat menjaga adik manis Kakak ini." ucap Swara mengelus punggung Uttara.
Uttara tersenyum sedih. Sedih karena dirinya akan pergi dari semuanya. Sedih karena dirinya telah membohongi semuanya.
"Kakak pernah bilang. Jangan pendam semuanya sendiri. Berbagi dengan keluarga." ucap Swara.
"Iya, Kak. Uttara masih ingat dengan kata-kata Kakak." balas Uttara lalu menatap Swara sebentar dengan senyuman. 'Tapi Uttara tidak bisa melakukan itu.' -Uttara.
Swara mengangguk, lalu mendudukkan dirinya di ranjang. Dari sini Swara dapat melihat jelas wajah Uttara. "Uttara." panggil Swara.
Uttara yang kembali memasukkan pakaian ke koper langsung menatap Swara. "Ya, Kak?"
Swara menggeleng, lalu menunduk. "Kakak menyembunyikan sesuatu dari Uttara?" tanya Uttara menatap Swara.
Swara mengangkat wajahnya sambil menatap Uttara. "Kalau Kakak menanyakan itu padamu, apa yang akan kau jawab?"
Uttara terdiam kemudian menyibukkan dirinya lagi dengan pakaiannya. Swara tidak hanya diam, ia juga ikutan membantu Uttara. "Ya." balas Uttara beberapa saat berjalan ke lemari.
Swara yang ingin memasukkan pakaian ke koper untuk kedua kalinya berhenti mendengar jawaban Uttara. Swara tidak jadi memasukkan pakaian itu ke koper, melainkan meletakkannya ke dalam pangkuan.
"Kau akan membawa pakaian sebanyak ini?" tanya Swara mengubah topik.
"Iya." jawab Uttara. 'Karena Uttara tidak tahu. Apakah Uttara masih bisa pulang atau tidak.' -Uttara.
"Berapa lama kalian ada di sana?"
Uttara mengedikkan bahunya. "Entahlah, Kak. Aku tidak diberi tahu sama teman."
Swara mengangguk paham dan menaruh pakaian yang ia pangku tadi ke dalam koper. "Kau tahu sesuatu Uttara?"
Uttara mengernyit. "Uttara tidak tahu, Kak."
"Kau sudah Kakak anggap seperti adik sendiri. Tapi salahkah kalau Kakak ingin mengetahui banyak tentang dirimu?"
Uttara memasukkan pakaian terakhirnya di dalam koper, lalu mengancingkan resletingnya. "Biar Kakak saja yang menaruhnya di sudut kamar." ucap Swara langsung mengambil ahli koper saat Uttara berusaha menurunkan benda tersebut dari ranjang.
"Kakak kenapa mengatakan itu? Kakak kan sudah mengetahui banyak tentang Uttara. Lalu, apa lagi yang ingin Kakak ketahui?" ucap Uttara saat mereka berdua duduk dipinggir ranjang.
"Tentang...." Swara menggantungkan kalimatnya. "Sakit yang kau rasa." lanjut Swara pelan.
Uttara tersenyum sembari menggenggam tangan Swara. "Uttara tidak sakit. Kakak tidak lihat kalau Uttara sehat-sehat saja?"
Uttara kembali tersenyum agar Swara tidak curiga dengan dirinya. "Tapi kau tidak baik-baik saja Uttara." ucap Swara.
Uttara tertegun saat Swara mengatakan kalau dirinya tidak baik baik saja. "Maksud Kakak apa?" tanya Uttara pelan.
"Kakak sudah tahu semuanya. Tapi belum tahu tentang penyakitmu. Kenapa kau tidak mengatakan semuanya pada kami, Uttara? Setidaknya kalau tidak sanggup katakan pada Kakak." ucap Swara dengan nada bergetar.
Uttara menunduk. "Maaf, Kak. Uttara sudah membohongi kalian semua. Tapi, Uttara sama sekali tidak ingin melakukan ini. Uttara terpaksa."
Swara mengelus tangan Uttara, lalu menarik dagu sang adik agar ia dapat melihat bola mata indah itu. "Kau mau mengatakan semuanya pada Kakak?"
Uttara menggeleng. "Uttara belum bisa, Kak. Maaf. Ta-tapi, Uttara janji akan mengatakan semuanya pada Kakak." kata Uttara dengan sesegukan.
Swara mengangguk tersenyum. "Iya, sayang." ucap Swara langsung mendapatkan pelukan dari Uttara.
"Sudah, jangan menangis lagi." Swara mengusap pipi Uttara, lalu ia kembali memeluk Kakak iparnya itu.
Uttara mengangguk dan menepuk dahinya saat mengingat sesuatu. "Iya, Uttara lupa kalau pagi ini ada janji sama...."
"Chirag."
"Kakak tahu Chirag dari mana?" tanya Uttara dengan kernyitan di dahi.
"Kakak mendengar semua pembicaraan kalian di telpon dan Kakak sempat ketemu sama dia untuk menanyakan semua tentang dirimu yang tidak Kakak ketahui. Tapi Kakak sama sekali tidak mendapatkan yang Kakak harapkan."
Uttara menunduk merasa bersalah. "Maaf, Kak. Itu semua Uttara yang minta."
"Tidak apa-apa. Ayo, turun!"
Swara mengulurkan tangannya pada Uttara. Dengan senyuman, Uttara membalas uluran tangan Swara. Lalu keluar dari kamar setelah menyandang tas kecilnya dari lemari.
(ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ)
To Be Continued...