(ಥ ͜ʖಥ) HAPPY READY (ಥ ͜ʖಥ)
Keesokan harinya...
"Sanskar, aku ingin menanyakan se...."
Perkataan Swara terhenti saat nada dering ponsel Sanskar terdengar pertanda ada panggilan masuk.
"Sebentar, Swara." ucap Sanskar, lalu mengangkat panggilannya sebentar.
"Hem. Kau ingin mengatakan apa tadi?" tanya Sanskar selesai berteleponan dengan kliennya yang kemarin.
Swara menggeleng tersenyum. "Sepertinya kau terburu-buru. Nanti malam saja aku mengatakannya."
"Kau yakin? Tapi aku masih ada...."
"Aku yakin, Sanskar. Aku hanya tidak ingin membuatmu terlambat ke kantor. Sekarang, ayo kita turun!"
"Tapi cium dulu." ucap Sanskar jahil seperti biasanya.
Swara terkekeh, lalu mengecup kedua pipi Sanskar dan bibirnya sebentar.
Sanskar tersenyum dengan yang dilakukan Swara. Kalau Sanskar tidak terburu-buru hari ini, mungkin Swara sudah habis di tangannya. Namun sayang sekali, takdir tidak berpihak pada dirinya.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Selesai sarapan...
Para wanita dan kedua pembantu itu sibuk membersihkan bekas makan mereka.
Di dapur, Ragini menaruh piring kotor yang baru saja ia bawa kedekat wastafel.
"Ish, Sinta benarkan Bik Siti ada disini! Sinta mencari Bik Siti sampai keluar negeri, tapi ternyata disini. Lagi-lagi Bik Siti ada di dapur. Kapan mainnya bersama Sinta?" decak Sinta berkacak pinggang seraya menggeleng kepala. Mirip sekali ketika Ragini memarahi dirinya.
Semua orang yang mendengar suara Sinta langsung membalikkan tubuh, termasuk kedua pembantu itu.
"Sudah berapa kali Sinta bilang? Jangan mengerjakan pekerjaan rumah! Tugas Bik Siti hanya bermain bersama Sinta!" lanjut Sinta.
Semua orang terdiam dengan perkataan Sinta. Bahkan mereka baru tahu kalau Sinta marah bisa seperti Ragini. Ini karena Ragini yang sering memarahi Sinta, makanya Sinta hapal benar pergerakan Ragini ketika marah.
"Ijum, ini Nona kecil kita?" tanya Bik Siti berbisik kepada Bik Ijum dengan pelan.
Dengan lambat Bik Ijum menggeleng. Ia juga baru tahu. "Ibu, Sinta tidak mau tahu. Suruh Ayah mencari orang lain untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kalau Sinta tahu Bik Siti masih mengerjakan pekerjaan rumah, Sinta akan marah!" ucap Sinta tegas seperti Nyonya besar berkata kepada majikannya. Eh, tidak!
Swara pun mengangguk patuh. "Baik Nyonya besar. Sekarang ajaklah Bik Siti bermain samamu. Kalau masalah ini belum selesai, pekerjaan kami juga tidak akan selesai dengan cepat."
Sinta memperlihatkan gigi susunya. "Ibu pengertian. Ayo, Bik!" Sinta langsung menarik tangan Bik Siti.
Tadi Sinta sempat membujuk Lakshya agar tidak masuk sekolah. Karena hari ini, Sinta terlambat bangun. Jadinya kalau udah terlambat bangun pastinya sampai di sekolah ia akan dapat hukuman.
Padahal masih ada beberapa menit lagi untuk sampai di sekolah. Tapi Sinta tetap bersih keras untuk tidak masuk sekolah. Namanya juga Sinta si keras kepala.
"Dasar Sinta." ucap yang lainnya menggeleng kepala, termasuk Ragini.
"Itu juga karena kau sering memarahinya." ucap Swara terkekeh sembari mengambil satu piring kotor, lalu mencucinya.
"Hem, tapi kau masih ada hutang padaku." gumam Ragini.
"Kau punya hutang pada Ragini, Swara?" tanya Sujata yang mendengar perkataan Ragini.
Saat di piring ketiga Swara mencuci tangannya, lalu menatap Ragini dan menggeleng. Ragini yang mengerti itu tidak terima. "Swara bohong, Ibu. Swara memang punya hutang pada Ragini." keukeuh Ragini.
"Hutang apa?" tanya Parineeta ikut penasaran.
"Hutang penjelasan." jawab Ragini kembali.
"Maksudnya?" tanya Swara yang saat ini bingung dengan maksud Ragini
"Kau lupa, Swara? Tentang kotak semalam, lho."
"Oh, itu. Aku sama sekali belum membukanya."
"Kau belum membukanya? Kenapa?"
"Aku belum sempat menanyakan tentang kotak itu kepada Sanskar."
"Memang itu kotak apa, Swara?" tanya Annapurna.
Swara menggeleng tidak tahu. "Ma, aneh tidak, sih, kalau ada kiriman yang tidak tahu siapa pengirimnya?" tanya Ragini kepada Annapurna.
"Mungkin itu Sanskar yang kirim." ucap Annapurna.
"Tapi tidak mungkin Sanskar menyembunyikan namanya. Biasanya kalau Sanskar yang kirim pasti dia sebutkan namanya." ucap Ragini.
Dari mana Ragini tahu? Karena setiap kali ada kiriman di rumah Hadiwijaya, Raginilah yang mengambilnya. Begitu juga setiap kali Ragini bertanya siapa pengirimnya pasti dijawab. Tapi kali ini tidak ada nama pengirimnya.
"Mungkin itu hadiah spesial dari, Sanskar." ucap Sujata tersenyum menggoda Swara.
"Mungkin Mama benar, Ragini. Kau ini, masalah kecil saja kau besar-besarkan." ucap Swara menggeleng kepala.
"Swara, kau tidak tahu kekhawatiran diriku. Bagaimana kalau itu...."
"Sudah-sudah, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang selesaikan dulu pekerjaan yang in...." perkataan Annapurna terhenti saat pandangannya turun ke bawah. Dimana mereka tadi menaruh semua piring dan gelas kotor di samping wastafel.
Bik Ijum yang baru saja menyusun perlengkapan dapur di rak piring pun langsung membalikkan tubuhnya. "Bik Ijum sudah menyuci semuanya, Nyonya besar. Bibik mau ke belakang dulu." ucap Bik Ijum langsung pergi ke belakang setelah mendapatkan anggukan.
Sinta benar, Swara harus menyuruh Sanskar lagi mencari seoarang pembantu kalau bisa pun dua untuk membantu Bik Ijum membersihkan pekerjaan rumah.
"Karena semua pekerjaan sudah selesai, Swara mau ke kamar dulu. Tidak apa-apa kan?" tanya Swara ragu.
"Iya, sayang." ucap Sujata mengelus rambut Swara sebentar. Lalu, Swara keluar dari dapur.
"Tapi Swara masalah ini belum selesai!" ucap Ragini menginterupsi.
"Sudahlah, Ragini. Kapan-kapan kita bicarakan lagi." ucap Annapurna.
"Tapi, Ma...."
"Uttara besok akan pergi. Jangan sampai masalah ini menjadi beban untuk Uttara." ucap Annapurna agar Ragini mengerti.
"Baiklah. Ragini ke kamar dulu."
"Iya."
'Semoga tidak akan ada masalah untuk kedepannya.' -Annapurna.
'Jaga keluarga kami, Ya Allah.' -Sujata.
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
Di kamar.
Swara menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Besok Uttara akan pergi. Aku akan menelepon nomor itu untuk menanyakan kepergian Uttara ke luar negeri."
Swara bangkit mengambil ponsel di nakas. Lalu duduk dan menekan nomor itu.
Tak lama kemudian, panggilan tersambung. "Halo... Ini siapa?"
"Aku Kakaknya Uttara. Bisa kita ketemu? Aku mohon. Ada yang mau aku tanyakan."
"Di mana?"
"Nanti akan aku kirim lokasinya."
"Baiklah."
Setelah mengirim lokasi ke nomor itu, Swara langsung meraih tas kecilnya, lalu keluar dari kamar.
Di bawah, Swara bertemu sama Sinta. "Ibu mau pergi kemana?" tanya Sinta pada Swara.
"Ibu mau keluar sebentar, sayang." jawab Swara setelah menyamakan tinggi mereka.
"Sinta boleh ikut bersama Ibu? Sinta merasa bosan di rumah."
Swara mengelus pipi Sinta. "Sayang, Ibu pergi hanya sebentar. Setelah Ibu pulang, kita akan bermain."
Sinta mengulurkan jari kelingkingnya. "Ibu berjanji?"
"Janji, sayang." Swara mengaitkan jari kelingking mereka.
"Em, Sinta." panggil Swara ragu.
"Iya, Ibu?"
"Sinta kalau semua orang mencari Ibu bilang Ibu lagi keluar sebentar, ya."
"Iya, Ibu cantik."
"Anak pintar. Baiklah, Ibu pergi dulu. Daah, sayang."
"Daah, Ibu. Hati-hati, ya, Ibu!"
"Iya, sayang!"
"Nona kecil, Ibu mau kemana?" tanya Bik Siti menghampiri Sinta.
"Ibu katanya mau pergi sebentar. Ayo, Bik! Kita lanjut bermainnya!"
┻┻︵⁞=༎ຶ﹏༎ຶ=⁞︵┻┻
"Kau Kakaknya Uttara?" tanya Chirag memastikan bahwa ia tidak salah orang.
Wanita itu, Swara mengangguk. "Duduklah." ucap Swara.
Chirag duduk di hadapan Swara. "Maaf, kalau tadi saya berbicara tidak sopan pada...."
"Swara. Panggil saja aku Kakak."
"Hem, baiklah. Ada apa Kakak mengajak saya temuan?"
"Sebelum itu, jangan kasih tahu sama Uttara kalau aku menemui dirimu."
Tanpa menunggu panjang, Chirag mengangguk. "Memangnya Kakak mau menanyakan apa?" tanya Chirag perlahan.
"Tentang kepergian. Em, maksudku begini. Beberapa hari yang lalu, Uttara mengatakan kalau ia akan pergi ke luar negeri bersama teman kuliah. Apa itu benar? Tunggu dulu, kau dan Uttara 1 alumni juga kan."
"Iya, Kak. Kami memang 1 alumni. Tapi tentang keluar negeri itu saya rasa tidak benar."
"Jadi, Uttara bohong pada kami semua?"
"Memangnya Uttara mengatakan apa?"
"Uttara mengatakan pada kami bahwa teman kuliahnya mengajak dirinya untuk berlibur di luar negeri."
"Uttara memang mau keluar negeri, tapi bukan untuk...." seketika Chirag terbungkam saat tersadar kemana arah bicaranya.
Swara menunggu perkataan Chirag. "Namamu Chirag bukan? Please, kasih tahu aku apa yang kau maksud tadi."
Chirag menggeleng. "Maaf, Kak. Zata tidak bisa mengatakan semuanya pada Kakak."
"Apa kau tidak punya Kakak di rumah? Bagaimana kalau Kakakmu yang ada di posisi diriku? Dia pasti khawatir dengan keadaan adiknya. Begitu juga dengan diriku. Aku mohon, katakan semua yang kau ketahui tentang Uttara."
"Aku tahu kekhawatiran Kakak. Tapi jujur, saya tidak bisa mengatakan semuanya. Karena saya...."
"Karena kau sudah berjanji pada Uttara! Aku mendengar semua percakapan kalian berdua di telepon semalam. Jadi, kau tidak perlu berbohong lagi padaku."
"Maaf, Kak. Saya permisi." Chirag bangkit dan ingin meninggalkan Swara. Namun langkahnya langsung terhenti saat Swara mencegah tangan Chirag.
"Kau tahu, aku seperti Kakak yang terburuk di dunia. Tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada adiknya. Kenapa aku harus ada kalau hanya untuk diam saja? Aku selalu ada bersamanya, tapi tidak ada satupun ku ketahui tentang apa yang ia rasakan." Swara mulai melepaskan genggamannya, lalu menunduk.
"Pergilah, kalau kau mau pergi." lanjut Swara, lalu mengangkat kepalanya dengan tersenyum. Tepatnya senyum paksa.
"Maaf, kalau pertemuan ini mengecewakan dirimu, Kak. Tapi saya berjanji akan mengatakan semuanya padamu kalau waktunya sudah tepat." ucap Chirag tidak enak hati.
Swara mengangguk, lalu tersenyum tipis. "Terima kasih karena sudah mau menemuiku disini."
"Sama-sama, Kak. Aku pergi dulu. Aku juga ada janji sama Uttara."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Tidak jauh dari tempat duduk Swara dan Chirag, seseorang melihat semua pergerakan mereka berdua.
Swara menyeruput jus jeruknya dengan tatapan kosong. Tidak lama kemudian, Swara tersadar lagi saat sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.
My Husband❤
|Kau dimana?| 11:13
|Aku di rumah. Memangnya aku kemana lagi, Sanskar?| 11:14
Swara memejamkan matanya ketika membaca ulang balasan yang ia kirim ke Sanskar. Tidak seharusnya Swara berbohong pada Sanskar.
'Semoga Sanskar tidak tahu.' -Swara.
Swara tidak mendapatkan pesan lagi dari Sanskar. Lalu ia memanggil salah 1 pelayan untuk membayar semuanya.
(ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ) (ಥ ͜ʖಥ)
To Be Continued...